LOGINMenikah dengan laki-laki yang dicintai dari dulu, bukannya bahagia, tapi Reva harus menelan pil pahit, karena Angga masih mencintai kekasihnya. Padahal Reva dan Angga pernah menjalin hubungan saat masih SMP. Reva mengira Angga masih menyimpan cinta untuknya. Ternyata cinta Angga sudah berpindah ke lain hati. Zhalina, kekasih Angga, yang tak lain adalah kakak sepupunya. Entah mengapa Angga dan Zhalina sampai menjalin hubungan sejauh itu. Padahal mereka jelas tidak bisa menikah, apalagi mereka tak hanya saudara sepupu saja, melainkan mereka adalah saudara satu susuan. Apakah Angga terus melanjutkan hubungannya dengan Zhalina? Atau dia mempertahankan pernikahannya dengan Reva? Atau Reva yang malah pergi, karena Angga tak pernah memberikan kewajiban batinnya sebagai suami.
View MoreAcara akad nikah sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Mereka tinggal mempersiapkan acara untuk resepsi nanti malam di ballroom hotel berbintang. Reva dan Angga masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah di hias layaknya kamar pengantin. Angga duduk di tepi ranjang, sedangkan Reva duduk di kursi yang berada di depan meja riasnya.
Angga melepaskan jasnya dan membuang jasnya ke tempat tidur dengan sedikit kasar. Dia sesekali menatap tajam Reva yang sedang menatap dirinya juga dari depan meja Rias. "Kita sudah menikah, dan aku harap kamu jangan merasa senang. Aku menikahimu, bukan karena aku mencintai kamu. Cinta untukmu sudah hilang sejak lama dari hatiku," ucap Angga dengan ketus di hadapan Reva. "Maksud kamu?" tanya Reva. Dia tahu, kejadian ini pasti akan terjadi saat sudah menikah dengan Angga. "Ini yang kamu inginkan, bukan? Kamu kan, yang meminta perjodohan ini terjadi?" Angga semakin murka dengan Reva. "Kalau aku yang meminta, untuk apa aku menolak saat kamu bicara dengan papa, dan menyetujui perjodohan ini," ucap Reva. "Itu karena aku mencintai wanita dan tidak bisa aku nikahi. Jadi, aku tidak mau menyia-nyiakan perjodohan ini, toh kamu juga menginginkannya. Dan ingat, satu lagi. Mulai detik ini, kamu milikku, dan terserah aku mau berbuat apa dengan kamu. Tapi, aku tidak akan pernah menyentuhmu, Reva!" ucap Angga dengan nada sarkasnya. "Apa gunanya kita menikah? Dan, siapa wanita yang kamu maksud itu?" Reva berkata dengan suara serak karena menahan tangisannya. "Kamu tidak perlu tahu, siapa wanita itu. Kalaupun tahu, aku juga tidak akan menceraikanmu, enak saja, kita belum mulai drama kita, aku harus menceraikanmu? Tidak! Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu," ucap Angga dengan tegas dan kasar. "Maksud kamu yang dulu?" tanya Reva. "Pikir saja sendiri! Selamat menikmati hidup baru denganku, dan ingat, setelah resepsi nanti malam. Kita langsung menempati rumah baru kita," ucap Angga. Reva hanya terdiam dan terpaku. Dia menjatuhkan tubuhnya di lantai, dia menangis di depan Angga yang sedang mengganti bajunya. Hari ini harusnya menjadi hari bahagia untuk Reva, tapi hari ini adalah hari di mana Reva akan menjalani hidupnya bersama suami yang mencintai wanita lain, bukan dirinya. "Apa salahku di masa lalu? Hingga Angga membenciku seperti ini. Dia terang-terangan bilang tidak mencintaiku, dan terpaksa menikahiku, karena dia tidak bisa menikahi wanita pilihannya. Siapa wanita itu, Ya Allah. Tunjukkanlah pada diriku, dan apa penyebab Angga begitu membenciku?" Reva terisak di lantai dengan hati bertanya-tanya. "Ini tidak lucu Reva. Kamu harus kuat. Ingat, ini adalah hari bahagiamu, jangan biarkan orang di luar sana tahu tentang rasa ini. Tahu soal rumah tanggamu. Biar Tuhan yang menentukan jalan ke depannya. Sabar, Reva. Percayalah, hati Angga akan terbuka untukmu." Reva berkata dalam hati dam memberi semangat pada dirinya sendiri. "Jangan tampakkan wajah sendumu ini, kalau semua tamu tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan pernikahan kita!" Angga berjongkok di hadapan Reva dengan menatapnya tajam dan berkata dengan nada marah. Reva dengan segera bangun dari lantai. Dia berusaha kuat dan tegar untuk menjalani hari-hari selanjutnya. Reva masuk ke kamar mandi, dengan membawa baju ganti, dia menghapus make-up di wajahnya, lalu mengganti bajunya. Reva memoles wajahnya dengan make-up tipis. Sebisa mungkin Reva menutup kesedihan di wajah cantiknya itu. Reva sedikit menebalkan eyeliner nya, agar matanya tidak terlihat sembab. Angga sudah memakai kemeja yang senada dengan gaun yang membalut tubuh Reva. Reva tidak berani menatap Angga. Dia bercermin lagi di meja riasnya. "Sudah jangan kelamaan, kita keluar!" tukas Angga. "Iya." Ucap Reva singkat . Reva keluar dari kamarnya bersama Angga. Angga menggandeng mesra Reva keluar dari kamarnya, layaknya pengantin yang berbahagia. "Aku akan ikuti permainan kamu, Angga. Asal kamu tidak main tangan denganku. Cukup kamu menyiksa batinku saja, asalkan tidak menyiksa ragaku ini. Karena masih banyak mimpi yang harus aku raih, bukan hanya mimpi untuk mendapat cintamu saja," gumam Reva.Sudah lima hari setelah kejadian memalukan Angga dan Zhalina, kini Reva masih setia menemani Mamanya menunggui Papanya yang tak kunjung membuka matanya. Bahkan keadaannya semakin memburuk. Angga juga selalu menemani Reva, tidak peduli Reva selalu mengusirnya, dia selalu setia berada di samping Reva selama lima hari. “Mama, makan, ya? Mama dari kemarin belum makan,” bujuk Angga. “Mama tidak lapar Angga,” jawab Diana. “Kasihan Papa, kalau Mama seperti ini,” imbuh Angga. Diana tidak mengindahkan kata-kata menantunya itu. Dia terus menangis melihat suaminya yang sedang terbaring lemah. Memang saat itu Diana hanya bersama Angga saja, karena Reva sedang pulang ke rumah untuk ganti baju dan membawakan baju ganti untuk Mamanya. “Kamu tahu, Nak? Mama dulu sama sekali tidak mencintai Papanya Reva. Bukan hanya Mama saja, Papa Reva juga tidak mencintai Mama. Kami hidup satu atap, tapi t
Reva dan Angga sedang membicarakan masalahnya di dalam kamar. Angga membujuk Reva yang meminta cerai dari Angga , agar dia menghentikan niatnya untuk bercerai. Entah kenapa Angga tidak mau melepaskan Reva. Angga merasa nyaman saat berada di samping Reva. Seperti tidak ada beban dalam hidupnya saat dia sedang bertukar pikir dengan Reva."Please, jangan seperti ini. Maafkan aku, aku janji akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan melupakan Zhalina. Re, kita bicara lagi baik-baik. Aku tidak mau cerai, Re." Angga memohon dan berlutut pada Reva."Maaf Angga , aku sudah lelah dengan semua ini. Tolong jangan membuat aku bertambah mencintaimu, jangan buat aku nyaman dekat denganmu, jangan buat aku jatuh cinta berkali-kali lagi padamu. Hentikan ini, percuma aku bertahan tapi kamu tidak cinta kepadaku, Angga ," ucap Reva dengan terisak."Re, aku akan belajar mencintaimu lagi. Aku akan lupakan semua kejadian dulu saat kamu bersama Yoga," ucap Angga .
Angga masih berhadapan dengan Bayu dan lainnya. Bayu berkali-kali membujuk Reva untuk bilang dengan orang tuanya tapi dia bersikukuh tidak mau bilang pada orang tuanya."Reva tidak akan bicara tentang masalah ini pada keluarga Reva, Ayah. Tolong hargai keputusan Reva ini," ucap Reva."Ceraikan Angga , Reva," titah Bayu."Ini pernikahan Reva dan Angga . Kami akan menyelesaikannya sendiri, Ayah. Sekarang Pakde Bima dan lainnya cari di mana Zhalina. Jangan sampai Zhalina benar-benar tidak kembali ke rumah. Pakde boleh memberi pelajaran pada Zhalina, tapi tidak seperti ini caranya," ucap Reva."Biarkan, Pakde juga akan menghapus nama dia dari daftar keluarga bila perlu," ucap Bima dengan geram."Jangan memojokkan Zhalina dan Angga saja, Mas Bima. Kita sebagai orang tua juga harus introspeksi diri," ujar Lusi."Selesaikan masalah kita di rumah, Angga . Ayo pulang, kamu laki-laki, berhak memutuskan, dan aku akan terima ap
"Tunggu! Jika Zhalina pergi, aku juga pergi!" tegas Angga dengan bangun dari duduknya."Seenaknya saja kamu pergi, hah! Selesaikan dulu urusanmu dengan Reva! Duduk!" Bayu dengan murka berbicara seperti itu.Angga tidak bisa berkutik dengan Bayu. Dia akhirnya duduk kembali. Zhalina masih berhenti karena tadi Angga menghentikan langkahnya. Bima menatap tajam Zhalina. Bima benar-benar murka pada putri kesayangannya itu."Tunggu aku menyeret kamu pergi dari sini, hah!" Murka Bima pada Zhalina, yang kala itu sedang mendengar Angga berbicara.Dengan langkah gontai Zhalina keluar dari apartemen. Hanya pakaian yang ada di badannya saja yang ia bawa. Dia tak tahu akan pergi ke mana. “Aku sudah kotor. Aku sudah tidak utuh lagi. Maafkan aku Tuhan. Maafkan Zhalina, Ma. Zhalina harus pergi, Zhalina akan turuti permintaan Papa. Dan, janji Zhalina gak akan balik lagi, karena itu papa yang minta. Maafkan kakak, Ver, Zev. Kakak pergi.” Ucap
Semua barang-barang dari rumah Reva sudah tertata rapi di kamarnya. Seusai makan siang tadi, orang suruhan Reva sudah datang membawakan barang-barang yang ada di rumahnya. Reva langsung menata barang-barangnya di kamar. Dia tidak peduli dengan Angga yang entah ke mana perginya setelah makan siang.
Angga menjatuhkan sendok dan garpunya dengan kasar di atas piring dan langsung ke kamarnya mengecek ponselnya. Benar yang dikatakan Reva, kalau Zhalina tadi meneleponnya. Tapi, Zhalina tidak membahas siapa yang mengangkat teleponnya, hanya mengirim pesan mengucapkan terima kasih karena Angga sudah
Reva masih mematung di ruang makan. Dia duduk dan meletakan tangannya di atas meja makan dengan menggenggam gelasnya. Pagi ini masih terlihat petang, seusai menunaikan kewajibannya yaitu Sholat subuh, Reva memilih tidak tidur lagi. Dia ke dapur mengambil air putih dan duduk di kursi yang berada di
Permainan mereka terhenti seketika saat suara Reva begitu mengagetkan mereka.“Reva!” ucap mereka. Zhalina membenarkan kancing bajunya yang sudah terbuka karena ulah Angga.“Iya, aku di sini, dan aku melihat apa yang kalian lakukan juga mendengar apa yang kalian bicarakan,” ucap Reva dengan tega






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.