LOGIN“Ia tinggal di kamar sebelah. Lalu, ibuku memintaku memanggilnya Kakak.” Pernikahan Ibu membawaku ke kediaman keluarga Visconti—rumah megah yang dipenuhi aturan, kekuasaan, dan rahasia yang tidak boleh dipertanyakan. Di sanalah aku bertemu Hades Visconti. Putra seorang mantan jenderal sekaligus letnan muda dari satuan elit. Dingin, keras, dan terlalu terbiasa memberi perintah. Sejak pertemuan pertama, Hades menegaskan bahwa aku hanyalah orang asing yang tidak seharusnya berada di rumahnya. Seharusnya aku menjauhinya. Namun, semakin keras Hades menolakku, semakin besar keinginanku untuk mengenalnya. Semua orang mengatakan Hades adalah kakak tiriku. Seseorang yang harus kuhormati, tetapi tidak boleh kuinginkan. Namun, bagaimana jika sejak awal aku tidak pernah ingin memanggilnya Kakak? — instagram: @anyak1ss Cover photograph : Baran Lotfollahi / Unsplash Cover typography : Anya Kiss
View MoreKamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.
Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.
Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.
Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.
Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.
Tampan.
Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.
Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.
Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.
Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.
Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.
Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayangnya tidak bergerak. Aku mencoba sekali lagi.
Tetap terkunci.
"Serius?"
Bibirku mengerucut. Mataku menatap lamat lubang kunci, seraya membungkukkan tubuhku yang hanya harus sedikit berjinjit untuk mencoba mengintip melalui lubang kunci.
Aku melepaskan kenop itu dengan kesal.
Lalu—
duk.
duk.
Suara langkah dari boots kasar terdengar dari arah tangga. Berat, pelan. Berjarak beberapa meter dariku.
Aku membeku.
Langkah berikutnya terdengar lebih dekat. Aku tidak tahu mengapa udara di lorong tiba-tiba terasa berbeda.
Saat ia berhenti di belakangku, aroma debu, kulit, dan sisa asap rokok dari seragamnya ikut memenuhi lorong membuatku meremang.
Langkah itu ternyata berhenti tepat di belakangku, membuatku perlahan menoleh.
Aku mengangkat wajah.
Hades Visconti.
Tinggi sekali. Jauh lebih tinggi daripada yang terlihat dalam foto.
Tatapan Hades turun kepadaku. Dingin, diam menatapku tegang.
Foto-foto itu ternyata berbohong. Warna rambutnya lebih pirang, sekarang sedikit berantakan.
Dan wajah itu...
Sial.
Tidak ada satupun foto di ruang kerja Ayah yang cukup baik untuk menjelaskan betapa tampannya laki-laki itu dari jarak sedekat ini, wajah Eropa selatan yang diwarisi dari garis keluarga Visconti.
Iris matanya gelap, membuatku tidak nyaman.
Tubuhnya pun menunjukkan hasil bertahun-tahun disiplin. Pakaian militernya masih menyimpan bekas perjalanan panjang. Wajahnya sama sekali tidak terlihat ramah. Ada kelelahan yang berat di bawah matanya, juga sesuatu yang lebih gelap, amarah yang belum sepenuhnya reda.
Tatapannya masih jatuh kepadaku, lalu berpindah pada dadaku. Aku mengerti kenapa. Lalu kedua tanganku menutup kaus.
Namun aku tidak melihat ada yang salah. Aku awalnya hanya sedang berdua di rumah dengan ibu, dan setahuku, di kota ini hal seperti itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Setelah menatap dadaku, beberapa saat tapannya turun kepada tanganku yang masih berada di dekat kenop pintunya.
Rahangnya semakin mengeras, hingga aku menelan ludah. Mendadak aku tiba-tiba lupa apa yang ingin kukatakan.
"Ka—" suaraku tersangkut.
Aku menarik napas kecil, dengan intonasi yang berusaha sopan, tapi karena suaraku kecil, aku tak bisa mencegahnya kalau akan terdengar sengaja, manja.
"Kak Hades?" suara yang keluar akhirnya lebih mirip bisikan lirih yang ragu.
Seolah kata itu terdengar asing dari mulutku. Hades tidak menjawab. Ia hanya menatapku.
Tangannya terangkat. Telapak yang lebar dan kapalan itu mendarat di bahuku, kemudian menggeser tubuhku dari depan pintu.
Aku menahan napas, Hades masih diam.
Matanya tidak menunjukkan apa-apa. Tidak ada kehangatan. Tidak ada keramahan seorang kakak. Hanya tatapan datar yang hampir membuatku menyesal telah membuka mulut.
Aku seharusnya hanya melihat matanya. Entah mengapa pandanganku justru berhenti terlalu lama di bibirnya.
Kemudian ia berkata pelan. "Namamu Cherry?"
Aku mengangguk pelan.
Hades bergeser ke samping dan mendorong bahuku pelan agar aku menyingkir dari depan pintu.
Dorongan itu memang tidak keras sampai membuatku kehilangan keseimbangan.
“Minggir.”
Aku terdiam, pria itu bahkan tidak menoleh lagi.
Hades mengambil kunci dari sakunya, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.
Ia masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hingga pintu itu tertutup di hadapanku.
Aku masih berdiri di lorong.
Jemari rampingku perlahan naik menyentuh rahangku sendiri. Aku tidak tahu apa yang lebih memalukan. Bahwa aku baru saja diperlakukan seperti anak kecil atau bahwa jantungku masih berdetak terlalu cepat karenanya.
"Pelan-pelan, dong!” aku masih menatap pintu itu, lalu mengerucutkan bibir.
Tidak ada jawaban, hanya keheningan. Kamar sebelah kembali menjadi miliknya.
Setelah akhirnya bertemu dengan Hades Visconti, mungkin rasa penasaranku memang seharusnya berhenti di sini.
Tetapi aku sudah terlambat.
Karena kakak tiriku sudah pulang.
Kepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya."Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York."Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku."Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat."Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat."Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali.Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong.Aku membuka pintu perlahan.Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit.Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan.Laci pertama, kosong. Laci kedu
Hades tidak berada di rumah pagi itu.Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti."Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana."Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis."Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."Hades tidak menjawab.Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.Aku pura-pura tidak melihat."Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan
Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan. Konyol.Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.Langkahku langsung terhenti.Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggu
Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit. Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri. Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku. Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting. Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri. Dasar galak. Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi. Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya. Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut. Mobil pribadinya. "Berikan," katanya tanpa men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.