LOGINOur Games (book 04)
View More"Kamu nggak bisa lanjutin pernikahan ini, Kak!"
Andina yang tengah dirias sontak menoleh ke sumber suara. Gadis itu menatap Tamara, adik dari pernikahan kedua papanya itu muncul di depan pintu kamar dengan mata sembab dan kondisi berantakan. “Kamu kenapa, Tam?” tanya Andina, terdengar terkejut, Gadis itu langsung bangkit dan menghampiri sang adik, meninggalkan perias yang tadinya tengah memulas lipstik. “Apa yang terja–” "Aku hamil! Ada anak Ken di dalam perut aku!" potong Tamara. “Jadi Kakak tidak boleh menikahi pria itu.” Apa? Informasi itu membuat Andina tercengang, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Ha-hamil?" Suara Andina tercekat. Ia pasti salah dengar, kan? Bagaimana mungkin calon suami yang akan menikah dengannya hari ini telah menghamili wanita lain? Dan lagi, adik tirinya sendiri? Apa ini lelucon? Tidak mungkin mereka tega padanya, kan? Sayangnya, Tamara mengangguk. "Iya. Aku hamil,” jawabnya tegas. “Dan Kenneth adalah ayah dari janin dalam kandungan aku, Kak." "Nggak! Ini nggak mungkin!" Andina menolak, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apanya yang nggak mungkin?” balas Tamara. “Ken memang tidur denganku! Dan sudah dua bulan ini aku tidak haid. Nih, buktinya kalau kamu masih menyangkal.” Tamara menyodorkan alat tes kehamilan ke wajah Andina yang masih tampak syok. Calon pengantin itu menerima benda lonjong berwarna putih yang disodorkan kepadanya, menatap dua garis merah yang terpampang nyata. Ini … Tamara benar-benar hamil. “Tapi, tidak mungkin Ken–” "Aku mau kamu batalkan pernikahan ini,” sela Tamara. Sekalipun matanya tampak sembab, ia tengah menatap Andina dengan pandangan tajam. “Ken harus menikahiku karena aku mengandung calon anaknya!" “Tapi, Tam. Pernikahanku–” “Kak, jangan egois. Kamu tega anak ini tidak punya ayah?” Andina mengangkat wajah, pandangannya buram oleh bayangan air mata. Otaknya buntu. Ia tidak bisa berpikir dan dadanya terasa sesak sekali sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa mereka tengah menjadi tontonan tim perias pengantin. "An ... ayo. Setengah jam lagi kita sudah harus sampai di gedung–ada apa?" Andina tersentak saat Tamara merebut kembali alat tes kehamilan dari tangannya dan menyerahkannya pada sang nenek yang baru saja masuk ke ruangan. “Kak Andina tidak akan menikah hari ini,” tegas Tamara. “Tam!” "Apa maksudnya?” bentak sang nenek. “Dan .. testpack punya siapa ini? Dan dengan siapa!?” *** "Tidak ada jalan lain. Ken harus menikahi Tamara." Andina memejamkan mata erat-erat begitu mendengar kalimat itu keluar dari mulut ayahnya. Saat ini, dua keluarga inti yang seharusnya sudah melangsungkan pernikahan dan menjadi besan tengah berkumpul di ruang ganti. Tidak jauh dari tempat Andina duduk, Tamara sedang dirias di depan cermin besar, tempat yang tadinya diduduki oleh Andina. Bahkan adik tirinya itu sudah memakai gaun yang seharusnya dikenakan oleh Andina untuk acara pemberkatan nanti. Bukan hanya mengambil tunangannya, wanita itu juga merampas semuanya dari Andina dalam sekejap. “Aku setuju.” Ibu Tamara, mama tiri Andina, ikut bersuara. Wanita bersanggul tinggi itu sekilas mendelik ke arah Andina. “Memang Tamara yang harus menikah hari ini. Toh dia hamil anak Kenneth. Otomatis mereka saling menyukai juga, kan?” Andina menyadari bahwa kenyataan bahwa calon suaminya sudah berselingkuh di belakang Andina hingga menghamili wanita lain tidak diucapkan terang-terangan oleh ibu tirinya. “Kami paham,” balas ayah Kenneth, mantan calon mertua Andina, membuat dada Andina makin sesak. “Kami juga tidak ingin membiarkan Tamara merawat bayi itu sendirian. Memang sudah seharusnya mereka menikah. Saya rasa ini adalah keputusan yang baik.” Helaan napas berat terdengar dari sisi kiri Andina. Tak lama, sebuah tangan penuh keriput terulur meraih tangan Andina dan meremasnya dengan lembut. Sebuah hal kecil dan sederhana dari sang nenek yang tampak ingin menguatkan Andina. Namun, hal itu justru membuat tangis Andina lantas pecah. Air mata kembali turun di pipinya, tetapi ia tahan kuat-kuat agar isaknya tidak keluar. "Tapi,” ucap sang nenek kemudian. “Bagaimana dengan Andina." “Aduh, Ma. Andina nggak kenapa-kenapa,” sahut Sandra, ibu tiri Andina. “Kenapa jadi mikirin Andina? Dia nggak hamil. Tamara yang hamil dua bulan." Hati Andina terasa diremas-remas mendengar kalimat itu keluar dan menggema di ruangan. Siapa bilang Andina tidak kenapa-kenapa? Hatinya teramat sakit sekarang ini! Dia sudah mengalah, patuh dan membesarkan hati untuk menerima perjodohan yang neneknya lakukan dengan nenek Kenneth waktu itu, hingga perlahan ia membuka hati dan menerima untuk dinikahkan dengan Kenneth. Namun, di saat dia sudah bisa berdamai dan menerima semuanya, bahkan mulai menyukai pria itu, Andina harus dihantam dengan pengkhianatan yang dilakukan calon suami dan adiknya sendiri. Bagaimana bisa mulut ibu tirinya itu mengatakan bahwa Andina baik-baik saja? Andina jauh dari kata baik-baik saja! "Benar apa kata Sandra, Ma,” imbuh ayah Andina. “Sekarang fokus kita ke Tamara dulu. Sebelum perutnya membesar, dia sudah harus berada dalam satu ikatan pernikahan dengan Kenneth. Semua demi nama baik keluarga, Ma." Nama baik keluarga? Andina meremas-remas ujung bajunya. Jadi demi nama baik keluarga, Andina yang harus dikorbankan begini? Padahal ia juga anak ayah, tapi kenapa sikap ayah pada dirinya tidak ada bedanya dibanding perlakuan Sandra pada Andina? Rasanya Andina ingin mengeluarkan semua argumen dan sumpah serapahnya untuk masalah ini. Namun, tenaganya seperti sudah habis. Andina sama sekali tidak berselera mengucapkan sepatah kata pun. "Saya sudah perintahkan asisten saya untuk mengubah data mempelai wanita dan menyesuaikan inisial nama di backdrop dekor pelaminan,” ucap ayah Andina lagi. “Semua foto prewedding Andina dan Ken juga sudah diturunkan." "Bagus! Kalau semua sudah siap, mari kita segera berangkat." Andina kembali menundukkan wajah. Ia sama seperti tidak dianggap ada dalam ruangan ini. Tidak ada seorang pun yang bersimpati kepadanya kecuali sosok yang berada di masing-masing kanan dan kiri Andina. "Oma tahu bagaimana sakitnya hati kamu, An," bisik suara itu lembut. "Kuat, ya? Kamu anak yang baik, mungkin Kenneth memang bukan jodoh yang terbaik buat kamu. Maafkan Oma, An." Andina memaksakan diri tersenyum pada sosok itu. Ia menyeka air matanya yang tak kuasa ia bendung, lalu dengan perlahan menganggukkan kepalanya. "Kenapa jadi minta maaf, Oma? Oma nggak salah. Ini sama sekali bukan karena Oma,” ucap Andina. Suaranya lirih, tapi ia mengucapkannya dengan senyum tipis untuk menenangkan sosok itu. “Lagi pula,” imbuh Andina. “Andina bersyukur nggak jadi nikah hari ini. Coba kalau Andina nikah hari ini, lalu Tamara baru datang saat Andina sudah nikah dengan Ken. Bukankah itu akan lebih sakit?" Andina mencoba tampak dan terdengar baik-baik saja, sekalipun tampaknya ia tidak bisa menipu Oma dan Eyang, nenek Kenneth, yang duduk di sisi satunya. “Kamu … semisal menikah dengan putra bungsu Eyang bagaimana?”JULIA"So that's how we got the cat," I said. The cat was sleeping in the sun at the moment.I was speaking to Sarah, seated in a chair across from me having her cunt licked by a truly magnificent slave. She was moaning, and with good reason. She was on her third orgasm in the last ten minutes.I was also being attended to; by Sarah's new slave, Jiao. Jiao had just finished her training with Mistress Dark and Sarah had come down to Fresno to fetch her."How do you like her?" I asked Sarah."She's fantastic. This slave is amazing, as good as anyone I've ever had. How is Jiao?""Mistress Dark has always trained good slaves. If they can't lick cunt adequately, they'll never graduate and their asses are constantly burning from punishment.""Tell me about it," Sarah said. "My one day with her was miserable."Jiao paused in her licking. "Mistress underwent training with Mistress Dark?""Yes, Mistress Dark believes in order to be a good Mistress, you have to understand the slave mind, and th
SCOTTThank God I woke up the next morning without anyone licking my dick. Julia had Lisa between her legs, moaning softly. Julia's face had cum on it, so suspected this was a tit for tat arrangement."Where are the other two?" I asked.Julia answered since Lisa's mouth was otherwise occupied. "Becky woke up early and wanted another self defense lesson, sir, though whether or not she's still getting self defense or something else is unknown. Rhonda got up with her so she could nap later to prepare for work tonight."I got up and padded outside. The self defense lesson had deteriorated to sex. I shook my head, went inside to see what we had for breakfast. Without groceries, it looked like waffles or pancakes. I started a grocery list until the others joined me. I was not a pancake maker. Eggs, more milk, more bacon and sausage, hamburger, chicken, more juice, potatoes, vegetables. The entire larder was down.My parents arrived and dropped Lucas off. They couldn't stay as they were off
SCOTTI was slowly waking up the following morning, still feeling pretty whipped from the last two weeks. It seemed I hadn't slowed down at all. Lucia delivering, the wedding, two weeks of work. It was a lot. I was looking forward to a fairly lazy day. Almost as soon as my eyes were open, someone was sucking my knob. I looked down to see Becky working it over, and doing a damn fine job of it as well. She soon had me hard and ready.I pulled her up to my face and whispered, "You want to get fucked already?""No. Julia didn't get fucked last night and she should get a turn."I looked at Julia, who was still slumbering beside me."Julia's still asleep.""Do you think she'll stay asleep after she feels your prick nudging her pussy? She would have loved to fuck you last night. I know how much she misses you.""How do you know that?""She talks about you constantly. You can hear the love and adoration in her voice every time she speaks of you."I kissed her. "You are adorable."I turned ove
SCOTTTraffic was horrible on the way home. A helicopter would have been great. Instead the first hour had been stop and go with little damn movement for twenty or thirty miles, though it finally eased up after. It was after eight thirty, and I was exhausted when I got home. I'd been working hard for twelve straight days. Despite my weariness, I'd been hard for the last forty-five minutes thinking of the video Julia had sent me last night. Becky was a cute girl who looked quite delicious in any way that mattered. My brain knew what Julia was trying to pull, but my dick didn't care. I wondered what I'd find when I got home; whose face would be in whose crack.Walking through the door, all four of them were sitting on the couch, improperly dressed, which is to say, naked, but not doing anything. Julia and Lisa got up from the couch immediately and knelt at my feet. The other two remained on the sofa."Good evening, Master," Lisa said."We've missed you, Master," Julia said. "I'm sure yo






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews