Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 76 - Janji yang Terikat Darah dan Tanah

Share

Bab 76 - Janji yang Terikat Darah dan Tanah

Penulis: Vika moon
last update Tanggal publikasi: 2026-01-31 11:41:51

Pagi datang dengan langit kelabu, seolah matahari pun ragu untuk benar-benar menampakkan diri di atas Desa Wringin Sari. Kabut tipis masih menggantung rendah, menyelimuti pepohonan dan rumah-rumah warga seperti selimut basah yang dingin. Suasana desa terasa lebih sunyi dari biasanya, bukan sunyi yang damai, melainkan sunyi yang menyimpan napas panjang seperti ada sesuatu yang menunggu untuk kembali dibangunkan.

Aruna sudah terjaga sejak subuh. Ia duduk bersila di atas kasur tipis, menatap tas k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 260 - SAAT JAWABAN TIDAK LAGI DICARI

    Langkah mereka tidak lagi terasa seperti mencari sesuatu yang hilang. Tidak ada lagi dorongan kuat untuk menemukan jawaban dengan cepat, tidak juga kegelisahan seperti di awal perjalanan. Yang ada justru perasaan yang lebih tenang, seperti menerima bahwa tidak semua hal harus dipahami sekaligus.Pelangi berjalan perlahan, meskipun sebenarnya tidak ada lantai yang benar benar ia pijak. Namun sensasi bergerak itu tetap terasa nyata.“Aku ngerasa… kita sekarang beda…” katanya pelan.Aruna menoleh sedikit.“Berbeda bagaimana?”Pelangi tersenyum kecil.“Dulu kita kayak kejar sesuatu terus… sekarang kayak… ya udah… jalan aja…”Sosok besar langsung merespon.“Perubahan pola perilaku.”Pelangi tertawa kecil.“Iya… itu…”Asa bergerak di sampingnya. Tidak lagi hanya mengikuti, tapi juga seperti memilih jalannya sendiri. Kadang mendekat, kadang sedikit menjauh, namun tidak pernah benar benar terpisah.Pelangi memperhatikannya.“Kamu juga berubah ya…”Asa bergetar lembut.Seperti merespon dengan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 259 - PERTANYAAN YANG MULAI TUMBUH

    Ruang itu kini terasa berbeda dengan cara yang sulit dijelaskan. Tidak ada lagi tekanan seperti sebelumnya, tidak juga kekosongan yang membingungkan. Yang ada justru sesuatu yang lebih halus, seperti ruang yang memberi tempat untuk sesuatu tumbuh perlahan. Pelangi berdiri sambil memperhatikan Asa yang bergerak pelan di sekitarnya. Gerakan itu tidak lagi ragu. Masih sederhana, namun sudah memiliki arah. “Aku ngerasa dia makin sadar…” katanya pelan. Aruna mengangguk. “Iya. Kesadarannya mulai terbentuk dengan stabil.” Sosok besar menambahkan. “Indikator perkembangan meningkat konsisten.” Pelangi tersenyum kecil. “Iya… sekarang aku ngerti maksud kamu.” Asa mendekat lagi, berhenti tepat di depan Pelangi. Getarannya tidak lagi acak. Ada pola yang terasa seperti mencoba menyampaikan sesuatu. Pelangi mengerutkan kening. “Tunggu… ini beda…” katanya. Aruna langsung fokus. “Apa yang kamu rasakan?” Pelangi menutup matanya sebentar. Ia mencoba membaca getaran itu. Da

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 258 - KETIKA ASA BELAJAR MERASAKAN

    Ruang itu tidak lagi terasa seperti sebelumnya. Jika dulu dipenuhi oleh gema masa lalu dan jejak yang belum selesai, kini ia mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup. Bukan karena banyaknya hal yang terjadi, tetapi karena ada sesuatu yang baru yang mulai tumbuh di dalamnya.Asa bergerak pelan di sekitar Pelangi. Tidak lagi seperti kabut tanpa arah, melainkan seperti sesuatu yang mulai mengenali ruang tempat ia berada. Gerakannya masih sederhana, belum sepenuhnya stabil, namun sudah jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Pelangi memperhatikannya dengan mata berbinar.“Aku ngerasa dia makin ngerti…” katanya pelan.Aruna berdiri di sampingnya, tetap tenang namun tidak melepaskan perhatian.“Perkembangan itu alami,” jawabnya.Sosok besar menambahkan.“Adaptasi meningkat seiring interaksi.”Pelangi tersenyum kecil.“Iya… tapi tetep aja… cepat banget…”Asa bergerak mendekat ke arah Pelangi, lalu berhenti di depan wajahnya. Seolah mencoba melihat lebih dekat, meskipun ia belum benar

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 257 - SAAT SESUATU MULAI MEMILIH

    Kabut itu kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Meski masih tanpa bentuk yang jelas, ada perubahan yang perlahan mulai terasa. Seperti sesuatu yang sebelumnya hanya ada kini mulai menyadari keberadaannya sendiri.Pelangi berdiri dengan lebih santai, meskipun matanya tetap fokus.“Aku ngerasa… dia berubah dikit…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Tidak banyak, tapi cukup untuk terlihat.”Sosok besar menambahkan.“Perubahan struktur awal terdeteksi.”Pelangi menoleh.“Struktur lagi…”Ia tertawa kecil, lalu kembali menatap kabut itu.“Tapi bener sih… dia kayak nggak sekosong tadi…”Kabut itu bergerak sedikit. Tidak acak seperti sebelumnya. Ada pola kecil yang mulai terbentuk, meskipun masih samar.Pelangi memperhatikan dengan serius.“Kamu… mulai ngerti ya…” katanya pelan.Kabut itu bergetar halus.Seperti jawaban yang belum bisa menjadi kata.Aruna melangkah mendekat.“Dia mulai merespon bukan hanya kehadiran, tapi juga makna.”Pelangi mengangguk.“Iya… kayak dia mulai milih…”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 256 - SAAT SESUATU MULAI MEMILIH

    Kabut itu kini tidak lagi terasa sepenuhnya asing. Meski masih tanpa bentuk yang jelas, ada perubahan yang perlahan mulai terasa. Seperti sesuatu yang sebelumnya hanya ada kini mulai menyadari keberadaannya sendiri.Pelangi berdiri dengan lebih santai, meskipun matanya tetap fokus.“Aku ngerasa… dia berubah dikit…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Tidak banyak, tapi cukup untuk terlihat.”Sosok besar menambahkan.“Perubahan struktur awal terdeteksi.”Pelangi menoleh.“Struktur lagi…”Ia tertawa kecil, lalu kembali menatap kabut itu.“Tapi bener sih… dia kayak nggak sekosong tadi…”Kabut itu bergerak sedikit. Tidak acak seperti sebelumnya. Ada pola kecil yang mulai terbentuk, meskipun masih samar.Pelangi memperhatikan dengan serius.“Kamu… mulai ngerti ya…” katanya pelan.Kabut itu bergetar halus.Seperti jawaban yang belum bisa menjadi kata.Aruna melangkah mendekat.“Dia mulai merespon bukan hanya kehadiran, tapi juga makna.”Pelangi mengangguk.“Iya… kayak dia mulai milih…”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 255- YANG TIDAK PUNYA NAMA

    Kabut itu tidak bergerak menjauh meskipun mereka semakin mendekat. Justru sebaliknya, kehadiran mereka seperti memberi bentuk yang sedikit lebih jelas, meskipun masih belum bisa disebut utuh. Ia tetap seperti bayangan yang tidak tahu harus menjadi apa. Pelangi berdiri paling depan. Ia tidak merasa takut, namun ada rasa aneh yang terus mengganggu, seperti melihat sesuatu yang seharusnya punya makna, tapi belum menemukannya. “Aku ngerasa… dia kayak nunggu sesuatu…” katanya pelan. Aruna menatap kabut itu dengan lebih dalam. “Atau menunggu untuk dikenali.” Sosok besar menambahkan. “Identitas belum terbentuk.” Pelangi menoleh. “Berarti dia… belum jadi sesuatu ya?” Sosok besar mengangguk. “Belum memiliki definisi jelas.” Pelangi menghela napas. “Kasian juga ya…” Kabut itu bergerak sedikit, seolah merespon kata kata itu. Tidak agresif, tidak juga menjauh, hanya… mendekat sedikit lebih dekat. Aruna memperhatikan. “Dia bereaksi terhadapmu.” Pelangi tersenyum keci

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 94 – Luka yang Tidak Lagi Disembunyikan

    Hujan turun sejak subuh, tidak deras, tapi cukup untuk membuat udara terasa berat. Seperti ada sesuatu yang ikut jatuh bersama air dari langit—kenangan, penyesalan, dan rasa yang selama ini dipendam terlalu dalam. Naya berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman rumah yang basah. Rambutnya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 93 – Ketika Tidak Ada Lagi Tempat Aman

    Hujan yang mengguyur halaman balai desa akhirnya reda, tapi dingin yang ditinggalkannya justru menetap di dada setiap orang. Aruna berdiri di bawah atap posko, menatap jalan desa yang mulai sepi. Jejak kaki yang tadi ramai kini menghilang, tersapu air dan lumpur, seolah malam itu tak pernah terjadi.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 92– Hari Ketika Desa Memilih Musuhnya

    Pagi itu desa tidak bangun dengan damai. kentongan yang dipukul semrawut sejak subuh membuat udara terasa tegang bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Bunyi kayu beradu itu bukan tanda bahaya resmi, bukan pula panggilan ronda melainkan panggilan emosi yang tidak terkendali. Aruna berjalan men

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 91 – Ketika Manusia Mulai Menjadi Ancaman

    Malam turun pelan, tapi tidak membawa ketenangan Langit desa tampak bersih, tanpa awan, tanpa tanda hujan. Bulan menggantung pucat, terlalu terang untuk sebuah malam yang seharusnya sunyi. Cahaya itu menyorot rumah-rumah tua, memperjelas dinding yang mulai retak dan atap yang lapuk seolah memperlih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status