Share

Buka Klinik Baru

Author: Zhu Phi
last update Last Updated: 2026-01-03 00:00:02
Angin siang Kota Tirtajaya berhembus liar, menyapu jalanan batu dengan campuran aroma rempah pasar, logam panas dari bengkel pandai besi, dan bisik-bisik yang berlari lebih cepat daripada merpati pembawa pesan istana.

Nama Jason Winata melayang di udara.

Ia sendiri melangkah di tengah hiruk pikuk itu—tenang, punggung tegak, pandangan lurus ke depan. Ancaman Evan Gunawan? Ia bahkan tak menoleh, seolah semua itu hanya debu yang lewat di pinggir jalan.

Di titik paling strategis ibu kota—persimpangan Jalan Arwana dan Pasar Merak—sebidang tanah dibuka. Dari balkon istana, lokasi itu terlihat jelas. Dari pelabuhan selatan, arus pedagang pasti melewatinya. Dari pusat niaga, para bangsawan tak punya pilihan selain menyaksikannya setiap hari.

Di sanalah papan kayu hitam dinaikkan.

[KLINIK MEDIS TABIB SAKTI]

Huruf perak terukir rapi, dingin, tanpa hiasan berlebihan. Tak ada lambang wangsa. Tak ada panji politik. Hanya satu simbol kecil di sudut—lingkaran dengan garis denyut nadi yang sederhana…
Zhu Phi

Bab Utama hari ini hanya satu bab dahulu ya...

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Duel Tabib

    Kabut tipis menyelimuti Alun-alun Kota Tirtajaya di pagi hari, namun udara telah dipenuhi ketegangan jauh sebelum matahari sepenuhnya terbit. Ribuan orang memadati area yang dipagari bendera biru-perak Kerajaan Wangsa. Di tengah alun-alun, Arena Tabib Dunia berdiri—lingkaran batu putih berlapis formasi kuno, dipenuhi ukiran medis dan simbol-simbol larangan yang hanya boleh diaktifkan saat duel resmi.Hari ini, arena itu akan menelan reputasi… atau melahirkan legenda.Duel Tabib.Jason Winata berdiri di balik tirai arena. Wajahnya tenang, namun tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Energi spiritualnya masih berputar—stabil, tapi tidak sepenuhnya pulih. Penyaluran energi murni semalam telah menggerogoti cadangan inti tanpa ampun.Sistem Medis berdenyut pelan.[Status Tubuh]Stamina Spiritual : 78%Stabilitas Raja Bela Diri : TerjagaCatatan : Konsumsi energi tinggi dalam 24 jam terakhirJason menghembuskan napas perlahan.Di sisi berlawanan, Evan Gunawan melangkah masuk ke arena de

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Pasien Malam Hari

    Jason masih duduk di tepi ranjangnya, punggung tegak namun pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Sayap timur Istana Wangsa tenggelam dalam sunyi yang aneh—sunyi yang terlalu bersih, terlalu kosong. Lentera-lentera kristal memancarkan cahaya redup kebiruan, membuat bayangan di dinding tampak memanjang seperti sosok yang mengintai.Tok.Ketukan pelan itu membuat Jason mengangkat kepala.“Siapa?” tanyanya, suaranya rendah namun waspada.Tak ada jawaban.Alis Jason berkerut. Nalurinya menegang. Besok Duel Tabib akan dimulai, dan justru malam ini... malam paling krusial, tapi tak terlihat satu pun pengawal istana di koridor sayap timur. Biasanya, area ini dijaga berlapis. Terlebih lagi, Ratu Athena selalu memastikan keselamatannya dengan cara yang hampir berlebihan.Namun kali ini… seolah ia dibiarkan sendirian.Tok. Tok. Tok.Ketukan itu kembali terdengar. Tetap pelan. Tetap tanpa suara pemanggil.Jantung Jason berdetak lebih cepat. Tangannya bergerak refleks. Glock-17 telah berada di

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Siasat Licik Evan Gunawan

    Matahari masih bersembunyi di balik cakrawala ketika Alun-alun Kota Tirtajaya mulai berubah wajah. Bendera-bendera kerajaan dipasang sejak fajar—kain sutra biru-perak berkibar pelan, berdesir diterpa angin pagi, seolah mengumumkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perayaan.Kompetisi Tabib Dunia.Perhelatan tahunan Kerajaan Wangsa. Satu panggung. Satu pemenang. Dan tak terhitung intrik yang selalu menyertainya.Satu hari lagi.Duel Tabib—pembuka kompetisi—akan digelar.Di setiap sudut kota, namanya dibicarakan. Di warung teh, di dermaga, di lorong pasar. Kota Tirtajaya—bahkan seluruh Kerajaan Wangsa—menahan napas menunggu hari esok.Namun, salah satu nama yang paling sering disebut…Jason Winata.Dan ironisnya, sang Tabib Sakti justru terlihat paling tidak peduli pada hiruk pikuk itu.Di sudut kota yang sama, pintu Klinik Medis Tabib Sakti terbuka untuk hari kedua. Jason berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah sederhana. Tak ada kemewahan. Tak ada simbol kebesaran. Hanya sepasan

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Buka Klinik Baru

    Angin siang Kota Tirtajaya berhembus liar, menyapu jalanan batu dengan campuran aroma rempah pasar, logam panas dari bengkel pandai besi, dan bisik-bisik yang berlari lebih cepat daripada merpati pembawa pesan istana.Nama Jason Winata melayang di udara.Ia sendiri melangkah di tengah hiruk pikuk itu—tenang, punggung tegak, pandangan lurus ke depan. Ancaman Evan Gunawan? Ia bahkan tak menoleh, seolah semua itu hanya debu yang lewat di pinggir jalan.Di titik paling strategis ibu kota—persimpangan Jalan Arwana dan Pasar Merak—sebidang tanah dibuka. Dari balkon istana, lokasi itu terlihat jelas. Dari pelabuhan selatan, arus pedagang pasti melewatinya. Dari pusat niaga, para bangsawan tak punya pilihan selain menyaksikannya setiap hari.Di sanalah papan kayu hitam dinaikkan.[KLINIK MEDIS TABIB SAKTI]Huruf perak terukir rapi, dingin, tanpa hiasan berlebihan. Tak ada lambang wangsa. Tak ada panji politik. Hanya satu simbol kecil di sudut—lingkaran dengan garis denyut nadi yang sederhana…

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    Pembunuh Dari Benua Langit

    Sosok itu melangkah keluar dari puing lantai yang runtuh seolah lahir dari kehancuran itu sendiri.Debu masih melayang di udara ketika bayangan rampingnya menapak pelan. Tubuhnya muda, proporsional, nyaris tampak biasa—jika bukan karena tekanan tak kasatmata yang membuat dinding istana berderit dan napas Jason terasa berat. Mata pria itu dingin, kosong, seperti mata pemburu yang tak mengenal ragu maupun amarah.Di lengannya, senjata iblis modular menyatu sempurna dengan tulang dan daging. Bilahnya berkilau gelap, berdenyut pelan—seperti jantung kedua yang hidup dan lapar.“Mason Hartono,” ucapnya datar, tanpa emosi. “Target terkonfirmasi.” “Eksekusi dimulai.”Jason tidak menjawab.Tubuhnya sudah bergerak bahkan sebelum kata terakhir itu mengendap di udara.DOR! DOR! DOR!Tiga letusan keras memecah sisa keheningan fajar—satu ke kepala, satu ke jantung, satu ke dantian. Tidak ada keraguan. Tidak ada peringatan.Namun—TRANG!Peluru-peluru itu berhenti di udara, seolah menabrak dindin

  • Sistem Medis Dokter Jenius Masa Depan    The Abyss

    Amarah Evan meledak seperti tungku alkemis yang retak dari dalam.Ruang pribadinya di sayap barat istana berubah menjadi puing kehinaan—vas giok berusia ratusan tahun hancur berkeping, meja kayu besi terbelah dari tengah, gulungan naskah medis langka berserakan di lantai seperti daun mati yang diinjak-injak. Bau debu batu dan tinta tua bercampur keringat panas memenuhi udara.Kemarahan tanpa kendali menguasai diri Pangeran Wangsa ini.Napas Evan tersengal. Dadanya naik turun kasar. Di balik kelopak matanya, satu bayangan terus berputar tanpa henti—Jason Winata, berdiri tegak, tak tersentuh, tak tumbang.“Gagal…?” suara Evan bergetar, bukan oleh rasa takut—melainkan oleh penghinaan yang membakar tulang. “The Killer… mundur?”Utusan itu berlutut di hadapannya, tubuhnya menempel lantai dingin. Keringat menetes dari pelipisnya. Wajahnya penuh ketakutan... nyawanya bisa melayang sewaktu-waktu oleh keberingasan Evan yang tak terkendali.“Darius… memutus kontrak,” lapornya lirih. “Ia berkata…

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status