Home / Fantasi / Sistem Pahlawan Rakyat Jelata / Bab 6 Melawan Monster Penjaga

Share

Bab 6 Melawan Monster Penjaga

last update Last Updated: 2025-10-04 16:46:18

“Tak kan kubiarkan, kau mengambil benda itu!” suara makhluk itu besar dan menggelegar. Namun Rein tidak bisa mundur, sudah sejauh ini ia berjalan kaki dari indekosnya. Ia harus berhasil mengambil item itu.

Makhluk itu tinggi besar, bahkan ukuran tubuhnya jauh dari manusia. Badannya berwarna hitam dan matanya merah menyala. Entitas asing itu mulai mendekat, dengan cepat ia mengarahkan tinjunya tepat ke arah badan Rein.

Pemuda itu berguling ke arah samping, ia berhasil menghindarinya. Rein yakin jika tangan sebesar itu mengenai tubuhnya, pasti dadanya akan hancur dan kepalanya akan terpisah dari tubuh mungilnya.

“Akan kuhabisi kau, Manusia!” suara itu kembali menggelegar memekakkan telinga.

Rein baru ingat, tutorial yang diberikan oleh sistem tadi, cara mengalahkan makhluk itu dengan cara memukulnya menggunakan batang pohon kelor. “Di sana, aku harus mengambilnya beberapa,” gumamnya setelah pandangan matanya menjelajah.

Ia kembali melompat ke samping kanan, ketika pukulan dari makhluk itu kembali mengarah padanya. Terlihat pukulannya sangat kuat, sehingga bebatuan wadas yang terkena serangannya retak bahkan ada yang hancur.

Meskipun kuat, tetapi gerakan dari makhluk aneh itu cukup lambat. Rein mencabut beberapa batang pohon kelor yang masih cukup kecil.

Sekarang ia berlari ke arah raksasa itu dan menebaskan batang kelor ke kaki kanannya. “Ahhh... Sakit! Apa yang kamu lakukan kepadaku!” erang makhluk itu sambil mengangkat kakinya, ia tampak picang.

Tidak mau kesempatan emas itu sia-sia. Rein berlari ke arah kaki kirinya dan menebaskan batang kelornya. “Mati, kau. Makhluk jelek!”

Monster tersebut lantas jatuh berguling.

Rein memukuli makhluk yang sedang terkapar itu menggunakan batang kelor. Ia menyerangnya secara membabi buta. “Aaaah... Sakit.... Ahhh,” teriaknya kesakitan, saat pohon itu terus-menerus menebas tubuhnya.

Sampai pada akhirnya, raksasa itu terguling jatuh ke dalam jurang. Rein kemudian mendekati pohon yang bercahaya, dengan mudah ia mencabutnya. Ia lantas membawanya pulang menuju ke indekosnya.

Selama perjalanan banyak mata yang memandang, semuanya tampak menahan tawa dengan mulut yang terus menghujat. Bagaimana tidak, tampilannya saja aneh. Memakai kaos oblong, celana pendek, sandal jepit, dan yang paling aneh membawa satu pohon kelor besar.

Namun dirinya tidak peduli, karena yang terpenting mendapatkan item yang dimaksud sistem aneh itu. “Selamat anda mendapatkan item batu galih kelor. Nama Rendi Joseph, Level 1 jumlah exp 1100 dan item batu galih kelor dengan ability pertahanan mutlak.”

“Hah? Pertahanan mutlak? Apa maksudnya?”

Sistem menjelaskan bahwa kemampuan atau ability dari item yang didapat tersebut ialah tubuh pengguna akan kebal dari segala serangan benda tajam, termasuk peluru senjata api. Namun kelemahannya ialah benda tumpul.

“Kamu perlu memisahkan, batu kecil yang ada di tengah batang pohonnya. Tidak mungkin juga kan, bepergian membawa satu pohon utuh?”

Rein menuruti apa yang disarankan oleh sang sistem, ia dengan sabar memotong batang besar pohon kelor tersebut menggunakan golok. Sampai akhirnya, ditengah-tengah kayunya terdapat batu berwarna hitam.

Ia kemudian membuang sisa-sisa sampah dari batang pohon serta daunnya. “Misi berikutnya, mengungkap aliran dana dari lonjakan pajak yang selama beberapa bulan ini sudah dibayarkan masyarakat, kamu akan mendapat bonus exp 500 jika berhasil menjalankan misi ini.”

Rein terdiam sejenak, sepertinya apa yang dikatakan sistem di dalam dirinya memang benar dan masuk akal. Pemerintah selama beberapa bulan terakhir menaikkan pajak, katanya untuk pembangunan infrastruktur kota.

Namun sampai sekarang, tidak ada proyek apa-apa yang tercipta. “Sungguh janggal, pasti dikorupsi oleh mereka. Aku akan menghubungi Joko dan yang lainnya untuk berdiskusi.” Ia menghidupkan kendaraan vespa bututnya, kemudian berangkat menuju ke gedung pusat kegiatan mahasiswa.

Markas dari Badan Esekutif Mahasiswa ada di gedung PKM ini. Selain membahas isu aliran dana. Rein juga ingin membagi item galih kelor. Soalnya kata si sistem, bisa juga ada fitur share item.

Sampai di dalam gedung pusat kegiatan mahasiswa, Joko sudah ada di sana. Sebagai ketua BEM beliau ini memang sangat sibuk dan hampir selalu ada di markas.”Joko, aku ada beberapa hal yang ingin kukatakan padamu.”

Joko hanya memandanginya heran, ia kemudian mengeryitkan dahinya tanpa menjawab. “Sitem yang selama ini menghantui kepalaku itu nyata, aku akan share item yang kudapat kepadamu.”

Joko masih tidak paham, ia garuk-garuk kepala kemudian. Sementara Rein memberinya sebuah batu kecil berwarna hitam legam. “Dengan membawa itu, kamu akan kebal senjata. Kita bisa melawan aparat tanpa takut terluka nantinya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sistem Pahlawan Rakyat Jelata   Bab 23

    “Selamat kamu mendapatkan 500 exp karena berhasil dalam misi memviralkan tambang ilegal. Nama Rendy Joseph, level 2 poin exp 2500.”Rein tidak menghiraukannya, ia meneruskan berlari dengan rekan-rekannya sampai di Desa Talas. Para ibu-ibu seketika keluar rumah, melihat mereka berempat tergopoh-gopoh berlarian. “Ada apa, Mas? Mbak? Bagaimana dengan warga lain yang sedang protes di tambang.”Sambil mengatur napas yang masih kembang kempis, Hendra mencoba menjelaskan. “Mereka semua tertangkap oleh aparat, Bu.” Warga menunjukkan eksperi terkejut, bahkan ada beberapa yang berteriak.“Ya Allah bagaimana nasib suamiku!” Ada juga yang menangis maupun pingsan. Rein dan Zafran mencoba menenangkan. “Kalian tenang! Semua akan baik-baik saja, sekarang kami akan keluar dari sini mencari bala bantuan. Kebenaran pasti akan menemukan jalannya!”Mereka berpamitan, tujuan Hendra kali ini akan menyusul William yang sedang meliput tambang dari depan. Ia juga ingin melaporkan, tentang teramgkapnya warga da

  • Sistem Pahlawan Rakyat Jelata   Bab 22 Siaran Langsung

    Keesokan harinya, Zafran benar-benar mengumpulkan kawan-kawan awak media dari Mata Pedang. Mereka kemudian dibagi dua. Meliput depan pertambangan dan juga sebagian ikut dengan Hendra dan Rein masuk ke area Desa Porang dan Talas.Mereka mulai bergerak. Zafran sendiri ikut bersama Rein dan Hendra. Tim wartawan ini hanya berisi dua orang yakni Safitri dan Zafran. “Jangan banyak-banyak yang ikut masuk ke dalam, aku kesusahan juga nanti melindungi kalian. Belum lagi si Rein ini belum bisa diandalkan.”Tidak seperti kemarin, perjalanan kali ini lancar jaya tanpa hambatan. Sampai di Desa Talas Nirmala dan Jo menyambut. Ternyata warga dari Desa Porang juga sudah berkumpul di sini. “Nanti liput saja ya beritanya, aparat yang berpihak kepada tambang pasti akan sangat ganas menghalau kita.”“Siap, kawan-kawan awak media yang lain juga sudah bersiap di depan,” ujar Zafran sambil memegang kamera.Nirmala juga menjelaskan kepada tiga anggotanya, jika terjadi bentrokan nanti diusahakan jangan membun

  • Sistem Pahlawan Rakyat Jelata   Bab 21 Wartawan Mulai Bergerak

    “Rein, jujur aku belum bisa mengandalkanmu. Namun jika aku memaksa bertarung seorang diri akan fatal akibatnya.”“Lalu, apa solusimu?”Hendra terdiam sejenak, ia kemudian mengusulkan untuk mencari jalan lain. Akhirnya mereka berdua berjalan ke arah hulu sungai, mencoba untuk menjauhi orang-orang itu. Tentu dengan gerakan senyapnya, padang ilalang sekitar juga masih lumayan tinggi. Bisa untuk menyembunyikan tubuh.Mereka berjalan cukup lama, kurang lebih ada sekitar setengah jam. Netra Hendra menjelajah sekitar, ternyata aman. Keadaan sepi tidak ada seorangpun, bahkan gerombolan yang tadi ia lihat sudah tidak ada.“Ayo menyeberang, Rein.” Mereka berdua mulai menceburkan diri ke sunga dan mulai menyeberanginya. “Aku bisa saja menghabisi mereka tadi, sayang sekali ada suangai ini. Seandainya jarak dekat aku pasti mampu.”Hendra memiliki sebuah siasat, ia ingin mencuri seragam para pekerja tambang. Untuk itu mereka berdua bisa dengan mudah keluar masuk. “Bagaimana cara kita mendapatkannya

  • Sistem Pahlawan Rakyat Jelata   Bab 20 Sisa Perlawanan

    Pria proyek itu lantas mengambil ht berwarna hitam dari saku bajunya, tetapi gerakannya sudah keduluan para pasukan Guardian. Kaki Hendra mendarat di pundak pria itu dan menancapkan belati ke lehernya.Cairan merah segar keluar dengan derasnya. Rein yang melihat semua itu terkejut sejadi-jadinya, ia kemudian terduduk lesu. “Ken... Kenapa kalian bunuh seseorang yang tidak berguna.”“Bisa panjang urusannya jika dia dibiarkan. Sebagai Guardian kita harus bergerak seefektif mungkin.”“Termasuk membunuh?”“Jika itu untuk melancarkan misi, maka lakukanlah.” Hendra membersihkan bilah belatinya, ia kemudian menyarungkan kembali. Sementara yang lain, menyembunyikan mayat pria tersebut dan berusaha menghilangkan jejak.Nirmala mendekat ke arah sungai, menurutnya lumayan dalam. Untuk itu mereka harus berhati-hati saat berenang. “Semua yang ada di sini bisa berenang. Bagaimana denganmu, Rein? Kamu masuk Guardian lewat jalur undangan khusus. Aku agak meragukanmu.”“Bisa, tenang saja. Rumahku di de

  • Sistem Pahlawan Rakyat Jelata   Bab 19 Misi Menyelidiki

    “Silakan pesanannya,” ujar pramusaji sambil membawa satu nampan besar pesanan. Rein mencium aroma yang keluar dari kopi panas miliknya. Ia sangat menikmati, bau harumnya serasa menjadi terapi yang membawa semangat.“Oh iya, kemarin kamu yang sudah ungkap para pelaku penyelewengan uang pajak bukan?” Zafran hanya mengangguk, “Tapi hasilnya kurang memuaskaan, aktor utamanya malah bebas.”“Hah? Aktor utama? Maksudmu Pak...” Belum selesai Gendhis berbicara, Zafran sudah menempelkan jari telunjuknya di antara dua bibir, menyuruhnya untuk berhenti. Tempat tersebut merupakan tempat umum, untuk itu sangat beresiko.Sementara pria dengan topi koboi tetap tenang, ia menikmati secangkir kopinya yang ditemani oleh sebatang cerutu.Telepon Rein berdering, ternyata ada notifikasi pesan dari William. Ketua Guardian itu mengintruksikan untuk berkumpul sekarang juga. “Maaf ya, Kalian. Aku harus pergi sekarang. Ada urusan ini dengan Guardian.”“Kopimu loh, Rein. Bahkan cuma dicium saja aromanya, belum k

  • Sistem Pahlawan Rakyat Jelata   Bab 18 Pria Bertopi Koboi

    William memberi pesan kepada Rein sebelum ia pulang, ia menitahkan agar kasus tambang ilegal ini muncul ke permukaan. “Baiklah aku akan menghubungi kawanku yang seorang wartawan dan juga mengadakan diskusi oleh semua elemen mahasiswa di kampusku.”Rein menghidupkan mesin vespa tuanya, ia kemudian memacunya menuju kembali ke kost. Ia segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri ke kasur, tidak sempat rasanya mandi atau sekedar bersih-bersih. Tulangnya serasa remuk semua setelah mendaki gunung.Baru sebentar saja ia berbaring, pandangannya mulai berat lalu terlelap. Ia sangat tenang, soalnya hari ini jadwal kuliah kosong. Itu artinya, Rein bisa beristirahat seharian karena libur. Sampai akhirnya ia terbangun di sore harinya.“Jam berapa ini?” desahnya, sambil memeriksa layar ponsel yang ternyata tepat pukul empat sore. Lelap juga tidurnya. Rein duduk sejenak di ranjang, ia sandarkan punggungnya ke tembok samping kasur.Ia gulir layar di ponselnya, tengah ramai diperbincangkan di sosi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status