ログインHalaman itu bukan lagi menjadi taman yang seharusnya indah dengan banyak ditumbuhi tanaman bunga. Melainkan tempat tertanamnya banyak jasad wanita yang Tristan nikahi. Pengeras suara di tempat itu bukan lagi berfungsi untuk menyerukan panggilan ibadah. Benda tersebut seolah telah beralih fungsi menjadi alat untuk mengumumkan kematian istri Tristan. Ironis, kejadian berulang, kematian setelah pernikahan, tak lantas membuat orang-orang curiga. Kecuali diriku. Semakin dibiarkan semakin banyak jasad tertanam itu bertambah. Rasa penasaran kian melambai, hingga aku sadar, bahwa aku harus menghentikan semua kegilaan ini. Aku, Sophia. Memberanikan diri masuk ke dalam rumah tempat kematian mereka. Menguak sisi gelap seorang Tristan, hingga berhasil menuntunku menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan.
もっと見る“Darah lagi?
Aku membekap mulutku sendiri. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Aku Sophia, awalnya berniat untuk mencuci piring di luar, di kran pinggir kontrakanku, seketika urung melakukannya. Aku bersembunyi di balik pohon setinggi pinggang orang dewasa. Mata ini tidak sengaja menangkap satu sosok yang aku kenal tengah membersihkan cairan darah segar di kedua tangan di samping rumahnya. Dia Tristan, tetangga kontrakanku. Namun, dia bukan tinggal di kontrakan, melainkan rumah miliknya. Rumah yang lebih besar dari rumah-rumah yang lain. “Ini sudah kesekian kalinya Tristan membersihkan darah di tangannya. Aneh, setiap dia sudah menikah, dia selalu melakukan hal yang sama. Bahkan kaos yang selalu dia kenakan, banyak sekali titik-titik cipratan noda darah. Apa sebenarnya yang terjadi?” batinku. Kuurungkan niat awalku mencuci piring. Bulu kudukku kembali merinding, setiap kali melihatnya membersihkan cairan darah. Pasti akan ada sesuatu setelah ini, aku yakin. Ini bukan hanya satu dua kali terjadi. Namun, ini sudah sering. Diam-diam tanpa bersuara, apalagi terlihat olehnya, aku masuk ke dalam kontrakanku. Degup jantungku tidak bisa kukontrol, berdegup sangat cepat. “Ya Tuhan, ada apa sebenarnya?” gumamku. Aku ingat, beberapa kali Tristan pernah mengajakku menikah. Namun, beruntung sekali aku selalu menolaknya. Dia lelaki aneh, dia … dia begitu misterius. Aku mengangkat sebelah tanganku ke udara. Beberapa jari kulipat sambil berkata, “Satu … dua … tiga!” “Telah berpulang, nyonya Anastasya atau istri dari bapak Tristan ….” Suara pengumuman yang berasal dari pengeras suara menggema di kedua telingaku, terdengar nyaring mengumumkan kematian istri barunya Tristan. Dari luar, kulihat orang-orang berbondong-bondong mendatangi kediaman Tristan. Aku hanya diam di kamar, sesak rasanya jika aku keluar, melihat kenyataan bahwa istri Tristan yang kesekian juga meninggal. Maharani, Adinda, Friska, Adelina, Dea, dan sekarang … Anastasya. Entah akan berapa banyak lagi kematian misterius itu terjadi di rumah Tristan. Dalam ketakutan, aku sampai tertidur dalam kamar yang sengaja kukunci. Aku terbangun setelah cukup lama tertidur. Aku mencoba mengintip ke celah gorden yang sengaja kututup. Kulihat halaman samping rumah Tristan kembali menjadi tempat tertanamnya jasad istrinya. Sepasang paruh baya menangis di depan kuburan Anastasya. Bisa kutebak, mereka adalah orang tua Anastasya. “Aneh!” gumamku, ketika melihat Tristan dengan tenangnya menenangkan mereka. Satu persatu orang-orang membubarkan diri. Kini tersisa sepasang paruh baya itu di depan kuburan. Di saat Tristan masuk ke dalam rumahnya, ini kesempatan bagiku, untuk berbicara dengan mereka. “Apa kalian orang tua Anastasya?” tanyaku. Mereka berdua menoleh. Mereka mengangguk membalas pertanyaanku. “Apakah kalian tidak mencurigai sesuatu?” Aku memberanikan diri untuk bertanya pada intinya. Mereka berdua mengernyit. “Kamu siapa? Maksudmu apa bicara seperti itu?” tanya wanita itu. “Tentang kematian Anastasya. Jujur, tadi aku melihat Tristan membersihkan darah di tangannya. Bahkan ada cipratan darah juga di kaosnya. Coba pikirkan, setelah membersihkan darah, lalu Anastasya dikabarkan meninggal. Bukankah ini terlalu janggal?” Aku sengaja tidak memberitahu namaku. Ayahnya Anastasya menggelengkan kepala. “Kamu tidak usah mengada-ada. Kematian Anastasya itu kematian wajar. Dia jatuh dari tangga. Tidak aneh jika darah Anastasya bercucuran dan mengenai tubuh Tristan. Kalau kamu tidak bisa menghormati kepergiannya, setidaknya kamu diam. Jangan membuat kisruh. Kami sedang berduka!” sanggahnya. “Tapi kejadian ini bukan hanya menimpa pada Anastasya saja. Tapi beberapa wanita yang Tristan nikahi sebelumnya, selalu berakhir sama, setelah Tristan membersihkan darah di tangannya!” imbuhku. “Stop kamu mengumbar fitnah. Kami sudah cek sendiri keadaannya, kematian Anastasya memang murni terjatuh dari tangga. Tinggalkan kami!” usir mereka. Aku menghembuskan napas kasar. Aneh kupikir, bukannya mereka ikut curiga. Namun, mereka malah mengusirku. Bahkan warga di sini pun seolah biasa saja menanggapi beberapa kematian aneh ini. Mungkin hanya aku. Ya, hanya aku sendirian yang curiga. Aku kembali ke kontrakanku. Seharian ini aku menghabiskan waktu libur kerjaku hanya berdiam di kontrakan. Terlalu takut untuk keluar. Ingin rasanya aku berpindah dari sini. Namun, hanya tempat ini yang bisa kujangkau dengan harga sewa yang sangat murah. Satu bulan hanya tiga ratus ribu. Malam ini aku tidak bisa tidur, pikiran terus melayang pada sosok Tristan. Seandainya aku menerima lamarannya, besar kemungkinan aku juga akan menjadi bagian dari mereka, tertanam di halaman rumah, yang seharusnya menjadi taman yang indah itu. “Apa jangan-jangan … Tristan melakukan pesugihan?” Pagi ini aku terlambat bangun. Ah … pikiranku terlalu kacau, gara-gara kematian istri Tristan. Tidak mandi, aku hanya menggosok gigi dan mencuci muka. Aku tidak boleh terlambat kerja. Kubuka pintu lebar-lebar sambil menenteng sepatu. “Kesiangan?” sapa Remon, dia adalah kekasihku. “Fiuh! Remon, syukurlah kamu jemput. Iya aku kesiangan. Gara-gara ….” Aku menghentikan ucapanku, kulirik rumah Tristan beserta kuburan baru. “Apa?” tanya Remon. “Nanti jam istirahat aku ceritakan, sekarang kita berangkat!” Aku bergegas menaiki motor Remon. “Apa?! Kamu serius? Kejadian itu terulang lagi?” Remon syok, hanya dia yang percaya dengan ceritaku. “Ya … apa kamu tidak lihat, ada kuburan basah di halaman rumah Tristan? Aku nggak habis pikir, kenapa warga dan orang tua wanita yang Tristan nikahi, tidak ada satu pun yang mencurigai kematian mereka. Ada yang nggak beres, sumpah aku tidak habis pikir, Mon!” sahutku. “Memang tidak wajar dengan apa yang kamu ceritakan. Tapi ya sudah, sih, nggak usah terlalu dipikirin juga. Bukan urusan kita. Anggap saja nggak terjadi apa-apa. Kamu hidup masing-masing saja sama mereka!” seru Remon. Aku menghela napas dalam. Semakin aku membuang jauh rasa aneh ini, semakin besar pula rasa curiga ini. Setiap hari aku lalui seperti biasa. Kerja, pulang, kerja lagi, pulang lagi. Tidak ada yang aneh, tidak ada warna di hidupku. Kesibukanku hanya mencari uang. Ada pun aku jalan dengan Remon, hanya di waktu tertentu saja, yakni setelah gajian. Selepasnya kami tidak jalan-jalan lagi sampai gajian bulan depan tiba. Aku tengah menyapu kontrakanku. Banyak sekali debu-debu bertebaran di sini karena terbawa angin. Dari dalam kamar, ponselku yang tengah diisi daya tiba-tiba berdering. Bergegas aku mengambil benda itu, memastikan siapa yang menelponku saat ini. Namun, panggilan telepon ini mati, dan berganti oleh sebuah pesan singkat. Pesan itu datang dari sepupuku di kampung, dia adalah Shana. “Sop, minggu depan aku mau menikah. Acaranya memang dadakan, maaf baru kasih tahu kamu. Nanti kamu pulang, ya!” Shana menikah? Aku pun membalasnya. “Sama Edi?” tanyaku. “Bukan, tapi sama pacar baruku. Pokoknya kamu datang saja!” Aku menyudahi obrolan kami. Sampai waktu pernikahan yang ditentukan tiba, aku pun akhirnya pulang kampung. Tidak ada pesta, semua serba mendadak. Kini aku dan yang lain tengah menunggu kedatangan calon suami Shana. “Masih lama?” tanyaku. “Sebentar lagi. Nah, itu dia datang!” tunjuk Shana. Aku memandang ke arah lelaki yang baru saja datang ke rumah Shana. Namun, mendadak tenggorokanku tercekat. Tidak, tidak mungkin Shana selanjutnya ….Aku kesulitan untuk memberontak, tenagaku tidak cukup kuat untuk menolak, hingga akhirnya Tristan telah berhasil mengunciku di kamar.“Ma-mau apa?” tanyaku. Lirih, tenggorokanku terasa tercekat.Belum apa-apa lututku sudah bergetar. Aku berjalan mundur, sementara Tristan terus melangkah mendekatiku.“Pertanyaan yang aneh. Bukankah kamu sudah tahu apa yang akan aku lakukan padamu? Bukankah kamu juga tahu apa yang telah aku lakukan pada Shana?”Kalimat itu cukup membuatku tersentak. Merinding. Matilah aku, ternyata Tristan telah mencium niatku. Dan kini … kemungkinan terburuknya rencanaku akan gagal total. Remon, menyesal aku telah memutuskannya demi menikah dengan lelaki ini. Aku seperti menyerahkan nyawa padanya.“Ma-maksud kamu? A-aku tidak tahu. Su-sumpah!” Suaraku pun sampai terputus-putus. Aku tidak mampu menyembunyikan kegugupanku.Tristan mengernyitkan dahi, menelengkan kepala, menyipitkan mata.“Kamu takut padaku?” tanyanya berbisik, nyaris tidak terdengar. Hembusan napasnya te
“Apa?! Kamu mau menikah dengan Tristan?”Siang ini aku dan Remon tengah beristirahat di sela-sela lelahnya bekerja. Kami berdua duduk di sebuah kantin, kami sengaja memilih meja yang paling pojok.“Iya, Mon, aku terpaksa harus melakukannya. Ini demi keadilan bagi mendiang Shana dan wanita-wanita lain yang menjadi korban Tristan. Aku harus menguak penyebab kematian mereka, supaya tidak ada lagi korban lain yang berjatuhan,” jawabku.Remon mengusap wajahnya dengan kasar. Mungkin dia tidak habis pikir dengan niatku. Namun, memang seperti ini caraku untuk membongkar keburukan Tristan.“Tidak, Sop. Kamu tidak bisa menikah dengannya. Selain berbahaya buat nyawa kamu, lalu bagaimana denganku? Aku kekasihmu, aku sayang sama kamu, Sophia!” kata Remon. Dia terlihat sedih, aku tahu, hal ini pasti sangat menyakitkan baginya.“Maaf, Remon. Jujur ini sangat berat bagiku untuk melakukan ini. Aku sangat mencintai kamu. Tapi aku tidak ada cara lain. Di sini, tidak ada satu pun orang yang percaya padak
“Shana!”Nama itu keluar begitu saja dari mulutku. Keyakinanku begitu kuat. Tungkaiku seketika terasa lemas. Nyaris pingsan.Aku kembali menutup gordenku, meremas bajuku bagian atas, menangisi apa yang aku lihat barusan.“Aku gagal! Aku telah gagal menyelamatkannya. Shana … maafkan aku.” Aku menangis di antara kedua lututku. Memukul-mukul lantai dengan kedua tanganku. Aku terus menyalahkan diri sendiri.Lama kelamaan aku bisa gila jika terus menerus menyaksikan pemandangan seperti ini. Sangat mengerikan. Entah harus berapa banyak lagi korban setelah Shana. Tristan jahat! Kenapa orang-orang di sini tidak ada yang mencurigainya? Kenapa hanya aku yang merasakannya? Ini tidak adil, wanita bukan untuk dijadikan objek kekerasan.“Paman Wowo, Bibi Wiwi, apakah mereka sudah tahu?” gumamku.Aku kembali menyibak gorden ini. Kulihat dari kejauhan, kulihat sepasang wajah yang sangat aku kenal.Mereka ternyata datang, menangis sambil menatap lobang tempat peristirahatan terakhir Shana.Aku bangkit
“Shana, ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya?”Samar-samar aku mendengar suara jeritan seorang wanita di dalam rumah Tristan, yang kebetulan tengah kulewati ini, walaupun sisi rumah bagian yang kulewati ini, berdiri tembok menjulang tinggi yang kokoh.Keringat dingin tiba-tiba muncul di dahiku. Kakiku pun rasanya tidak kuat untuk menopang tubuh ini. Pikiranku melayang jauh ke dalam sana, ke dalam rumah Tristan.Pertanyaanku, apakah hari ini Tristan sedang mengeksekusi Shana?Dengan dada yang tiba-tiba sesak, kupaksakan kaki ini melangkah. Bahkan kupaksakan diri untuk berlari.Sampai di depan kontrakan, kulirik sekilas ke arah halaman rumah Tristan.Jantungku semakin berdebar, ketika aku melihat hal yang biasa kulihat terjadi lagi.Darah, dia membersihkan cairan merah itu lagi. Tungkaiku semakin bergetar, susah payah aku menelan saliva. Rasanya aku mau pingsan jika aku tidak bisa mempertahankan kesadaranku.Aku berdiri mematung, mataku terus menatap ke arah Tristan, hingga dia menyudahi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.