Mag-log inLagi pula sejak awal Freya hanya pengganti kakak perempuannya Elia, yang menghilang karena kecelakaan sebelum pernikahan. Freya menjadi istri Nial Andrew, seorang putra konglomerat. Setelah dua tahun menjalani pernikahan, Freya jatuh cinta padanya, bahkan rela menyerahkan tubuhnya pada pria itu. Pada hari ketika Freya mengetahui dirinya hamil, di hari yang sama juga Nial menemukan kekasihnya. Sungguh menyedihkan, Freya dengan penuh kesadaran menyerahkan tempat yang sejak awal memang bukan miliknya, dia memutuskan melarikan diri agar Nial bisa bersatu kembali dengan Elia. Lalu lima tahun kemudian, mereka kembali bertemu, bukan karena kesengajaan, melainkan Nial yang terus mencari keberadaannya. Kenapa Nial tidak bisa melepaskan Freya begitu saja. Sebenarnya siapa yang Nial inginkan, Freya atau Elia?
view more"Kak Nial, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
Hanya hari ini harapan terakhir Freya. Dia sudah menghabiskan seluruh keberaniannya untuk berdiri di depan pintu kayu besar itu, pintu yang selalu terasa lebih tebal dari tembok mana pun di rumah ini, dan mengetuknya tiga kali dengan jemari yang masih dingin. Jika yang berdiri di sini adalah Elia, apakah dia juga harus menunggu selama itu? "Silakan masuk, Nyonya." Paul, asisten pribadi Nial, membukakan pintu dengan sikap sopan yang terlalu formal, seolah dia sedang menyambut tamu, bukan istri majikannya. "Terima kasih, Paul." Langkah Freya terasa berat ketika menyeberangi karpet tebal itu. Nial duduk di balik meja kerjanya dengan punggung tegak dan tatapan terkunci pada layar monitor. Dua tahun, dan Freya masih belum tahu rasanya ditatap sekali saja tanpa harus meminta. "Kak Nial." "Padahal kau bisa menyampaikannya lewat Paul, seperti biasa." Nial menjawab tanpa mengangkat kepala. "Apakah kau tidak bisa meluangkan waktu sebentar saja untukku?" tanya Freya hati-hati, sembari meremas ujung blusnya di balik punggung. "Apa penting?" Pertanyaan itu begitu singkat, tapi menusuk lebih dalam daripada sebuah bentakan. Penting? Apakah seorang istri hanya boleh bicara empat mata dengan suaminya ketika urusannya penting saja? Freya menelan ludah. Dia datang membawa kabar yang lebih penting daripada apa pun yang pernah dia miliki, dan di dalam perutnya, calon anak itu belum tahu bahwa ayahnya bahkan tidak mau menoleh. "Penting atau tidak, kau bisa menilainya sendiri." Nial akhirnya menatapnya. ‘Akhirnya, kau melihatku.’ Desah itu tertahan di dada Freya, sebab tatapan Nial datar dan tidak sabar, seperti seseorang yang sedang menghitung berapa menit dari jadwalnya yang akan terbuang. "Kak Nial, apakah kau ingat malam itu, beberapa minggu yang lalu? Malam ketika kita ..." Drrtt... Ponsel di atas meja bergetar, jauh lebih cepat daripada kalimat Freya. Nial melirik layarnya, dan dia seharusnya menolak panggilan itu, tapi dia justru menjawabnya sambil memutar kursinya setengah lingkaran, memunggungi istrinya sendiri. "Siapa yang kau maksud?" Freya mendengar suara Nial turun, rendah dan tertahan, jenis suara yang tidak pernah dia dengar untuk dirinya sendiri. Lalu bahu pria itu mengeras. "Dia? Kau yakin itu dia?" Dia. Satu kata itu membuat udara di ruang kerja terasa menipis. Freya tidak membutuhkan waktu lama untuk mencerna maksudnya, sebab hanya ada satu orang yang bisa membuat Nial kehilangan ketenangannya seperti itu. Lututnya bergetar, dan dia menahan sekuat tenaga agar tidak limbung. "Aku akan segera ke sana. Kau tunggu di sana." Nial berdiri, menyambar jasnya tanpa melihat Freya sedikit pun. "Kak Nial, kau mau ke mana? Aku belum selesai bicara." "Ada urusan penting. Kita bicara nanti saja." "Apakah lima menit pun tidak bisa? Kenapa selalu urusan orang lain yang penting, sedangkan aku harus menunggu sampai dua tahun?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, memberondong seperti air yang akhirnya menjebol bendungan. "Siapa sebenarnya yang akan kau temui? Apa mungkin dia? Kau sudah menemukannya?" Raut Nial mengeras. Bukan bahagia, bukan juga lega, tapi seperti pria yang kepergok. Freya hampir tertawa. Bukankah seharusnya dia bahagia? Wanita yang dia cintai akan segera pulang, dan peran istri pengganti ini akhirnya akan selesai. "Pergilah." Freya memalingkan wajah. "Aku tidak akan menghalangimu lagi." "Kita bicara setelah aku kembali," ujar Nial dingin, sebelum langkah sepatunya menghilang di koridor tanpa menoleh sekali pun. Freya melangkah keluar dengan pandangan kosong. Di depan pintu, Paul masih berdiri di tempatnya. "Nyonya, Tuan meminta saya tetap di rumah untuk menjaga Anda." "Dia bersikap seperti suami yang perhatian ya." Freya tersenyum sinis. "Paul, kau pasti tahu ke mana dia pergi." "Maaf, Nyonya, saya tidak bisa mengatakannya sekarang." "Kalau begitu cukup konfirmasi tebakanku saja. Apakah kakak perempuanku yang dimaksudnya tadi?" Paul tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Tapi keraguan di wajahnya sudah cukup menjadi jawaban. Senyum Freya berubah pahit, "Aku turut senang mendengar dia sudah ditemukan. Kenapa kau terlihat tidak senang?" "Nyonya, tolong jangan salah paham pada Tuan. Dia pasti akan menjelaskannya nanti." "Aku mengerti, Paul." Freya sudah tidak punya tenaga untuk membantah pembelaan itu. "Aku ingin kembali ke kamar." Dia menyeret kakinya melewati lorong dan anak tangga, dan begitu pintu kamarnya tertutup, tubuhnya ambruk. Air mata jatuh tanpa suara. Hari yang dia takutkan telah tiba, hari ketika semuanya harus dikembalikan ke tempat semula. Tapi kenapa harus hari ini, hari yang sama ketika dia baru mengetahui bahwa dirinya mengandung? Pernikahan itu sejak awal memang tidak pernah benar-benar miliknya. Sejak awal, Freya hanyalah pengganti Elia, kakak tirinya yang menghilang setelah kecelakaan mobil tiga hari sebelum hari pernikahan. Karena undangan sudah disebar dan klien penting sudah hadir, keluarga Andrew dan keluarga Moore terpaksa mengisi tempat itu dengan Freya. Itulah sebabnya Nial tidak pernah peduli padanya, sebab sejak awal pria itu hanya menginginkan Elia. Freya tahu dirinya bisa ditendang keluar kapan saja, tepat ketika Elia ditemukan. Tapi jauh di dalam hatinya, dia sempat berharap. Kalau dia bersikap sebagai istri yang baik, kalau dia bertahan sedikit lebih lama, mungkin suatu hari Nial akan mulai melihatnya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai bayangan Elia. Apalagi sekarang ada nyawa yang tumbuh di dalam rahimnya, anak yang mungkin bisa menjadi alasan bagi Nial untuk tinggal. Meskipun anak itu hadir dari ketidak sengajaan. Tapi setelah melihat sikap Nial tadi, saat dia pergi tanpa menoleh begitu mendengar nama Elia, Freya akhirnya sadar bahwa dia sudah tidak punya harapan sama sekali. Freya berdiri di depan cermin kamar mandi dengan wajah sembap. Dia menyentuh perutnya perlahan, lalu menatap pantulan dirinya sendiri, dan ekspresinya berubah. "Kau benar-benar tidak menginginkanku, kan, Nial? Apalagi anak kita." Dia tidak menunggu jawaban, sebab dia sudah tahu. Nial akan pergi meninggalkannya. Kemudian, tanpa kehadirannya, orang-orang mungkin akan mengecam anaknya. Bahkan berkata kalau anaknya adalah anak haram. Freya sudah lelah dicap sebagai anak haram keluarga kaya selama hidupnya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan anak ini mewarisi cap yang sama. "Kakak, aku sudah menjalankan tanggung jawabku sebagai penggantimu, jadi kelak kau tidak berhak menuntut apa pun lagi dariku. Semuanya akan kukembalikan padamu, karena sejak awal tempat ini memang bukan milikku." Tangannya gemetar begitu hebat, tanpa sengaja dia menyenggol gelas kumur di atas wastafel. PRANG! Pecahan kaca berhamburan di sekitar kakinya. Freya buru-buru berjongkok memungutinya, dan beberapa serpihan menggores punggung tangannya, tapi dia tidak merasakan sakitnya karena ada yang jauh lebih perih di dalam sana. Dia terdiam, memandangi kaca yang hancur berkeping-keping itu cukup lama. Hatinya terasa kosong, tapi di tengah kekosongan itu, ada satu pikiran yang justru terasa jelas. Kalau dia tetap tinggal, cepat atau lambat akan ada yang menyuruhnya pergi. Mungkin Margaret, mungkin Garrett, atau mungkin Nial sendiri dengan wajah dinginnya, dan dia harus berdiri di sana menahan malu sampai diusir seperti barang yang sudah tidak terpakai. Freya mencoba mempertahankan sisa harga dirinya yang tersisa, dia tidak mau menunggu sampai ada yang mengusirnya. Kalau memang harus pergi, dia yang akan melangkah lebih dulu."Ni-al?!" Tampah berisi ikan asin itu jatuh ke tanah, dan wanita yang menjatuhkannya berdiri membeku dengan kedua tangan masih terangkat di udara. Nial berhenti di tengah jalan setapak yang licin oleh sisa hujan, aroma amis yang menyengat itu menusuk hidungnya, dan untuk beberapa detik dia hanya bisa menatap wajah yang sudah dua tahun dia cari ke seluruh negeri. Semalaman dia terombang-ambing di atas kapal kecil menuju pulau terpencil di kota lain, hanya ditemani seorang pengawal dan Robert, informan yang ditugaskan mencari keberadaan Elia. Jalan setapak dari batu biasa dengan celah di sana-sini itu juga baru pertama kali dia injak. Seorang putra konglomerat generasi keempat yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan kesusahan, dan kehidupan orang-orang di tempat ini sama sekali tidak terbayangkan olehnya. Elia berlari lebih dulu, menabrak dadanya dengan kedua lengan yang memeluk erat. "Ni-al, apa ini sungguh dirimu? Aku masih tidak percaya." Tubuh Nial terasa tegang. Teman
Setelah memastikan semua barangnya masuk, Freya menutup resleting koper kecilnya pelan-pelan, takut bunyinya terdengar sampai ke lorong. Ia menghela napas pelan kemudian memperhatikan kamar yang telah menemaninya selama 2 tahun, dan menjadi saksi atas seluruh air mata dan lukanya selama tinggal di rumah itu. Ia bahkan tahu lebih banyak tentang tata letak apa saja yang ada di dalam kamar itu, dibandingkan Nial yang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja. Freya sedikit penasaran, setelah dia pergi, apa yang akan terjadi pada kamar ini? Apakah Elia akan menempatinya, tidur di ranjang yang sama, memakai meja rias yang sama, seolah dua tahun ini tidak pernah ada? Atau mungkin Nial akan menyuruh pelayan mengosongkannya, menjadikannya kamar tamu atau gudang penyimpanan? Mungkin tidak akan ada seorang pun yang mengingat bahwa pernah ada orang yang tinggal di sini. Freya tersenyum getir. Seharusnya dia tidak begitu terikat dengan apa pun yang ada di rumah ini, dengan begitu
Usai menyembuhkan tangannya, Freya lanjut mengerjakan agenda berikutnya; bersiap-siap untuk pergi. Dia membuka laci meja rias, mengeluarkan buku tabungan yang selama dua tahun ini dia isi sedikit demi sedikit dari uang bulanan rumah tangga yang tidak pernah dia belanjakan, lalu sebuah map berisi akta kelahiran dan surat tanda pengenalnya. Tidak ada satu pun dari semua itu yang berasal dari keluarga Andrew. Dia menghitung angkanya dua kali, takut ada yang hilang, padahal dia sudah tahu persis jumlahnya. Setelah itu dia membuka lemari. Di dasarnya, tepatnya di bawah tumpukan selimut yang jarang disentuh, terlipat sebuah mantel wol cokelat yang warnanya sudah memudar dan ukurannya jauh terlalu kecil untuk tubuhnya sekarang. Freya menariknya keluar, dan seketika pikirannya kembali ke umur delapan tahun. Lima belas tahun lalu, di tengah musim dingin, Elia yang saat itu berusia tiga belas tahun menguncinya di taman belakang. Dengan gaun tipisnya, Freya berdiri di sana sampai jari-
"Kau akan menggantikan Elia. Tiga hari lagi, di gereja yang sama, dengan pria yang sama." Dua tahun yang lalu, Freya berdiri di tengah ruang kerja ayahnya dengan kedua tangan terlipat di depan rok, tempat yang sama di mana setiap bagian hidupnya selalu dimulai dan diakhiri dengan sebuah perintah. Garrett Moore tidak menoleh ketika mengucapkannya. Pria itu hanya menatap laut gelap di balik jendela, tempat mobil Elia ditemukan hancur di dasar tebing semalam, tanpa seorang pun di dalamnya. "Ayah, Kak Elia bahkan belum ditemukan." Freya bertanya lirih sembari mencengkeram roknya. "Bagaimana mungkin Ayah sudah membicarakan pernikahan?" "Undangan sudah sampai ke tiga ratus tamu, termasuk menteri perdagangan, dua duta besar, dan hampir semua pengusaha besar di negeri ini. Yang paling penting, klien dari luar negeri yang diundang keluarga Andrew untuk kontrak impor mereka sudah mendarat kemarin." Garrett akhirnya berbalik, dan tatapannya terasa seperti seseorang yang sedang menimbang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.