LOGINAku tidak pernah menyangka bahwa aku akan mempermalukan diri sendiri datang dan meminta seorang lelaki menikahiku. Bukan tanpa sebab, aku melakukannya karena sebuah alasan yang sangat besar. Berawal dari keisenganku yang sering mengintip seorang tetangga yang beberapa kali menjadi pengantin baru. Namun, pernikahan tetanggaku selalu berjalan singkat, dengan akhir yang sama. Kematian tak wajar. Aku nekat masuk ke dalam lingkaran misteri tetanggaku dengan menawarkan diri untuk dinikahi, dengan tujuan ingin menguak misteri penyebab kematian semua wanita yang dia nikahi. Alhasil, pada saat malam pertama, aku dibuat ketakutan oleh lelaki itu. Mungkinkah di malam pertama kami menikah, akan menjadi titik akhir dalam hidupku, dan menjadi bagian dari daftar kematian seperti mereka? Ikuti kisah selengkapnya!
View More“Darah lagi?"
Aku membekap mulutku sendiri. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Aku Sophia, awalnya berniat untuk mencuci piring di luar, di kran pinggir kontrakanku, seketika urung melakukannya. Aku bersembunyi di balik pohon setinggi pinggang orang dewasa. Mata ini tidak sengaja menangkap satu sosok yang aku kenal tengah membersihkan cairan darah segar di kedua tangan di samping rumahnya. Dia Tristan, tetangga kontrakanku. Namun, dia bukan tinggal di kontrakan, melainkan rumah miliknya. Rumah yang lebih besar dari rumah-rumah yang lain. “Ini sudah kesekian kalinya Tristan membersihkan darah di tangannya. Aneh, setiap dia sudah menikah, dia selalu melakukan hal yang sama. Bahkan kaos yang selalu dia kenakan, banyak sekali titik-titik cipratan noda darah. Apa sebenarnya yang terjadi?” batinku. Kuurungkan niat awalku mencuci piring. Bulu kudukku kembali merinding, setiap kali melihatnya membersihkan cairan darah. Pasti akan ada sesuatu setelah ini, aku yakin. Ini bukan hanya satu dua kali terjadi. Namun, ini sudah sering. Diam-diam tanpa bersuara, apalagi terlihat olehnya, aku masuk ke dalam kontrakanku. Degup jantungku tidak bisa kukontrol, berdegup sangat cepat. “Ya Tuhan, ada apa sebenarnya?” gumamku. Aku ingat, beberapa kali Tristan pernah mengajakku menikah. Namun, beruntung sekali aku selalu menolaknya. Dia lelaki aneh, dia … dia begitu misterius. Aku mengangkat sebelah tanganku ke udara. Beberapa jari kulipat sambil berkata, “Satu … dua … tiga!” “Telah berpulang, nyonya Anastasya atau istri dari bapak Tristan ….” Suara pengumuman yang berasal dari pengeras suara menggema di kedua telingaku, terdengar nyaring mengumumkan kematian istri barunya Tristan. Dari luar, kulihat orang-orang berbondong-bondong mendatangi kediaman Tristan. Aku hanya diam di kamar, sesak rasanya jika aku keluar, melihat kenyataan bahwa istri Tristan yang kesekian juga meninggal. Maharani, Adinda, Friska, Adelina, Dea, dan sekarang … Anastasya. Entah akan berapa banyak lagi kematian misterius itu terjadi di rumah Tristan. Dalam ketakutan, aku sampai tertidur dalam kamar yang sengaja kukunci. Aku terbangun setelah cukup lama tertidur. Aku mencoba mengintip ke celah gorden yang sengaja kututup. Kulihat halaman samping rumah Tristan kembali menjadi tempat tertanamnya jasad istrinya. Sepasang paruh baya menangis di depan kuburan Anastasya. Bisa kutebak, mereka adalah orang tua Anastasya. “Aneh!” gumamku, ketika melihat Tristan dengan tenangnya menenangkan mereka. Satu persatu orang-orang membubarkan diri. Kini tersisa sepasang paruh baya itu di depan kuburan. Di saat Tristan masuk ke dalam rumahnya, ini kesempatan bagiku, untuk berbicara dengan mereka. “Apa kalian orang tua Anastasya?” tanyaku. Mereka berdua menoleh. Mereka mengangguk membalas pertanyaanku. “Apakah kalian tidak mencurigai sesuatu?” Aku memberanikan diri untuk bertanya pada intinya. Mereka berdua mengernyit. “Kamu siapa? Maksudmu apa bicara seperti itu?” tanya wanita itu. “Tentang kematian Anastasya. Jujur, tadi aku melihat Tristan membersihkan darah di tangannya. Bahkan ada cipratan darah juga di kaosnya. Coba pikirkan, setelah membersihkan darah, lalu Anastasya dikabarkan meninggal. Bukankah ini terlalu janggal?” Aku sengaja tidak memberitahu namaku. Ayahnya Anastasya menggelengkan kepala. “Kamu tidak usah mengada-ada. Kematian Anastasya itu kematian wajar. Dia jatuh dari tangga. Tidak aneh jika darah Anastasya bercucuran dan mengenai tubuh Tristan. Kalau kamu tidak bisa menghormati kepergiannya, setidaknya kamu diam. Jangan membuat kisruh. Kami sedang berduka!” sanggahnya. “Tapi kejadian ini bukan hanya menimpa pada Anastasya saja. Tapi beberapa wanita yang Tristan nikahi sebelumnya, selalu berakhir sama, setelah Tristan membersihkan darah di tangannya!” imbuhku. “Stop kamu mengumbar fitnah. Kami sudah cek sendiri keadaannya, kematian Anastasya memang murni terjatuh dari tangga. Tinggalkan kami!” usir mereka. Aku menghembuskan napas kasar. Aneh kupikir, bukannya mereka ikut curiga. Namun, mereka malah mengusirku. Bahkan warga di sini pun seolah biasa saja menanggapi beberapa kematian aneh ini. Mungkin hanya aku. Ya, hanya aku sendirian yang curiga. Aku kembali ke kontrakanku. Seharian ini aku menghabiskan waktu libur kerjaku hanya berdiam di kontrakan. Terlalu takut untuk keluar. Ingin rasanya aku berpindah dari sini. Namun, hanya tempat ini yang bisa kujangkau dengan harga sewa yang sangat murah. Satu bulan hanya tiga ratus ribu. Malam ini aku tidak bisa tidur, pikiran terus melayang pada sosok Tristan. Seandainya aku menerima lamarannya, besar kemungkinan aku juga akan menjadi bagian dari mereka, tertanam di halaman rumah, yang seharusnya menjadi taman yang indah itu. “Apa jangan-jangan … Tristan melakukan pesugihan?” Pagi ini aku terlambat bangun. Ah … pikiranku terlalu kacau, gara-gara kematian istri Tristan. Tidak mandi, aku hanya menggosok gigi dan mencuci muka. Aku tidak boleh terlambat kerja. Kubuka pintu lebar-lebar sambil menenteng sepatu. “Kesiangan?” sapa Remon, dia adalah kekasihku. “Fiuh! Remon, syukurlah kamu jemput. Iya aku kesiangan. Gara-gara ….” Aku menghentikan ucapanku, kulirik rumah Tristan beserta kuburan baru. “Apa?” tanya Remon. “Nanti jam istirahat aku ceritakan, sekarang kita berangkat!” Aku bergegas menaiki motor Remon. “Apa?! Kamu serius? Kejadian itu terulang lagi?” Remon syok, hanya dia yang percaya dengan ceritaku. “Ya … apa kamu tidak lihat, ada kuburan basah di halaman rumah Tristan? Aku nggak habis pikir, kenapa warga dan orang tua wanita yang Tristan nikahi, tidak ada satu pun yang mencurigai kematian mereka. Ada yang nggak beres, sumpah aku tidak habis pikir, Mon!” sahutku. “Memang tidak wajar dengan apa yang kamu ceritakan. Tapi ya sudah, sih, nggak usah terlalu dipikirin juga. Bukan urusan kita. Anggap saja nggak terjadi apa-apa. Kamu hidup masing-masing saja sama mereka!” seru Remon. Aku menghela napas dalam. Semakin aku membuang jauh rasa aneh ini, semakin besar pula rasa curiga ini. Setiap hari aku lalui seperti biasa. Kerja, pulang, kerja lagi, pulang lagi. Tidak ada yang aneh, tidak ada warna di hidupku. Kesibukanku hanya mencari uang. Ada pun aku jalan dengan Remon, hanya di waktu tertentu saja, yakni setelah gajian. Selepasnya kami tidak jalan-jalan lagi sampai gajian bulan depan tiba. Aku tengah menyapu kontrakanku. Banyak sekali debu-debu bertebaran di sini karena terbawa angin. Dari dalam kamar, ponselku yang tengah diisi daya tiba-tiba berdering. Bergegas aku mengambil benda itu, memastikan siapa yang menelponku saat ini. Namun, panggilan telepon ini mati, dan berganti oleh sebuah pesan singkat. Pesan itu datang dari sepupuku di kampung, dia adalah Shana. “Sop, minggu depan aku mau menikah. Acaranya memang dadakan, maaf baru kasih tahu kamu. Nanti kamu pulang, ya!” Shana menikah? Aku pun membalasnya. “Sama Edi?” tanyaku. “Bukan, tapi sama pacar baruku. Pokoknya kamu datang saja!” Aku menyudahi obrolan kami. Sampai waktu pernikahan yang ditentukan tiba, aku pun akhirnya pulang kampung. Tidak ada pesta, semua serba mendadak. Kini aku dan yang lain tengah menunggu kedatangan calon suami Shana. “Masih lama?” tanyaku. “Sebentar lagi. Nah, itu dia datang!” tunjuk Shana. Aku memandang ke arah lelaki yang baru saja datang ke rumah Shana. Namun, mendadak tenggorokanku tercekat. Tidak, tidak mungkin Shana selanjutnya ….“A-ayah! Ayah masih hidup?” tanyaku. Suaraku sampai tergugup. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya datang.Ayah tersenyum dengan anggukan kecilnya.“Kamu lupa siapa Ayah?” Ayah tersenyum tipis.“Ayah tidak benar-benar pergi, Sayang. Maaf, Ayah tidak bermaksud membuatmu dan ibumu sedih dan tidak cepat-cepat pulang. Ayah hanya memerlukan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita dari jauh,” jawabnya. Dia menunjuk Arion dan Om Remon.Aku tersenyum haru, ada gejolak bahagia ketika melihat pahlawanku masih hidup. Seketika sebutan pembunuh pada dirinya, hilang terkikis haru. Ini terasa seperti mimpi. Namun, dia memang ada di hadapanku, bersuara, bahkan senyumannya bisa kulihat jelas.Ayah menatap nyalang ke arah Arion yang masih tersungkur di lantai.“Anak bodoh! Kamu kira aku tidak tahu tujuanmu mendekati putriku!” maki Ayah.Arion perlahan berdiri, menunduk di hadapan Ayah. Arion tidak bersuara, apakah dia takut?“Kamu merasa pintar karena telah berhasil
Om Remon memutar kursinya menghadapku. Kulihat matanya sembab, dia menangis?“Maaf, Om. Kenapa Om menangisi orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Om?” tanyaku, sebelah tanganku menunjuk ke arah foto yang Om Remon pegang.Om Remon lantas melirik Foto tersebut, lantas beralih padaku.“Bermasalah?” tanyanya, aku mengangguk.“Iya, Arion yang bilang!” jawabku.“Arion mengatakan itu padamu?” Aku kembali mengangguk.Dari belakang, kudengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Saat aku menoleh, ternyata Arion.Kini pandangan Om Remon beralih kepada Arion. Cukup lama, cukup membuatku bingung dari caranya menatap Arion.“Dia mati!” ucap Om Remon, seraya kembali menatap foto lelaki itu.“Iya, Om. Aku sudah tahu!” Aku menunduk. Kemungkinan besar Arion telah memberitahu Om Remon nasib orang yang ada di foto tersebut. Namun, yang aku heran, kenapa Om Remon menangisi foto tersebut?“Ayahmu yang membunuhnya!” lanjutnya. Aku semakin menunduk dalam.“Maaf! Maafkan ayahku!” ucapku lir
“Tapi aku tidak tahu Ayah membuang atau menguburnya di mana,” lanjutku.Arion tampak menyibak rambutnya ke belakang. Kudengar hembusan napas panjang dari hidungnya.“Baiklah … ayahmu sudah mewakili. Hanya saja caranya yang salah. Kalau begitu aku pamit, ya! Aku harus ke kantor, ayahku bisa marah jika aku berlama-lama meninggalkan pekerjaanku,” pamit Arion.Aku mengangguk, kupandangi kepergian Arion sampai mobilnya tidak lagi terlihat dari pandangan.Aku kembali ke rumah, kulihat Ibu tidak sedikit pun menyentuh makanan yang ada di atas meja. Hanya Glenn yang sibuk makan. Tatapan Ibu begitu kosong sepeninggal Ayah.Aku berjongkok di depan Ibu, kuraih kedua tangannya.“Aku juga sedih, Bu. Aku menyesal telah membenci Ayah. Tapi semua kehendak Tuhan. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Ada aku, Glenn, yang membutuhkan Ibu. Jika Ibu serapuh ini, lalu bagaimana dengan kita?”Ibu menunduk, bahunya berguncang hebat. Namun, sesegera mungkin ia menegakkan tubuhnya, menghapus jejak air mat
Samar kudengar suara isak tangis seorang wanita. Serta sentuhan di pergelangan tanganku. Hangat, serta kecil.Perlahan kubuka mata ini, kuedarkan pandanganku, kamarku. Aku berada di dalam kamarku. Gorden yang tertutup rapat, menandakan hari telah malam.“Elia!” Kulihat Arion mendekatiku, tersenyum haru ketika melihatku membuka mata.Di samping kananku kulihat Ibu dan Glenn yang tengah duduk di sampingku. Ibu menangis, aku tahu hatinya terluka.Tidak terasa air mataku mengalir. Tidak kupungkiri, aku pun sama halnya seperti Ibu. Aku memang membenci Ayah. Namun, aku tidak ingin dia meninggal.Aku menangis sesenggukan, teringat uluran tangan yang dia lakukan padaku. Dia menatapku penuh cinta. Namun, aku menatapnya penuh kebencian. Dan kini … semua tinggal kenangan. Ayah tidak akan pernah lagi pulang ke rumah ini.“Bu, kenapa harus Ayah, Bu?” Aku mencoba untuk bangun. Arion segera membantuku.Ibu memelukku begitu erat. Kami saling menumpahkan tangis di kedua bahu yang berbeda pemilik.“Ibu
“Apa yang Ayah lakukan?” tanyaku.Ayah seketika terdiam, tangan yang memegang pisau ia turunkan. Tampak darah menetes dari ujung pisau membasahi lantai gudang.Ayah berbalik badan ke arahku. Tatapannya teduh, seulas senyuman terlempar ke arahku.“Ayah baru saja menyelamatkan adikmu, Elia!” jawabnya
Kemungkinan terbesar Ibu dibawa ke rumah sakit. Aku yakin itu.Detik ini juga aku pergi ke rumah sakit terdekat. Sampai sana, Ibu memang tengah mendapatkan penanganan di rumah sakit tersebut.“Apa yang kamu lakukan pada ibuku?” tanyaku.Aku berdiri dengan dada bergerak naik turun. Ayah yang tengah
Aku menoleh ke belakang, Arion dengan hoodie yang menutupi tubuh dan kepalanya. Penampilan yang sama saat pertama kali aku melihatnya di rumah sakit, tengah berdiri menatap dingin ke arahku. Aku tidak tahu, sejak kapan lelaki itu berdiri di sana?Aku mencoba bangun. Namun, sakit ini cukup menyulitk
Aku berlari menghampiri Ibu, kubantu Ibu untuk berdiri.“Ibu sakit?” tanyaku. Aku cemas melihatnya.Ibu menggeleng pelan, wajahnya begitu sayu.“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Perasaan Ibu tidak enak, semoga ayahmu baik-baik saja di mana pun berada,” jawabnya.Aku membawa Ibu ke dalam rumah. Kubantu di
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews