MasukAlex mendapati Bagaskara, salah satu karyawan di perusahaannya melakukan penggelapan dana. Dan ternyata, Naraya, gadis berpenampilan cupu yang menjadi sekretarisnya menerima aliran dana hasil penggelapan tersebut. Mendapati kenyataan tersebut bukannya marah Alex justru merasa ini kesempatan baginya untuk mencari tahu alasan dibalik tatapan penuh kebencian yang selama ini gadis itu tunjukkan padanya. Tapi terlepas itu dari itu semua, Alex juga menemukan obat penyembuh bagi penyakit yang diidapnya sejak bertahun-tahun yang lalu. Bersama Naraya, gadis kumal yang berpenampilan cupu, "aset berharga" Alex yang selama ini tertidur akhirnya bisa bangun kembali.
Lihat lebih banyakAlex berjalan cepat memasuki ruangannya. Asisten pribadinya, Theo, mengikuti langkahnya dengan tergesa di belakang. Begitu sampai di ruangan Alex menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya.
“Apa penyebabnya?” Suara bariton Alex terdengar. “Kecurangan yang dilakukan orang dalam, Tuan. Ada selisih data yang besar di laporan yang mereka sampaikan. Tim audit baru saja memastikannya.” “Kurang ajar!” Ucap Alex. Rahangnya mengeras. Matanya tampak mengkilap, memancarkan kemarahannya yang begitu besar. Tangan Alex yang tadi memegang dagu kini mengepal kuat. Siapapun bisa melihat kalau pemilik sekaligus pemimpin Lexaya Group itu sedang marah. “Seberapa besar kerugian perusahaan?” Tambahnya. “Untuk saat ini tim audit melaporkan angka selisih sebesar satu setengah milyar rupiah.” Jawab asistennya cepat. “Namun mereka masih terus melakukan pengecekan untuk memastikan jumlah pastinya.” Satu setengah milyar? Dahi Alex berkerut heran. Bukan soal nominalnya. Alex bisa memastikan kalau perusahaannya tidak akan goyah hanya karena seseorang yang dia beri pekerjaan selama ini mengambil uang dengan nominal tersebut tanpa sepengetahuannya dari perusahaan. Justru dia heran, siapa orang bodoh yang melakukan penggelapan dana hanya dengan nominal yang sedikit itu? Perusahaan miliknya selama ini memberikan fasilitas pinjaman kepada karyawan yang membutuhkan. Hal ini dilakukan Alex untuk membantu karyawan yang terdesak dan mengurangi resiko kecurangan di perusahaan. Bahkan bagi karyawan yang memenuhi kriteria, jumlah pinjaman yang diberikan bisa mencapai milyaran dan sistem pengembaliannya dilakukan dengan cara pemotongan gaji setiap bulannya. Jadi kenapa harus melakukan penggelapan kalau hanya dengan nominal segitu? “Terus pantau perkembangannya.” Alex menatap asistennya tajam. “Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?” Theo hanya mengangguk. Menandakan dia mengerti apa maksud atasannya. “Pergilah!” Alex meminta asistennya untuk meninggalkannya. “Aku mau besok sudah diketahui siapa pelakunya dan berapa jumlah pastinya.” “Baik. Saya permisi, Tuan.” Theo undur diri. Saat akan mencapai pintu, suara Alex terdengar kembali menahan langkah Theo. “Minta Raya kesini. Sekarang!” “Baik, Tuan.” Theo melangkah keluar, meninggalkan Alex yang masih duduk dengan pikiran kusutnya. Tok tok tok. Ketukan di pintu tidak dihiraukan oleh Alex. Dia tahu siapa orang yang sedang menunggu jawaban dari balik pintu tersebut, namun dia enggan menjawab. Karena sebentar lagi bisa dipastikan kalau orang itu akan melakukan tugasnya dengan baik. “Permisi, Tuan. Anda memanggil saya?” Kepala seorang wanita menyembul dari balik pintu ruangan Alex yang terbuka sedikit. Alex yang sejak tadi duduk menatap jendela dengan posisi membelakangi pintu memutar kembali kursinya. “Masuklah!” Alex menatap sekretarisnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Kemeja putih yang warnanya mulai usang berlengan panjang yang longgar. Rok hitam yang panjangnya sampai ke betis. Dan jangan lupakan flat shoes hitam yang juga sudah usang tampak semakin memperburuk penampilan Raya. Oh, belum lagi kacamata minus dengan bingkai bulat yang hampir melingkari setengah wajahnya. Dengan rambut yang selalu dikuncir kuda dengan poni selamat datang menghiasi wajahnya yang hampir tidak pernah tersenyum. Kalau melihat penampilan Raya yang seperti ini, sebenarnya gadis ini sama sekali tidak cocok untuk jabatannya sebagai sekretaris dari pemimpin Lexaya Group. Bukan hanya Lexaya, dia bahkan tidak cocok untuk menjadi sekretaris pemimpin perusahaan manapun. Tapi bukannya merasa keberatan dengan penampilan Raya, Alex justru menyeringai puas. Dia senang karena Raya tidak berpenampilan seperti wanita-wanita yang pernah menjadi sekretaris pria itu sebelumnya. Yang lebih banyak mengumbar apa yang ada dibalik pakaian mereka ketimbang menunjukkan keenceran otak dan kecekatan mereka dalam bekerja. Raya yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Sebenarnya dia jengah dengan tatapan bosnya yang selalu menilai penampilannya dan mengejek sekaligus. Ingin rasanya dia mendamprat pria yang sedang duduk dengan angkuh sambil terang-terangan menatapnya dari atas ke bawah, tapi dia sadar hidupnya bergantung pada pekerjaan yang diberikan pria ini. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” “Kemarilah!” Perintah Alex, meminta sekretarisnya untuk mendekat. Raya perlahan berjalan mendekat ke samping Alex. Dia berhenti ketika dirasa jarak mereka masih cukup aman. Meskipun tak sepenuhnya dekat, Alex masih bisa mencium samar aroma vanila dari parfum murah yang digunakan Raya. “Kamu tahu siapa yang menjadi pemimpin cabang Lexaya di Bali, bukan?” Alex kembali fokus pada tujuannya memanggil gadis ini. “Tentu, Tuan. Pak Bagaskara yang Anda tunjuk untuk memimpin cabang Lexaya disana.” “Dan kamu tahu sedang ada masalah apa di cabang sana?” Raya menggeleng. Selama ini dia sangat membatasi pergaulannya di kantor. Dia bahkan tidak memiliki satu teman pun di tempat kerjanya ini. Hal itu tentu saja membuat Raya tidak pernah mengikuti desas-desus atau pembicaraan yang sedang hangat seputar kantor. Datang pagi hari, fokus bekerja, istirahat siang dihabiskan tetap di mejanya dengan memakan bekal yang dibawa dari rumah, lalu kembali bekerja hingga waktu pulang tiba. Selalu memilih pulang tepat waktu—kecuali bosnya ini meminta Raya untuk lembur tentunya. Hanya itu rutinitas Raya setiap hari. Melihat Raya yang hanya diam Alex akhirnya berkata. “Dia menggelapkan uang perusahaan.” Meskipun Theo belum mengatakan siapa pelaku pastinya, insting Alex sangat kuat untuk menebak. Dan saat ini dia hanya ingin mengetahui reaksi sekretarisnya ini. “Kerugian perusahaan saat ini ditaksir sekitar satu setengah miliar. Apa kau tahu itu?” Tambahnya. Alex menatap Raya tajam. Kalimatnya penuh penekanan. Bukan tanpa sebab dia memberitahu sekretarisnya ini. Kalimat-kalimat yang baru saja dilontarkan Alex membuat mata Raya membulat. Rasa terkejut tercetak jelas di wajahnya. Dia sama sekali tidak mengetahui berita ini sebelumnya. Bahkan sudah seminggu dia tidak berkomunikasi dengan Bagaskara. “Kehilangan yang dialami perusahaan memang tidak terlalu besar, tapi melihat gayamu yang biasa-biasa saja sepertinya uang itu tidak mengalir padamu. Apa dia punya simpanan lain?” Belum hilang rasa terkejut Raya setelah mendapat informasi yang baru saja didengarnya, kalimat Alex barusan seolah menghantamnya. Apa maksud atasannya ini berkata seperti itu padanya? Raya tidak menyangka kalau Alex menganggap dirinya rendah selama ini. Dia memang sangat dekat dengan Bagaskara, bahkan kedekatan mereka sudah dimulai sejak mereka masih menjadi mahasiswa. Raya, Alex dan Bagaskara adalah teman satu angkatan di perguruan tinggi. Hanya saja dibandingkan dengan Alex, kedekatan Raya dengan Bagas jauh lebih akrab. Bahkan Alex tampak seperti membencinya sejak dulu. “Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Tuan katakan.” Jawab Raya akhirnya. Alex berdecak. Dia tahu Raya selalu menghindari berkonfrontasi dengannya. Bahkan Raya benar-benar tidak pernah mau berbicara selain soal urusan pekerjaan dengannya. Sikapnya selalu formal, seolah-olah mereka bukan kenalan lama. Tapi dengan Bagas, setiap kali pria itu datang kesini, Alex bisa melihat bagaimana lepasnya interaksi di antara mereka. Raya tidak pernah canggung dengan Bagas, bahkan beberapa kali dia mendapati sekretarisnya ini tertawa lepas dengan canda recehan Bagas. “Bagian mana yang kamu tidak mengerti Raya? Bagas melakukan penggelapan atau pria itu memiliki wanita lain?” Tanya Alex lagi. “Bukankah semua ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya, Tuan?” “Kata siapa?” Alex menatap kembali wajah Raya yang selalu datar saat sedang berinteraksi dengannya. Dan Alex bersumpah, seandainya dia bukan Raya, Alex pasti sudah memecatnya sejak lama. Bagaimana bisa seorang bawahan memandang bosnya dengan tatapan ketus dan datar seperti itu? “Karena kalau ada satu bukti saja yang mengarah ke kamu, maka sama seperti Bagas, kamu juga akan diproses hukum.” Wajah Raya menegang. Tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya berdetak cepat. Dia tahu betul kalau Alexander Anthony tidak pernah main-main dengan ucapannya. Melihat perubahan Raya, Alex tersenyum puas. “Aku harap kamu mempersiapkan dirimu dari sekarang, Raya. Dan pastikan kamu bisa memberikan alasan-alasan yang masuk akal nantinya.” Ucap Alex. Raya masih diam. Dia masih berusaha mencerna satu-persatu informasi yang baru saja menghantamnya. “Apa aku hanya radio rusak disini, Raya?” Alex sedikit meninggikan suaranya. Raya terperanjat. “Ah, tidak. Maafkan saya, Tuan. Ini semua terlalu mengejutkan saya.” Raya berusaha mengembalikan sikap formalnya. Alex mengangguk. “Justru akan lebih aneh kalau kamu tidak terkejut.” “Apa ada hal lainnya yang ingin Anda sampaikan, Tuan?” Kali ini Alex menggeleng. “Tidak. Pergilah!” “Saya permisi, Tuan.” Raya membalikkan badan. Melangkah tergesa menuju mejanya. Saat ini dia sedang membutuhkan lebih banyak oksigen untuk dihirup sepertinya. Dibalik mejanya Raya masih berusaha menenangkan diri. Tapi tetap saja, seberapa keras pun usahanya untuk tenang, rasa cemas selalu menyelimutinya. Semua perkataan bosnya tadi kembali terngiang. Bagas terkena kasus penggelapan dana perusahaan dan Alex sudah pasti akan mengusut tuntas kasus ini. Sudah beberapa hari ini Bagas tidak pernah menghubunginya dan itu semakin menambah rasa khawatir Raya. Bagaimanapun, Bagas adalah satu-satunya teman yang dia miliki. Hanya Bagas orang yang mengetahui segala sisi tentang hidupnya dan tetap bersedia berteman dengannya. Dan hanya pria itu orang yang selalu membantunya setiap bulan. Mengingat Bagas yang selalu royal dalam membantunya, tubuh Raya menegang seketika. Apa uang yang rutin pria itu transfer ke rekeningnya setiap bulan selama setahun belakangan ada kaitannya dengan kasus ini? Jika benar, matilah dia. Raya menggigit ujung pena yang sedang dipegangnya. Untung saja semua pekerjaan untuk hari ini sudah selesai, dia jadi bebas menggalau saat ini. Rasa takut dan cemas menyerangnya saat teringat semua uang yang pernah Bagas transfer padanya. Dan mengingat semua ucapan bosnya tadi, tubuh Raya menggigil seketika. Alexander Anthony tidak pernah main-main dengan semua ucapannya. Raya tahu pasti itu. Dan kalau dia sampai terseret di kasus ini, maka tamat riwayatnya. Pria itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Raya menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Bayangan dirinya di masa depan menggunakan rompi berwarna orange sudah menari-nari di pelupuk mata. Dan terlepas dari itu, membayangkan dia akan kehilangan satu-satunya orang yang saat ini menggantungkan hidup dari hasil kerja kerasnya dan uluran tangan Bagaskara terasa menyesakkan. Air mata Raya turun tanpa diminta. Rasa takut kehilangan seseorang menghantuinya jauh lebih besar daripada rasa takutnya mendekam di balik jeruji besi. Kepala Raya mendadak pusing. Tanpa sadar gadis itu jatuh tertidur. Sementara itu di dalam ruangannya Alex tengah memperhatikan layar kecil yang memperlihatkan seluruh sisi dari lantai dimana ruangannya berada. Matanya sejak tadi fokus menatap layar yang kini tengah menunjukkan meja kerja sekretarisnya. Semua gerakan Raya terekam jelas. Wajahnya semula tampak berpikir keras, matanya yang tiba-tiba melebar, wajahnya yang berubah panik hingga gadis itu menangis tanpa aba-aba, bahkan kini gadis itu justru tertidur. Semua ekspresi dan gerakan itu tak luput dari penglihatan Alex. “Ciihh.” Alex berdecih. Gadis itu mengatakan tidak tahu apapun padanya tadi. Tapi wajahnya terlihat sangat ketakutan. Belum lagi tangisannya barusan. Mungkin dia sedang menangisi nasib pacarnya yang sebentar lagi akan mendekam di balik jeruji besi. Setelah puas mengamati sekretarisnya yang sekarang justru tertidur, Alex menyambar jas yang sedak tadi tersampir di kursi. Sebelum keluar ruangan Alex meminta office boy untuk mematikan seluruh lampu di lantainya, kemudian turun ke bawah untuk meninggalkan gedung kantornya. Seringai kepuasan kembali tercetak jelas di wajahnya saat membayangkan Raya akan terbangun dalam keadaan gelap gulita.Alex duduk di balkon penthouse miliknya. Di tangannya tab miliknya sedang terbuka, menampilkan email yang baru saja dia terima dari Theo.Alex membaca dengan seksama file yang berisi informasi tentang Raya yang tadi dimintanya pada Theo. Sama sekali tidak ada hal yang spesial di sana.Isinya sama persis seperti yang Theo ceritakan tentang gadis itu sebelumnya. Tinggal di kamar kost kumuh yang jauh dari pusat kota tanpa memiliki satu pun kerabat yang masih hidup. Rasanya Alex tidak percaya ada orang dengan kehidupan semalang itu.Membaca file itu benar-benar membosankan bagi Alex. Dia sempat berpikir, apa gadis itu tidak bisa menikmati hidup? Jadwal kesehariannya benar-benar hanya kantor dan kost. Apa dia sama sekali tidak punya teman? Miris sekali hidupnya.Baru sedetik yang lalu Alex mengasihani hidup Raya, pemikiran pria itu berubah seketika saat mengingat kalau hidup Raya tidak semenyedihkan itu. Alex lupa kalau Raya mungkin terbiasa bersama Bagaskara.Meski t
Raya mengetuk pelan pintu ruangan dokter Andrew. Saat terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk, Raya membuka pintu dan mendorongnya pelan.“Duduk, Raya.” Dokter Andrew mempersilahkan Raya untuk duduk di depannya.Tatapan dokter Andrew tertuju pada kertas-kertas di tangannya yang Raya yakini rekam medis milik Aurel. Raya memperhatikan mimik dokter Andrew yang tampak serius. Seketika rasa khawatir menyergap Raya. Apa sesuatu yang buruk telah terjadi.Dokter Andrew menutup lembaran kertas di tangannya, atensinya kini terfokus pada Raya. Sebelum berbicara, dokter Andrew berdehem sesaat.“Begini, Raya…” Dokter Andrew menjeda kalimatnya. “Seperti yang kita tahu, kardiomiopati yang diderita Aurel merupakan kardiomiopati dilatasi. Dan itu merupakan jenis kardiomiopati yang terparah. Dimana bilik kiri jantung membesar sehingga kemampuan jantung memompa darah menjadi berkurang yang berpotensi menyebabkan gagal jantung, gangguan katup jantung, penggumpalan darah di ja
Di dalam toilet Raya membersihkan dirinya dari sisa-sisa cairan yang tadi dia keluarkan. Rasa lengket di bagian bawah sana membuatnya merasa tidak nyaman. Setelah selesai Raya merapikan kembali pakaiannya.Raya menatap wajahnya pada pantulan cermin. Dia baru menyadari lipstiknya berantakan. Matanya juga sembab. Pantas saja tadi Theo memandangnya dengan penuh kebingungan. Kemudian dia mencuci wajahnya dan memoleskan lipstik kembali agar tidak tampak pucat. Raya menatap cermin sekali lagi. Memastikan penampilannya sudah tidak kacau seperti sebelumnya.Raya menarik nafas pelan sebelum keluar dari toilet. Berharap dirinya tidak akan kembali berpapasan dengan Theo di depan lift. Terlebih Alex. Dia belum siap untuk bertemu pria itu. Bukan karena dia takut atau lemah. Bukan. Tapi karena dia masih muak dengan atasannya itu.Raya berjanji pada dirinya sendiri tidak merutuki kebodohannya lagi. Dia juga tidak akan menangisi kejadian tadi lagi. Tidak akan. Apalagi setelah dia berhas
Alex menatap takjub wajah Raya saat gadis itu tengah diliputi kepuasaan. Kepalanya yang mendongak dengan bibir yang terbuka, entah kenapa tampak sangat menakjubkan di mata Alex. Nafas Raya masih memburu, dadanya naik turun. Menambah kesan seksi gadis itu di mata Alex.Alex tahu, sejak dulu dibalik dandanan cupu gadis itu tersimpan kecantikannya yang luar biasa. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau kecantikan Raya bisa meningkat berkali-kali lipat saat gadis itu tengah dilanda gelombang orgasme.Alex menelan ludah. Rasanya dia ingin kembali menciumi seluruh bagian wajah Raya sekarang. Melanjutkan permainan mereka lebih dari ini. Dia membayangkan akan seperti apa rasanya miliknya yang setelah sekian lama tertidur menemukan kembali tempat untuk dimasuki. Akan seperti apa rasanya jika dia terbenam di dalam pusat Raya? Pasti akan luar biasa. Dia akan membisikkan di telinga gadis itu betapa cantiknya dia saat berada di tengah gelombang kepuasan usai mereka selesai melakukann
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.