Share

Bab 103

Penulis: Farid-ha
last update Tanggal publikasi: 2024-07-03 17:36:03
“Ibu yakin dia simpanan Pak Hamdan?” Amira masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bu Sukma. Jauh di lubuk hatinya ia mengingkari berita itu.

"Kenapa, kamu nggak percaya, ya, Mir?” Bu Sukma melemparkan pandangan ke arah Amira yang terlihat memasang wajah tak percaya.

Amira mengangguk. Bu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Nana
𝑲𝒂𝒍𝒐 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑳𝒊𝒍𝒊𝒌, 𝒂𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝒌𝒌 𝒏𝒚𝒂 𝑻𝒂𝒎𝒂...
goodnovel comment avatar
Nana
𝑮𝒂𝒅𝒊𝒔 𝒃𝒆𝒍𝒊𝒂 𝒚𝒈 𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒄𝒆𝒎²𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒎𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒚𝒂𝒌𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒊𝒌𝒏𝒚𝒂 𝑻𝒂𝒎𝒂. 𝒀𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒓𝒖𝒔𝒂𝒏 𝒅𝒈 𝒑𝒓𝒆𝒎𝒂𝒏 𝒂𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝑳𝒊𝒍𝒊𝒌 𝒚𝒂.
goodnovel comment avatar
Nina Susanti
uda 100% tp bnyk teka teki ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 173

    “Ini tempatnya, Mbak?” Tama menatap perempuan yang merupakan tetangga kontrakan Lilik tersebut dengan kening mengkerut. “Iya, ini, Mas. Beberapa hari yang lalu juga ada yang mencari Mbak Lilik. Perempuan. Bahkan dia menitipkan sesuatu untuk Zidane.” Tama terdiam, tapi otaknya berpikir menerka-nerk

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 172

    Amira terdiam, menunggu jawaban Tama. Sebenarnya dia sendiri ragu, tidak yakin dengan idenya ini. Tapi, Amira merasa perlu melakukan itu demi kebaikan Zidane. [Jangan memintaku yang tidak-tidak, Mir! Mustahil aku kembali dengan Lilik. Itu tidak mungkin terjadi.] Tama mengirimkan pesan balasan pada

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 171

    “Lilik?” Samar, Amira memanggil wanita yang sedang menuntun bocah cilik sambil menenteng tas yang terlihat berisi dagangan. “Pak tolong berhenti sebentar.” Amira meminta kepada sopir taksi. “Tapi argonya tetap jalan, ya, Mbak.” Sopir mengingatkan. “Nggak masalah, Pak. Nanti saya lebihkan untuk

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 170

    “Kapan acara lamarannya, De?” tanya Fikri di negeri seberang sana. Amira baru saja menceritakan niat baik Reza yang ingin melamarnya kepada Fikri. “Rencananya empat hari lagi, Bang. Abang sekarang sudah merestui ‘kan?” tanya Amira yang belum begitu yakin sepenuhnya terhadap restu Fikri. “Insya

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 169

    “Terima kasih banyak, ya, Mas. Maaf nggak bisa menyuruh mampir. Ini susah sangat malam.” Amira menghampiri pria yang berada di balik kemudi bulat setelah memarkirkan motornya di depan rumah. “Memang seharusnya aku tidak mampir, De. Kalau mampir nanti bahaya,” kelakar laki-laki di balik kemudi yang

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 168

    “Mau sampai kapan kamu diam di situ, Lilik? Mau sampai kapan kamu membiarkan Zidane mengacak-acak permainannya? Cepat bereskan rumah ini! Aku muak melihat kamu yang seperti ini terus! Sudah berapa kali aku bilang? Jangan biarkan anakmu mengacak-acak ruang tamu atau ruang tengah dengan permainannya i

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 114

    “Kamu sudah salat, Dev ?” tanya Amira setelah mereka bertemu di parkiran. “Belum, Mbak. Nanti kelamaan nunggu aku salat. Mending aku salat di Mushola cafe. Lagian waktunya masih lama ini, Mbak. Tenang, ini masih setengah lima. Masih banyak waktu lagi. Bukankah batas akhir salat ashar itu terbenamn

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 113

    Ketukan di pintu ruang kerjanya, membuat Amira yang sedang sibuk berkirim pesan dengan sepupunya itu menghentikan gerakan tangannya, mendongak, menatap Devi yang menyembulkan kepalanya di pintu ruangan Amira. “Nggak keluar, Mbak.” Gadis yang berkerudung voal itu menyapa Amira, menyembunyikan tan

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 96

    POV Tama “Kok sepi, Bu? Ke mana Lilik dan Zidane?” tanyaku begitu pulang dari tempat kerja. Aku menjatuhkan bobot tubuh di depan ibu. Ibu yang sedang ngaso di atas sofa terdiam sesaat. Entah apa yang beliau pikirkan? Tapi yang jelas raut wajahnya terlihat mendung, seolah setumpuk masalah sedang b

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 79

    POV 3 “Kok, tumben jam segini baru pulang, Mas? Lembur atau mampir ke mana-mana?” Baru masuk rumah, Tama sudah ditodong pertanyaan oleh Lilik. Tama terdiam. Enggan menjawab pertanyaan perempuan yang kini telah menjadi istrinya tersebut. Ia terus melangkahkan kaki menuju dapur, hendak mengambil air

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status