LOGINDatang untuk meneliti kepercayaan lokal, Rani justru terperangkap dalam misteri kelam Desa Arunika — tempat berdirinya Cermin Batu terkutuk yang menyimpan arwah penuntut. Ketika Raka, penjaga desa yang dingin tapi penuh perhatian, menyelamatkannya dari bayangan tanpa kepala, Rani mulai menyadari sesuatu: kutukan itu punya hubungan dengan darahnya sendiri. Antara cinta dan kematian, mereka berdua harus melawan masa lalu yang ingin hidup kembali. Namun, bisakah cinta melawan kutukan… jika salah satu dari mereka bukan lagi manusia?
View MoreKabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.
“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh. Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.” Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut. Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan. Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.” Rani tertegun. “Hah? Kenapa?” Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.” Sebelum Rani sempat bertanya lagi, angkot sudah melaju pergi, meninggalkan suara mesin yang perlahan tenggelam di kabut. Ia berdiri sendirian di pinggir jalan desa, ditemani suara jangkrik yang terdengar terlalu dekat. “Bagus. Baru nyampe udah dikasih teka-teki mistis,” keluhnya, menyeret koper kecil menuju rumah kayu yang katanya disewakan untuk mahasiswa. Ia menatap layar ponsel—sinyalnya setengah batang. “Hebat. Sinyal aja takut ke sini.” Rumah itu berdiri di antara dua pohon kamboja, catnya sudah pudar, tapi jendelanya bersih. Pemilik kos, seorang ibu paruh baya bernama Bu Lastri, menyambutnya dengan senyum ramah tapi mata yang tajam menilai. “Rani, ya? Mahasiswi dari kota? Udah dapet kamar, sini, Nak. Tapi inget, kalau malam jangan buka jendela. Apalagi pas kabut turun.” Rani nyengir kaku. “Iya, Bu. Tapi... kenapa, ya? Banyak nyamuk?” Bu Lastri berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Bukan nyamuk. Lebih parah dari itu.” Lalu beliau menutup pembicaraan dengan senyum yang entah kenapa bikin bulu kuduk berdiri. --- Kamar Rani kecil tapi cukup nyaman. Ada meja kayu, ranjang tunggal, dan satu cermin tua berdiri di sudut ruangan. Bingkainya ukiran batu abu-abu—entah kenapa, terasa terlalu berat untuk disebut dekorasi. “Wah, antik juga,” gumamnya, mendekat. Tapi ketika ia menatap pantulannya, udara di sekitarnya seperti ikut menahan napas. Bayangannya tampak lebih gelap satu nada dari dirinya. Ia buru-buru memalingkan muka. “Udah, Rani. Fokus. Ini cuma kosan, bukan lokasi syuting KKN: The Sequel.” Ia menata buku-bukunya di meja, lalu menatap laptop yang lampu indikatornya berkedip lemah. “Asik, belum apa-apa listrik udah kayak main petak umpet.” Sore berubah menjadi malam lebih cepat dari biasanya. Dari luar, suara kentongan sayup-sayup terdengar, diikuti bisikan lembut dari arah jalan. Rani mengintip dari sela jendela—kabut mulai turun lagi, menebal di sekitar halaman. Samar-samar, ia melihat seseorang berjalan di tengah jalan desa dengan langkah goyah. Tubuhnya tinggi… tapi anehnya, kepalanya tidak terlihat. Rani membeku. “...Astaga, itu... itu—” Bayangan itu berhenti tepat di depan pagar rumah. Rani menahan napas. Matanya menatap tanpa berani berpaling. Lalu tiba-tiba, tok-tok-tok! Suara ketukan pintu membuatnya menjerit panik dan terjatuh dari kursi. “Woy! Jangan teriak dulu. Aku Raka.” Suara laki-laki dari luar terdengar datar tapi tenang. Rani merangkak ke arah pintu, setengah takut setengah penasaran. Ia mengintip dari lubang kecil—seorang pemuda berdiri di luar, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya teduh tapi nyaris tanpa ekspresi. Begitu pintu terbuka, aroma tanah basah langsung menyergap. “Ngapain malam-malam ngetok pintu orang!” protes Rani dengan suara gemetar. “Harusnya aku yang nanya,” jawab pemuda itu santai. “Kamu baru nyampe, kan? Tadi katanya Ibu Lastri, kamu sendirian di sini. Aku cuma mau nganterin lampu minyak. Listrik di Arunika suka mati kalau kabut tebal.” Rani menatapnya curiga. “Oh. Kirain... ya udah, makasih.” “Kirain apa?” tanyanya datar, menaikkan satu alis. “Kirain... bukan orang.” Begitu sadar apa yang ia ucapkan, Rani buru-buru menutup mulutnya sendiri. “Eh, maksudnya—bukan orang jahat! Bukan... bukan yang kayak di luar tadi...” Raka menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang. “Kamu liat sesuatu ya?” “Ehm... kayaknya... iya.” “Jangan liat ke luar jendela kalau kabut turun.” “Itu udah telat, Mas!” Raka menggeleng, seolah sudah biasa menghadapi orang panik. “Dasar turis skripsi.” “Turis skripsi?” Rani memelotot. “Aku peneliti lapangan, tahu!” “Peneliti yang jerit cuma gara-gara bayangan,” balasnya datar. Rani membuka mulut hendak membantah, tapi tak jadi. Ada sesuatu di caranya bicara—santai tapi benar-benar serius—yang membuatnya diam. Raka menaruh lampu minyak di meja. “Kalau kabut turun, kuncinya satu: jangan nengok ke arah cermin, jangan buka jendela, dan kalau denger orang manggil nama kamu dari luar—jangan jawab.” “Kenapa?” “Karena bisa aja yang manggil bukan manusia.” Suara angin berdesir lewat di sela dinding kayu, membuat lilin di meja bergetar. Rani menelan ludah. “Kamu ini ngomong gitu biar aku takut, ya?” Raka menatapnya datar. “Kalau mau, bisa aku buktiin sekarang.” “Eh jangan!” Rani menjerit kecil sambil menutup telinganya. “Udah, udah! Aku percaya!” Raka hanya mendengus pelan, mengambil langkah ke pintu. “Besok pagi aku tunjukin tempat riset kamu. Jangan keluar malam ini, paham?” Rani mengangguk cepat. “Paham, Pak Dosen.” Raka sempat tersenyum kecil—senyum singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Rani berdetak lebih cepat dari logika. “Bukan dosen, cuma penjaga kampung.” Pintu tertutup. Rani berdiri diam beberapa detik, lalu bergumam pelan, “Penjaga kampung kok ganteng banget sih… sayang mulutnya nyolot.” Dari luar, suara Raka terdengar samar, seolah mendengar gumamannya. “Aku masih bisa denger, tahu.” “WAH, DIA NGUPING!” teriak Rani panik, lalu buru-buru mematikan lampu. Dalam gelap, hanya cahaya kecil dari lampu minyak yang menari di dinding, memantulkan bayangan Rani di cermin batu di sudut kamar. Dan di pantulan itu—bayangannya tersenyum balik… meski Rani tidak.Pagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak.Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya.Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi.“Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh.Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.”Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.”“Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.”Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?”“Yang itu malah ngeselin.”Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus.“Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan.“Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!”“Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.”“Ma
Pagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru.Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman.Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam.Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya.“Rani? Sudah bangun?”Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini.Rani cepat berdiri dan membuka pintu.Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng.“Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?”Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.”“Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain
Malam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus
Pagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya.Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.”Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela.Tok. Tok. Tok.Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar.“ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek.“Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri.Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.“Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur.“Seriusan, kamu undang a
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.