分享

Bab 121 Bedak

last update publish date: 2026-05-18 20:40:15

Dua minggu aku menjalani masa pemulihan, pasca kejadian di belakang kampus. Selama itu pula, Neni selalu datang ke rumahku, dengan berbagai makanan yang dia bawa dari ibunya.

“El, aku ada kabar terupdate dari kampus. Kamu pasti heran mendengarnya,” ucap Neni, dia menyimpan gado-gado buatan ibunya ke atas nakas.

“Oh ya? Kabar apa? Ayo cerita, apa ada mahasiswa baru di sana?” tanyaku.

“Sambil cerita, kamu makan ini gado-gado. Biar nggak cepat basi.” Neni menyodorkan piring berisi gado-gado ke ara
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (6)
goodnovel comment avatar
carsun18106
jd mawar gatel2 gara2 disun si kribo atau gara2 bedak abal2, atau keduanya? wkwkwk
goodnovel comment avatar
carsun18106
si mawar ini disiksanya pelan2 ya
goodnovel comment avatar
Yuni Masrifah
iya kak!!!
查看全部評論

最新章節

  • Suami Misteriusku    Bab 125 Gegabah

    Aku heran dengan sikap mereka berdua. Kulihat tangan Tante Ella gemetar. Kemungkinan dia gugup karena melihat ketampanan ayahku. Bahkan kudengar Tante Ella menyebut nama ayahku.“Tante … kenal dengan ayahku?”“Ja-jadi … Elia anakmu? Apakah dia anakmu bersama Sophia?” tanya Tante Ella, matanya tak lepas dari ayahku.Ayah tersenyum tipis, dia menyipitkan matanya.“Stella! Sudah lama kita tidak bertemu.” Ayah melirik ke arah Neni.“Apakah Neni juga anakmu? Kebetulan Neni adalah teman Elia. Benar sekali, Elia adalah anakku bersama Sophia!” seru Ayah.Tante Ella berkeringat, padahal suasana di tempat ini terasa dingin.“Em … Ayah, apakah Ayah temenan sama Tante Ella? Kok Ayah nggak pernah cerita sama aku?” tanyaku.“Stella! Namanya Stella, Sayang! Dulu dia menghuni kontrakan dekat rumah kita,” jawab Ayah.Aku mengangguk, aku baru tahu nama panjangnya Tante Ella. Bagus juga.“Wow! Baguslah kalau kalian sudah saling kenal. Neni, jadi kita tidak usah susah-susah mengenalkan mereka! Sebaiknya

  • Suami Misteriusku    Bab 124 Makan Malam

    Neni membeliak, spontan ia menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.“Elia, kamu bercanda, kan? Sumpah ini tidak lucu!” sergah Neni.Cepat-cepat aku menggeleng, kutatap wanita yang ada di hadapanku ini dengan harapan yang begitu besar.“Aku tidak bercanda, Nen. Aku memang menginginkan ayahku menikah dengan ibumu,” ungkapku.Neni mengangkat tangannya di hadapanku, dengan gelengan kecil.“Elia! Kamu memang sedang bercanda. Aku yakin itu!”“Tidak, Nen. Aku tidak bercanda. Aku serius mengatakannya. Dari keluarga ini, aku merasa menemukan kecocokan. Aku menemukan kasih sayang, aku menemukan saudara yang baik, aku menginginkan hal itu. Aku ingin kita hidup bersama sebagai saudara,” ucapku.Neni menatapku tak percaya.“Secara tidak langsung, kamu sudah menjadikan ibuku sebagai pelakor, El. Ibuku tidak seperti itu. Kamu masih memiliki ibu, tapi kamu berencana ingin menikahkan ayahmu dengan ibuku. Apa … kamu tidak memikirkan dampaknya akan seperti apa? El, pikirkan dengan baik, ya! Aku tidak

  • Suami Misteriusku    Bab 123 Menginap

    Aku penasaran dengan luka itu. Namun, rasa ingin buang air ini mengalahkan rasa penasaranku.Cepat-cepat aku menuntaskan urusanku di kamar mandi. Setelah merasa lega, aku kembali ke ruang tamu.“Bu, malam ini boleh, ya, Elia nginep di sini!” pinta Neni, ketika kami tengah berkumpul.“Em … memangnya Elia sudah minta izin sama orang tuanya? Ibu sih nggak masalah Elia menginap di sini, malah senang,” sahut Tante Ella.“Belum, Tan. Aku hubungi dulu ayahku. Semoga Ayah ngizinin,” ucapku.Aku merogoh ponselku dari dalam tas. Lantas menghubungi Ayah.“Nginep, ya? Em … Ayah bilang dulu pada ibumu. Jika ibumu mengizinkan, maka Ayah juga akan mengizinkan. Begitu pun sebaliknya,” ucap Ayah, ketika aku meminta izin.Telepon pun diakhiri. Tak berselang lama, Ayah mengirim pesan.(Ibumu mengizinkan, tapi ingat, hanya satu hari, jangan keluyuran apalagi malam-malam. Besok kamu sudah harus pulang).Aku tersenyum lebar. Seumur-umur baru kali ini aku diizinkan untuk menginap di rumah teman. Rasanya aku

  • Suami Misteriusku    Bab 122 Introvert

    Aku terkesiap melihat wajah Mawar. Kulit wajahnya perlahan memerah.“Kenapa dengan wajahku?” tanya Mawar.“Ih, Mawar, wajahku merah-merah itu. Coba kamu ngaca!” titah Neni.Sesuai ucapan Neni, Mawar mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya. Matanya membeliak, membulat sempurna.“Aaaaaargh!” jerit Mawar, yang berhasil mengundang rasa penasaran mahasiswa yang lain.Mereka datang, mencari tahu sumber kegaduhan. Ketika melihat Mawar, beragam reaksi mereka tunjukkan. Ada yang terkejut, ada yang prihatin, ada juga yang menahan tawa. Dari sini aku bisa menilai, orang yang menuruti keinginan Mawar, tidak sepenuhnya menyukainya. Buktinya, di saat Mawar ada masalah, sebagian orang malah menahan tawa, seolah derita Mawar adalah lelucon bagi mereka.“Wajahku kenapa?” Mawar menangis, dia menggaruk wajahnya.Aku cukup ngeri melihat pemandangan ini.Mawar lantas pergi dari sini, dia berlari sambil menangis.“Masuk, yuk!” ajak Neni.Kami pun masuk ke dalam kelas. Di sana, kulihat lelaki yang perna

  • Suami Misteriusku    Bab 121 Bedak

    Dua minggu aku menjalani masa pemulihan, pasca kejadian di belakang kampus. Selama itu pula, Neni selalu datang ke rumahku, dengan berbagai makanan yang dia bawa dari ibunya.“El, aku ada kabar terupdate dari kampus. Kamu pasti heran mendengarnya,” ucap Neni, dia menyimpan gado-gado buatan ibunya ke atas nakas.“Oh ya? Kabar apa? Ayo cerita, apa ada mahasiswa baru di sana?” tanyaku.“Sambil cerita, kamu makan ini gado-gado. Biar nggak cepat basi.” Neni menyodorkan piring berisi gado-gado ke arahku.Aku segera menerimanya, lantas mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut.“Em … memang ada, sih, ada mahasiswa baru. Dia lelaki pernah yang nolongin kamu. Namanya Arion! Tapi … bukan itu yang mau aku ceritain,” jawabnya.Aku begitu menikmati gado-gado buatan Tante Ella. Rasanya sangat nikmat. “Lantas kabar apa yang mau kamu ceritain?” tanyaku di sela-sela mengunyah.“Aku dengar Jessy mengalami halusinasi lalu dia bunuh diri dan meninggal. Terus Mimi, selama dua minggu ini dia menghi

  • Suami Misteriusku    Bab 120 Menjelaskan

    Dia lelaki yang pernah bertabrakan denganku? Dia datang menyelamatkanku? Sepertinya aku harus menyingkirkan rasa malu itu. Nyawaku lebih berharga daripada sekedar resleting celana yang terbuka.“Siapa, kamu? Beraninya!” bentak salah satu orang suruhan Mawar.Lelaki itu tidak menjawab, dia menyelamatkanku tanpa suara. Dia hanya satu orang. Namun, kulihat dia sanggup melawan mereka yang bukan hanya satu dua orang. Aku harap dia baik-baik saja, aku harap dia bisa membawaku pergi jauh dari sini.Sementara Mawar, aku sudah tidak lagi melihat wanita itu. Aku tidak menyadari kepergiannya.Dalam kesakitan, aku hanya memperhatikan perkelahian mereka. Aku kesulitan untuk bangun, gerakan yang tersisa dalam diriku hanyalah mata dan napas. Selebihnya hanya sakit yang kurasa.“Argh!”Aku tersentak, lelaki asing itu sedikit terluka di bagian wajah. Pelipisnya mengeluarkan darah. Namun, tidak kulihat kepasrahan dalam dirinya. Dia terus bergerak melawan, hingga pada akhirnya satu persatu orang-orang M

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status