LOGINBia terjebak pada permainan panas seorang pengusaha kaya raya, yang ternyata adalah tunangan kawan dekatnya. Awalnya ia tidak tahu, dan menjalani peran sebagai sang pelampiasan. Hingga Bia akhirnya tahu dan memutuskan untuk berhenti, tapi yang terjadi justru dirinya terjerat dan sulit terlepas. Lantas, bagaimana cara Bia bebas? Sedangkan rasa yang tak pernah diinginkan malah hadir tanpa disadari.
View MoreSuara erangan itu terdengar panjang. Memenuhi setiap sudut ruangan.
Aku bisa mendengarnya tepat ketika sesuatu yang hangat memasuki area yang selama ini terlarang untuk disentuh. Pria di atasku tak lama ambruk. Menindih tubuhku dengan peluh yang juga membanjiri tubuhnya. Hangat. Basah. Lengket. Deru napas masih terdengar berat —tepat di sisi telingaku. Tak ada kata selama beberapa detik lamanya, hingga .... "Kau ternyata pandai juga," katanya diiringi senyum sinis di ujung kalimatnya. Aku tidak mengerti apa yang dimaksud pandai olehnya. Otakku terlalu penuh untuk mencerna satu kata yang diucapkan oleh lelaki yang baru aku kenal beberapa jam yang lalu itu. "Apakah itu artinya puas?" tanyaku berani meski sebetulnya hatiku was was. Perlahan lelaki itu bergerak. Mengangkat tubuhnya, lalu memandangku dengan tatapan dingin yang aku tahu tatapan sebal. "Pertanyaanmu seperti mengisyaratkan kalau ada harga yang harus aku bayar." Aku sontak tersenyum, meledek. "Aku tidak tahu siapa Anda. Tapi, tempat di mana kita bertemu bukanlah tempat sembarangan. Lalu, hotel yang Anda pilih, ini juga bukan hotel murahan. Itu semua menunjukkan kelas Anda sebenarnya." Aku bergerak ketika lelaki itu tak bereaksi. Dia hanya tersenyum, lalu beranjak bangun dan kembali memakai celananya yang tadi tergeletak di atas karpet. "Berapa yang kau mau atas pelayanan yang baru diberikan?" "Lima ratus juta." Sejenak ada respon kaget yang bisa ku lihat darinya. Sedetik kemudian ia menoleh, lalu tersenyum sinis. "Bahkan aku tidak memberikan uang sebesar itu pada model atau artis sekali pun. Kecuali kau masih perawan." Ia memberi jeda. Lalu, "Sedangkan kau—" katanya tak lagi melanjutkan. Ku bungkam ucapannya dengan sebuah noda merah di atas sprei —ketika aku sengaja bangun untuk ke kamar mandi. Tak berapa lama. "Dua ratus juta, kecuali pekan depan kau ada di sini lagi." Aku mendengarnya dari dalam toilet sambil memandangi wajahku di depan cermin. Gurat lelah yang begitu tampak setelah 'melayani' seorang lelaki asing, membuatku membasuh muka kemudian. Beberapa warna kemerahan tampak di sekitar leher dan area dada saat aku mengangkat kepala, kembali menatap cermin. 'Satu-satunya mahkota yang aku miliki, malah aku berikan pada laki-laki yang tidak aku kenal.' Aku berkata lirih dengan senyum pilu. Menyedihkan, sungguh menyedihkan. Tapi, mungkin menyesal pun tak berguna. Aku yang sudah memutuskan hal itu, jadi untuk apa ada kata sesal setelahnya. Tak terdengar suara saat aku membersihkan diri. Ketika keluar, lelaki itu sudah terlihat tak berdaya di atas kasur. Suara dengkuran halus terdengar di telingaku. Aku menengok ke meja kecil di pinggir kasur. Tampak selembar cek dengan angka dua ratus juta yang tertera, beserta tanda tangan di bawahnya. Aku mengambil cek tersebut. Menggenggamnya di dada sembari tersenyum. Bukan senyum bahagia, justru rasa sakit sebab harus mendapatkan uang tersebut dengan cara yang tidak halal. Beberapa saat aku baru menyadari jika ada selembar kertas —yang berasal dari note book milik hotel, di bawah lembar cek tadi. 'Pekan depan, di jam dan tempat yang sama. Sisa tiga ratus juta akan aku bayarkan.' Aku tersenyum sinis. 'Dia mau aku melakukannya lagi. Jangan harap!' kataku sembari menatap ke arahnya. Uang dua ratus juta itu memang sudah cukup, sesuai dengan yang aku butuhkan. Aku sengaja meminta lebih, karena sempat memperhatikan penampilannya, termasuk merk jam serta segala yang dikenakannya, yang aku yakini statusnya bukan dari kalangan orang biasa. "Tidak akan ada pekan depan. Malam ini sudah cukup," kataku, lalu pergi meninggalkan kamar hotel sembari menahan rasa sakit juga perih di area bawah tubuhku. Meninggalkan sosok si pria asing yang mungkin akan terkejut ketika bangun tidur nanti. ** Sudah seharusnya aku istirahat bukan? —selayaknya pengantin baru setelah 'dihabisi' oleh suaminya. Tapi, sayangnya aku bukanlah si pengantin baru itu —yang baru menghabiskan malam pertama dengan penuh kebahagiaan meski rasa sakit menyerang seluruh raga. Aku cuma seorang ... ah entahlah, apa namanya. Bukan p*lacur. Tidak! Karena aku memang tidak berprofesi seperti perempuan-perempuan di dalam diskotek yang semalam aku datangi. Aku cuma datang —itu pun pertama kalinya— ke tempat tersebut, sengaja mencari laki-laki yang mau membayarku tinggi demi keperawanan yang selama ini aku jaga. Tempat yang informasinya aku dapatkan dari teman sesama mahasiswa yang memiliki profesi sampingan sebagai ayam kampus. Namun, sialnya aku tidak melakukan negosiasi di awal saat berjumpa dengan lelaki itu semalam. Aku keburu mabuk sebab minuman yang aku tenggak. 'Padahal hanya dua gelas.' Karena bukan seorang peminum, cairan itu seketika membuatku terjatuh ke pelukannya, yang kebetulan tidak sengaja lewat ketika aku hendak ke toilet. Aku masih ingat aroma parfumnya saat ia mengangkatku. Wangi amber yang sangat elegan, membuatku terhanyut hingga dengan sangat berani mengalungkan tangan ke lehernya. Mungkin itu sebuah ajakan tanpa suara, yang membuatnya kemudian menggendongku meninggalkan tempat hiburan malam tersebut. Tak ada suara atau percakapan apa pun saat aku berada di pangkuannya, hingga ia membaringkan tubuhku di atas kasur yang sangat empuk. Satu-satunya yang sempat telingaku tangkap, adalah sebuah perintah dengan suara pelan, tapi tegas, yang ia ucapkan entah kepada siapa. "Tunggu perintahku selanjutnya!" Setelah itu kamar pun hening. Hanya terdengar suara langkah kaki menuju ke arahku. Perlahan aku mampu membuka mata. Sedikit, tapi cukup untuk melihat wajahnya yang tampan. Tinggi badannya yang sangat proporsional dengan bentuknya yang tidak kurus, tapi juga tidak gemuk. Bahkan, terlihat sangat indah ketika ia membuka jas, dan kemeja putihnya. 'Indah sekali,' batinku saat melihat tubuhnya yang menawan. Aku terdiam. Entah mengapa, seketika kesadaranku pun pulih. Kalimat selanjutnya meluncur pelan ketika akhirnya aku menyadari bahwa tubuhku tak lagi berpakaian. "Kita lihat seberapa pandainya kamu hingga berani menggoda seorang Tian Mahendra." Setelah itu aku tak lagi ingat dengan masalah dan beban hidup yang tengah aku alami. Aku terlalu menikmati setiap sentuhan yang diberikan. ***"Sial." Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.Bagaimana mungkin aku bisa menghafal nomor pelat mobil seseorang?Bahkan nomor pelat motor Angga saja aku tidak tahu."Kok diam?" Hani menyipitkan mata, memperhatikanku.Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.""Kamu sadar, kan?""Sadar apa?""Barusan kamu lega."Aku mengerutkan dahi."Lega? Maksudmu?""Iya." Hani mengangguk mantap. "Pas yang turun bukan Tian."Aku membuka mulut, hendak menyangkal. Namun urung.Karena ... memang benar. Aku lega.Entah karena tidak perlu bertemu dengannya lagi hari ini, atau karena tidak perlu menghadapi tatapan aneh teman-teman kampus untuk kedua kalinya."Aku cuma..." Aku mencari alasan yang masuk akal. "Capek."Hani tidak langsung membalas. Tatapannya justru semakin sulit kuterjemahkan."Bia.""Hm?""Aku enggak akan ikut campur."Aku menoleh."Tapi aku minta satu hal.""Apa?""Jangan bohong sama diri sendiri."Kalimat itu membuatku terdiam.Sebelum sempat membalas, Hani sudah lebih dulu mengembuskan napas.
"Seharusnya aku mencari cara supaya terlepas darinya."Kalimat itu terus berputar di kepalaku sampai jam kerjaku berakhir.Malam semakin larut ketika restoran akhirnya tutup. Aku membantu merapikan meja, menyusun kursi, lalu membersihkan area pelayanan seperti biasa."Bia."Aku menoleh. Angga sedang menggantung celemeknya."Pulang naik apa?""Ojek, seperti biasa.""Mau dianter?"Aku tersenyum kecil."Enggak usah. Hari ini sepupumu enggak manggil, 'kan?"Angga menggeleng."Enggak.""Ya sudah. Aku naik ojek saja.""Oke."Ia tidak memaksa. Itulah salah satu hal yang kusukai dari Angga. Perhatiannya selalu ada, tetapi tidak pernah berlebihan.Sementara aku membuka aplikasi untuk memesan ojek, Reina tiba-tiba menyenggol lenganku."Bi.""Hm?""Pak Tian enggak balik lagi, 'kan?"Aku langsung mendelik."Ngapain balik?""Ya siapa tahu. Enggak nungguin kamu juga 'kan di jalan?" tanyanya sembari celingak celinguk ke arah depan. "Enggak usah ngarang."Reina terkekeh."Soalnya akhir-akhir ini dia
Lima belas menit istirahatku hampir habis. Aku melirik jam tangan, lalu perlahan mendorong kursi ke belakang."Sepertinya aku harus kembali kerja."Silvi mengangguk mengerti."Iya. Maaf ya, jadi ganggu waktu istirahatmu.""Enggak kok."Aku berdiri sambil merapikan celemek. Satu sikap yang sengaja aku lakukan, supaya aku juga Tian sadar mengenai siapa diriku. "Terima kasih sudah mampir.""Harusnya kami yang bilang terima kasih."Aku mengangguk pelan. Sesaat sebelum berbalik, tanpa sengaja pandanganku bertemu dengan Tian.Pria itu masih diam.Namun entah kenapa, sejak tadi aku merasa ia beberapa kali ingin mengatakan sesuatu lalu mengurungkannya."Aku duluan."Silvi tersenyum. "Iya."Aku segera meninggalkan meja mereka. Semakin jauh melangkah, semakin ringan napasku.Setidaknya percakapan tadi tidak seburuk yang kubayangkan."Eh."Baru beberapa langkah, seseorang langsung menarik lenganku pelan.Reina."Wawancara selesai?"Aku mendengus."Lebih mirip sidang skripsi."Reina terkekeh."M
Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Jarum jam seolah sengaja bergerak pelan hanya untuk menyiksaku.Pukul delapan lewat lima belas. Delapan lewat tiga puluh. Delapan lewat empat puluh lima.Dan setiap kali aku melirik ke arah meja dekat jendela, Silvi dan Tian masih ada di sana.Mereka makan. Sesekali berbicara. Sesekali Silvi tertawa.Dari kejauhan, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan mungkin memang begitu.Mereka berasal dari dunia yang sama. Lingkungan yang sama. Pergaulan yang sama.Sedangkan aku?Aku hanya seorang pelayan restoran yang kebetulan mengenal keduanya.Setidaknya itulah yang terus kuingatkan pada diriku sendiri."Bia."Aku tersentak. Reina tampak berdiri di sampingku sambil membawa nampan kosong."Kamu ngelamun.""Enggak.""Bohong."Aku langsung memutar mata.Kenapa semua orang hari ini suka sekali menuduhku berbohong?Pukul sembilan datang lebih cepat daripada yang kuharapkan. Atau mungkin karena sejak tadi aku terlalu sibuk me
Pintu lift menutup perlahan di belakang kami.Hening. Hanya ada aku dan Tian di dalam ruang sempit berlapis cermin itu.Biasanya aku akan merasa canggung. Atau kesal. Atau mulai berdebat dengannya soal hal-hal tidak penting.Tapi malam ini berbeda. Mungkin karena kami sama-sama lelah. Mungkin karen
Aku melihat dengan jelas wajah —ekspresi Tian yang jauh dari yang selama ini ku kenal. Dan jujur saja itu membuatku cemas.Biasanya dia tenang. Sulit ditebak. Selalu seperti dinding tinggi yang tak bisa kutembus. Tapi sekarang, ada sesuatu yang retak di sana.Bukan lemah. Bukan juga kacau. Lebih se
Jalanan malam bergerak mundur di balik kaca jendela taksi. Lampu-lampu kota memanjang seperti garis kabur. Orang-orang berlalu lalang di trotoar. Semua terlihat biasa.Hanya aku yang tidak.Aku menyandarkan kepala ke kursi. Menutup mata sebentar.Tubuhku lelah. Bukan hanya karena malam yang baru sa
Langkahnya tenang. Terukur. Tapi setiap langkah itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dadaku.Aku tidak mundur kali ini. Tidak juga bergerak. Aku hanya berdiri. Menunggu. Sampai akhirnya dia berhenti tepat di depanku. Dekat. Sangat dekat. Tapi berbeda dari sebelumnya. Tidak ada tarikan kasar. Tida






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.