FAZER LOGINLangkahnya tenang. Terukur. Tapi setiap langkah itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dadaku.Aku tidak mundur kali ini. Tidak juga bergerak. Aku hanya berdiri. Menunggu. Sampai akhirnya dia berhenti tepat di depanku. Dekat. Sangat dekat. Tapi berbeda dari sebelumnya. Tidak ada tarikan kasar. Tidak ada sentuhan tiba-tiba. Tidak ada emosi meledak. Hanya tatapan itu. Dalam. Membaca. Menilai.“Kau berubah,” katanya pelan.Aku mengangkat dagu sedikit. “Atau mungkin saya baru mulai jadi diri sendiri.”Sudut bibirnya bergerak tipis. Bukan senyum. Lebih seperti reaksi yang tertahan.“Dan aturan yang kau buat…” lanjutnya, “…kau pikir itu cukup untuk menjaga semuanya tetap rapi?” Jeda. "Tanpa ketahuan?" tanyanya, membuatku menoleh. Aku menatapnya lurus. “Setidaknya itu membuat kita tahu batas.”“Batas,” ulangnya pelan, seolah kata itu asing baginya.Hening beberapa detik. Lalu—“Bagaimana kalau aku melanggar?” tanyanya.Jantungku berdetak lebih cepat. Tapi, aku tidak mengalihkan pandangan.
Pagi datang terlalu cepat. Aku bahkan hampir tidak tidur. Bukan karena suara di rumah sakit, bukan karena ibu —tapi karena pikiranku sendiri yang tidak bisa berhenti.Pesan itu.Nada itu.Dan diamnya dia setelahnya.Aku menatap ponsel sekali lagi sebelum memasukkannya ke tas. Tidak ada balasan. Tidak ada apa-apa.'Aneh. Biasanya dia tidak seperti ini.'Hari berjalan seperti biasa. Kuliah. Perpustakaan. Menghindari pikiran yang terus kembali ke satu titik yang sama. Sampai akhirnya—“Bi.”Aku menoleh. Silvi. Dia berdiri di depan rak buku. Sendirian kali ini. Tidak ada teman. Tidak ada keramaian seperti kemarin. Hanya gadis itu. “Ada waktu?” tanyanya pelan.Aku mengangguk.Kami duduk di meja pojok. Jauh dari mahasiswa lain. Sunyi.Beberapa detik tidak ada yang bicara. Lalu Silvi menarik napas.“Aku mau tanya sesuatu.”Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Entah kenapa suasana saat ini terasa aneh dan menegangkan. “Tanya apa?”Dia menatapku. Dalam. Lebih serius dari biasanya.“Kamu
Aku membeku.“Karena … aku?” ulangku pelan. Nadaku berusaha terdengar biasa, tapi jelas ada sesuatu yang berubah.Angga mengangguk santai, seolah itu bukan hal besar.“Iya. Dia nanya banyak soal kamu.”Jantungku berdetak lebih cepat.“Apa saja yang dia tanya?” tanyaku, kali ini lebih hati-hati.Angga bersandar ke kursi, mengingat.“Macam-macam. Kamu kerja di sini sudah berapa lama. Jadwal kamu gimana. Kamu dekat sama siapa aja…” dia berhenti sejenak, lalu menatapku penuh arti, “termasuk aku.”Tanganku yang berada di bawah meja langsung mengepal.Riana ikut menimpali, “Awalnya sih aku kira cuma pelanggan biasa yang kepo. Tapi cara dia nanya itu beda.”“Beda gimana?” suaraku hampir tak terdengar.Riana mengernyit, mencoba menjelaskan.“Serius. Tajam. Kayak … bukan sekadar penasaran. Lebih ke memastikan sesuatu.”Aku menelan ludah.Tentu saja. Itu memang cara Tian. Mengumpulkan informasi. Mengontrol keadaan. Tidak pernah bergerak tanpa tahu segalanya lebih dulu.“Terus kamu jawab apa?” t
Ponsel itu terus berdering. Getarannya terdengar jelas di dalam mobil yang mendadak sunyi.Tian berhenti. Napasnya masih berat. Tangannya masih mencengkeram lenganku, tapi tidak sekuat tadi. Bibirnya terhenti hanya beberapa inci dari wajahku.Untuk beberapa detik —dia hanya diam. Seolah sedang menahan sesuatu dalam dirinya sendiri.Lalu dengan kasar, dia menjauh. Tangannya merogoh saku, mengambil ponsel, dan menatap layar dengan rahang mengeras.“Ya,” jawabnya singkat.Aku tidak bisa mendengar jelas suara di seberang sana. Tapi ekspresi Tian berubah. Bukan lagi marah seperti tadi. Lebih ke terganggu.“Sekarang?” tanyanya, suaranya rendah.Jeda.Ia menghembuskan napas kasar. Menyandarkan kepala sebentar ke kursi, seolah menahan emosi yang belum benar-benar reda.“Baik. Aku ke sana.”Panggilan berakhir. Dan sunyi kembali. Namun kali ini —sunyinya berbeda.Tidak ada lagi agresi seperti tadi. Tidak ada gerakan tiba-tiba. Tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih tegang.Aku langsu
Perpustakaan mendadak terasa sempit. Padahal ruangannya luas. Sunyi. Seharusnya nyaman. Tapi sejak dia berdiri di depanku—semuanya berubah.Tatapan beberapa mahasiswa mulai terasa. Bisik-bisik pelan terdengar di sudut-sudut ruangan.Aku menelan ludah.“Pak…” ucapku pelan, sengaja memberi jarak. Sengaja mengingatkan posisi.Matanya menyipit tipis.“Pak?” ulangnya.Aku mengangguk kecil. “Ini perpustakaan, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”Nada suaraku formal. Datar. Profesional.Seolah aku benar-benar tidak mengenalnya. Dan itu jelas tidak dia suka.“Aku tidak datang ke sini untuk pinjam buku,” katanya dingin.“Ada keperluan apa?” tanyaku tetap tenang.Dia tidak langsung menjawab. Sebaliknya —dia melangkah lebih dekat.Aku refleks mundur setengah langkah.“Bia.”Nada itu berubah. Lebih rendah. Lebih personal.“Keluar.”Aku menggeleng pelan. “Tidak bisa. Saya sedang bekerja.”“Ini tidak akan lama.”“Saya tetap tidak bisa meninggalkan posisi.” Jawabanku tegas.Dan untuk pertama kalinya —aku
Aku duduk di bangku kelas seperti biasa. Di tempat yang sama. Di samping Hani.Dosen sudah masuk. Suara penjelasan mulai terdengar. Slide demi slide berganti di layar. Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar masuk ke kepalaku.Pikiranku masih tertinggal di pintu darurat itu. Pada tatapan Tian. Pada kalimatnya. Pada caranya menarik tanganku.Aku mengepalkan jemari di atas meja.“Fokus, Bia,” gumamku pelan.Ini ujian. Ini penting.Aku menunduk, mencoba membaca soal yang dibagikan. Namun huruf-huruf itu terasa seperti berantakan. Tidak membentuk makna.Sial.Aku menarik napas panjang. Mengusap wajah sebentar.“Bi … kamu kenapa?” bisik Hani pelan di sampingku.Aku menggeleng cepat. “Enggak apa-apa.”Tapi jelas dia tidak percaya.“Kamu dari tadi blank.”Aku diam. Lalu akhirnya berbisik pelan, “Cuma capek.”Itu setengah benar. Capek fisik dan lebih lagi capek hati.Hani mengangguk pelan. Tidak bertanya lagi. Dan aku bersyukur untuk itu.Satu jam kemudian, ujian selesai. Aku keluar kelas de







