MasukTerbunuh di dunia asal, Bianca Isolde Romano terbangun di tubuh seorang wanita bangsawan bernama Isolde von Valmont. Ternyata, ia masuk ke dalam novel pria yang sering dibacakan anak buahnya dulu. Sayang, tidak pernah ada nama Isolde tercatat dalam novel bertema pembalasan dendam itu. Menganggap dirinya adalah pemeran sampingan, iapun berniat hidup nyaman sebagai istri seorang Duke. Namun, kenyataan berkata lain, ketika terungkap bahwa ia adalah wanita pembunuh suaminya sendiri.
Lihat lebih banyak“Astaga! Kenapa sih kau ini, Nona Isolde?!”
Seorang wanita muda berpakaian pelayan menyentak kesal. Ia kaget karena majikan mudanya tiba-tiba seperti orang kerasukan.
Sejak tadi majikan wanitanya itu tertunduk saja, tetapi tiba-tiba menyentak naik kepalanya, seperti terkesiap.
Wanita berparas mungil dengan rambut ikal kecoklatan itu adalah Isolde von Valmont. Putri pertama keluarga Valmont.
Mereka tengah berada di dalam kereta kuda, menuju istana Kaisar.
Tidak ada yang sadar bahwa Isolde baru saja meregang nyawanya. Padahal ini adalah kehidupan keduanya. Belum genap 1 hari, ia sudah mati kembali.
Sebenarnya, Isolde berhasil mengulang waktu. Namun ternyata ia tetap kembali di saat pernikahannya dengan Duke Devereux ditetapkan Kaisar.
Karena tidak bisa menggunakan sihir waktu lagi, Isolde pun memilih untuk menelan racun kematian. Namun, baru sekejap kehilangan nyawa, tiba-tiba ia hidup kembali.
Lagi, pelayan tidak sopan itu meracau. “Pantas saja keluarga Valmont membuangmu, Nona Isolde! Kau seperti orang gila!”
Sayang, Isolde yang ada dihadapannya baru saja kembali hidup dan tidak lagi memiliki ingatan sebagai Isolde von Valmont, tetapi ingatan milik Bianca Isolde Romano. Putri tunggal klan mafia di negara Vroshea yang mati dibunuh oleh orang kepercayaannya.
Karena itu, Isolde hanya bisa tertegun seperti orang bodoh.
‘Isolde? Siapa?’ batin Isolde seraya melihat ke sekeliling.
Namun, Isolde menyadari. Hanya ada dirinya dan perempuan muda tidak sopan itu di hadapannya.
‘Apa aku yang dia maksud Isolde? Tapi namaku Bianca Isolde Romano. Ada apa ini?’
Otaknya berputar keras, menilai keadaan yang terjadi. Seumur hidup, nama tengah Isolde itu tidak pernah disebut.
‘Harusnya aku sudah mati. Hebron sudah membunuhku. Kenapa aku masih hidup?’ batin Isolde penuh pertanyaan.
Gadis yang kini memiliki jiwa orang lain itu, menggeser pelan kain yang menutupi jendela, untuk mencari tahu di mana sekarang ia berada.
Namun, Isolde semakin tidak paham setelah mengamati pemandangan luar. ‘Ini bukan dunia yang kutahu!’
“Cih! Sekarang kau berani mengabaikanku, hm?!” Si pelayan tadi kembali mengoceh. “Jangan berpikir kau akan bahagia, Nona Isolde! Kau ini sudah dibuang!”
Tidak tahan dengan semua hal yang membingungkannya, Isolde akhirnya bertanya, “Sejak tadi kau memanggil nama Isolde, apa kau sedang bicara denganku?”
Sang pelayan terlihat keheranan, kemudian mendengus geli. “Apa kau sudah kehilangan otakmu setelah tahu akan menjadi piala untuk duke bengis itu?”
“Piala? Duke bengis? Siapa?” Isolde semakin tidak paham.
Isolde von Valmont sepertinya tidak tahu efek samping sihir waktu yang tidak digunakan dengan baik. Ternyata jika seseorang memutar waktu ke belakang dan langsung mati kurang dari 24 jam, maka kematian itu akan menyegel ingatannya.
Karena itulah, Isolde tidak ingat sama sekali mengenai kehidupannya di dunia ini.
“Astaga! Kurasa benar, kepalamu rusak! Dia itu—”
Tok! Tok!
Sebuah ketukan menghentikan percakapan mereka. Kemudian, suara keras mengikuti setelahnya. “Turunlah! Kita sudah sampai!”
“Ayo, turun! Nona Isolde!”
Raut wajah si pelayan langsung berubah ramah. Senyum manis penuh hormat pun terulas di wajahnya. Ia jelas tidak mau disalahkan, karena sudah bertingkah tidak sopan pada sang majikan.
“Tunggu dulu! Di mana ini? Mau apa kita di sini?” tanya Isolde panik. Ia mencoba membentengi diri.
Sang pelayan berusaha sabar menghadapi majikan yang tidak disukainya itu. “Tolong jangan menguji kesabaran saya, Nona. Setelah mengantar Anda ke dalam, saya akan langsung pulang!”
Tanpa memberi Isolde waktu untuk melontarkan protes, pelayan itu segera menarik tangannya menuju ke dalam aula istana.
Belum juga sempat bertanya-tanya, si penjaga pintu sudah meneriakkan namanya.
“Telah hadir! Nona Isolde von Valmont!”
Pintu terbuka lebar. Suasana mendadak sunyi sesaat, sementara banyak pasang mata menatap ke arah pintu. Lebih tepatnya, ke arah Isolde.
Seorang pria tua dengan pakaian mewah tiba-tiba muncul dan menawarkan lengannya. Dia adalah Duke Adrian von Valmont, ayah Isolde.
“Ayo, Sol. Kaisar dan calon suamimu sudah menunggu di depan. Ayah antar kamu!” ujar Adrian dengan wajah sumringah penuh kasih.
Isolde yang sekarang ini sama sekali tidak tahu perlakuan Adrian padanya di rumah. Jadi, ia memutuskan untuk mengikuti saja sementara mengamati situasi.
Sudah biasa bagi Isolde untuk berpura-pura. Seolah menurut, tetapi otaknya bekerja keras untuk mencari jalan keluar.
Sang ayah mengantarnya sampai ke barisan depan. Membuat Isolde berdiri berdampingan dekat lelaki menyeramkan dengan tatapan yang seolah bisa membunuh orang lain.
Di waktu bersamaan, seseorang yang berada di ujung ruangan menyerukan dengan lantang.
“Duke Devereux! Dengan ini Kaisar Thalric von Valtherion memberikan Lady Valmont. Sebagai hadiah kemenangan mutlak, untuk diperistri!”
Tepuk tangan riuh dengan seruan-seruan sopan yang menyatakan dukungan atas titah kaisar tersebut, memenuhi aula besar bangunan istana.
Seorang pria berambut hitam dengan pakaian serba hitam itu membungkuk penuh hormat, menerima titah tersebut.
Dia adalah Duke Bastiven von Devereux. Seorang bangsawan tertinggi di seluruh kerajaan Valtherion.
Namun, berbeda dengan reaksi Bastiven, Isolde justru tertegun di tempat. Ia ingat nama Devereux yang disebutkan tadi adalah nama tokoh yang ada di dalam sebuah novel khusus pria.
Anak buah yang membunuhnya di dunia nyata biasa membacakan novel itu untuk Bianca Isolde Romano.
Baru saja Duke Devereux ingin menegur Isolde karena tidak merespon titah kaisar, sebuah kalimat asing meluncur dari mulut wanita itu.
“Astaga, sialan! Devereux?!”
“Kami hanya ingin agar Nyonya dan Tuan tidak canggung,” tambah Sylfia panik.Isolde melirik ke arah tiga gadis muda yang ketakutan itu, kemudian terkekeh pelan. “Well, kali ini kulepaskan kalian. Bastiven juga cukup kaku semalam,” ujarnya mengingat bagaimana Bastiven menagrahkan bilah pedang ke lehernya. Lagi kata Isolde, “Kalian mendapat terima kasihku!”Wajah Nirena dan kedua pelayan lainnya pun kembali berbinar. “Dengan senang hati, Nyonya! Ayo, biar kami bersihkan tubuh Nyonya!”“Tidak mau! Gara-gara kalian aku sekarang tidak bisa bangun!” keluh Isolde dengan jenaka. “Tubuh majikan kalian ini renta sekali, tahu?”Nirena terkekeh. Ia senang karena sang majikan baru tidak segan bermanja pada mereka. Bagi pelayan keluarga Devereux, sepertinya membuat majikan bergantung pada mereka adalah kepuasan yang tidak ternilai.Apalagi setelah mendengar kehidupan Isolde sebelum tiba di kediaman devereux. Tekad untuk memberikan kehidupan serba ada dan serba nyaman bagi sang majikan perempuan i
“Sol ….”Bastiven kalah telak! Menghadapi godaan seorang Isolde yang mabuk, ternyata bukan hal mudah. Pria yang dibuat menggendong wanita itu sampai ke atas ranjang. Bastiven juga pasti sadar, kalau ada yang salah dengan wine yang mereka minum. Karena seharusnya, sejenis wine ini tidak akan mempan pada sang duke.Di antara lengan kekar Bastiven, Isolde terbaring tanpa perlawanan. Jubah tidurnya pun sudah setengah terlepas, mengekspos bagian tubuhnya sedikit. “Aku tidak yakin kamu menginginkan ini, Isolde,” ungkap Bastiven dengan suara rendahnya. Namun, Isolde sudah larut dalam kemabukan dan rasa haus akan sentuhan seseorang. Ia mengelus perlahan dua lengan kekar suaminya itu dan berkata, “Kenapa tidak yakin? Kau lihat sendiri aku tidak menolakmu, Bas.”Pertahanan Bastiven runtuh. Walau logikanya berupaya menahan diri, tetapi hasrat lelaki tak bisa dikekangnya lagi. Ini semua karena pengaruh wine yang tidak biasa.Kalau bukan karena ingatan tentang kehidupan masa lalunya yang tiba-
“Sebaiknya kubakar saja!” gumam Isolde setelah menganalisa daun teh yang ada di tangannya. Karena beberapa racun justru berbahaya ketika dilemparkan ke dalam perapian. Untungnya, racun ini termasuk yang tidak menimbulkan jejak. Ia pun segera menuang daun teh yang bercampur racun itu ke dalam perapian. Setelah agak lama, barulah ia membakar kantong tehnya. “Orang-orang zaman ini sepertinya lebih maju kalau soal herbal dan racun.” Isolde kembali berkomentar. Isolde kini merasa lega. Dengan ini, ia sudah terbebas dari rute pembunuhan. “Fufufu! Berarti aku tinggal menikmati hidup tenang bersama Bastiven!”Sambil berjingkat riang, ia keluar dari ruang pemandian menuju ke kamar Bastiven. Hanya beberapa langkah, Isolde tiba di depan pintu. Tanpa ragu, Isolde membuka pintu kamar suaminya. Dengan riang ia berseru, “Selamat malam, Bas—”Ucapan Isolde terpotong karena bilah pedang yang tiba-tiba menyambut kedatangannya. Ia hampir ceroboh karena tidak menyadari aura membunuh dari balik pint
“Oh Tuhan, oh Tuhan! Jadi, aku masuk ke masa di mana cerita novelnya sama sekali belum dimulai?” Isolde mulai menata ulang rencananya. Ia terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah gusar, sambil menggigiti kuku.“Pantas saja aku tidak kenal nama Isolde!”Tengah pusing dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu kamar. “Duchess! Saya akan mengantar Anda ke tempat pemandian.”“Apa?! Mandi?!” pekik Isolde dengan suara tertahan. “Aku tidak butuh itu sekarang! Aku harus tahu bagaimana aku membunuh suamiku!”Namun, diingat bagaimanapun, Isolde tidak menemukan jawabannya. Novel itu hanya menyebutkan bahwa kakak dari Duke Devereux mati dibunuh oleh istrinya. Tengah panik, pikiran sehat Isolde mulai bekerja. ‘Tenang saja! Aku tinggal menghindari rute pembunuhan, lalu menjadi istri super baik dan setia! Hidup bahagia! Happy ending!’Isolde menganggukkan kepala. Setuju pada pikirannya sendiri. “Benar juga! Aku tinggal hidup tenang dengan duke Devereux yang sekarang. Bendera
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.