Mag-log in"dokter Alvina." Langkah Vina terhenti menatap Danton tampan yang sangat suka menggodanya itu. "Ya." Jawab Vina ketus seperti biasa. "Boleh saya tanya sesuatu?" "Apa." Jawab Vina yang saat ini menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan matanya memicing curiga pada sang Danton. "Kapan saya bisa halalin bu dokter?" benarkan, dengan senyum jahil yang berhias lesung pipi danton kembali menggoda Vina. "Danton panggil saya hanya untuk tanya itu?" "Iya." "Danton kapan seriusnya sih sama saya." "Bu dokter, saya tanya nggak jawab sekarang malah tanya kapan seriusnya, sekarang juga boleh." Jawabnya menaik turunkan kedua alisnya. "Apanya?" "Seriusin bu dokter lah, pulang dari sini kita urus pengajuan ya." "In your dreams Danton." Jawab Vina kesal dan langsung berlalu meninggalkan danton tampan yang sedang tersenyum bahagia karena sudah sukses menggoda Vina lagi. Ini kisah Ganendra, Danton tampan yang gigih mengejar cinta Alvina dokter cantik yang memiliki trauma akan cinta, Vina biasa dia dipanggil nyaris kehilangan nyawa karena pria psikopat yang mencintainya. Banyak hal lucu dan konyol yang terjadi pada mereka berdua, berbeda dengan kisah Mommy Forza atau Abang Alvand, kisah Alvina sangat menggemaskan.
view more"Halo? Astaga, ini di ujung dunia mana, sih? Sinyal tiba-tiba hilang total begini!" Keluhan kesal dengan nada cerewet itu langsung menyergap pendengaranku di antara hiruk-pikuk kedatangan rombongan mobil bak terbuka di halaman Batalyon.
Suara itu, suara yang sama yang selama empat tahun terakhir menghantui setiap malam sepinya penugasanku di tanah Borneo.
Hari ini aku cukup sibuk, karena ditugaskan Danyon menggantikan Danki menyambut kedatangan para Tenaga Kesehatan yang memang dijadwalkan akan membantu kami semua yang ada di sini, memberikan pelayanan kesehatan secara gratis pada masyarakat dan juga pengetahuan mengenai pentingnya kesehatan.
Mobil yang membawa rombongan Nakes sudah sampai di Yon dan terlihat beberapa Nakes ada yang sudah turun, aku berjalan mendekati mereka semua, namun langkahku terhenti saat aku melihat seorang gadis yang sedang sibuk mengguncang ponselnya mencari sinyal. Gadis itu yang empat tahun lalu berhasil membawa seluruh hatiku, gadis yang sudah membuatku jatuh cinta sangat dalam, gadis yang aku temui di Resepsi pernikahan bang Alvand, kakak asuhku.
Gadis yang dengan juteknya menolak saat aku mengajaknya berkenalan, tapi aku justru menyukainya, jika saat itu Om Firza tidak memanggilku pasti sudah aku kejar terus sampai aku tahu siapa dia.
Selama empat tahun aku sudah berusaha mencarinya, tapi tak ada hasil karena keterbatasan waktu juga, aku di Kalimantan dan dia di Jakarta sehingga membuatku makin kesulitan, bang Alvand yang aku tanya juga bingung karena yang datang di resepsinya banyak dan aku juga tak memiliki fotonya jika punya mungkin bisa lebih mudah.
Tanpa di sangka aku kembali dipertemukan dengannya di sini, apa ini takdir dan mungkin kami berjodoh? Aku berharap iya, dia jodohku tak apa dia jutek dan mulutnya cerewet yang penting aku cinta.
“Selamat pagi semua rekan medis, selamat datang di tanah Borneo yang indah ini. Perkenalkan saya Letu Ganendra Badhrika Mahya, di sini saya sebaga Danton dan juga yang bertanggung jawab selama rekan-rekan ada di sini, jadi mohon kerja samanya jika akan pergi atau ada keperluan apapun koordinasikan sama saya atau anggota saya,” kataku memperkenalkan diri dengan tegas, aku memang sengaja mengeluarkan aura prajuritku.
Gadis itu menatapku seperti terkejut dan sedang memikirkan sesuatu, wajahnya terlihat menggemaskan saat aku memperkenalkan diri, aku yakin dia ingat denganku. Jantungku dengan tak tahu dirinya mulai berdetak makin kencang, aku sekuat mungkin berusaha mengendalikan diriku jangan sampai memalukan di depan banyak orang.
Aku memalingkan wajah berpura tak mengenalnya, sungguh aku sangat gugup seperti ABG yang sedang jatuh cinta saja. Kali ini, tak akan aku biarkan kau lolos dokter cantik, aku sudah penasaran ingin tau siapa namamu.
“Baik untuk rekan-rekan semuanya silakan memperkenalkan diri, katanya tak kenal maka tak sayang karena saya sudah memperkenalkan diri sekarang giliran rekan-rekan.”
Satu persatu mereka memperkenalkan diri, hingga tiba giliran gadis itu aku benar-benar memasang telinga karena posisinya ada di barisan paling belakang.
“Saya Alvina Putri Abhimanyu, biasa di panggil Vina dan saya dokter spesialis kandungan.” Dia menyebutkan namanya, wajahnya datar tanpa ekspresi sama sekali beda sama betina lainnya yang terlihat genit, tapi aku tetap suka walau tanpa ekspresi dia tetap cantik.
Alvina Putri Abhimanyu,nama yang cantik seperti orangnya bak seorang putri, coba itu bibir tipisnya dipakai buat senyum pasti cantiknya bakal naik berkali lipat.
“Baik, terima kasih sudah memperkenalkan diri, untuk ketua Timnya siapa? Karena ada yang harus saya bicarakan mengenai beberapa program selama 3 bulan ke depan.”
“Dokter Vina, Pak Danton,” kata pria berkacamata yang tadi kalau tak salah bernama Alex. Siapa tadi? Vina? Ini suatu keberuntungan atau kebetulan belaka? Bahagia? Jelas aku bahagia bersorak sorai dalam hati, karena pastinya sudah banyak ide di kepalaku untuk dokter cantik ini. Tunggu saja tanggal mainnya, dokter!
“Dokter Vina nanti bisa ikut dengan saya terlebih dulu. Untuk yang lainnya bisa langsung ke rumah yang akan rekan-rekan tinggali selama di sini dan anggota saya yang akan mengantar. Apa ada pertanyaan?” Semua menggeleng, “Baik, jika nggak ada yang ditanyakan, Serda Adit tolong antarkan rekan- rekan.”
“Siap, izin mengantar, Danton." kata serda Adit dan aku hanya mengangguk.
“Mari, Bu dokter Vina ikut ke ruangan saya,” ajakku dan dia hanya mengangguk saja mengikutiku di belakang.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik ke belakang, tak aku sangka dokter cantik ini menabrak tubuhku, dahinya sangat pas menabrak bibirku, jika ada yang melihat pasti mereka kira aku mencium keningnya, karena memang aku juga merasakan jika aku mencium keningnya.
Keberuntungan lagi apa hanya kebetulan?“Aduh!” katanya sambil mengusap keningnya berulang kali. Padahal 100% aku yakin tak sakit, tapi dia malah terus mengusap. “Kalau berhenti kasih aba-aba dong, Pak Danton yang terhormat.”
“Bu dokter kenapa di belakang saya?”
“Ish pelupa apa memang sudah pikun sih, tadi katanya saya disuruh ikut, gimana sih?”
Aku ingin tertawa melihatnya yang misuh-misuh terlihat menggemaskan sekali, tadi dia bilang apa? Aku pelupa dan pikun? Yang benar saja, kalau ya, aku nggak akan ingat dia yang 4 tahun lalu.
“Saya masih muda, ingatan saya masih tajam, saya juga masih ingat empat tahun lalu saat pertama kali kita bertemu,” kataku tersenyum menaik turunkan alisku.
“Nggak usah dibahas, tadi katanya mau ada yang dibicarakan jadi apa tidak?” jawabnya ketus, benarkan dia masih ingat pertemuan 4 tahun yang lalu.
“Jadilah, sini jalan di samping saya jangan di belakang, karena saya nggak butuh bodyguard, apa lagi kalau bodyguard-nya kurus begini.” Dia langsung melotot mendengar ucapanku, aku terkekeh geli melihat ekspresinya.
“Saran saya sebaiknya anda periksakan mata anda, mungkin bukan minus lagi tapi sudah plus, body bohay bak model begini dibilang kurus, asal anda tahu ya yang ngiler punya tubuh kaya saya tuh banyak,” jawabnya makin ketus, tapi nggak tahu kenapa aku justru makin suka meskipun dia galak.
Apa tadi dia bilang? Body bohay? Kalau dilihat memang iya sih dia sebenarnya nggak kurus karena semua terisi sesuai tempatnya aku hanya menggodanya saja. Dia sebenarnya sexy dengan tinggi mungkin ada 160 cm atau lebih, kulitnya putih bersih, bibirnya yang tipis, matanya yang agak sipit dengan bola mata coklat, hidung yang lumayan cukup buat nangkring kacamata memang semua pas untuknya.
“Mata saya bukan minus atau plus, tapi tertutup sama love yang beterbangan di depan mata,” mataku sambil membentuk simbol love dengan jari tangan.
“Iisshh, Pak Danton ini, jadi nggak sih? Kalau enggak saya mau istirahat.”
“Jadilah, ini pesan Danyon dan harus saya sampaikan pada ketua Tim. Mari, Bu dokter jalannya di samping saya jangan di belakang, karena Bu dokter calon pendamping hidup saya, bukan calon bodyguard saya,” kataku tersenyum dan dia langsung mengepalkan tangannya tepat di depan hidungku.
“Hey, enak saja kalau bicara, bosan hidup?”
“Iya, saya bosan hidup sendiri. Bu dokter mau menemani saya?”
“Aarrrggghh, Pak Danton, saya mohon dengan sangat kalau ada pesan dari pak Danyon dan akan disampaikan buruan karena saya nggak banyak waktu buat meladeni anda.” Aku ingin sekali tertawa melihat wajahnya yang frustasi karena ulahku, tapi aku tahan. Sabar Nendra ini baru hari pertama, stop menggodanya karena masih ada besok dan besoknya lagi selama 3 bulan dia di sini.
“Ya, sudah ayo jalan. Apa mau saya gendong?”
“Dantooonn.” Suaranya menggeram terdengar menakutkan, dia sudah sangat kesal denganku.
“Galak banget sih, untung cantik,” kataku yang langsung balik badan jalan duluan takut kalau dia makin kesal.
Pagi ini, kami ditugaskan mengawal para tenaga kesehatan ke posyandu, karena ada jadwal imunisasi. Kami berkumpul di halaman depan Yon untuk menerima pengarahan, serta pembagian tugas dari Danyon. Ada beberapa desa dengan medan cukup sulit, perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki. Bagi kami para prajurit, hal itu sudah biasa, bagi tenaga kesehatan mungkin ini akan menjadi perjalanan yang luar biasa. Kalian tahu, kawan? Sudah seminggu ini aku dibuat kesal oleh dokter cantikku, mau tahu kenapa? Karena sejak kedatangan Danki baru, dokter cantikku yang kalau marah, lebih galak daripada singa betina, selalu saja dibuntuti oleh Danki baru. Sepertinya Danki punya perasaan pada dokter cantik, dan itu tak akan aku biarkan, karena dokter cantik itu milikku seorang, Ganendra Bhadrika Mahya. Dan kalian tahu, kawan? Jika dokter cantikku makin hari makin manis juga terhadap Danki, membuatku uring-uringan setiap hari, hampir saja satu peleton kena amukku. Aku menatap dokter cantik yang berdir
Ganendra Pov "Motornya mana?" Aku menoleh ke belakang, dimana dokter cantik yang sudah aku rindukan, selama tiga hari ini berdiri. Aku menatap wajahnya yang terlihat sangat lelah. "Di bawa Serda Adit tadi siang." Jawabku. "Terus kita jalan kaki?" Aku mengangguk, aku tersenyum, entah kenapa aku sangat suka saat dia menyebut 'kita' rasanya seperti sudah ada sesuatu di antara aku dan dia. "Kalau dokter mau gendong saya juga boleh, ayo naik." Kataku. "Ogah." Jawabnya sambil jalan mendahuluiku, aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku berjalan mengikutinya dari belakang, memandang tubuhnya yang berjalan di bawah sinar rembulan, dia gadis yang cantik, jika sedang diam dia sangat manis sekali, tapi jika sudah galak, singa betina saja kalah galaknya. Langkahku terhenti, saat melihat dia juga berhenti dan berbalik menghampiriku. "Kenapa?" Tanyaku penasaran, karena dia seperti ketakutan. Tanpa aku duga, dokter cantikku langsung menggenggam tanganku, membuat aku makin penasaran. "Ada suara
Sudah satu bulan Vina dan Timnya berada di tanah Borneo mengabdikan diri melayani masyarakat, banyak hal baru yang Vina dan Timnya dapatkan selama di sana. Salah satunya keterbatasan peralatan medis yang tak selengkap, saat mereka bertugas di Rumah Sakit ABDI Jakarta. Ganendra, Danton tampan yang sangat suka menggoda Vina, sudah tiga hari tak terlihat membuat Vina bernafas lega. Hidupnya terasa tenang tanpa kehadiran Danton menyebalkan itu. Saat ini, Vina sedang berjaga di Klinik bersama suster Mimi, sedangkan yang lainnya berkunjung dari rumah ke rumah penduduk untuk pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan. Ada juga yang membantu para prajurit TNI mengajar di sekolah. Tim yang dipimpin Vina ada 9 orang, 10 beserta Vina yang terdiri dari 4 dokter dan 6 perawat. “Sudah beberapa hari ini Danteng nggak kelihatan ya dok,” kata suster Mimi membuka obrolan. Vina menoleh ke samping kirinya, di mana suster Mimi duduk. Danteng? Siapa dia, kenapa Vina nggak kenal, padahal hampir semua prajurit
Perlahan Vina membuka matanya. Ia tampak kebingungan, karena saat ini sudah berada di dalam kamar. Seingatnya tadi, masih menaiki motor bersama Danton yang menyebalkan, namun sayangnya tampan itu. Vina turun dari ranjang dan keluar kamar. Di ruang tengah masih ramai rekan-rekannya yang asik berbincang, karena baru jam 8 malam. “Ibu Danton sudah bangun?” sapa dr. Alex pada Vina membuatnya mendengus kesal. “Enak saja kalau ngomong.” “Lah emang iya, naik motor saja sampai ketiduran, saking nyamannya dan dengan romantisnya Danton menggendong dr. Vina ke kamar loh,” kata dr. Alex lagi. Vina terkejut mendengar jika Danton menyebalkan itu yang menggendongnya ke kamar. “Serius?” tanya Vina yang di angguki rekan-rekan lainnya juga. “OMG! Kenapa saya nggak di bangunin sih, Dok.” “Tadinya saya mau bangunin dokter, tapi Danton melarangnya dan akhirnya gendong dokter ke kamar, sweet banget tau dok,” jawab dr. Dwi membuat Vina mencebik kesal, sweet dari mana coba, yang ada tubuh Vina saat ini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.