Se connecterKanaya diliputi perasaan bersalah tatkala tak mampu membiayai pengobatan ibunya. Biaya yang begitu besar dan donor yang langka, membuat kesempatannya untuk menyelamatkan ibunya kian menipis. Sampai akhirnya, sebuah penawaran sebagai ibu pengganti dari keluarga yang menginginkan anak pun datang kepadanya. Dengan hadiah yang begitu besar, Kanaya dapat menyelamatkan ibunya dengan mengambil tawaran itu. Namun, keputusannya itu justru membuatnya terjebak dalam pusaran cinta tersembunyi dengan Bastian, pria yang menyewa rahimnya, dan anak yang Kanaya kandung. Dan, pada titik tertentu, Kanaya mengambil keputusan yang mengubah hidupnya sepenuhnya. Dapatkah mereka berdua bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih atau memang cinta tak harus memiliki?
Voir plus"Dyre menang? Kau bercanda, kan?"
Suara itu menggema di bawah langit malam Kota Lunar yang dihiasi ribuan bintang seolah ikut mengawasi drama yang tak terduga. Cahaya lentera spiritual yang tergantung di sekitar lapangan bela diri keluarga Endevour bergoyang lembut tertiup angin dingin, menciptakan bayangan meliuk di permukaan tanah seperti roh yang gelisah.
Zyran Endevour, seorang pemuda jenius keturunan pemimpin keluarga sebelumnya—Leiv Endevour. Berdiri mematung di tengah arena. Matanya yang biasanya tenang seperti danau dalam kini membara, menyimpan badai yang tak terlihat oleh siapa pun.
Joy Endevour, sang Tetua Agung, melangkah maju di atas podium. Wajahnya tersenyum, tetapi tatapannya menusuk seperti belati yang berlapis es. "Aku ulangi, elixir pembangkit jatuh ke tangan Dyre."
Tawa dan sorak-sorai yang sebelumnya memenuhi udara mendadak tercekik oleh sunyi. Seakan langit malam pun menahan napas.
"Tidak, ini pasti kesalahan," bisik seorang pemuda dari barisan penonton. Suaranya lebih kepada doa daripada protes.
“Dyre?!” timpal seorang pemuda sambil meletus tawa sinis. “Apa keterampilan anak tetua itu lebih hebat dari latihan tiga tahun Zyran? Mustahil!”
Zyran memandang Joy dengan pandangan penuh luka dan kemarahan yang tertahan. Suaranya akhirnya pecah, dalam dan tajam, seperti baja yang ditarik dari sarungnya. "Menurut peraturan, aku menang. Kenapa kau menyingkirkanku, Tetua Joy?"
Elixir pembangkit, sebuah ramuan yang diminati oleh banyak pemuda. Sebuah elixir yang mampu membangkitkan kekuatan sejati para pemuda bela diri.
“Benar, Penatua Agung, sesuai aturan, pertandingan—”
“Apa kalian tuli, hah?!” potong Joy, geliat tawa pahit menyelinap di kerongkongannya. “Kupilih Dyre, putraku, karena Zyran, sampah!”
Joy menatapnya sejenak. Sorot matanya berubah, bukan lagi seperti tetua yang bijak, tapi seperti sosok lain yang penuh manipulasi dan kebencian tersembunyi. "Karena kau bukan siapa-siapa."
"Karena sejak awal, kau hanya pion yang tak tahu tempat!" timpalnya dengan dingin.
Beberapa tetua lain bergeming, tetapi tak ada satu pun yang membantah. Diam mereka adalah persetujuan yang menyakitkan.
Zyran mengatupkan rahangnya. Tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena pengkhianatan. Tiga tahun! Selama tiga tahun pengorbanan dan darah yang dia curahkan, kini diinjak tanpa ampun.
Pertarungan tahunan antar pemuda keluarga Endevour, Zyran mendapati peringkat pertama. Setelah mengalahkan Dyre dalam pertarungan, dia berhak mendapatkan elixir pembangkit tersebut. Namun, takdir berkata lain, seorang pemuda jenius kini dianggap sampah?
"Jadi, ini semua sudah diatur?"
Tiba-tiba, langkah berat menggema dari arah podium. Dyre muncul, mengenakan jubah hitam dengan sulaman lambang keluarga Endevour di dadanya. Senyum sinis mengukir wajahnya. "Sebenarnya …. menyedihkan melihatmu begitu berharap, Zyran. Tapi kau harus tahu, elixir ini bukan untuk orang sepertimu, yang garis keturunannya tidak murni, yang kekuatannya tidak stabil."
Zyran menatap Dyre, lalu Joy. “Kalian takut?”
“Takut pada apa yang bisa kulakukan jika aku mendapatkan kekuatan itu?”
Joy melangkah turun dari podium, mendekati Zyran. Angin berputar liar di sekeliling mereka. Langit di atas perlahan tertutup awan gelap. "Kau mengira kami akan membiarkan seekor naga tidur, bangkit dan menggigit tuannya?" bisik Joy, nadanya setajam pisau di tenggorokan.
Zyran menunduk, membiarkan kata-kata itu menampar jiwanya. Tapi saat dia mengangkat wajahnya lagi, sesuatu dalam dirinya telah berubah.
Mata Zyran bersinar. Sekilas, cahaya merah darah melintas, lalu hilang. "Kalau begitu," katanya pelan. “Aku akan mencabut hak itu dengan tanganku sendiri."
Suara ledakan terdengar di kejauhan, mengguncang tanah. Angin berubah jadi badai. Cahaya elixir yang dikantongi Dyre mendadak berkedip tak stabil.
Joy melangkah mundur, samar terlihat waspada. “Kau tidak akan berani—”
Zyran mengangkat tangannya. Tanah di bawahnya retak dengan suara gemeretak. Aura energi murni membumbung, menembus langit. Para tetua tersentak. Beberapa pemuda menjerit tertahan.
"Lihat baik-baik, Joy .... Dyre .... kalian semua …."
"Aku mungkin tidak dipilih, tapi aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Dengan paksa!"
"Hahaha …. Zyran, dia berkata bahwa kamu sampah dan kamu memang sampah! Bahkan, jika elixir pembangkit ini diberikan kepadamu, itu tidak akan bisa membangkitkan kekuatan spiritual garis keturunanmu!" teriak Joy dengan lantang.
"Hah?" Zyran menggelengkan kepalanya dan mencibir, hatinya merasa jijik, bahkan banyak orang yang diam-diam tidak mau menerimanya.
Tanpa menunggu lama, dia menurunkan tudung jubahnya, menyalurkan hela nafasnya menjadi mantra, matanya menatap Dyre dengan dingin. “Datanglah, Dyre,” desah Zyran rendah. “Buktikan bahwa Elixir ini pantas di tanganmu.”
Mendengar tantangan itu, Dyre melangkah maju membawa pedang pusaka keluarga di tangan kanannya yang memantulkan cahaya lentera seperti ular perak menari.
Klang~
Dalam sekejap, kedua pemuda itu sudah saling berhadapan. Tiupan angin malam membawa gema denting pedang yang ditarik dari sarung. Kilatan cahaya membelah kegelapan ketika Zyran memutar pergelangan, memanggil kekuatannya, semburan semburat ungu kehijauan mengelilingi telapak tangannya.
BANG!
Dyre menyerang lebih dulu, pedangnya mencipta sabetan putih memanjang tanpa cela. Zyran menangkis, suara benturan logam membahana seperti petir memecah malam. Lumpur dan dedaunan kering beterbangan, menciptakan tabir kabut di antara mereka. Dia merunduk, menghindar dengan gesit, lalu balas dengan serangan. Gelombang energi gelap menembus tanah, merobek lantai batu hingga retak panjang, menghambat kaki Dyre.
Kerumunan terperangah.
Bayangan naga yang terukir di tiang seakan hidup, ikut menari dalam pusaran angin. Tegangan mencapai puncak ketika Dyre melompat tinggi, menghujamkan pedang peraknya lurus ke dada Zyran, tapi Zyran menyibak udara, memutar tubuhnya, selip di bawah sabetan maut itu.
Dia membalas dengan pukulan jurus pamungkasnya. “Rasakan ini!” Tubuhnya diselimuti aura membunuh, dan pukulan itu menghantam pelindung Dyre yang mengirimnya terpelanting beberapa meter ke belakang.
Sorak kagum dan kekagetan pecah bersamaan. Di bawah sinar lentera berpendar, wajah Zyran memancarkan ketegasan dan kemurkaan terhenti, ragu memudar digantikan kebulatan tekad.
Dyre tergeletak, nafas tersengal, namun matanya tetap menyala dingin.
“Freya,” ucap Bastian dengan senyum di wajahnya. “Freya Jacinta Dwipangga.” Miranda dan Ayunda saling bertukar pandang sebelum tersenyum dan mengangguk. “Freya. Nama yang Indah,” gumam keduanya menyetujui. Hari itu semua yang ada di Alpine Nest menyambut baik kehadiran bayi mungil bernama Freya Jacinta Dwipangga. Begitu pula Kenzo yang begitu senang ketika diperbolehkan melihat langsung adiknya itu. Mulai hari itu, ia telah menjadi seorang kakak. Apalagi, adiknya itu hadir sebagai hadiah ulang tahun terindah baginya. Keluarga besar Dwipangga hari itu sangat berbahagia. Bukan hanya karena ulang tahun pertama Kenzo, namun juga hadirnya Freya dalam keluarga mereka. Berita kelahiran Freya langsung tersebar ke seantero Emerald City, meskipun sosok bayi tersebut masih dirahasiakan dan belum di perlihatkan kepada publik. Publik ikut merasa senang dan tidak sabar untuk segera melihat sosok putri keluarga Dwipangga yang diberitakan memiliki paras yang rupawan. Berita persalinan K
“Ama… Ama.. atit?” tanya Kenzo pada Haidar, kakeknya. Tampak ia mengkhawatirkan mamanya.Apalagi ia melihat Papanya begitu panik saat membawa mamanya pergi masuk ke dalam ruangan dengan kolam besar yang ada di dekat mereka. Haidar tersenyum dan menggeleng. Ia berusaha untuk tidak tampak gelisah atau khawatir. “Mama tidak sakit, tapi saat ini sedang melahirkan adiknya Kenzo,” terangnya pada cucu kesayangannya itu.“Kenzo di sini dulu ya sama Kakek. Nanti kalau adik sudah keluar dari perut mama, Kenzo bisa ketemu sama adik.” Haidar pun duduk dan memangku Kenzo di sofa.Kanaya sudah pernah menceritakan pada Kenzo mengenai adik bayi yang ada di dalam perutnya, sehingga Kenzo tidak terlalu bingung atau panik saat mengetahui Kanaya akan melahirkan. “Sini, Kenzo boboan di sini.” Haidar menepuk ruang kosong diantara dirinya dan Azhar, agar cucunya itu bisa beristirahat dan tidur. Ia tahu Kenzo tidak akan mau pergi tidur ke kamarnya mengetahui mamanya tengah melahirkan adiknya.Akan tetapi
Ardyan dan Aliya telah menikah sejak 6 bulan yang lalu, dan sekarang kandungan Aliya telah menginjak 3 bulan.Mereka berdua memang tidak menunda kehamilan dan berharap segera diberikan keturunan. Selain itu, Ardyan juga sudah berusia lebih dari 30 tahun, sehingga dia tidak ingin lagi menunda.Dan meskipun kehamilan Aliya masih muda dan belum terlihat benar, namun jika diperhatikan dengan seksama, akan terlihat benjolan kecil di perutnya.Saat ini, Aliya masih bekerja di LiveTV, namun ia tidak lagi bekerja di lapangan untuk mencari berita setelah mengetahui kehamilannya. Ia memilih bertugas di dalam studio untuk sementara waktu. Sedangkan Ardyan, dia masih menjalani hari-harinya sebagai the best neurosurgeon di Emerald City, sekaligus Direktur Emerald Restorative Centre, Rumah Sakit terbesar dan tercanggih di Emerald City.“Bagaimana kehamilanmu kali ini? Ah, Kenzo pasti senang sekali akan segera memiliki seorang adik!” Aliya memegang perut besar Kanaya dan mengelusnya.“Untuk yang
Acara ulang tahun berlangsung dengan sangat meriah. Anak-anak panti yang diundang untuk datang tampak sangat senang. Berbagai macam permainan, hiburan bahkan hadiah-hadiah yang dibagikan membuat mereka tertawa sepanjang acara.Tamu undangan lainnya, keluarga, dan kerabat yang membawa anak-anak mereka juga menikmati acara itu. Mereka membawa berbagai macam hadiah, dari mainan anak-anak yang sangat populer dan diminati, hingga hadiah yang bernilai fantastis.Berbagai macam hidangan disajikan. Dari mulai hidangan berbentuk lucu bertemakan kerajaan untuk anak-anak hingga hidangan estetik dan lezat dari chef terkemuka yang menggunakan bahan-bahan berkualitas premium.Dan Kenzo, bocah berulang tahun yang memiliki paras rupawan perpaduan antara Kanaya dan Bastian, menjadi pusat perhatian di acara itu. Tidak hanya parasnya, tingkah polah anak berusia 1 tahun itu selain menggemaskan juga telah membuat decak kagum tamu undangan. Di usia yang masih sangat kecil, Kenzo telah menunjukkan sikap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus