LOGINMichaela Ferguson had tears streaming on her face and she had blood in the corner of her lips. She shook her head and replied, “It wasn’t me. When I arrived at Shalom shopping mall, your mistress was already injured.” Her husband, Thorne Ferguson didn’t believe her and said, “Pray that Paula will not die because should she die, I will bury you and your family alive.” Then he pushed her hard, and Michaela staggered and fell to the ground. Michaela was in a sorry state. She cursed the day she first met Thorne Ferguson. She had been nothing but a good wife to him. However, her husband had been cold and cruel towards her. Her heart was overwhelmed with bitterness. Thorne looked at his wife with icy-cold eyes and said sternly, “I will never forgive you for touching the love of my life. Paula is my bottom line. I will make sure that you get a life sentence. Please pray hard for her not to die, because should she die I don’t know what I will do to you and your family.”
View MorePintu rumah diketuk dengan tidak sabarnya. Aline sudah tahu siapa yang dari tadi mengetuk.
Wanita ini masih bergelut mengurusi kedua anaknya dan satu lagi anak mertua yang sedang menyantap sarapan. Sepertinya suara ketukan keras itu tak membuatnya bergeming. "Ervin! Jangan diambil seperti itu!" Aline segera mengambil tangan mungil anaknya yang berusia 3 tahun itu. Ervin mulai lagi mengacak-ngacak sarapan. Saat tangannya diambil, maka Ervin memprotes. Belum lagi Edwin yang tak sabar untuk berangkat ke sekolah. Mana makanan dalam kotak bekal yang sudah disusun oleh Aline malah tumpah berceceran karena ulah Ervin. Aline menghela nafas. Ia berusaha tetap tenang. Ia tidak boleh menjadi gila hanya karena hal seperti ini. Segera ia memisahkan kedua anaknya dan menyusun kembali isian di kotak bekal Edwin sambil sesekali melayani suaminya di meja makan. Pintu diketuk lagi. Ya, Tuhan! Aline sampai lupa membuka pintu saking repotnya. Sudah bisa ditebak wajah menyeramkan seperti apa yang muncul ketika pintu dibuka nanti. Aline setengah berlari membuka pintu rumah. "Wa'alaikum salam. Masuk, bu." Aline masih terengah. Puri mendesis kesal. Kuku tangannya sampai memerah gara-gara menantunya ini begitu lama membuka pintu. "Lama sekali!" Gerutunya kesal. "Maaf, bu.." Aline jadi tak enak hati. Baru saja ingin menyauti permintaan maaf Aline sudah terdengar lengkingan suara menangis. Aline kembali tergopoh-gopoh masuk ke kamarnya. Ternyata anaknya yang bungsu, Envier menangis karena terkejut tangannya digigit oleh Ervin. "Ini rumah atau kapal pecah!!" Aline bisa mendengar teriakan itu. Tapi mana bisa ia meladeni celotehan mertuanya di luar. Dia harus mengurusi Envier dulu. Tangannya memerah akibat gigitan Ervin. "Sarapan, bu." Tawar Alan dengan wajah datar. Dia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang diwarnai oleh tiga anak laki-laki yang aktif. "Gak nafsu!" Puri mendengkus. Bagaimana mau makan jika meja makan berantakan. Makanan bekas Edwin tadi masih berceceran. Belum lagi yang di atas meja akibat Ervin mengelap bekas makanan sembarangan. Alan bangkit dari duduknya. Mengambil tas dan kunci mobil. "Edwin, Ayo!" Serunya pada si sulung. "Aku berangkat dulu, bu." Alan menghampiri ibunya dan menyaliminya dengan takzim. Ia lalu ke kamar berpamitan dengan istrinya. Setelah Alan dan Edwin pergi. Rumah sedikit tenang. Envier yang masih berusia satu tahun itu didudukan di playmate ruang TV. Ervin juga. Tapi tetap diawasi karena kakak keduanya ini suka kumat jahilnya. "Ibu mau sarapan? Aku ambilkan, ya.." tawar Aline ramah padahal dia sudah kelelahan. Tenaganya terkuras habis di pagi hari. "Nggak usah, lah." Puri mengibaskan tangan. "Ibu kesini cuma mau bilang hari minggu nanti ulang tahun anaknya Sarah." "Oh, ya? Dimana bu?" "Di restoran cepat saji. Anak-anakmu di undang." "Baik, nanti mereka akan datang." Jawab Aline. "Ingat! Cuma anak-anakmu saja yang di undang." Puri kembali menegaskan. Aline mengangguk. "Baik, bu. Aku mengerti." Aline mencoba tersenyum walau hatinya tercabik. Sudah 7 tahun pernikahan. Tapi, Aline merasa dirinya belum diterima sepenuhnya oleh keluarga suaminya. Setiap ada acara keluarga, Aline tak pernah di undang. Yang diundang pasti hanya anak-anak. Entah itu acara pernikahan, ulang tahun, sunatan. Pokoknya Aline tidak diundang. Jikapun diundang, kehadiran Aline tak pernah dianggap. Awalnya Aline merasa rendah diri, tapi kelamaan dia jadi terbiasa. Apalagi Alan suaminya terkesan tak pernah membelanya. "Ooeekk!" Aline menutup mulut. Astaga. Dia mual sekali. Aline berlalu ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ah, ini ulah asam lambungnya yang naik. Pagi ini karena sibuknya mengurus anak dia belum sarapan dan baru meminum kopi sedikit. Pantas saja jika sakit maagnya kumat. "Kamu hamil lagi?" Puri menatap Aline curiga. Aline menyeka bibirnya dengan tissue. "Tidak, bu." "Awas ya kalau kamu hamil lagi! Lihat si Envier aja baru bisa berjalan. Masa mau kebobolan terus? Mau sampai kapan?" Puri mulai berceramah lagi. Dua tahun sekali pasti menantunya ini hamil. Dan yang keluar selalu calon pemain bola. Makanya rumah seperti kapal pecah dibuatnya. "Iya, bu." Aline hanya tertunduk. Dia jadi tak enak hati. "Pikirkan juga masa depan mereka. Kalau kamu hamil lagi, bayangkan pengeluaran mereka di masa depan. Biaya hidup, sekolahnya, kuliahnya itu semua menggunakan uang. Apalagi hanya Alan yang bekerja sendirian." Sambung Puri yang belum selesai berceramah. "Satu lagi.. pakai baju bagus walaupun cuma di rumah. Rambutnya di sisir rapi. Jangan asal cepol. Sumpah, ibu pikir tadi pembantu! Ternyata itu kamu." Ingin menangis saja rasanya Aline. Entah sindiran atau nasehat rasanya tetap saja hati Aline tercabik. Tapi ia tahan perasaannya seraya menggigit bibir. "Baik, bu. Terima kasih sudah mengingatkan." Suara Aline tergetar. "Sudah, ibu pulang dulu." Puri bangkit dari duduknya. Menghampiri kedua cucunya dan mengecup keduanya dengan penuh kasih sayang. "Ervin, jaga adikmu. Jangan kamu jahili terus!" "Siap, eyang!" Ervin tersenyum manis. Selanjutnya giliran Aline yang menyalimi mertuanya dengan takzim. "Hati-hati dijalan, bu." Puri hanya berdeham. Hari minggu tiba, ketiga jagoan Aline sudah siap berangkat ke pesta ulang tahun. Hari ini mereka memakai pakaian yang senada berwarna merah dengan telah memegang satu masing-masing kado. Kurang lebih, Aline mengerti sikap keluarga dari suaminya yang memang menyukai kemewahan dan suka hidup berlebih-lebihan. "Sudah siap?" Tanya Alan kepada tiga jagoannya. "Siap!" Edwin dan Ervin menjawab serempak. "Kamu serius gak ikut?" Alan beralih kepada istrinya. Aline menggeleng sambil tersenyum. "Kalian saja. Aku mau beres-beres rumah." Alan mengangguk. "Jangan merepotkan. Jangan menyusahkan. Edwin, jaga adik-adikmu ya!" Titah Aline kepada para jagoan. Keempatnya berlalu meninggalkan rumah untuk merayakan pesta ulang tahun. Ya, ini kesempatan untuk Aline membereskan rumah yang seperti baru kalah berperang. Sesuai kesepakatan dengan Alan. Mereka memang tidak menyewa asisten rumah tangga. Jadi semua pekerjaan di handle oleh Aline. Setelah berberes, dia bisa menarik pinggangnya sedikit untuk rebahan. Sebelum ketiga jagoannya pulang dan kembali berperang. Sampainya di restoran cepat saji. Edwin dan Ervin langsung bergabung bersama sepupunya yang lain sedangkan Envier diambil alih Puri. Alan bertegur sapa dengan keluarganya yang hadir. "Aline gak datang?" Tegur Sarah yang punya acara. "Aline sibuk di rumah." Jawab Alan seadanya. "Padahal semua keluarga kumpul disini. Kenapa dia gak pernah ikut?" "Aline memang begitu." Jawab Alan lagi yang tidak mau memperpanjang masalah. Padahal Alan tak tahu saja kalau istrinya ini ingin sekali ikut bergabung di acara keluarga suaminya. Tapi apa daya, inilah nasib dari istri yang tak diinginkan..A week before the Thanksgiving ceremony, the Saxon family, the Ferguson family, the Miller family, and the Wells family drove to KZN University to attend Ian and Kian’s graduation ceremony. They were the youngest graduates in history.The Ferguson elders’ hearts swelled with pride. After the graduation ceremony, they drove to His Grace Hotel to celebrate their great-grandsons’ graduation.Mr Saxon Senior had invited his great-grandsons’ professors to the celebration lunch. His Grace Hotel Chef had prepared a magnificent feast of delicious food.On the eve of Grandpa Ferguson’s eighty-fifth birthday, Storm and his family decided to spend the night at the Ferguson family mansion.The following morning, Thorne and his father, Hayden, arrived at the mansion carrying gifts.His wife, Gail, vowed that she would never set foot in the Ferguson family mansion because nine years ago her in-laws refused to change their son’s mind about going to jail.Storm and his family headed into the living ro
After Mr Ball left the church, Pastor Bernie’s phone started ringing. He picked up his phone and said, “Hello, Mr Cliff. How are you doing?”Mr Cliff's cheerful voice was heard, “Hello, Pastor Bernie. I am doing well. My youngest son, Jeff, was released from prison today. The Lord has been faithful in keeping him safe all these years.Pastor Bernie, would you be so kind as to come to our house to perform a cleansing ceremony for him?”Pastor Bernie heaved a sigh of relief to hear good news at last. He smiled broadly and replied, “Congratulations, Mr Cliff. I will come as soon as my wife returns from the Cage family’s house. She went with other ladies to comfort the grieving family.”The Cliff family missed the news of Paula and Sloane's passing because they were fussing over their son, Jeff.Mr Cliff had a confused expression and asked, “What happened to the Cage family, Pastor Bernie?”Pastor Bernie replied, “The news of Paula Cage’s death, along with that of her best friend, Sloane B
After Ava left the hospital, she didn’t go home. She decided to go to the amusement park. She wanted to think everything through before making a decision. She hadn’t divorced her husband for the past nine years because of her children.An hour later, Ava drove to the Cliff family mansion carrying a suit cover. She met her mother-in-law in the driveway. She greeted her mother-in-law with respect and asked, “Where are you going, Mom?”Her mother-in-law looked at her and replied, “Your father-in-law asked me to meet him at Durban Correctional Services. I hope nothing happened to my son, my dearest daughter-in-law.”Ava shook her head and said, “Mom, Jeff is going to be released from prison today because of Sloane’s confession.”Her mother-in-law was so happy that she cried tears of joy. She hugged her daughter-in-law tightly and said, “Let’s go to fetch my son, my dearest daughter-in-law.”Ava smiled brightly, then they drove to Durban Correctional Services. Her mother-in-law felt like sh
David looked at Sloane and asked, “Why did you do it, Sloane? Has Jeff ever offended you?”Sloane shook her head and replied, “I did it to make Paula angry. Also, Jeff was in love with Paula. I felt he didn’t deserve my best friend.”David couldn’t believe his ears and asked, “What happened between you and Paula?”A faint smile appeared on Sloane’s face, and she replied, “I have been planning to kill Paula for the past fourteen years for destroying my life. So, I lied to her that Jeff was killed by his inmates.I knew that she was going to attack me, but I was prepared. I stabbed her in her heart with all my strength. I hope she died.”David looked at her and shook his head and replied, “Paula died on the scene, Sloane.” Sloane was so happy that she laughed even though she was in pain.She looked at David and said, “If I were not badly injured, I would be going to light the fireworks to celebrate Paula’s death. I am so happy right now, nothing can upset me.”David looked at her coldly
The Williams couple felt humiliated and embarrassed to be chased away from their son’s wedding. Tears were flowing uncontrollably down Mrs Williams’ face.Her heart was overwhelmed with bitterness when she thought about Bettina and her daughter, Briana, laughing and enjoying the delicious food at th
Ian placed the ring pillow on the small table at the altar, then they sat between their great-grandparents, beaming with joy. Great-grandma Ferguson kissed their chubby cheeks.Michaela stood before her husband with a sweet smile on her face. Storm looked at his stunning wife with eyes full of affec
At 9 am, Bettina and her family drove off to His Shadow Resort to attend Clement and Penny’s wedding. They were chatting and laughing.When Briana came to the house to fetch her daughter, she asked her mother for Clement’s wedding invitation card. Her mother searched everywhere, but she couldn’t fin
Samson Cage was waiting for his wife, Kate, in the hospital parking lot. He couldn’t believe that his beloved sister had passed away. Tears were streaming uncontrollably down his face.A few minutes later, his wife’s bodyguard parked the car beside his car. Samson wiped the tears on his face, and th












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore