ANMELDEN“Apa makanannya tidak sesuai dengan seleramu?”
Pertanyaan Darius mengejutkan Serena. Wanita itu berkedip, tampak linglung sesaat. Serena kembali memegang garpunya dengan benar.“Ah, tidak ada masalah. Ini … sangat enak.”Mata birunya berkaca-kaca. Serena dengan cepat mengendalikan emosinya. Gadis itu kembali memotong steak dan memasukkan ke mulutnya.“Syukurlah.” Darius bernapas lega melihat Serena kembali makan.Makan malam mereka berjalan deng“Hukum saja aku, tapi jangan sentuh istriku!" Darius berlutut tidak berdaya dihadapan para ksatria istana yang datang untuk menyiksanya. Ini sudah hari ketiga sejak dia datang, dan tidak ada hari dimana orang-orang itu tidak menyiksanya.Kemarin dia masih sempat melawan. Minimal membuat tiga atau lima ksatria itu memiliki memar di wajah mereka. Meskipun pada akhirnya dia tak berdaya karena kalah jumlah. Orang-orang mengroyoknya dan memeganginya sebelum berhasil menyiksanya. Tapi kali ini keadaannya berbeda. Dia tidak lagi sendirian, ada Serena bersamanya. Jadi Darius memilih patuh, tak lagi melawan. Tak ingin orang-orang itu menyakiti istrinya.“Bagus, akhirnya kesombonganmu runtuh juga.” Pria yang membawa cambuk di tangannya tersenyum puas. Memar di wajahnya akibat pukulan Darius dua hari yang lalu masih terasa menyakitkan. Melihat Darius yang tak berdaya membuatnya tak sabar untuk membalas dendam. Darius adalah pahlawan perang yang mendapat banyak sanju
Harris telah berjanji pada Serena bahwa apa pun yang terjadi, Bekav dan dirinya akan berdiri di belakang Braun serta melindungi Serena. Janji itu tersimpan rapat sebagai rahasia mereka berdua. Darius bahkan tak pernah mendengarnya. Darius hanya beranggapan bahwa sebagai saudara yang memiliki ikatan darah, Harris tak akan tega membiarkan adiknya ikut terseret ke dalam neraka. Alasan itulah yang membuat Darius dengan percaya diri mengirimkan surat ke Bekav, meminta Harris menyelamatkan Serena.Siapa sangka usaha itu berakhir sia-sia?Darius mengira Harris begitu dingin dan tega pada saudaranya sendiri. Namun, satu hal yang tak pernah diketahui Darius, kedatangan Serena ke sel penjara itu murni atas keputusan Serena sendiri.Di tempat lain, Harris berdiri mematung di balik jendela ruang kerjanya. Penampilannya masih berantakan, lengkap dengan noda lumpur yang masih menempel di ujung sepatunya. Pikirannya melayang, memutar kembali ingatan beberapa saat lalu
Sebuah ciuman? Serena berkedip beberapa kali. Di dalam sel yang hening, tentu suara Darius terdengar sangat jernih. Meskipun begitu, Serena tetap tercengang ketika mendengarnya. Sesaat gadis itu bahkan mengira indra pendengarannya telah rusak. Apakah dia baru saja salah dengar? “A-apa?” bisik Serena, suaranya yang tadinya begitu tegas mendadak goyah. Genggaman tangan Serena pada jemari Darius perlahan melonggar karena terkejut, namun Darius justru berbalik membalikkan telapak tangannya, mengunci jemari Serena di dalam genggamannya yang hangat dan sedikit gemetar. Wajah pria itu berubah sedikit muram. “Kau bilang akan melakukan apa pun, bukan?” suara Darius terdengar serak, begitu rendah namun cukup untuk membelah keheningan di antara mereka. “Bukankan ini permintaan yang sangat mudah?""Maksudku—""Berikan aku ciuman!" Potong Darius lugas, mengulangi permintaannya. Kali ini Serena mendengarnya dengan sangat jelas.
Aroma pengap segera tercium begitu Serena memasuki sebuah lorong yang gelap. Lampu redup yang dipasang di salah satu sisi dinding tak cukup untuk menerangi ruang di sekitarnya. Beberapa tikus dan kecoa beberapa kali melintas di sekitar kaki para ksatria yang mengawalnya. Udara di sekitar semakin lembab ketika mereka melangkah semakin dalam. Suara rintihan dan aroma amis bercampur busuk mulai tercium ketika mereka melintasi sel-sel yang dihuni oleh para tahanan.Itu terlihat sangat buruk. Diam-diam Serena menelan ludahnya, berusaha sebisa mungkin menekan sedikit gelisahannya. Serena bisa melihat penampilan yang mengerikan ketika melewati beberapa sel. Para tahanan itu semuanya memiliki tubuh yang kurus serta penampilan yang tak terurus. Beberapa luka terlihat di anggota badan mereka. Serena tahu di sini mereka pasti disiksa. Jadi, apakah Darius saat ini baik-baik saja?Serena menatap lantai dingin yang ditapakinya serta kaki telanjangnya yang mulai terasa sakit dan
"Jadilah selirku, dan aku akan menjamin keselamatanmu. Aku akan membawamu pergi jauh dari ibu kota dan kita akan hidup berbahagia bersama.” Komandan itu bicara dengan percaya diri, seolah-olah ia sedang menawarkan sebuah anugerah yang tak tertolak. Di belakangnya, dua bawahannya diam terpaku, penuh dengan rasa keterkejutan. “Berbahagia bersama?” Serena mengulanginya dengan nada mencibir. Awalnya dia berpikir mungkin perilaku sang komandan lebih bagus dari anak buahnya. Meskipun terkesan lebih beretika tapi sebenarnya mereka sama saja. “Ya. Meski aku tak memiliki gelar bangsawan setidaknya aku aku bisa pastikan hidupmu akan lebih baik daripada harus tinggal di penjara.” Komandan itu tampak percaya diri dengan kekayaannya. Berpikir bahwa selama dia memiliki kekayaan, semua hal di dunia bisa dengan mudah berada dalam genggamannya. Namun, jawaban Serena selanjutnya menampar ekspetasinya. “Bagiku lebih baik menjadi gelandangan dari pada menjad
“Kecil.”Serena bergumam pelan, menatap datar ke bawah. Tepatnya ke arah celana ksatria di depannya yang telah jatuh ke tanah. Suaranya memang tidak keras, tapi cukup untuk bisa di dengarkan semua orang. Setelah komentar singkat Serena terlontar, suasana mendadak hening, hanya menyisakan deru napas yang tertahan. Merasa harga dirinya sebagai pria telah dihina, wajah ksatria itu memerah padam hingga ke pangkal telinga. “Jangan meremehkannya. Kau pasti malu jika sudah mencicipinya!”Serena menatapnya tanpa ekspresi. Sebenarnya dia sudah sangat panik saat ini. Ia bisa merasakan punggunya mulai dibasahi oleh keringat dingin. Namun, gadis itu cukup lihai untuk menutupinya dengan wajah datar dan tatapan yang dingin. Seolah dia tak akan tumbang apapun yang terjadi.‘Dewi, jika kehidupan ini benar-benar kesempatan kedua yang kau berikan padaku, maka bantu aku menyelamatkan suamiku.’Itu doa yang dipanjatkan Serena dalam hati. Setelah pergolakan







