Short
So I'm Worth Less Than My Brother?

So I'm Worth Less Than My Brother?

By:  Hunk AlertCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
10Chapters
470views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

In order to take care of my father, who got hurt from a fall, I gave up on my chance to get promoted and even took a week's leave. On the day he gets discharged from the hospital, my dad hands me a mysterious envelope with a wide smile on his face. "Thank you for your trouble over the past few days, Luther. This is a little token of appreciation from me. You can buy yourself a nice pack of smokes." I rub my hands together, feeling warmth surging into my heart. But when I open the envelope, all I see is seven dollars. Still, I comfort myself in thinking that the sum isn't important at all. It's the thought that counts, after all. But the next day, I come across a social media post of my younger brother, Felix Grayson, who never showed his face around the hospital during Dad's hospitalization. It features a photo collage of a luxurious villa, with a photo of the purchasing contract smack dab in the middle of collage. The caption writes, "I bought the top-tier riverside villa for seven million dollars! Thank you so much for your support, Dad!"

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Jangan!" Tiba-tiba pria itu berkata, seolah bisa membaca pikiran Clara.

"Jangan berteriak atau bergerak, kumohon.

Atau mereka juga akan membunuhmu," katanya lagi.

Clara menelan ludah, ngeri. Kepanikan kembali menyergapnya ketika tepat di samping mobilnya, berdiri dua orang pria dengan senjata api di tangan yang berusaha mereka sembunyikan di balik jas hitam yang mereka kenakan. Setidaknya, pria yang membuatnya kesulitan bernapas ini tidak berbohong. Setelah kedua orang bersenjata tadi pergi, barulah Clara berani bersuara.

"Kau membuatku tak bisa bernapas," protesnya.

Pria itu mengangkat tubuhnya dan menggumamkan maaf. Pria itu kini berlutut di depan kursi kemudi, menjebak kaki Clara di sana. Pria itu beruntung karena tadi Clara sempat memundurkan kursinya untuk mencari sepatunya. Jika tidak, pria itu pasti sudah terjepit di sana, dengan tubuh sebesar itu.

"Jika kau macam-macam padaku, akan kuhajar kau," ancam Clara seraya berusaha menarik kakinya, karena jika Clara nekat duduk di kursi kemudi, situasinya akan semakin mengerikan.

Clara menahan diri untuk tidak menendang pria itu

ketika tiba-tiba kakinya diangkat oleh pria itu, yang ternyata hanya berusaha membantu Clara.

Begitu Clara bisa duduk di kursi penumpang, pria itu duduk di sampingnya, di kursi kemudi. Dan dengan sinar matahari menerangi pria itu, barulah Clara bisa melihat luka lebam yang parah di sisi kiri wajah pria itu. Darah yang mulai mengering juga tampak di lehernya, lalu lengannya. Kaos abu-abu dengan logo Nike di dada kiri yang dikenakannya pun sudah koyak dan penuh noda darah. Mendadak Clara merasa mual karena bau amis darah yang memenuhi mobilnya.

"Maaf, aku telah menyusahkanmu," kata pria itu pelan.

Clara tak tahu harus berkata apa. Ia hanya memperhatikan bagaimana pria itu tampak mengawasi situasi di sekitar tempat itu. Ada beberapa orang yang lewat di jalan itu, tapi tak ada tanda-tanda kehadiran dua pria bersenjata tadi. Lalu pria itu membuka pintu mobil dan keluar.

Clara masih tak dapat melakukan hal lain selain mengamati pria yang berjalan limbung di depan mobilnya itu. Clara menggigit bibir cemas ketika pria itu tampak nyaris jatuh. Clara terkesiap ketika pria itu akhirnya benar-benar jatuh. Bergegas Clara turun dari mobilnya dan menghampiri pria itu. Begitu membalikkan tubuh pria itu, Clara bisa melihat dengan jelas betapa parahnya keadaan pria itu.

Sisi kanan wajahnya yang tadi tidak terlihat oleh Clara, tampaknya terluka parah dan masih basah oleh darah. Pria itu benar-benar babak belur. Tubuh pria itu pun tampaknya terluka parah. Luka goresan di lengan dan perutnya, tempat pakaiannya juga robek, membuat Clara mual.

Ketika semakin banyak orang yang mengerumuninya, Clara meminta bantuan beberapa orang untuk mengangkat pria itu ke mobilnya. Clara hanya bisa berdoa agar pria itu tidak mati di mobilnya.

"Kumohon, tetaplah hidup. Siapa pun kau, kumohon…."

Clara terus bergumam seraya menyalakan mesin mobil.

Doa Clara dijawab erangan pelan pria itu.

"Tuan… kau baik-baik saja?" tanya Clara.

Pria itu kembali mengerang. Clara menoleh ke belakang dan mengamati pria itu sekilas lalu menyimpulkan bahwa pria itu pastilah tidak membawa tanda pengenal apapun.

"Tuan… kau bisa mendengarku? Apa kau bisa menyebutkan namamu?" tanyanya lagi.

Pria itu lagi-lagi mengerang, terdengar sangat kesakitan. Hati Clara mencelos mendengarnya. Ia kembali memanggil pria itu untuk menanyakan namanya dan akhirnya pria itu menjawab lemah, " Louis… …,"

sebelum kembali tak sadarkan diri, membuat Clara semakin panik.

" Tidak, Louis, bangunlah…," teriak Clara seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

" Louis, jangan kau berani-berani mati di mobilku, kau dengar aku?!" teriak Clara panik seraya berusaha tetap fokus pada jalanan.

"Louis, kumohon… bertahanlah…." Clara terus bergumam memanggil pria itu sepanjang jalan, hingga akhirnya tiba di lobi rumah sakit.

Clara bergegas keluar dan memanggil perawat untuk membantunya. Beberapa perawat datang dengan membawa ranjang dorong. Sementara mereka memindahkan Louis, Clara memberikan kunci mobilnya pada seorang valet parkir.

" Hubungi UGD." Seorang perawat berkata pada seorang

perawat lain yang lalu pergi.

Clara berdiri di antara para perawat di sisi ranjang dorong Louis yang bergerak cepat menyusuri lorong rumah sakit itu.

" Louis, apa kau bisa mendengarku?" Clara berbicara.

" Louis, bertahanlah, kumohon…,"ucap Clara pada sosok

yang tak sadarkan diri itu.

Clara tersentak kaget ketika tiba-tiba tangan Louis menggenggam tangannya. Ketika mereka sudah tiba di depan ruang UGD, seorang perawat memintanya agar menunggu di luar, tapi tangan Louis masih menggenggam erat tangannya. Para perawat menatap Clara yang hanya bisa menggeleng pasrah.

Louis bahkan tidak sedikitpun melonggarkan pegangannya di tangan Clara meski para perawat sudah berusaha melepaskan tangannya dari Clara. Akhirnya salah seorang perawat menyuntikkan sesuatu di lengan Louis. Dan meski masih sedikit kesulitan, akhirnya mereka berhasil melepaskan tangan Louis dari tangannya.

" Kekasih Anda pasti sangat mencintai Anda, Nona," ucap salah seorang perawat sebelum mereka membawa Louis masuk ke ruang UGD.

Selama beberapa saat Clara masih terpaku di depan pintu UGD, terlalu terkejut dengan reaksi Louis terhadapnya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status