首頁 / Romansa / Step Brother Next Door / Bab (11) : Sesuatu Terbakar

分享

Bab (11) : Sesuatu Terbakar

作者: Anya Kiss
last update publish date: 2026-10-08 23:05:09
Hari itu Hades sedang keluar, dan ini kesempatanku.

"Kalau ibu sampai tahu aku masuk ke sini, aku pasti dimarahi."

Aku berbisik sambil menahan gagang pintu ruang kerja ayah agar tidak menimbulkan bunyi.

Bukan karena aku takut padanya.

Aku bahkan belum cukup lama mengenal Mattheo Visconti untuk bisa merasa takut seperti itu. Ia baru menjadi ayahku setelah menikah dengan ibu, dan hubungan kami cukup dekat untuk membuatnya memanggilku anak, tetapi belum cukup lama untuk membuatku merasa bebas
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Step Brother Next Door   Bab (56) : Kak, aku ikut!

    "Kak, aku ikut."Kalimat pertama yang keluar dari mulutku setelah beberapa hari sejak rentetan kejadian memalukan itu, kakak tiriku tidak mengajakku berbicara.Dan saat ini, ia tengah memanaskan mesin mobil sebelum berangkat. Dari barang-barang yang dibawanya, kemungkinan besar tujuannya adalah pangkalan militer.Aku tidak berniat membiarkannya berangkat sendirian.Malam ini aku sudah mengenakan rok pendek berwarna hitam, hoodie marun, dan sepatu yang nyaman untuk bepergian. Rambutku tergerai. Aku bahkan merias wajah, meskipun hasilnya mungkin akan sia-sia karena Hades berpura-pura tidak melihatku."Aku ikut," ulangku sambil keluar dari balik pilar dan berjalan mendekati mobil.Hades menatapku, kemudian menutup bagasi.Tidak ada jawaban, lalu itu berjalan melewatiku menuju pintu pengemudi."Tidak," balasnya singkat. Ia membuka pintu pengemudi dan meletakkan ponselnya di konsol tengah."Tapi aku ingin ikut," sahutku sambil menyandarkan sebelah tangan pada atap mobil.Hades menutup mata

  • Step Brother Next Door   Bab (55) : Berdarah

    Aku tetap diam, ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Bau minyak senjata bercampur belerang bakar. Ruangan latihan yang dingin. Telapak tanganku yang lecet karena terlalu lama menggenggam salah gagang belati. Dan suara kasar ayah yang tidak pernah mengizinkanku berhenti hanya karena tubuhku lelah. "Aku juga yang mengajarimu bahwa tidak semua orang yang tersenyum kepadamu datang dengan niat baik," lanjutnya sambil mengangkat telunjuk. "Juga ada hal-hal yang harus kau lihat tanpa perlu bertanya. Ada pintu yang tidak boleh kau buka hanya karena kau memiliki kuncinya." Ayah menurunkan tangannya. Tatapannya semakin tajam. Ia mendekatkan wajah sedikit, cukup untuk membuat setiap perkataannya terdengar lebih jelas. "Lalu sekarang kau berdiri di hadapanku dan menginterogasi setiap urusan yang tidak kuberikan kepadamu?" tanyanya dengan rahang yang semakin mengeras. "Karena aku tahu ada sesuatu yang salah," jawabku tanpa ragu, lalu tanganku mengepal menahan untuk tidak gegabah. "Ti

  • Step Brother Next Door   Bab (54) : Yang Dulu

    "Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. ayah akan bicara dengan Cherry," ujar ayah kemudian berbalik menuju pintu ruang cuci.Tapi, sebelum ia sempat melangkah keluar, ada sesuatu yang sejak kemarin mengganjal pikiranku."Ayah," panggilku tiba-tiba sambil mencengkram pinggiran keranjang baju.Ayah menghentikan langkah. Sebelah tangannya masih berada di dekat gagang pintu ketika ia menoleh sedikit."Ya?" sahutnya sambil mengangkat alis."Mantha," ucapku singkat sambil menatapnya lekat.Perubahan pada wajahnya awalnya tidak terlalu kentara. Tapi aku melihatnya, gerakan bahunya berhenri sesaat."Ada apa dengan Mantha?" tanyanya sambil menyipitkan mata.Aku menyandarkan pinggul pada sisi meja, lalu melipat kedua tangan di depan dada."Belum lama kita bekerja sama, urusan gudang dan stok untuk para utusan militer masih menggunakan jalur mereka," jelasku sambil mengamati reaksinya.Ayah tidak menyela. Ia hanya berdiri dengan satu tangan di saku celana, sementara tangan lainnya diam di sisi tu

  • Step Brother Next Door   Bab (53) : Marah

    "Adikmu tidak sengaja—" Kalimat ayah terdengar sangat menyebalkan di telingaku."Adik tiri," potongku dingin.Tanganku meraih botol deterjen di atas rak, kemudian menuangkan isinya ke wadah mesin cuci. Tutupnya kutekan hingga terdengar bunyi klik.Di sisi lain ayah tampak terdiam sebentar."Dia tidak bermaksud membuatmu kesal, Hades," ujar ayah lagi sambil menyandarkan bahu pada kusen pintu. Kedua tangannya masih berada di saku celana.Aku tak langsung menjawab, jemariku menekan tombol mesin cuci dengan kesal. Setelahnya mesin berbunyi."Tidak ada yang bertanya," jawabku datar, lalu aku menatapnya sinis.Mattheo mengembuskan napas pendek. Aku bisa merasakan tatapannya masih tertuju kepadaku, tapi aku tidak berniat membalasnya.Aku sudah cukup muak.Bukan hanya karena kejadian malam ini. Ada terlalu banyak hal yang harus kuterima sejak gadis itu tinggal di rumah ini.Bagaimana caranya mengatakan kepada ayah kalau anak perempuan tirinya itu tidak punya moral, tidak tahu malu, dan tampak

  • Step Brother Next Door   Bab (52) : Teguran

    "Cherry, berapa kali ibu harus mengingatkanmu untuk tidak ceroboh?" tegur Roseline sambil berdiri di dekat wastafel.Kedua tangan wanita itu terlipat di depan dada. Tatapannya tertuju pada putrinya yang sedang mencuci piring dengan kepala tertunduk.Cherry tidak menjawab, hanya terus sibuk dengan spons, sesekali membilas piring dengan air keran.Sejak makan malam berakhir, Hades tidak menoleh lagi kepadanya sebelum meninggalkan meja makan."Usiamu sudah cukup dewasa untuk memahami setiap tindakan punya konsekuensi," lanjut Roseline sambil melangkah mendekati meja dapur. Cherry hanya mengangguk kecil tanpa berani mengangkat wajah."Iya, Bu," jawabnya lemas sambil membilas piring yang berada di tangannya.Roseline menghela napas. Ia mengambil lap dapur yang tergantung di sisi lemari, kemudian mengeringkan permukaan meja yang sedikit basah."Dan ibu juga baru mendengar sesuatu yang lebih menarik dari kejadian malam ini," ucapnya sambil melipat lap tersebut. Nada suaranya semakin tajam.

  • Step Brother Next Door   Bab (51) : Soda

    "Apa bulu Nox tidak berjamur?" tanya Mattheo santai sambil meraih wadah kentang goreng di tengah meja.Hades tidak langsung menjawab.Perhatiannya masih tertahan pada tangan ayahnya yang terletak di atas meja. Telapak tangan itu bergerak seperti biasa. Tidak kaku, atau tidk ada gerakan yang tertahan, bahkan ekspresi pria itu tidak sedang menahan rasa sakit."Tidak," jawab Hades pendek sambil tetap mengamati ayahnya.Mattheo mengangguk kecil. Ia mengusap ujung jarinya dengan tisu sebelum mengambil kentang berikutnya."Benar-benar sudah diperiksa?" tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alis."Sudah," jawab Hades singkat."Dan jangan sampai Cherry memberi makan sembarangan lagi," ujar Mattheo sambil mengarahkan ujung kentang kepadanya sebelum memasukkannya ke dalam mulut.Cherry yang sedang membuka bungkus burger langsung mengangkat wajah, merasa tersinggung."Aku tidak sembarangan," protes Cherry sambil cemberut.Mattheo hanya tertawa pendek."Kau bulan lalu memberikan sesuatu dari d

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status