Kutukan Di Desa Arunika

Kutukan Di Desa Arunika

last updateLast Updated : 2025-10-13
By:  JM_1030Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
106views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Datang untuk meneliti kepercayaan lokal, Rani justru terperangkap dalam misteri kelam Desa Arunika — tempat berdirinya Cermin Batu terkutuk yang menyimpan arwah penuntut. Ketika Raka, penjaga desa yang dingin tapi penuh perhatian, menyelamatkannya dari bayangan tanpa kepala, Rani mulai menyadari sesuatu: kutukan itu punya hubungan dengan darahnya sendiri. Antara cinta dan kematian, mereka berdua harus melawan masa lalu yang ingin hidup kembali. Namun, bisakah cinta melawan kutukan… jika salah satu dari mereka bukan lagi manusia?

View More

Chapter 1

Bab 1 - Kabut Pertama Di Arunika

Kabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.

“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh.

Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.”

Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut.

Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan.

Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.”

Rani tertegun. “Hah? Kenapa?”

Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.”

Sebelum Rani sempat bertanya lagi, angkot sudah melaju pergi, meninggalkan suara mesin yang perlahan tenggelam di kabut. Ia berdiri sendirian di pinggir jalan desa, ditemani suara jangkrik yang terdengar terlalu dekat.

“Bagus. Baru nyampe udah dikasih teka-teki mistis,” keluhnya, menyeret koper kecil menuju rumah kayu yang katanya disewakan untuk mahasiswa. Ia menatap layar ponsel—sinyalnya setengah batang. “Hebat. Sinyal aja takut ke sini.”

Rumah itu berdiri di antara dua pohon kamboja, catnya sudah pudar, tapi jendelanya bersih. Pemilik kos, seorang ibu paruh baya bernama Bu Lastri, menyambutnya dengan senyum ramah tapi mata yang tajam menilai.

“Rani, ya? Mahasiswi dari kota? Udah dapet kamar, sini, Nak. Tapi inget, kalau malam jangan buka jendela. Apalagi pas kabut turun.”

Rani nyengir kaku. “Iya, Bu. Tapi... kenapa, ya? Banyak nyamuk?”

Bu Lastri berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Bukan nyamuk. Lebih parah dari itu.”

Lalu beliau menutup pembicaraan dengan senyum yang entah kenapa bikin bulu kuduk berdiri.

---

Kamar Rani kecil tapi cukup nyaman. Ada meja kayu, ranjang tunggal, dan satu cermin tua berdiri di sudut ruangan. Bingkainya ukiran batu abu-abu—entah kenapa, terasa terlalu berat untuk disebut dekorasi.

“Wah, antik juga,” gumamnya, mendekat.

Tapi ketika ia menatap pantulannya, udara di sekitarnya seperti ikut menahan napas. Bayangannya tampak lebih gelap satu nada dari dirinya. Ia buru-buru memalingkan muka.

“Udah, Rani. Fokus. Ini cuma kosan, bukan lokasi syuting KKN: The Sequel.”

Ia menata buku-bukunya di meja, lalu menatap laptop yang lampu indikatornya berkedip lemah. “Asik, belum apa-apa listrik udah kayak main petak umpet.”

Sore berubah menjadi malam lebih cepat dari biasanya. Dari luar, suara kentongan sayup-sayup terdengar, diikuti bisikan lembut dari arah jalan. Rani mengintip dari sela jendela—kabut mulai turun lagi, menebal di sekitar halaman. Samar-samar, ia melihat seseorang berjalan di tengah jalan desa dengan langkah goyah. Tubuhnya tinggi… tapi anehnya, kepalanya tidak terlihat.

Rani membeku. “...Astaga, itu... itu—”

Bayangan itu berhenti tepat di depan pagar rumah.

Rani menahan napas. Matanya menatap tanpa berani berpaling.

Lalu tiba-tiba, tok-tok-tok!

Suara ketukan pintu membuatnya menjerit panik dan terjatuh dari kursi.

“Woy! Jangan teriak dulu. Aku Raka.” Suara laki-laki dari luar terdengar datar tapi tenang.

Rani merangkak ke arah pintu, setengah takut setengah penasaran. Ia mengintip dari lubang kecil—seorang pemuda berdiri di luar, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya teduh tapi nyaris tanpa ekspresi.

Begitu pintu terbuka, aroma tanah basah langsung menyergap.

“Ngapain malam-malam ngetok pintu orang!” protes Rani dengan suara gemetar.

“Harusnya aku yang nanya,” jawab pemuda itu santai. “Kamu baru nyampe, kan? Tadi katanya Ibu Lastri, kamu sendirian di sini. Aku cuma mau nganterin lampu minyak. Listrik di Arunika suka mati kalau kabut tebal.”

Rani menatapnya curiga. “Oh. Kirain... ya udah, makasih.”

“Kirain apa?” tanyanya datar, menaikkan satu alis.

“Kirain... bukan orang.”

Begitu sadar apa yang ia ucapkan, Rani buru-buru menutup mulutnya sendiri. “Eh, maksudnya—bukan orang jahat! Bukan... bukan yang kayak di luar tadi...”

Raka menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang. “Kamu liat sesuatu ya?”

“Ehm... kayaknya... iya.”

“Jangan liat ke luar jendela kalau kabut turun.”

“Itu udah telat, Mas!”

Raka menggeleng, seolah sudah biasa menghadapi orang panik. “Dasar turis skripsi.”

“Turis skripsi?” Rani memelotot. “Aku peneliti lapangan, tahu!”

“Peneliti yang jerit cuma gara-gara bayangan,” balasnya datar.

Rani membuka mulut hendak membantah, tapi tak jadi. Ada sesuatu di caranya bicara—santai tapi benar-benar serius—yang membuatnya diam.

Raka menaruh lampu minyak di meja. “Kalau kabut turun, kuncinya satu: jangan nengok ke arah cermin, jangan buka jendela, dan kalau denger orang manggil nama kamu dari luar—jangan jawab.”

“Kenapa?”

“Karena bisa aja yang manggil bukan manusia.”

Suara angin berdesir lewat di sela dinding kayu, membuat lilin di meja bergetar. Rani menelan ludah. “Kamu ini ngomong gitu biar aku takut, ya?”

Raka menatapnya datar. “Kalau mau, bisa aku buktiin sekarang.”

“Eh jangan!” Rani menjerit kecil sambil menutup telinganya. “Udah, udah! Aku percaya!”

Raka hanya mendengus pelan, mengambil langkah ke pintu. “Besok pagi aku tunjukin tempat riset kamu. Jangan keluar malam ini, paham?”

Rani mengangguk cepat. “Paham, Pak Dosen.”

Raka sempat tersenyum kecil—senyum singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Rani berdetak lebih cepat dari logika. “Bukan dosen, cuma penjaga kampung.”

Pintu tertutup.

Rani berdiri diam beberapa detik, lalu bergumam pelan, “Penjaga kampung kok ganteng banget sih… sayang mulutnya nyolot.”

Dari luar, suara Raka terdengar samar, seolah mendengar gumamannya. “Aku masih bisa denger, tahu.”

“WAH, DIA NGUPING!” teriak Rani panik, lalu buru-buru mematikan lampu.

Dalam gelap, hanya cahaya kecil dari lampu minyak yang menari di dinding, memantulkan bayangan Rani di cermin batu di sudut kamar.

Dan di pantulan itu—bayangannya tersenyum balik… meski Rani tidak.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status