LOGINReina Clementine Romano the youngest Romano of the Sicilian mafia and course the most badass. A successful CEO of the Romano's hotel in the day; but at the night she hides under the name The Black Hunter. A professional crazy criminal with talents in every corner of the underground world. The best shooter, body hunter, assassin, fighter, and practically anything you can name. Jax Phoenix Martinez the ruthless and bloody American Mafia boss. Feared by many cops and criminals. He loves seeing his enemies suffer so tortures him for days on end; nonstop. An absolute psycho! He simply doesn't give one damn towards anyone so say the wrong things to him and the rest of your life is not promised. Both are feared and talented in what they do; both love seeing their enemies on their knees begging for mercy; both are beyond the word crazy. What happens when they cross paths? Will the demons rise while the angel falls or will they be intertwined by fate and fate alone?
View MoreBBBUUGGG!!!
PPPRRAKKK!!!PPPPYYAAARRRR!!!"Aakkkhhhhhh!!!" Galaksi memekik kesakitan ketika sebuah botol menghantam kepalanya. Darah merembes menuruni dahinya.Uncle Sam berjalan sempoyongan. Ia mabuk. Wajahnya terlihat memerah. Muntab.Grep!Ia menarik kerah baju Galaksi. Memaksa tubuh bocah itu mendekat."Kemana aja lo pulang cuma bawa duit segini?!" Uncle Sam menunjukkan beberapa uang kertas pecahan puluhan ribu."Main ya lo?!" Sembur Uncle Sam menuduh. Mulutnya berbau alkohol yang sangat kuat."Se-sekolah..." Jawab Galaksi takut.PPYYAARRR!!!Uncle Sam menghantamkan satu botol lagi. Kali ini Galaksi bisa melindungi kepalanya dari hantaman botol itu meskipun harus mengorbankan lengannya."Sekolah? Lo pikir sekolah bakal jadi apa hah? Bocah nggak tau diuntung lo! Numpang hidup! Beban! Nggak becus cari duit!!!" Hardikan-hardikan kasar Uncle Sam terlontar.Inilah nasib Galaksi yang harus hidup dengan Uncle Sam yang pemabuk. Sepanjang hari laki-laki itu hanya tahu mabuk, mabuk, dan mabuk. Ia akan ngamuk dan menghajar Galaksi tanpa segan jika Galaksi tidak mampu membelikan wine untuknya."Kerja! Nggak usah sekolah lo! Buang-buang waktu doang sekolah!"Galaksi hanya diam sembari menunduk. Darah di dahinya turun masuk ke dalam mata. Membuat pandangannya kabur.Padahal tadi Galaksi sudah menerima perlakuan tak enak di sekolah dari geng Ezar, sesampainya di rumah ia justru menerima penganiayaan dari Uncle Sam."Lap sepatu gue bangsat!" Umpat Ezar kasar.Duuaakkk!!!Rio menendang punggung Galaksi. Membuat bocah itu terjerembab tepat di bawah kaki Ezar.Grep!Ezar menaikkan kakinya ke atas kepala Galaksi, menggilas kepala bocah itu sambil tertawa jahat."Akkhhhh!!!""Hahahaha... Bocah miskin, kacung rendahan!" Hinanya kejam."Hahahaha..." Tawa teman sekelas Galaksi ikut menggema. Mereka benar-benar menikmati adegan Galaksi ditindas. Ini semacam hiburan gratis bagi mereka.Sementara Galaksi benar-benar sudah tidak memiliki harga diri lagi di depan teman-temannya. Ia malu, juga marah, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak berdaya lantaran kemiskinannya.Ezar menjambak kepala Galaksi. Membuat bocah itu meringis kesakitan."Sekarang lap sepatu gue kacung!'Rio dan Seto bergegas menarik baju Galaksi. Melepas secara paksa seragam sekolahnya."Rio, Seto, jangan!" Galaksi memohon."Pakai ini!" Rio melempar seragam Galaksi ke lantai layaknya sebuah lap"Cepet!" Ezar menghadik tidak sabaran.Dengan amat sangat terpaksa Galaksi menurut. Ia mengambil bajunya dengan tangan gemetar. Mulai mengelap sepatu Ezar dengan perasaan yang tidak lagi dapat dilukiskan."Hahahaha... Orang miskin yang menyedihkan." Ezar berdiri. Ia mengambil beberapa lembar uang. Menebarkannya ke sekitar Galaksi."Ayo ambil uanganya Gala! Ambil bocah miskin!"Demi Uncle Sam, Galaksi terpaksa meraih lembar demi lembar uang yang ditebarkan Ezar."Lihat! Hei, kalian semua lihat bocah miskin ini memungut uang. Cepat videokan!"Galaksi meremas uangnya dengan marah. Wajahnya berubah merah. Demi sebotol wine ia rela dipermalukan seperti ini. Dan sesampainya di rumah Uncle Ron justru menghadiahkan sebuah pukulan demi pukulan ke tubuhnya. Ini benar-benar tidak adil bagi Galaksi. Hidup terlalu kejam.PLLLAAAKKKK!!!Tamparan keras mendarat di pipi Galaksi, kepalanya sampai menoleh ke samping."Ngelamun lo!" Bentak Uncle Sam. "Kerja sana!"Galaksi mengusap pipinya yang perih. Matanya memandang air putih di dalam teko yang terdapat di meja dapur. Galaksi haus luar biasa. Tenggorokannya begitu kering."Uncle, bolehkan Gala minta minum sedikit aja?"BUUGGHHH!!!Bukan air minum yang didapat Galaksi tapi justru pukulan yang menoyor kepalanya. Galaksi limbung. Tubuhnya jatuh terjerembab di lantai. Kepalanya sangat penting."Gue nyuruh lo kerja bukan minum.""Sedikit aja Uncle." Galaksi memohon dengan wajah memelas."Bocah kurang ajar! Sini lo! Sini lo!" Di bawah pengaruh alkohol Uncle Sam yang kalap meraih leher Galaksi. Kedua tangan besarnya mencekik bocah itu. Galaksi meronta-ronta. Ia memukul-mukul tangan Uncle Sam agar melepaskannya."Bocah nggak guna. Mati aja lo sekalian!""Mati! Cepat mati!""Mati!"Cekikan di leher Galaksi semakin kuat. Galaksi yang kehabisan nafas meregang nyawa di tangan pamannya sendiri. Usai menghabisi nyawa keponakannya, Uncle Sam yang ketakutan langsung membuang jasad Galaksi ke sungai yang letaknya memang tak begitu jauh dari kediaman Uncle Sam.***Waktu yang sama di tempat yang berbeda.Sreekkkkk!Arsen membuka pintu ruang kerja Papanya. Ia langsung terkejut. Pemandangan darah berceceran dimana-mana. Tubuh papanya tergeletak dengan pisau menancap di perut."Papa!" Arsen berlari, ia meraih tubuh Mr. Raja Daneswara, mengguncangnya dengan sedih."Papa bangun. Apa yang terjadi pada Papa?" Arsen mencabut pisau di perut Papanya."Akhh!" Mrs. Raja memekik pelan. Ia meraih tangan Arsen."A-Arsen, pergi dari sini. Se-selamatkan dirimu dan infinity weapons system, jangan biarkan Mata Iblis mendapatkan benda itu. Aku ti-tidak kuat lagi. ""Papa... Apa yang Papa katakan?"BBBRRRAAAAKKK!!!Pintu ditendang hingga jebol. Arsen melihat segerombolan orang berwajah seram. Sehendaknya ada enam orang. Mereka maju dengan membawa pistol di tangan."Arsen cepat pergi!"Dengan sangat terpaksa Arsen meletakkan tubuh Mr. Raja. Arsen menuju berangkas. Gerakan tangan Arsen terlihat terburu-buru tatkala memasukkan kombinasi kata sandi."Bagus, bagus sekali Arsen. Kemarikan benda itu, sayangi nyawa lo. Kalau lo nolak, kami bisa ngebuat lo menyusul Papa lo sekarang juga." Kata anggota mafia Mata Iblis yang berambut gondrong.Arsen meraih benda yang sangat berharga itu. Ia berbalik dengan desert eagle di tangannya. Sebuah pistol semi otomatis yang begitu mematikan."Jangan ada yang mendekat atau aku akan meledakkan kepala kalian!""Cih, gertakan bocah ingusan!"DDDOORRRRRR!!!Arsen benar-benar melepaskan satu tembakan, menunjukkan sisi kejamnya. Ia tidak hanya sekedar menggertak semata. Satu orang anggota mafia Mata Iblis tumbang di tangannya."Kurang ajar!"Drap! Drap! Drap!Arsen berlari cepat ke arah jendela.PPPYYYARRRR!!!Kaca jendela itu ditendang hingga pecah. Arsen melarikan diri lewat jendela dari lantai dua rumahnya. Tubuhnya yang atletis itu melompat turun dengan bebas. Ia mendarat sempurna di halaman samping rumahnya."Kejar Arsen! Jangan biarkan ia kabur membawa benda itu!" Teriak anggota Mata Iblis berambut gondrong dari jendela. Dilihatnya Arsen sudah masuk ke dalam mobil.DDDOORRR!!!DDDDOOORRR!!!Dua kali tembakan terdengar. Arsen bergegas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman Mr. Raja. Ia berhasil lolos dari dua peluru yang di tembakkan.Lima anggota mafia Mata Iblis cepat mengejar. Mereka memacu mobilnya tak kalah cepat demi bisa menyusul Arsen.DDDOOORRR!!!Suara tembakan kembali menggema. Arsen menggeber mobilnya lebih cepat lagi, meninggalkan para anggota mafia itu di belakang."Sial! Sial! Mereka terus mengikuti!" Arsen membanting setirnya. Ia berbelok tajam ke arah kanan, menuju jalanan sepi demi menghindari kemacetan. Mobil Arsen bergerak kesetanan meniti jalanan menuju luar kota."Tambah kecepatannya! Jangan biarkan Arsen keparat itu berhasil lolos! Kalau dia lolos kita bisa mati dilibas bos!""Baik, siap!"Mobil para anggota mafia itu juga menambahkan kecepatan. Di jalanan sepi bebas hambatan itu dua mobil saling berkejaran. Laju mobil bertambah cepat dan bertambah cepat lagi. Bahkan saat melaju di jembatan kedua mobil itu tidak mengurangi kecepatan sama sekali."Tembak bannya. Cepat tembak!!!"DDOORR! DDOORRR!!!Ban mobil Arsen yang belakang berhasil di tembak. Seketika bannya kempes. Mobilnya oleng. Arsen membanting setir ke kanan untuk menghindari menabrak pembatas jembatan. Malangnya Arsen tak mampu menguasai laju mobilnya. Kendaraan itu menghantam pembatas jembatan di sebelah kanan.BBBBRRRAAAAKKK!!!Bagian depan mobil Arsen copot. Kap depannya terbuka. Arsen kembali membanting setirnya ke kiri agar mobil tidak terjun ke sungai.NNNGGEENNNGGGG!!!Yang terjadi justru mobil Arsen terbalik beberapa kali. Laju kecepatan yang tinggi dan ketidakmampuan Arsen mengendalikan setir berakhir dengan membuat ia kecelakaan.Ckkittttttt!!!Rombongan mafia itu mengerem laju mobilnya. Mereka bisa melihat sisi-sisi pembatas jembatan yang sudah hancur. Mobil Arsen juga terbalik mengeluarkan asap putih."Aakkkahhhhhh!!!"Arsen merangkak keluar dari pintu depan. Seluruh kepalanya berlumuran darah. Kondisinya sangat memperihatinkan."Hahahaha... Mau lari kemana lagi kau Arsen sialan?!" Para anggota mafia Mata Ibris itu berjalan mendekati Arsen."Ayo Arsen. Serahkan benda itu."Arsen mendongak. Ia menyeringai."Kau menginginkan benda itu bukan? Kemarilah!"Satu orang anggota mafia Mata Iblis mendekat.Duuaakk!Bbrrakkk!!!Arsen yang terluka parah masih bisa menghantam kepala orang itu hingga ambruk di atas jembatan."Kurang ajar!" Maki anggota mafia berambut gondrong.Arsen bangkit. Darahnya menetes di permukaan jembatan. Ia meringis kesakitan."Serang!!!"Empat orang mafia maju mengeroyok Arsen. Dengan tubuh penuh luka Arsen menghadapi para anggota mafia busuk itu. Tendangan-tendangan Arsen berhasil melumpuhkan keempat anggota mafia itu.Duaakk!!!Duuuaakkk!!!Bbbuugghhh!!!Bbbraakkk!!!Sekejap empat anggota mafia itu sudah terkapar di atas permukaan jembatan. Mereka mengeluarkan rintihan kesakitan."Untuk orang yang sudah terluka parah seperti itu, tendangan lo lumayan juga Arsen." Anggota mafia yang berambut gondrong bangkit."Mau mencobanya lagi?" Tantang Arsen.DDDOOORRRRRR!!!Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara tembakan yang nyaring. Arsen melihat dadanya berlubang di tembus peluru."Aakkkkkhhhhhh!!!" Tubuh Arsen limbung. Ia berpegangan pada sisi pembatas jembatan.Rupanya anggota mafia yang dihantam oleh Arsen tadi masih bisa bangkit lagi. Kini ia melakukan serangan pembalasan tanpa diduga-duga."Hn, sudah sekarat Bung?" Ejek anggota mafia berambut gondrong tadi.Arsen melangkah mundur. Ia memegangi dadanya yang telah bolong. Rasanya ia hampir tidak kuat lagi. Tubuhnya telah menerima luka yang begitu fatal."Tadi gue udah bilang untuk memberikan benda itu baik-baik. Lo nya tipe ngeyelan sih. Sekarang lo tahu kan akibatnya? Hahahaha...!"Ansen masih bisa mengulas senyuman tipis."Kalian mau benda ini?" Arsen menunjukkan tabung bening. Di dalamnya terdapat alat suntik yang berisi cairan liquid berwarna biru laut."Berikan benda itu Arsen brengsek!"Arsen melirik sekilas ke sungai. Ia melihat arus deras di bawahnya. Suaranya bergemuruh mirip air terjun."Dapatkan benda ini kalau kau bisa!"Arsen dengan nekatnya melompat dari atas jembatan."TIDAK ARSEN!!! JANGAAAANNNN!!!"BBBYYUUURRR!!!Tubuh Arsen hilang ditelan arus deras sungai. Meninggalkan bekas darah merah pada permukaan air setelahnya.Reina's Point of ViewIt was dark. Pitch black. The last thing that I remembered was that I was sitting on the sofa watching Alvin and the Chipmunks in the lounge whilst waiting for Narc to return home and now I was here. Blinking rapidly, my eyes were attempting to adjust to where I was as well as the sense it would make for me to be here.A cell. I was in a fucking cell. What the actual fuck? It was dirty and dingy as per a usual cell. I tried looking for anything for a sign of hope but there was nothing in sight and being tied up to a chair also doesn't help us at all. Just then footsteps approached."Reina.""Jax." My tone was full of shock a confusion that he was behind all of this, "what the hell is this?"He was smoking a cigarette while coming closer; he looked hot. No. No. No. Reina focus. He has you locked in a cell for no reason and you are going to get the answer that you truthfully deserve."You thought you could get away with deceiving me and my men?" he questioned with
Jax's Point of ViewThe gunshots were fired and my mind raced across all the possibilities of who was behind the attack and how they even managed to get the way around here. Of course, the first thing to come to mind will obviously will be the Milans but that only answers one question on who it was not the rest.My gang members had placed all their trust in me as I offered them safety and protection but now their bodies were dropping to the ground with no second words. Panic was now belittling my whole figure. I have to readjust myself if I'm going to put myself back in charge and help the people that I refer to as my brothers and sisters even if we are not blood since it's loyalty that binds us together not blood in the end.I am Jax Martinez. The American Mafia bosses. The one people fear and obey to my commands. Who the fuck did the Greek think they are busting in here and attack my family? They would pay for their actions with the harsh rage and fury that I'll spell and brew onto
Reina's Point of ViewHe was a fucking annoying little twat? I wanted to choke his neck that my nails dg so deeply into his skin that it will have blood oozing out. He always found way to provoke me as if he would ever succeed to beat me in a fucking fight. So yeah, I challenged him to a fight.Stupid motherfucker can't win against me. Not even in his dreams.So here I was onto round two. I won the first round and looking at that scowl scarred on that bitch's lap. Narc walked in and that totally threw me of my game. I was jabbed right in the jaw. Fuck that hurt but I managed to regain myself and get on top and beat the crap out of him. I was punching and punching with no with remorse in my system just pure anger flowing in my blood pumping the hatred for him viciously.He was choking blood out and not to deny my psychoness or anything but I absolutely loved it. Seeing him suffer was my satisfaction. I felt a sudden pull on my body restraining me to hit him anymore. Who does we think i
Reina's Point of View"One more surprise." I said to him. He probably doesn't have good memories and probably spent most of his somewhat called childhood training to be the best mafia leaders and did need pay off in the end as nearly the whole world fears him but nonetheless it's a pitiful childhood to look at. He has probably never even done the activity I have chosen and it'll take him very much to surprise.I parked and dragged hm to the beach. The beach where the sun was setting and it seemed absolutely gorgeous from any angle you looked at it and for people that can't appreciate the sun what the hell are you doing with your life? The sun was the most admirable part of nature and seemed beautiful. The sky was a mx between orange and red as if a whole thoroughly though out explosion had just occurred."it's beautiful, isn't it?" Narc stated while wrapping his strong arms around my hips and resting his chin on my head. He clearly noticed that I was mesmerised by it completely."it r
Reina's Point of ViewSpontaneous thinking. God it was so much fun to think of something that you would never do alone but do it with someone you absolutely hate. So, you know me being me the most amazing person Narc will ever meet, I realised that he doesn't have much adventure in his life and that
Jax's Point of ViewShe didn't follow my order. Who does she think she s? She has no idea on what could be the possible chances of her interacting with other criminals that have a feared and heartless reputation in the underground. Mob bosses and other bounty hunters could easily skin her alive for b
Reina's Point of View"You're my bitch." I mouthed to him while keeping a straight nice upfront to Felix.He seems to be a decent gut to be honest. He has a wife as I see the ring on his finger and probably also has kids."Well, Jaxy was a total bad boy in high school, y'know getting all the chicks.""H
Jax's Point of ViewI found myself looking for her in the crowd. What the hell was happening to me? I just felt the constant need to look out for her. I know she can defend herself but I felt protective over her and that feeling was one that I would not be able to shake off no matter how hard I try t






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.