MasukSerena sangat membenci suaminya, Darius Braun. Seorang pahlawan perang yang dua puluh tahun lebih tua darinya. Seorang suami yang terpaksa ia nikahi karena wasiat terakhir sang ayah. Selama pernikahan Serena tidak bahagia. Ia melampiaskan amarahnya tiap hari pada para pelayan. Menjadi nyonya rumah yang buruk dan istri dingin yang boros. Setelah semua kekacauan yang dibuat Serena, suaminya tidak pernah marah. Tidak pernah mengeluh. Serena pikir pria itu tak akan pernah peduli. Tapi siapa sangka suami yang dia benci seumur hidup itu akan mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya. Pria malang itu akhirnya mati. Setelah itu Serena menghabiskan sisa hidupnya dalam penyesalan. Ketika Serena mendapatkan kesempatan terlahir kembali, ia ingin mencegah tragedi terulang lagi. Kali ini dia tak akan membiarkan suaminya mati lagi!
Lihat lebih banyak"Nyonya Serena, hari ini tuan ingin mengajak anda makan malam bersama."
Serena yang tengah memakan sarapannya berhenti mengunyah. Wanita itu melirik pelayan yang menyela waktu sarapannya dengan tatapan kesal. "Katakan aku tidak bisa," jawab Serena dingin meletakkan kembali garpunya. Pelayan itu tampak terkejut saat Serena bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja makan beserta piring yang masih dipenuhi makanan. Wanita itu sudah kehilangan selera makannya. Hanya dengan mendengar tentang suaminya, itu sudah cukup untuk merusak mood paginya. Serena kembali ke kamarnya. Seperti biasa, wanita itu hanya bermalas-malasan sambil menghamburkan uang suaminya. Membeli gaun dan permata keluaran terbaru tiap bulannya. Hidup dengan boros tanpa memikirkan harta suaminya yang semakin hari semakin kering akibat ulahnya. Bukan salahnya lagi jika suaminya jatuh miskin akibat gaya hidup Serena. Karena pria itu sudah berjanji diawal pernikahan mereka bahwa kehidupan Serena setelah menikah akan terjamin dan Serena bebas menggunakan uang milik suaminya untuk memenuhi seluruh kebutuhan wanita itu. "Serena." Serena terkesiap saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka. Raut wajahnya seketika masam ketika mendapati sosok yang tidak ingin dia lihat berdiri diambang pintu kamarnya. Pria tinggi besar menatap Serena dengan sepasang mata zambrutnya. "Tuan Darius, seharusnya Anda mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Apa Anda melupakan sopan-santun hanya karena saya adalah istri Anda?" Sambut Serena menatap pria yang dia nikahi tiga tahun yang lalu dengan sinis. "Maaf." "Saya yakin bukan itu yang ingin Anda katakan sampai Anda repot-repot datang kemari. Jadi katakanlah apa yang Anda inginkan?" Serena menyilangkan kedua tangan di dada, menatap suaminya dengan tatapan datar. Sikap Serena yang selalu dingin dan tak berbasa-basi membuat Darius menghela napas. Sejak pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Serena memberikan tatapan bersahabat pada suaminya. Istrinya itu tidak menyukainya. Lebih buruk, Serena mungkin membencinya. Darius mengetahuinya. Tapi pria itu tidak bisa melakukan apa-apa selain berusaha memenuhi semua permintaan Serena. "Kudengar kamu memesan permata baru lagi. Apa yang ingin kukatakan itu tentang keuangan keluarga. Karena proyek senjata, keuangan kita akhir-akhir ini kurang bagus. Jadi—" "Jadi maksud Anda saya boros?! Anda ingin menyalahkan saya karena keuangan keluarga memburuk akibat gaya hidup saya yang boros, begitu?!" potong Serena dengan marah. Fakta bahwa Serena menghamburkan uang Darius itu memang benar. Lalu Serena juga tau bagaimana seluruh orang di kediaman ini memandangnya sebagai istri yang boros dan sombong, itu juga Serena mengetahuinya. "Tidak. Bukan begi—" "Saya mengerti! Mulai hari ini saya tidak akan membeli apapun dengan uang Anda lagi. Kalau tidak ada lagi yang ingin Anda katakan, saya harap Anda bisa segera pergi." Serena terang-terangan menunjukkan tatapan permusuhan. Darius yang sudah biasa mendapatkannya masih bersikap dengan tenang. Pria itu bahkan tak pernah tersinggung dengan sikap istrinya yang sekalipun tak pernah menghargainya. "Tentang makan malam—" "Saya akan makan di dalam kamar!" Darius menghela napas. Meski sudah kesekian kalinya Serena menolak ajakannya, pria itu sama sekali tak pernah lelah untuk berusaha bicara pada Serena. Dengan wajah lelah Darius berpamitan, "Kalau begitu selamat beristirahat." Setelah Darius keluar, Serena kembali merebahkan dirinya. Serena memukul-mukul kasurnya melampiaskan kekesalannya. 'Istri tuan yang boros dan sombong.' 'Istri benalu tuan Darius.' Selama ini Serena selalu menulikan telinganya atas komentar buruk orang-orang di kediaman suaminya. Serena tak pernah mempermasalahkannya selama suaminya sendiri tidak mempermasalahkan tentang seberapa boros dirinya. Tapi hari ini, Serena tidak bisa tinggal diam mendengar suaminya sendiri juga melayangkan komentar yang sama dengan orang-orang. Kira-kira apa yang dipikirkan Darius tentang Serena? Bahkan Serena tidak pernah memikirkannya. 'Istri yang dingin, sedingin kulit reptil' 'Istri tak berguna, tuan Darius yang malang' 'Wanita culas yang tak layak dijadikan istri' Itu adalah perkataan-perkataan buruk yang sering dilayangkan orang-orang di belakang Serena. Serena tentu mengetahuinya, tapi sejahat apapun mulut orang-orang Serena tetap memilih diam. Itu karena Serena berpikir tak ada gunanya untuk mempermasalahkannya. Memecat mereka hanya akan menimbulkan kerugian karena kastil Braun hanya memiliki sedikit pekerja. Selain itu apa yang dikatakan orang-orang tentang dirinya itu mungkin tidak salah. "Aku membencinya." Benar, Serena sungguh membencinya. Komentar buruk orang-orang, suaminya dan pernikahannya. Serena membenci semuanya. Darius Braun, dia menikahi pria itu semata-mata karena wasiat terakhir sang ayah. Jika bukan karena itu, Serena tak pernah mau menikah dengan Darius yang dua puluh tahun lebih tua darinya. Terlebih, tinggal di wilayah Braun yang terpelosok jauh dari keramaian ibu kota. Mustahil memiliki pernikahan yang bahagia. Serena bahkan tak sanggup untuk berhadapan dengan suaminya. Hanya ada rasa marah dan benci ketika dia melihatnya. Serena marah karena Darius setuju untuk menikahinya. Padahal jelas wasiat ayahnya hanya berlaku apabila Darius mau menerimanya. Apabila hari itu Darius menolak, maka wasiat sang ayah tidak akan berlaku dan Serena tidak perlu terjerat dalam pernikahan ini sekarang. Serena tidak pernah tertarik pada cinta dan pernikahan. Baginya kehidupan yang ia habiskan di kediaman ayahnya sudah cukup membahagiakan. Tak perlu suami. Serena yakin dirinya lebih bahagia jika hidup sendiri. Itulah kenapa Serena terus mengabaikan surat-surat dari para tuan muda yang datang di masalalu, sampai akhirnya sang ayah jatuh sakit dan memberikan wasiat terakhirnya, yaitu permintaan menikah dengan Darius. Mengapa? Mengapa diantara sekian banyaknya pria, ayahnya hanya memilih Darius, bukan yang lain? Padahal bisa saja ayahnya memilih salah satu pria yang pernah mengirim surat pada Serena. Tapi, ayahnya tidak melakukannya. Apa alasannya? Apa tujuannya? Hanya karena Darius adalah teman baiknya? Karena ayahnya begitu percaya bahwa Darius akan menjaga Serena setelah kematiannya? Apa yang sebenarnya diharapkan ayahnya dari pernikahan ini? Serena tak mengerti apa yang dipikirkan sang ayah saat memutuskan pernikahannya. Tidak pernahkah ayahnya berpikir jika putrinya mungkin tidak bahagia dengan wasiat pernikahan yang ditinggalkannya? Serena tidak bahagia. Pernikahannya sudah memasuki tahun ketiga dan kehidupannya terasa semakin hambar. Seandainya waktu bisa diputar ulang, Serena berharap dia tidak menikah dengan suaminya. "Nyonya!" Serena sudah hampir tertidur saat pintu kamarnya dibuka paksa dengan kasar dan teriakan seorang pria yang memanggilnya benar-benar menusuk telinga. Apa-apaan tindakan kurang ajar ini?! ***"Tu-tuan Besar ... Tuan Besar sekarat!""Apa?!" Pekik Harris dan Serena bersamaan. Tanpa membuang banyak waktu dua saudara itu berlari masuk untuk memastikan keadaan sang ayah."Tidak mungkin ... tidak mungkin," gumam Serena sepanjang jalan. Ingatannya terlempar pada kehidupannya yang lalu dimana hal semacam ini pernah terjadi. Hari dimana Gergory mendadak sekarat dan meninggalkan pesan terakhir padanya. Tidak, itu ... bukan hari ini, kan?!"Ayah!" Pintu kamar dibuka kasar oleh Harris. Menampilkan wajah orang-orang di dalam yang dipenuhi kepanikan saat melihat kedatangan Harris dan Serena."Apa yang terjadi?"Harris dengan tidak sabar menodong tabib yang tengah merawat Gergory dengan berbagai pertanyaan sedang Serena segera mendekat ke sisi sang ayah."A-ampun Tuan Muda. Tu-tuan Gergory sepertinya mengalami serangan jantung dadakan. Kondisi tubuhnya drop. Tu-tuan telah melewati masa kritisnya, ta-tapi tidak ada yang tau
"Aku tidak tau sejak kapan adikku jadi begitu realigius. Apa kau bosan lalu mencari tempat bermain yang baru?" Harris Bekav, putra sulung keluarga Bekav sekaligus satu-satunya saudara Serena. Mereka lahir dari ibu yang berbeda tapi mereka sama-sama mewarisi gen ayah mereka. Itulah kenapa penampilan mereka begitu mirip bagaikan pinang dibelah dua. "Salam kakak." Serena dengan tenang memberi salam, tak menggubris sindiran Harris terhadapanya. Di masalalu hubungan mereka tidak bagus, di kehidupan kali ini pun masih sama. Harris membencinya, alasannya? Itu karena ibu Serena dengan cepat menggantikan posisi nyonya rumah begitu ibu Harris meninggal. Meski ibu Serena juga pada akhirnya meninggal setelah melahirkan Serena, kebencian Harris selanjutnya justru tertuju padanya. "Padahal ini tempat yang suci. Aku tak mengira akan melihat kotoran disini." Ah, sekarang Serena ingat mengapa sebelumnya dia jauh dari dewi. "Saya datang untuk mendoakan kesejahteraan keluarga. Saya juga meng
Hidup kembali merupakan anugerah yang seperti mimpi bagi Serena. Rasanya baru beberapa waktu yang lalu Serena mendekam dalam penjara, mengalami penderitaan tanpa ujung dan berakhir menjadi daging bakar. Serena yang sudah terbiasa menjalani kehidupan kumuh tak pernah membayangkan akan kembali merasakan nikmatnya berendam dalam bak mandi yang dipenuhi busa dan aroma bunga lavender yang menenangkan. "Astaga, Nona! Jangan menggosok kulit Anda dengan keras!" Seorang pelayan yang baru masuk ke kamar mandi meneriakinya dengan keras. Serena tersentak, mata birunya menatap pelayan itu dengan tatapan datar. Apa salahnya menggosok dengan keras? Lagi pula yang dia gosok adalah kulitnya sendiri, bukan kulit orang lain. Serena menatap pelayan itu heran. Dia juga merasa sedikit tidak senang. Dia baru saja kembali dan menikmati mandi pertamanya. Lalu tiba-tiba seseorang datang mengganggu kesenangannya. "Oh, ma-maafkan saya. Sa-saya tidak bermaksud be-berteriak. Sa-saya ... itu ... ku-kulit
Darius.... Pria yang dibenci sekaligus suami yang telah mengorbankan nyawa untuk Serena di kehidupan sebelumnya. Orang yang meninggalkan ribuan rasa bersalah pada diri Serena. Darius, dia juga satu-satunya orang yang sama sekali tidak ingin ditemui oleh Serena. "Nona!" Rere cukup panik saat tiba-tiba tubuh Serena limbung. Terlalu terkejut, membuat Serena kehilangan keseimbangannya. Kakinya tiba-tiba saja lemas. Mata birunya menatap horor pada sosok Darius yang berdiri menjulang di depan sang ayah. "Serena?!" Gergory tak kalah panik saat melihat Serena yang tiba-tiba oleng. Terlebih wajah putrinya yang berubah pucat. "Serena, ada apa?" Tak ada jawaban. Serena masih diam terpaku menatap Darius. Wajahnya dipenuhi keterkejutan sekaligus ketakutan layaknya menatap hantu. Pupil mata Serena bergetar. Mata birunya bahkan lupa caranya berkedip. Kulit wajahnya memucat sepucat mayat. Detak jantung Serena meningkat cepat dan keras menggedor rongga dadanya. Perasaan terhimpit m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.