LOGINMulai besok update 2-3 bab ya... terima kasih.
Angin siang Kota Tirtajaya berhembus liar, menyapu jalanan batu dengan campuran aroma rempah pasar, logam panas dari bengkel pandai besi, dan bisik-bisik yang berlari lebih cepat daripada merpati pembawa pesan istana.Nama Jason Winata melayang di udara.Ia sendiri melangkah di tengah hiruk pikuk itu—tenang, punggung tegak, pandangan lurus ke depan. Ancaman Evan Gunawan? Ia bahkan tak menoleh, seolah semua itu hanya debu yang lewat di pinggir jalan.Di titik paling strategis ibu kota—persimpangan Jalan Arwana dan Pasar Merak—sebidang tanah dibuka. Dari balkon istana, lokasi itu terlihat jelas. Dari pelabuhan selatan, arus pedagang pasti melewatinya. Dari pusat niaga, para bangsawan tak punya pilihan selain menyaksikannya setiap hari.Di sanalah papan kayu hitam dinaikkan.[KLINIK MEDIS TABIB SAKTI]Huruf perak terukir rapi, dingin, tanpa hiasan berlebihan. Tak ada lambang wangsa. Tak ada panji politik. Hanya satu simbol kecil di sudut—lingkaran dengan garis denyut nadi yang sederhana…
Sosok itu melangkah keluar dari puing lantai yang runtuh seolah lahir dari kehancuran itu sendiri.Debu masih melayang di udara ketika bayangan rampingnya menapak pelan. Tubuhnya muda, proporsional, nyaris tampak biasa—jika bukan karena tekanan tak kasatmata yang membuat dinding istana berderit dan napas Jason terasa berat. Mata pria itu dingin, kosong, seperti mata pemburu yang tak mengenal ragu maupun amarah.Di lengannya, senjata iblis modular menyatu sempurna dengan tulang dan daging. Bilahnya berkilau gelap, berdenyut pelan—seperti jantung kedua yang hidup dan lapar.“Mason Hartono,” ucapnya datar, tanpa emosi. “Target terkonfirmasi.” “Eksekusi dimulai.”Jason tidak menjawab.Tubuhnya sudah bergerak bahkan sebelum kata terakhir itu mengendap di udara.DOR! DOR! DOR!Tiga letusan keras memecah sisa keheningan fajar—satu ke kepala, satu ke jantung, satu ke dantian. Tidak ada keraguan. Tidak ada peringatan.Namun—TRANG!Peluru-peluru itu berhenti di udara, seolah menabrak dindin
Amarah Evan meledak seperti tungku alkemis yang retak dari dalam.Ruang pribadinya di sayap barat istana berubah menjadi puing kehinaan—vas giok berusia ratusan tahun hancur berkeping, meja kayu besi terbelah dari tengah, gulungan naskah medis langka berserakan di lantai seperti daun mati yang diinjak-injak. Bau debu batu dan tinta tua bercampur keringat panas memenuhi udara.Kemarahan tanpa kendali menguasai diri Pangeran Wangsa ini.Napas Evan tersengal. Dadanya naik turun kasar. Di balik kelopak matanya, satu bayangan terus berputar tanpa henti—Jason Winata, berdiri tegak, tak tersentuh, tak tumbang.“Gagal…?” suara Evan bergetar, bukan oleh rasa takut—melainkan oleh penghinaan yang membakar tulang. “The Killer… mundur?”Utusan itu berlutut di hadapannya, tubuhnya menempel lantai dingin. Keringat menetes dari pelipisnya. Wajahnya penuh ketakutan... nyawanya bisa melayang sewaktu-waktu oleh keberingasan Evan yang tak terkendali.“Darius… memutus kontrak,” lapornya lirih. “Ia berkata…
Langit di atas istana terasa menekan, seakan seluruh kubah malam runtuh dan tumpah ke dalam ruangan sempit itu.Aura Jason meledak—tanpa suara, tanpa kilat—namun tekanannya nyata. Api lampu minyak langsung merunduk, sumbu bergetar hebat seperti ditiup badai tak kasatmata. Bayangan di dinding berkerut, udara mengental, sulit dihirup.Darius menyipitkan mata.Untuk pertama kalinya sejak ia muncul, pembunuh legendaris itu tidak langsung menyerang.“Raja Bela Diri…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar di tengah tekanan yang menindih dada. “Seharusnya makhluk seperti itu tidak ada di istana rapuh ini.”Jason maju setengah tapak.KRAK—Lantai batu di bawah telapak kakinya retak halus, garis-garis tipis menjalar seperti saraf mati. Tatapannya tajam, dingin, tanpa emosi berlebih.“Dan Ilmu Pedang Dewa Neraka,” balasnya datar, “juga tak pantas dipakai untuk melayani bangsawan pengecut.”Sudut bibir Darius terangkat sedikit.Bukan ejekan. Bukan kemarahan.Pengakuan.Lalu—Ia lenyap.Satu kedip
Malam datang terlalu cepat di Kerajaan Wangsa.Langit seakan sengaja menutup mata—awan gelap menggulung rendah, menekan istana dengan kesunyian yang tidak wajar, seolah menjadi penutup bagi rencana busuk yang sedang dirajut di balik dinding-dinding batu tua.Di bawah paviliun barat, jauh dari cahaya obor dan telinga pengawal, sebuah ruang rahasia terbuka oleh dorongan tangan Evan Gunawan.Ruang itu dingin. Bau lembab batu bercampur dengan aroma tinta tua dan darah kering dari ritual masa lalu. Di tengahnya berdiri meja batu besar, dipenuhi gulungan kuno, catatan alkimia, dan simbol-simbol tabib tingkat tinggi yang hanya dipahami segelintir orang di benua Atlas.Evan berdiri di sana.Punggungnya tegak—namun jari-jarinya bergetar.Getaran kecil. Hampir tak terlihat.Namun bagi seseorang seperti Evan, Tabib Naga Kerajaan Wangsa, getaran itu adalah aib yang tak pernah ia alami seumur hidupnya.Nama itu kembali menggema di kepalanya.Jason Winata.Pil Elixir Surgawi yang menantang logika.
Aula Utama belum sempat bernapas kembali.Udara masih berat—bau mesiu yang tajam bercampur dengan amis darah yang mengering di marmer putih. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan sisa kekerasan yang baru saja terjadi. Di antara keheningan yang tegang itu, Evan Gunawan perlahan menegakkan punggungnya.Tatapan ketakutan yang sempat singgah di matanya lenyap sedikit demi sedikit, digantikan oleh sesuatu yang sudah lama menjadi miliknya—kesombongan. Kesombongan seorang Tabib Naga. Sosok yang terbiasa berdiri di atas semua orang, tak pernah disentuh kekalahan, tak pernah direndahkan.Ia mulai bertepuk tangan.Plok.Plok.Plok.Suara itu pelan, namun memantul ke setiap sudut aula seperti ejekan yang disengaja. Menginjak keheningan. Menodainya.“Menarik,” ucap Evan akhirnya, bibirnya melengkung tipis. “Sungguh menarik.”Ia melirik ke arah mayat yang masih tergeletak, lalu kembali menatap Jason. “Senjata aneh. Trik murahan. Dan keberanian yang lahir dari ketidaktahuan.”Ia menggeleng pe







