MasukThree years after Vivian and I married into the Domingo family, our husbands' childhood crush Niama Guido came back to the town. Vivian and I had a whole escape plan. But the night before we bailed, Vivian threw herself off a high-rise. I called her husband, Pedro Domingo. He laughed, his tone nasty and cold. "Reena, my brother asked, since she jumped today, are you going to drown yourself tomorrow?"
Lihat lebih banyak“Paak … tolong panggilkan Bidan Hanum! Perutku sejak dari tadi sore sudah mulai terasa mulas, mungkin sudah saatnya bayiku ini lahir, Pak.”
Suara seorang wanita merintih menahan sakit dari atas bale-bale yang menjadi tempat tidurnya. Wanita itu nampak sudah sangat kepayahan menahan sakit yang menderanya, sehingga tak sanggup lagi bergerak meski hanya sekedar untuk pindah ke kamarnya.
“Paaak ….!” Pekiknya sekali lagi, kala orang yang dipanggilnya belum juga datang menemuinya.
“Paaaak!!! Aaaah …!” teriak wanita itu terus berusaha memanggil seseorang.
“Hah! I-iya, Nduk? Bapak tadi sedang membenarkan lampu di samping rumah yang tiba-tiba mati, ada apa?” tanya seorang pria paruh baya itu khawatir melihat kondisi anaknya yan tengah menahan sakit.
“Tolong panggilkan Bidan Hanum, Pak. Sepertinya cucumu ini sudah akan lahir, perutku sakit sekali, Pak. Aaaah …” pekik kesakitan wanita itu kembali terdengar, kali ini semakin kuat. Pertanda jika sakit yang ia rasakan saat ini sudah tidak dapat tertahankan, membuat pria paruh baya itu pun menjadi panik di buatnya.
“Sebentar, Nduk. Tunggu, Bapak, akan segera datang bersama Bu Bidan.”
Dengan tergopoh-gopoh pak tua itu bergegas mengambil sepeda ontel tua miliknya dan segera mengayuhnya secepat yang ia bisa. Beruntung lampu sepeda malam itu dapat ia gunakan, membuat pria itu tak ragu dalam mengambil arah. Meskipun malam belumlah terlalu larut, akan tetapi suasana di perkampungan tempat mereka tinggal sangatlah terpencil. Sehingga pada jam seperti ini, sudah sangat jarang di temui orang berkeliaran di luar rumah.
Tanpa mengenal lelah, pria tua itu terus mengayuh sepedanya. Hingga akhirnya ia menemukan pertigaan jalan sebagai pembatas kampung tempatnya tinggal yang menghubungkan dengan kampung lainnya. Bergegas ia membelokan sepedanya ke arah kanan, akan tetapi kayuhannya terhenti seketika kala dari arah berlawanan terlihat sosok seorang wanita yang di carinya.
‘Loh, Bu Bidan Hanum? Kebetulan, sekalian saja aku meminta bantuannya disini,’ pikir pria paruh baya itu.
Segera ia menghadang sepeda wanita itu.
“Bu Bidan, tolong berhenti, Bu. Tolong anak saya, dia sepertinya mau melahirkan.”
Melihat seseorang menghadangnya, sontak wanita itu pun menghentikan kayuhannya. Ia menatap pria paruh baya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ada apa, Pak? Siapa yang mau melahirkan?” tanya wanita itu dengan suara yang terasa lain dari seperti yang biasa ia dengar jika bertemu dengannya.
“Anak saya, Bu Bidan. Citra, dia sudah sangat kesakitan sejak tadi sore katanya. Sekarang dia sudah kepayahan, tolong ikut denganku, Bu Bidan,” pinta pria tua itu dengan ekspresi memelasnya.
“Hmmm, baiklah. Cepat, kau bonceng aku!” kata wanita itu seraya membawa sebuah tas kecil yang biasa dibawanya jika sedang bertugas keliling.
Tanpa banyak bicara segera saja pria paruh baya itu membonceng sang bidan dengan sekuat tenaga, karena ia harus membawa beban di belakangnya. Namun rasa berat itu tak ia rasakan saat ini, justru kayuhannya terasa seringan kapas, sehingga pria itu merasakan sebuah keanehan dalam hatinya. Akan tetapi karena teringat keadaan putrinya, ia pun menahan rasa penasarannya.
“Bu Bidan habis dari mana toh? Malam-malam begini masih keluar rumah?” tanya pria tu memecah kesunyian diantara mereka.
“Habis bantu persalinan juga, Pak Turwan. Jangan banyak bicara dulu, fokus kayuh sepedanya. Takut tiba-tiba kita terjatuh, makin lama jadinya. Kasihan putrimu.” Bidan itu menjawab dengan nada datar dan terdengar ketus, semakin menambah kejanggalan dalam hati lelaki itu. Namun lagi dan lagi ia terbayang keadaan putrinya.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di sebuah rumah sederhana, penerangan yang temaram semakin menambah aura yang terasa sedikit berbeda di malam itu. Sang bidan bersama pria itu segera turun dari sepeda, kamudian lelaki itu membukakan pintu untuk Bidan Hanum.
Nampak seorang wanita muda tengah menahan sakit di perutnya, keringatnya sudah membasahi sekujur tubuhnya. Bergegas bidan itu memburu pasiennya, segera ia melakukan pemeriksaan kondisi wanita hamil itu.
“Pak, bantu saya membawa putrimu ke dalam kamar! Di sini terlalu banyak angina masuk, kurang baik untuk ibu dan bayinya nanti.” Bidan itu meminta bantuan.
Dengan sigap pria paruh baya itu membantu putrinya untuk duduk, kemudian berdua mereka memapah wanita hamil itu masuk ke dalam kamar miliknya. Setelah berada dalam keadaaan terbaring, bidan itu pun meminta bantuan lainnya.
“Baiklah, Pak. Kalau begitu biar saya melakukan tugas saya selanjutnya. Bapak silahkan menunggu di luar, sambil menyiapkan air hangat untuk memandikan bayinya jika sudah lahir. Sebelumnya, tolong siapkan beberapa lembar kain bersih dan juga perlengkapan bayi yang bersih.”
Mendengar serentetan permintaan sang bidan, membuat bapak dari wanita hamil itu tertegun seketika. Tak mengerti dengan apa yang harus di kerjakannya terlebih dahulu. Melihat sang ayah sedang kebingungan, diantara rasa sakitnya, wanita hamil itu menyebutkan satu per satu perlengkapan yang diminta bidan. Kemudian sang ayah meletakannya di atas meja, lalu pria itu pun keluar untuk menyiapkan air hangat seperti yang diminta Bidan Hanum.
Setelah kepergian lelaki paruh baya itu, sebuah seringai pun terbit dari bibirnya. Segera ia pun beranjak menutup pintu kamar dan menguncinya. Sementara wanita hamil itu semakin gelisah menahan rasa sakit yang kini semakin tak tertahankan.
“Mari kita mulai!” ujarnya seraya mendekati wanita itu.
“Sudah siap?” tanyanya dengan suaranya yang datar dan ekspresinya yang tak bisa di tebak.
“Siap, Bu Bidan,” jawab wanita itu lemah.
“Gak usah takut, kau tidak akan merasakan kesakitan. Aku jamin itu! Beruntunglah kau ditangani olehku, sekarang bersiaplah.”
Kemudian terlihat bidan itu seperti sedang merapalkan sebuah doa, lalu meniupkannya ke seluruh tubuh wanita itu. Seketika hawa dingin terasa menyelimuti sekujur badannya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membuat wanita itu merasa nyaman, sakit yang dirasakannya pun hilang entah kemana. Namun wanita itu masih dapat mendengar semua arahan yang diucapkan sang bidan padanya.
“Ayo, sekali lagi! Dorong yang kuat! Jangan menyerah! Sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu, lihatlah! Kepalanya sudah mulai terlihat. Ayo dorong!” teriak bidan itu memberi semangat.
Dengan sekali dorongan kuat, akhirnya wanita itu melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Bergegas sang bidan melakukan tugasnya, membersihkan bayi tersebut. Serta tak lupa dengan ibunya yang kini masih terbaring lemah seraya mengatur napasnya.
Setelah selesai dengan bayi yang kini terlihat tenang, kini bidan itu pun menghampiri wanita yang merupakan ibu bayi. Dengan seringainya serta air liur yang mulai menetes, menatap penuh nafsu pada jalan lahir yang masih mengeluarkan darah kotor.
‘Darah! Aku ingin darah sekarang juga ….’
Meskipun wanita itu terlihat lemas, akan tetapi ekor matanya masih dapat menangkap gelagat yang tak biasa dari sang bidan.
Marco's voice shouting for a doctor echoed as blurry white coats darted in."How long was I out?""Three days."That's when I really saw him—hollowed out, voice wrecked. He clutched my hand like someone who'd barely made it through a storm. "The doctor said it was shock. Niama's been arrested. Death penalty.""What was in that letter?""Ree, it's over—""What was it?" My throat was sandpaper, but I had to know.He dropped his eyes. Took a second before answering. "It was... nude photos. Yours. Niama was planning to blackmail you. But Vivian opened the package. That's why she went that night. Ree, it's over. All of it."I shut my eyes, pulled my hand back, and turned away.Yeah. It was over.Time for me to go, too.I had kept a little of Vivian's ashes in a vial. I was gonna take her with me—to see the rivers, the mountains we always talked about, and that snow-covered peak from my dreams.I had my lawyer redo the divorce papers. This time, I handed them to Marco myself.He
He sighed like he was the victim here. "Reena, Niama and I are just friends. Why do you always doubt us? This all started because you were suspicious."I let out a sharp laugh. "Oh, really? So if I had some guy bestie, ditched you for him nonstop, got handsy in public, ignored you at home, let the gossip fly—and then just said, 'WE'RE JUST FRIENDS'—you'd be chill with that? Maybe even fluff a pillow for him in the guest room?"His face stiffened. Brows pulled tight.I gave a cold chuckle. "Yeah. Didn't think so. So what makes you think you get to ask me to be the generous one?"The car went dead quiet.Then Marco let out a slow breath. "So you're saying... if I cut off Niama, you'll drop the divorce?"I smiled. His face lit up like a fool.Then I laughed. "Of course not. I want a divorce because I can't stand you. I hate you."His face dropped, and I didn't even try to hide the grin tugging at my lips.So this is what it feels like to mess with someone you can't stand. Kinda a
Then, a video came through.Marco, caring and tender, was massaging Niama's ankle like she was some fragile princess. Every time she whimpered, he looked ready to call 911.I watched it stone-faced and typed back:[If you want him so bad, get him to sign the divorce papers. I won't stop you.]Niama, Marco, and Pedro were childhood sweethearts. Our whole circle used to place bets on which brother she'd end up with—half said Marco, half said Pedro.Then three years ago, Niama went abroad. News dropped, and everyone discussed it like it was celebrity gossip.Meanwhile, I was getting shoved into awkward blind dates. One of them turned out to be Marco.He proposed.Marco had that golden-boy rep—polite, capable, solid. We'd met a few times, so I said yes.Only now it hits me—he only showed up to that date because he was sulking after Niama left. And I just happened to be the one sitting across from him.And, of course, I was the one who fell first. He? Ice cold.So yeah, I was the
Marco squinted, his demeanor icy and suffocating. Honestly? He wasn't any better than Pedro.Our marriage was straight-up business. We played nice for a couple of years, but these last six months? Total mess. He crossed every line—he even came for my company.If I hadn't woken up and slammed the brakes, Vivian wouldn't have suggested running away with me.And maybe... she'd still be here.That thought hit me like a punch to the gut. For a second, it actually felt like I'd pushed her.My face paled. I yanked my hand back, trying to stay chill. "You should be asking him what he did to Vivian.""Reena—""Marco." I cut him off fast. I didn't care what he had to say. Especially not if he was about to drag Vivian's name into this. She deserved better. "Let's just get divorced. No drama, no family ties, no company talk."Originally, I was gonna dip quietly—mail the divorce papers, skip the drama, keep the business clean.But he already let Niama move in. Pretty sure he wouldn't put u






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan