LOGINLima tahun membersamai Arka Satriya Giawan, bukanlan perjalanan yang mudah untuk Kalla Serena Darmawan. Dia harus mengorbankan banyak hal. Terlahir sebagai putri pejabat teras, dia memiliki separuh dunia di dalam genggamannya. Namun, semua berubah saat tak sengaja bertemu dengan Arka. Pemuda desa putra petani miskin dari Tasikmalaya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata itu mampu membuat gadis manja Darmawan jatuh cinta. Melakukan segala cara untuk bisa menikah dengan Arka, Kalla harus menukar istana mewahnya di Menteng dengan sebuah kontrakan sederhana di pinggiran Jakarta. Berjuang bersama hingga akhirnya pria yang dicinta menjadi pria hebat setara dengan papinya. Hidup Kalla begitu sempurna, diratukan Arka. Namun, suatu hari dia mendapati kenyataan yang menyakitkan di depan pintu ruangan suaminya. Kebahagiaan itu hancur dalam sekejap mata.
View More“Tumben?”
Wanita cantik tampak merapikan gaun sutera yang dikenakannya seraya menenteng tas kain berisi kotak bekal di depan pintu ruang pimpinan. Pandangannya tak lepas dari meja jati di sisi kiri yang kosong tak bertuan. Markas besar sekretaris direktur itu terlihat rapi. “Biasanya Erika sudah menyambutku dengan segala cerita tentang Mas Arka. Ke mana dia?” Sosok feminin bernama panjang Kalla Serena Darmawan itu mengernyit lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada rasa hampa kala keadaan tak seperti biasa. Sejak menikah dan mengabdikan hidup sebagai seorang istri, dia jadi minim interaksi. Salah satu teman yang menjadi tempat diskusi tentang sang suami adalah Erika Dewi. “Apa dia sakit?” Erika bukanlah orang lain. Teman SMA seorang Arkana Satriya Giawan itu belum ada setahun masuk ke perusahaan dan menempati posisi sekretaris pimpinan. Berbekal hubungan dekat yang sudah seperti kerabat membuat wanita lajang tersebut bisa melenggang tanpa hambatan ke perusahaan real estat dan developer cukup ternama di ibu kota itu. “Sudahlah. Sebaiknya aku masuk ke dalam. Beri kejutan untuk Mas Arka.” Bibir Kalla melengkung manis. Diempasnya segala tanya yang tak menemukan jawaban. Tatapan terkunci pada tas bekal dengan aroma semerbak menyeruak. Ayam kecap andalan tersimpan rapi di dalamnya. “Mudah-mudahan Mas Arka suka masakanku kali ini.” Penuh perjuangan untuk Kalla yang seorang putri manja anak pejabat pada eranya itu menjelma jadi ibu rumah tangga. Mengubah kelakuan dan kebiasaan 180 derajat demi seorang pria yang menjadi pahlawan di dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Arka adalah salah satu alasannya berbenah diri dan menyelesaikan kuliah yang terancam putus di tengah jalan. “Ah, sebaiknya aku langsung masuk saja.” Punggung tangan yang siap mengetuk tampak menggantung sebelum menyentuh pintu. Perlahan turun lalu berlabuh pada knop stainles. Dibukanya tanpa menimbulkan suara, Kalla menahan napas. Senyum wanita dengan tinggi 160 senti itu kian lebar. Tak terlihat rupa Arka, tetapi suara bariton terdengar dari balik kursi pimpinan yang membelakangi pintu. Suaminya yang tampan sepertinya sedang menghubungi seseorang. “Ya, aku usahakan pulang kerja mampir ke tempatmu. Sudah minum obat?” Pertanyaan penuh perhatian itu tertangkap oleh Kalla. Entah kenapa, perasaannya mendadak tak enak. Melangkah masuk tanpa suara, dia menutup pintu dengan pelan. Jarak terpangkas, dia sudah berdiri di balik punggung sang suami yang belum menyadari keberadaannya. Berharap bisa menguping sedikit obrolan laki-laki tampan tersebut. “Ya, aku pasti ke sana. Kamu ke dokter sekarang. Jangan menungguku datang. Aku masih ada rapat habis makan siang.” Kalla tegang. Perasaannya bergelombang. Ada ombak pasang yang sedang menghantam karang di dalam hatinya. Mas Arka sedang bicara dengan siapa? Kenapa terdengar penuh perhatian? Tidak mungkin Mama, ‘kan? “Jangan begini. Aku benar-benar tidak bisa membatalkan rapat. Aku kirim sopir, jangan pergi dengan taksi.” Di titik ini, pikiran positif Kalla terkikis habis. Dia tak mampu berbaik sangka. Nada bicara suaminya berbeda dari biasa. Ada perhatian dan kekhawatiran tersirat dalam tiap kata. “Aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa, Sayang.” Sepasang mata Kalla mencelang. Kata-kata terakhir Arka membuat jantungnya tertumbuk kencang. “Begini saja, setelah rapat aku akan menemuimu, oke?” Suara Arka terdengar membujuk. “Sudah dulu. Aku harus kerja. Istirahat sekarang.” Kalla tegang. Ya Tuhan, ini mimpi, ‘kan? Tubuh Kalla gemetar. Kotak bekal di dalam genggaman ikut bergetar. Telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat, dada pun berdebar tak karuan. Pandangan mulai berkunang, sakit kepala datang. Di tengah penglihatan yang membayang, dia melihat Arka menyimpan ponsel ke dalam laci di belakang meja kerja. Ya, aku yakin ini mimpi. Mas Arka tidak mungkin selingkuh, ‘kan? Namun, keyakinan Kalla hanya sebatas bibir. Dia menyadari sesuatu. Ponsel putih yang baru disembunyikan Arka ke dalam laci bukanlah benda familier di dalam hidupnya. Ya Tuhan, sejak kapan Mas Arka punya ponsel lain? Kenapa aku sampai tidak tahu? Kalla menelan ludah. "Ada begitu banyak rahasia di dalam hidup suamiku. Tapi, Tuhan baru membukanya sekarang."“Pak, urus saja mobilnya. Mengenai biaya, nanti aku yang akan menanggungnya.” Kalla bersuara setelah sedan yang ditumpangi berhenti di halaman rumah. Menunduk, dia menatap kartu nama di tangannya. Pria asing pemilik mobil yang cedera karena kelalaian Pak Hadi itu menitipkan untuknya.“Julian William Chandra.”Bibir tipis Kalla yang tak lagi terlihat rona gincu itu mengeja nama di kartu nama. Tak lama, dilemparnya ke kursi penumpang depan, di sebelah Pak Hadi tanpa berpikiran apa-apa. Tidak penting untuknya. Bahkan, dia hampir lupa rupa pria yang terus meliriknya selama pembicaraan menuju kesepakatan di tepi jalan beberapa saat lalu.“Ini untuk Pak Hadi saja. Aku tidak butuh.”Kalla sudah membuka pintu mobil sambil menentang tas tangannya. Belum juga melangkah menuju ke teras rumah, sebuah Pajero hitam menyusul masuk dan berhenti di sebelahnya.“Mas Arka ....” Setengah berlari, Kalla menghindari pria berusia kepala tiga yang bergegas menyusul langkahnya. Dia sedang tak mau berdiskusi
“Jadi ... selama ini Mas Arka dan Mama ....” Tubuh Kalla bergetar. Kata-kata sang mertua sangat menyakitkan. Dia harus berpegangan pada pintu agar tak melorot ke lantai. Definisi sudah jatuh tertimpa tangga sangat tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang. Di saat mengetahui perselingkuhan sang suami, dia ditunjukkan kenyataan lainnya. Wanita tua yang sudah dianggap mama kandung sendiri ternyata menyimpan kebencian begitu besar padanya.“Jadi ... selama ini Mama hanya berpura-pura baik padaku. Belum lama dia memintaku bersabar menghadapi Mas Arka. Tapi, di belakang dia meminta suamiku menceraikanku. Ya Tuhan, aku terperangkap di tengah keluarga yang penuh dusta.”Kalla menggeleng. “Lima tahun aku hidup di tengah orang-orang yang ... penuh drama. Bukan hanya Mas Arka, tapi Mama. Cukup! Aku tidak ingin mendengar penghinaan Mama lebih banyak lagi. Sudah cukup!” Kalla berbalik badan. Diusapnya mata yang basah Menangkup wajah yang lembab, dia menarik napas dalam-dalam. Kecewa yang d
“Sudah, jangan bahas perpisahan.” Mama Hesti menangkup wajah sedih menantunya. Perlakuannya pada Kalla tak perlu diragukan. Dia selalu bersikap manis seperti bukan bersama menantu, tetapi putri sendiri.“Rumah tangga itu selalu akan bertemu cobaan. Apalagi ini sudah masuk tahun ke lima, ‘kan? Mulai ada guncangan-guncangan kecil. Wajar saja. Namanya dua kepala disatukan, pasti berbenturan tiap hari.Kalla diam.“Sudah, jangan bahas perceraian. Tidak baik.” Mama Hesti merapikan helaian rambut yang jatuh dan menutupi wajah sang menantu. Diselipkan di balik daun telinga Kalla. “Mau menginap di sini atau ....”“Aku mau pulang, Ma.”Mama Hesti tersenyum.“Masalah memang bagusnya jangan dihindari. Selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, jangan terlalu berlebihan. Arka laki-laki, dia punya harga diri. Kalau terlalu diinjak, pastinya berontak.”Kalla tertegun. Kalimat mertuanya sedikit aneh.“Mama tahu kalau kamu lahir dari keluarga berada. Tapi, sejak menikah ... kamu juga seorang istri. Apa
“Ibu di makam papinya, Pak.” Arka menghela napas lega. Kalla pergi setelah mengucapkan kata berpisah. Tanpa menerima sepatah pun penjelasan yang disampaikannya. Semua pembelaan diri tak lagi berguna. Di mata istrinya, dia tetap bersalah dan harus dihukum sekejam-kejamnya.“Syukurlah. Kalau terjadi sesuatu, tolong kabari aku, Pak.” Perintah yang meluncur dari bibir pimpinan PT Kalser Darma One itu terdengar pelan. Sejak pertengkaran dan berujung kata perpisahan, Kalla tak bisa diajak berdamai. Terus menuduhnya berselingkuh dan kini ponsel putih pun berada dalam status penyitaan sang istri.“Baik, Pak. Sepertinya sebentar lagi mau jalan. Tadi, Ibu pesan ... kalau habis dari makam mau ke tempat mamanya Bapak.”Arka tak terkejut. Selain Erika, sang mama adalah tempat istrinya mengadu. Wanita yang dinikahi lima tahun lalu itu adalah seorang yatim piatu. Walau masih memiliki ibu tiri—istri muda mendiang papinya, hubungan keduanya tak pernah akur sejak dulu. Bahkan, alasan Kalla minta din






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.