Step Brother Next Door

Step Brother Next Door

last updateLast Updated : 2026-09-30
By:  Anya KissUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
16views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Ia tinggal di kamar sebelah. Lalu, ibuku memintaku memanggilnya Kakak.” Pernikahan Ibu membawaku ke kediaman keluarga Visconti—rumah megah yang dipenuhi aturan, kekuasaan, dan rahasia yang tidak boleh dipertanyakan. Di sanalah aku bertemu Hades Visconti. Putra seorang mantan jenderal sekaligus letnan muda dari satuan elit. Dingin, keras, dan terlalu terbiasa memberi perintah. Sejak pertemuan pertama, Hades menegaskan bahwa aku hanyalah orang asing yang tidak seharusnya berada di rumahnya. Seharusnya aku menjauhinya. Namun, semakin keras Hades menolakku, semakin besar keinginanku untuk mengenalnya. Semua orang mengatakan Hades adalah kakak tiriku. Seseorang yang harus kuhormati, tetapi tidak boleh kuinginkan. Namun, bagaimana jika sejak awal aku tidak pernah ingin memanggilnya Kakak? — instagram: @anyak1ss Cover photograph : Baran Lotfollahi / Unsplash Cover typography : Anya Kiss

View More

Chapter 1

Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.

Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.

Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.

Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.

Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.

Tampan.

Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.

Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.

Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.

Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.

Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.

Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayangnya tidak bergerak. Aku mencoba sekali lagi.

Tetap terkunci.

"Serius?"

Bibirku mengerucut. Mataku menatap lamat lubang kunci, seraya membungkukkan tubuhku yang hanya harus sedikit berjinjit untuk mencoba mengintip melalui lubang kunci.

Aku melepaskan kenop itu dengan kesal.

Lalu—

duk.

duk.

Suara langkah dari boots kasar terdengar dari arah tangga. Berat, pelan. Berjarak beberapa meter dariku.

Aku membeku.

Langkah berikutnya terdengar lebih dekat. Aku tidak tahu mengapa udara di lorong tiba-tiba terasa berbeda.

Saat ia berhenti di belakangku, aroma debu, kulit, dan sisa asap rokok dari seragamnya ikut memenuhi lorong membuatku meremang.

Langkah itu ternyata berhenti tepat di belakangku, membuatku perlahan menoleh.

Aku mengangkat wajah.

Hades Visconti.

Tinggi sekali. Jauh lebih tinggi daripada yang terlihat dalam foto.

Tatapan Hades turun kepadaku. Dingin, diam menatapku tegang.

Foto-foto itu ternyata berbohong. Warna rambutnya lebih pirang, sekarang sedikit berantakan.

Dan wajah itu...

Sial.

Tidak ada satupun foto di ruang kerja Ayah yang cukup baik untuk menjelaskan betapa tampannya laki-laki itu dari jarak sedekat ini, wajah Eropa selatan yang diwarisi dari garis keluarga Visconti.

Iris matanya gelap, membuatku tidak nyaman.

Tubuhnya pun menunjukkan hasil bertahun-tahun disiplin. Pakaian militernya masih menyimpan bekas perjalanan panjang. Wajahnya sama sekali tidak terlihat ramah. Ada kelelahan yang berat di bawah matanya, juga sesuatu yang lebih gelap, amarah yang belum sepenuhnya reda.

Tatapannya masih jatuh kepadaku, lalu berpindah pada dadaku. Aku mengerti kenapa. Lalu kedua tanganku menutup kaus.

Namun aku tidak melihat ada yang salah. Aku awalnya hanya sedang berdua di rumah dengan ibu, dan setahuku, di kota ini hal seperti itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Setelah menatap dadaku, beberapa saat tapannya turun kepada tanganku yang masih berada di dekat kenop pintunya.

Rahangnya semakin mengeras, hingga aku menelan ludah. Mendadak aku tiba-tiba lupa apa yang ingin kukatakan.

"Ka—" suaraku tersangkut.

Aku menarik napas kecil, dengan intonasi yang berusaha sopan, tapi karena suaraku kecil, aku tak bisa mencegahnya kalau akan terdengar sengaja, manja.

"Kak Hades?" suara yang keluar akhirnya lebih mirip bisikan lirih yang ragu.

Seolah kata itu terdengar asing dari mulutku. Hades tidak menjawab. Ia hanya menatapku.

Tangannya terangkat. Telapak yang lebar dan kapalan itu mendarat di bahuku, kemudian menggeser tubuhku dari depan pintu. 

Aku menahan napas, Hades masih diam.

Matanya tidak menunjukkan apa-apa. Tidak ada kehangatan. Tidak ada keramahan seorang kakak. Hanya tatapan datar yang hampir membuatku menyesal telah membuka mulut.

Aku seharusnya hanya melihat matanya. Entah mengapa pandanganku justru berhenti terlalu lama di bibirnya.

Kemudian ia berkata pelan. "Namamu Cherry?"

Aku mengangguk pelan.

Hades bergeser ke samping dan mendorong bahuku pelan agar aku menyingkir dari depan pintu. 

Dorongan itu memang tidak keras sampai membuatku kehilangan keseimbangan. 

“Minggir.”

Aku terdiam, pria itu bahkan tidak menoleh lagi.

Hades mengambil kunci dari sakunya, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.

Ia masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hingga pintu itu tertutup di hadapanku.

Aku masih berdiri di lorong.

Jemari rampingku perlahan naik menyentuh rahangku sendiri. Aku tidak tahu apa yang lebih memalukan. Bahwa aku baru saja diperlakukan seperti anak kecil atau bahwa jantungku masih berdetak terlalu cepat karenanya.

"Pelan-pelan, dong!” aku masih menatap pintu itu, lalu mengerucutkan bibir.

Tidak ada jawaban, hanya keheningan. Kamar sebelah kembali menjadi miliknya.

Setelah akhirnya bertemu dengan Hades Visconti, mungkin rasa penasaranku memang seharusnya berhenti di sini.

Tetapi aku sudah terlambat.

Karena kakak tiriku sudah pulang.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status