LOGINDatang untuk meneliti kepercayaan lokal, Rani justru terperangkap dalam misteri kelam Desa Arunika — tempat berdirinya Cermin Batu terkutuk yang menyimpan arwah penuntut. Ketika Raka, penjaga desa yang dingin tapi penuh perhatian, menyelamatkannya dari bayangan tanpa kepala, Rani mulai menyadari sesuatu: kutukan itu punya hubungan dengan darahnya sendiri. Antara cinta dan kematian, mereka berdua harus melawan masa lalu yang ingin hidup kembali. Namun, bisakah cinta melawan kutukan… jika salah satu dari mereka bukan lagi manusia?
View MorePagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak.Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya.Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi.“Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh.Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.”Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.”“Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.”Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?”“Yang itu malah ngeselin.”Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus.“Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan.“Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!”“Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.”“Ma
Pagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru.Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman.Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam.Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya.“Rani? Sudah bangun?”Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini.Rani cepat berdiri dan membuka pintu.Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng.“Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?”Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.”“Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain
Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus
Pagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya.Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.”Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela.Tok. Tok. Tok.Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar.“ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek.“Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri.Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.“Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur.“Seriusan, kamu undang a
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.