LOGIN"Halo, sobat .... Gimana kabarmu?" jawab Ronald saat dia mengangkat telepon. "Tolong! Aku nggak tahan lagi." Carissa terengah-engah, suaranya terdengar serak. "Sobat, ada apa? Kamu di mana sekarang? Aku jemput ya!" kata Ronald, mulai panik. Suara Carissa semakin tak karuan sambil menangis. "Aku di taman ... tolong, kamu harus datang .... Aku nggak bisa gini terus .... Dia mutusin aku .... Hatiku sakit banget! Sakit ...." Setiap kata terdengar gemetar, seakan hanya bicara saja sudah tidak ada tenaga lagi. "Taman yang mana? Tunggu aku, bertahanlah. Jangan mikir macem-macem. Aku janji bakal ada di sisimu. Kirim lokasimu ya?" Suara Ronald pun ikut gemetar. Hening. Cuma ada suara isak tangis tertahan dari seberang telepon. "Halo? Kamu dengar aku? Tolong kirim lokasi kamu biar aku bisa cari," pintanya, rasa takut mulai mencengkram perasaannya. Dia tahu Carissa sedang tak bisa berpikir jernih dan bisa saja nekat melakukan hal bodoh. "Carissa, ayolah. Kasih tahu aja kamu di mana. Aku sudah jalan, sudah di mobil," kata Ronald lagi, suara mesin mobil terdengar keras di latar belakang. Setelah beberapa detik yang terasa lama banget, HP-nya bergetar. Lokasi Carissa masuk ke HP-nya. Dia langsung tancap gas tanpa pikir panjang. Ban mobil berdecit kencang waktu dia ngebut di jalanan. Saat akhirnya sampai di taman, Ronald melihat Carissa duduk di bangku, kepala menunduk, bahunya gemetar. Ronald langsung lari menghampiri dan mengangkat dagu Carissa pelan-pelan. Dia kaget. Wajah Carissa pucat pasi, mata tertutup, air mata sudah mengering di pipi, dan mukanya terlihat kesakitan. Ronald tarik Carissa ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat, Carissa diam, lalu badannya jadi lemas. Tangannya terkulai di sisi tubuh. Panik langsung menyerbu Ronald. Carissa pingsan. Ronald langsung menggendong Carissa, membawanya ke mobil, dan menidurkannya di kursi belakang. Dia lalu banting pintu, nyalakan mesin, dan langsung ngebut ke rumah sakit.
View MorePOV Ara.Sambil pegangi pinggulku yang masih terasa nyeri, aku jalan tertatih menuju pintu yang terkunci. Aku coba putar gagangnya, berharap sepenuh hati bisa kabur dari tempat terkutuk ini.Namun harapanku langsung runtuh ketika aku sadari pintu itu benar-benar terkunci. Aku nggak bisa keluar. Gaston kurung aku di sini.“Buka pintunya! Tolong biarkan aku keluar! Tolong!” teriakku sambil memukul-mukul pintu itu, dadaku terasa sesak oleh ketakutan. Aku nggak tahu apa aku masih sanggup bertahan jika Gaston kembali lakukan hal-hal mengerikan seperti sebelumnya.Aku terus pukul pintu kayu itu. Namun tempat ini terasa sunyi seolah nggak berpenghuni, nggak ada satu orang pun yang jawab aku. Perlahan aku jatuh ke lantai, air mata kaburkan pandanganku, tubuhku gemetar karena takut. Aku sama sekali nggak tahu nasib seperti apa yang menungguku di tangan Gaston.Aku jalan tertatih kembali ke ranjang kecil itu lalu rebahkan diri menyamping sambil terus menangis. Aku merasa nggak punya siapa pun di
POV Ara.Aku pejamkan mata rapat-rapat saat Gaston lepaskan kait bra-ku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa jadi manusia paling hina di dunia. Aku bisa dengar suara siulan, tawa, dan decakan kagum dari teman-temannya ketika dadaku terekspos sepenuhnya di hadapan mereka.“Ayo, Gaston mulai saja. Kita sudah nggak sabar di sini. Lihat tubuhnya … gila,” ujar pria di samping sopir dengan nada penuh gairah menjijikkan.“Nggak! Ga-Gaston, aku mohon … kasihanilah aku. Jangan hina aku seperti ini!” pintaku sambil nangis.“Ara, sayangku … ternyata kamu belum benar-benar kenal aku. Beginilah aku saat marah. Kenapa kamu lari dari aku?” geram Gaston di dekat telingaku, sementara tangannya sibuk lepaskan pakaiannya sendiri.Aku bukan orang bodoh, aku tahu persis apa yang akan dia lakukan. Dan aku juga tahu apa yang diinginkan pria-pria lain di dalam van itu. Aku rasakan tangan seseorang bergerak dari bahuku menuju payudaraku yang lain. Aku langsung menjauh dengan jijik. Seluruh tubuhku
POV Ara.“Gaston, lepaskan aku!” bentakku sambil berusaha lepaskan diri dari cengkeramannya.Rasa takut langsung menjalar di seluruh tubuhku begitu aku lihat wajah Gaston dengan jelas. Aku sama sekali nggak nyangka dia sudah kembali ke negara ini.Namun kalau dipikir-pikir, sejak aku melarikan diri darinya, aku memang nggak pernah dengar kabarnya lagi. Sekarang dia juga jadi buronan, aku sendiri yang laporkan dia dengan bantuan Gabriel.Gabriel berhasil hapus video-videoku dari situs-situs porno tempat video itu sempat tersebar. Bagi Gabriel, hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan, mengingat koneksi yang dia miliki.“Tenang, sayangku,” ujar Gaston sambil tarik aku kasar dan dorong aku masuk ke dalam van. Aku hampir terjatuh karena kuatnya dorongan itu.Begitu mataku menyapu isi kendaraan itu, napasku tercekat ketakutan, ada beberapa orang lain di dalamnya. Semuanya laki-laki, dan mereka semua menatapku sambil menyeringai. Total ada enam orang, termasuk Gaston dan sopir. Tig
POV Ara.Aku terisak di depan pintu kaca mausoleum tempat kedua orang tuaku dimakamkan. Kedua tanganku menempel erat di permukaannya yang dingin, sementara rasa sakit di dadaku terasa begitu menyesakkan. Sudah berbulan-bulan berlalu, tetapi semua yang terjadi masih terasa begitu nyata di kepalaku, seolah semuanya baru terjadi kemarin. Hati nuraniku nggak pernah kasih aku ketenangan.Aku terus mimpikan wajah Mama. Dalam mimpiku, dia marah ke aku. Papa juga seperti itu.Sulit sekali terima kenyataan, setelah semua cinta yang mereka berikan ke aku, justru aku yang akhiri hidup mereka.Aku menyesal seumur hidup pun, semuanya sudah terlambat.Nggak ada air mata yang mampu hidupkan kembali nyawa yang telah aku ambil dengan tanganku sendiri.Mausoleum itu terkunci, jadi aku nggak bisa masuk ke dalam. Namun jauh di lubuk hati, aku sangat berterima kasih ke Carissa. Setelah semua yang telah kita lakukan ke dia, Carissa masih kasih Mama dan Papa pemakaman yang layak dan penuh penghormatan.Ini a
POV GabrielAku sudah cukup lama menatap wajah cantik Carissa. Banyak pikiran mengganggu benakku. Aku nggak menyangka dia masih perawan, padahal kami berdua terbangun tanpa busana pagi itu. Kalau begitu, berarti nggak ada apa-apa yang terjadi di antara kami. Tapi siapa yang merencanakan semuanya? Ke
POV CarissaHari-hari berlalu dengan cepat. Sudah hampir sebulan sejak aku pindah ke vila Gabriel. Perlakuan mertuaku padaku sangat baik.Aku merasa mereka menerimaku. Mama Moira baik banget, aku selalu menghabiskan waktu bersamanya di taman vila kalau nggak ada kuliah. Aku membantunya merawat kolek
POV CarissaAku tiba di kampus pagi-pagi sekali. Seperti yang sudah diperintahkan Mama Moira dan Papa Ralph, aku diantar Raul. Mulai hari ini, dia yang akan mengantar-jemputku. Meskipun aku malu, nggak ada yang bisa kulakukan karena ini yang mereka mau. Aku langsung menuju tempat nongkrong kami, tem
POV CarissaAku terbangun sekitar jam enam sore. Aku langsung bangun dan ke kamar mandi untuk mandi. Aku pun melakukan rutinitas dan berpakaian. Baru selesai berpakaian, kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku cepat-cepat membukanya dan melihat seorang pelayan berseragam. Dia terlihat berusia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews