Cinta Sejati Seorang Miliarder

Cinta Sejati Seorang Miliarder

By:  CathyUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Halo, sobat .... Gimana kabarmu?" jawab Ronald saat dia mengangkat telepon. "Tolong! Aku nggak tahan lagi." Carissa terengah-engah, suaranya terdengar serak. "Sobat, ada apa? Kamu di mana sekarang? Aku jemput ya!" kata Ronald, mulai panik. Suara Carissa semakin tak karuan sambil menangis. "Aku di taman ... tolong, kamu harus datang .... Aku nggak bisa gini terus .... Dia mutusin aku .... Hatiku sakit banget! Sakit ...." Setiap kata terdengar gemetar, seakan hanya bicara saja sudah tidak ada tenaga lagi. "Taman yang mana? Tunggu aku, bertahanlah. Jangan mikir macem-macem. Aku janji bakal ada di sisimu. Kirim lokasimu ya?" Suara Ronald pun ikut gemetar. Hening. Cuma ada suara isak tangis tertahan dari seberang telepon. "Halo? Kamu dengar aku? Tolong kirim lokasi kamu biar aku bisa cari," pintanya, rasa takut mulai mencengkram perasaannya. Dia tahu Carissa sedang tak bisa berpikir jernih dan bisa saja nekat melakukan hal bodoh. "Carissa, ayolah. Kasih tahu aja kamu di mana. Aku sudah jalan, sudah di mobil," kata Ronald lagi, suara mesin mobil terdengar keras di latar belakang. Setelah beberapa detik yang terasa lama banget, HP-nya bergetar. Lokasi Carissa masuk ke HP-nya. Dia langsung tancap gas tanpa pikir panjang. Ban mobil berdecit kencang waktu dia ngebut di jalanan. Saat akhirnya sampai di taman, Ronald melihat Carissa duduk di bangku, kepala menunduk, bahunya gemetar. Ronald langsung lari menghampiri dan mengangkat dagu Carissa pelan-pelan. Dia kaget. Wajah Carissa pucat pasi, mata tertutup, air mata sudah mengering di pipi, dan mukanya terlihat kesakitan. Ronald tarik Carissa ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat, Carissa diam, lalu badannya jadi lemas. Tangannya terkulai di sisi tubuh. Panik langsung menyerbu Ronald. Carissa pingsan. Ronald langsung menggendong Carissa, membawanya ke mobil, dan menidurkannya di kursi belakang. Dia lalu banting pintu, nyalakan mesin, dan langsung ngebut ke rumah sakit.

View More

Chapter 1

Bab 1

POV Carissa

Aku langsung kaget dan terbangun saat mendengar seseorang menggedor-gedor pintu kamarku. Aku nggak tahu ini jam berapa—yang kurasa cuma sakit kepala yang nyut-nyutan. Waktu aku turun perlahan dari kasur, aku baru sadar kalau aku nggak pakai baju apa-apa. Tapi saat aku lihat ke kasur, ada seseorang di sampingku. Panik, aku langsung ambil selimut dan melilitkannya di tubuhku yang telanjang.

'Apa yang terjadi?' gumamku ke diri sendiri. Aku sama sekali nggak ingat apa-apa tentang malam sebelumnya. Aku mengucek mata dan menatap orang di sebelahku. Jantungku semakin berdebar kencang saat melihat ternyata dia adalah seorang laki-laki. Dia juga telanjang, kalau dilihat dari penampakannya saat tidur tengkurap, cuma tertutup selimut dari pinggang sampai kakinya. Dia tidur nyenyak banget.

"Carissa, buka pintunya! Ada apa ini?!"

Aku mendengar Mama menggebrak pintu kamarku. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku benar-benar nggak ingat apa-apa. Lalu, kudengar gagang pintu diputar. Aku cepat-cepat kembali ke kasur dan meraih bantal, memegangnya di depan badanku. Papa, Mama, dan kakakku, Ara, masuk satu per satu. Mereka menatapku kaget, lalu ke arah pria yang masih tidur di ranjangku.

"Dasar jalang nggak tahu malu! Apa yang kamu lakukan?! Siapa di sebelahmu itu?!" teriak Mama. Dia nggak bisa lihat wajah pria itu karena tengkurap, tapi nggak lama kemudian pria itu bergerak dan duduk. Ketika aku melihat siapa dia, aku syok. Itu Gabriel, pacar Ara. Aku juga bisa melihat keterkejutan di wajah Gabriel. Dia menatapku, jelas sama bingungnya dengan apa yang terjadi. Lalu dia menoleh ke Ara yang sudah menangis.

Gabriel sudah lama jadi pacar Ara. Dia kaya ... nggak, bukan cuma kaya, kaya banget. Dia berasal dari keluarga paling terkenal dan terkaya di negara ini.

"Apa maksud semua ini?!" jerit Ara. Air mata membanjiri wajahnya saat dia mengenali pria di sampingku.

"Gabriel, Carissa, apa maksudnya ini? Tega-teganya kalian lakukan ini padaku?" Ara terisak, air matanya nggak berhenti mengalir. Aku nggak tahu harus ngomong apa, karena aku benar-benar nggak ingat apa-apa.

Yang kuingat cuma semalam adalah pesta ulang tahun Ara yang ke-21. Banyak tamu dan semua bersenang-senang. Saat aku beralih pandang ke Papa, rahangnya mengeras menatap kami. Mata Mama tajam menusuk, menatapku seolah aku telah melakukan kejahatan keji. Sementara itu, Ara nyaris histeris karena sakit hati.

"Kamu baru delapan belas tahun sudah menggoda laki-laki, Carissa, pacar kakakmu sendiri pula!" Mama melayangkan tamparan keras di wajahku. Pipiku langsung mati rasa. "Ma, aku minta maaf, aku nggak tahu apa yang terjadi," kataku sambil menangis. "Aku nggak ingat kenapa ini bisa terjadi." Aku melirik pria di sampingku, yang juga tampak bingung. Kebingungan terpancar jelas di wajahnya, seolah dia sedang berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. "Gabriel, kenapa kita ...." Belum selesai aku bicara, Ara langsung menjambak rambutku.

"Dasar nggak tahu malu! Pengkianat!" teriak Ara sambil menarik rambutku. Tarikannya kuat banget, rasanya rambutku mau copot dari kulit kepala. Aku nggak bisa melawan karena aku harus memegangi selimut yang menutupi tubuh telanjangku. "Dasar pengkhianat! Kenapa harus kamu, adikku sendiri, yang merebut pria yang paling kucintai?!" teriak Ara. "Aku akan gunduli kamu!" Dia menjambak lebih keras lagi, dan rasanya rambutku benar-benar mau lepas.

"Ara, cukup!" teriak Papa. "Nggak ada yang bisa kita lakukan sekarang, semua sudah terjadi." Dia menoleh ke Gabriel. "Ayo kita bicara, Gabriel. Jelaskan padaku kenapa kamu ada di kasur Carissa." Suara dan gerak-gerik Papa menunjukkan bahwa dia menahan amarah yang luar biasa. Aku juga bisa melihat kekecewaan mendalam di wajahnya saat melirikku.

"Om, aku ... aku nggak tahu apa yang terjadi. Kenapa aku di sini .... Aku nggak ingat apa-apa ...." Gabriel terbata-bata, jelas dia bingung. "Ara, sayang, aku nggak tahu ... maaf ...."

"Sayang, teganya kamu mengkhianatiku!" isak Ara. "Kenapa harus adikku?!" Dia menangis makin keras. "Ini nggak bisa diterima! Aku nggak ngerti. Kenapa harus adikku sendiri? Ma, Pa, aku nggak bisa terima ini. Sakit banget."

"Aku minta maaf," kataku sambil menangis. "Aku nggak tahu .... Aku nggak ingat apa-apa." Air mataku mengalir deras. "Pa, Ma, aku minta maaf." Aku benar-benar bingung tentang apa yang terjadi.

Sampai sekarang, otakku nggak bisa memproses kenapa ini bisa terjadi. Ara dan Gabriel seharusnya menikah bulan depan. Mereka saling mencintai, dan aku menyaksikannya sendiri. Jadi kenapa ini terjadi?

"Baiklah, karena ini sudah terjadi, nggak ada yang bisa kita ubah," kata Papa. "Ayo kita keluar dari kamar ini." Lalu dia bicara pada Gabriel dan aku. "Kalian berdua, cepatlah beberes. Setelah selesai berpakaian, temui Papa di perpustakaan. Ada hal penting yang harus kita bahas. Papa juga akan menelepon orang tuamu, Gabriel, dan meminta mereka datang ke sini."

Papa berjalan menuju pintu. Ara menatapku dengan tatapan penuh kebencian, air mata masih mengalir. Mama menatapku dengan dingin. Dia mendekati Ara dan membimbingnya ke pintu di mana Papa menunggu agar mereka bisa keluar bersama. Aku masih bisa mendengar isak tangis Ara sebelum mereka akhirnya keluar, lalu membanting pintu di belakang mereka.

"Gabriel," kataku. "Gimana ... kenapa?" Aku bahkan nggak tahu harus mulai dari mana setelah Mama, Papa, dan Ara pergi. Seluruh ruangan diselimuti keheningan, dan Gabriel sepertinya nggak ada niat untuk bicara. Tinjunya terkepal, dahinya berkerut. Jadi, aku memutuskan untuk memecah keheningan.

"Apa kamu menjebakku?" Kata-kata Gabriel membuatku kaget. Suaranya dipenuhi amarah.

"Nggak," jawabku dengan takut. "Menjebakmu bukan gayaku ... apalagi kamu pacar kakakku." Aku meremas selimut erat-erat.

"Lalu kenapa aku ada di kamarmu?" katanya dengan gigi terkatup. Dia menatapku dengan kemarahan dan jijik yang terpancar di wajahnya.

"Aku nggak tahu. Aku nggak ingat apa-apa," jawabku dengan suara bergetar. Aku menunduk, nggak sanggup menatap mata Gabriel yang menyakitkan. Dia terlihat menakutkan.

"Dengar baik-baik, Carissa. Kalau Ara sampai putus denganku gara-gara ini, kamu yang akan kubalas. Aku nggak akan pernah memaafkanmu," katanya dengan nada marah. Dia lalu berdiri dan mulai memakai pakaiannya satu per satu, nggak peduli bahwa tadinya dia telanjang bulat. Aku nggak tahu harus berbuat apa saat itu. Ini pertama kalinya aku melihat pria telanjang di depanku, dan aku nggak tahu bagaimana harus bereaksi. Aku cuma menutup mata, menunggu Gabriel selesai berpakaian.

"Aku juga nggak mau ini terjadi." Aku menangis. "Aku minta maaf atas ini." Aku terisak sambil memastikan dia sudah selesai berpakaian. Aku lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Ya, pokoknya kamu harus meyakinkan kakakmu," katanya kasar. "Pastikan ini nggak mempengaruhi hubungan kami. Kalau nggak kamu akan kuanggap mati. Ingat kata-kataku." Setelah itu, dia keluar dari kamarku dengan membanting pintu.

Aku ditinggal sendirian dalam kebingungan. Otakku masih nggak bisa memproses apa yang terjadi. Aku nggak ingat apa-apa. Semalam kami semua senang merayakan ulang tahun Ara. Aku bingung banget. Kenapa aku dan Gabriel bisa berakhir di ranjang bareng? Kenapa dia tidur di sebelahku? Aku nggak mabuk semalam karena aku nggak pernah minum alkohol. Aku perlahan melepaskan selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Aku memeriksa diriku dengan hati-hati. Aku nggak merasakan ada yang aneh dengan tubuhku.

Aku pun akhirnya bangkit dan merapikan tempat tidurku. Nggak ada tanda-tanda apa pun di seprai. Masih bingung, aku cepat-cepat ke lemari dan mengambil pakaian.

Setelah itu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika melihat cermin, aku tampak seperti nenek sihir, rambutku acak-acakan karena jambakan Ara. Bibirku pecah dan wajahku memar karena tamparan Mama tadi. Aku tersenyum pahit. Ini bukan pertama kalinya Mama menyakitiku, tapi kali ini lebih parah karena bekas tangan Mama terlihat jelas di wajahku. Aku segera mandi agar merasa lebih baik dan pakai sedikit bedak untuk menutupi memarku.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status