Mag-log inSaat menunggu hasil tes DNA di rumah sakit, Raisa mengajak Suri keluar sebentar ke mobil untuk menghirup udara segar.Bayangan kedua anak itu melintas di benak Raisa, sambil memandang bangunan-bangunan di kejauhan melalui jendela, lalu berkata, "Sebenarnya sekali lihat aku tahu mereka anakku. Tapi mungkin karena nggak terima ditipu, jadi mau menunggu laporan tes DNA keluar, biar aku benar-benar bisa terima kenyataan."Suri mengamati raut wajah Raisa dan berkata, "Aku mengerti. Sedikit ngotot nggak apa-apa. Siapa tahu ternyata bukan, kan?"Raisa tahu tidak ada kemungkinan itu, tapi kata-kata penghiburan Suri tetap efektif.Dia memang melihat kedua anak itu dengan mata kepalanya sendiri, mereka bernapas, bergerak, mengedipkan mata, dan menangis. Dua nyawa kecil yang hidup itu ada di hadapannya, dan dampaknya sungguh terlalu kuat.Raisa sama sekali tidak punya pengalaman merawat anak, jadi dia kebingungan menghadapi bayi-bayi itu dan merasa sedikit frustrasi.Kevin bahkan lebih tidak bisa
Kevin sangat kesal dan berkata, "Seberapa gila sih aku di matamu? Sejahat-jahatnya aku, masa membiarkan dua anak sampai mati? Kau jangan terlalu cemas, apa aku sangat tidak bisa diandalkan?"Raisa menyindir, "Kau saja nggak bisa mengurus dirimu sendiri, apa dasarnya kau menjamin bisa merawat dua anak itu dengan baik?Kevin berkata, "Aku ini ayah mereka. Bagaimana caraku membesarkan mereka, begitulah mereka menerimanya. Ini bukan restoran yang bisa pesan menu. Ayah seperti apa yang mereka inginkan, bukan mereka yang menentukan."Raisa menarik napas dalam-dalam. Kevin begitu dominan, anak-anak pasti akan trauma jika tinggal bersamanya. Bagaimana Raisa bisa tenang menyerahkan anak-anak padanya?Raisa pun memilih jalan Tengah. "Jangan digendong dulu, serahkan saja pada pengasuh. Anak-anak masih terlalu kecil, tunggu sampai mereka agak besar saja."Kevin berkata, "Tadinya, aku belum ingin menggendong. Tapi karena kau bilang begitu, aku jadi ingin menggendong."Raisa berkata dengan kesal, "K
Begitu menerima kabar itu, Raisa langsung merasa gugup. Bayinya sudah lahir. Dia menggenggam tangan Suri dan menatapnya. Suri pun tidak lagi memedulikan Adrian, hanya fokus menemani Raisa, memikirkan bagaimana mereka akan menghadapi bayi mungil itu bersama-sama.Saat Raisa berdiri, dia menyadari bahwa Kevin sedang menatapnya. Tatapan matanya sedikit berbeda dari kesombongannya yang biasa. Ditambah lagi dirinya cukup memahami Kevin, tidak bisa menahan diri untuk berpikir, orang gila seperti Kevin ternyata juga bisa gugup. Nanti kalau tidak bisa merawat kedua anak ini dengan baik, semoga saja Kevin menyesali perbuatannya hari ini!Di luar ruang bersalin terdapat kaca transparan yang besar. Ketika rombongan itu mendekati kaca tersebut, bisa melihat bayi kecil di dalam ruang perawatan.Namun, karena bayi itu dibungkus dengan rapat, wajahnya tidak terlihat utuh, hanya sisi wajahnya yang terlihat. Mungkin bayi yang baru lahir memang belum terlalu cantik. Reaksi pertama Raisa adalah bayi itu
Kevin berkata, "Apa urusanmu?"Raisa membela temannya, "Suri itu temanku, coba saja kau berani bentak dia sekali lagi?"Wajah Kevin pun memerah karena marah.Karena mungkin bisa mengerti ekspresi Raisa, dengan tatapan tajamnya itu, Kevin tahu jika dirinya terus bicara, Raisa akan langsung menarik Suri dan pergi. Meskipun Kevin tidak bisa menerima pernyataan Raisa yang ingin tes DNA, tapi jika dia tidak mau mengurus anak, Kevin lebih sulit menerimanya.Saat Raisa dan Kevin masih menjadi pasangan suami istri, Suri belum pernah berinteraksi dengan Kevin, kini dia akhirnya melihat versi setelah perceraian.Dia tidak bisa menahan diri untuk mengusap pelipisnya. Sahabat baiknya yang biasanya tenang, kini bisa bertengkar sekeras ini …. Tapi bisa dimengerti juga, siapa yang bisa menghadapi Kevin? Saat diam, pria itu masih terlihat seperti orang normal, tapi begitu mulutnya terbuka, tidak ada yang bisa tahan. Dia benar-benar tak masuk akal, seolah-olah otaknya sudah putus saraf.Suri benar-bena
Begitu mendengarnya, wajah Kevin langsung memucat. "Raisa!"Suri benar-benar tak tahan lagi dan berkata, "Kevin, kenapa kau teriak? Dua anak ini dari awal sampai akhir cuma kau yang bikin sendiri, masa Raisa nggak boleh curiga anak ini bukan punyanya? Kalau anak ini nggak ada gen Raisa, urusan menjadi ayah atau ibu cuma omong kosong. Mana bisa kau ganggu Raisa seumur hidup? Cari saja ibu anak itu."Urat di dahi Kevin berdenyut, matanya menatap tajam ke arah Raisa dan berkata, "Kau pikir aku akan membuat kesalahan sebodoh itu?"Raisa bertanya, "Siapa yang tahu? Buat berjaga-jaga, tes DNA saja. Kalau bukan anakku, aku nggak perlu tanggung jawab.""Baik, nggak masalah!" jawab Kevin yang benar-benar hampir gila karena marah. Sejujurnya, Kevin bisa memahami pemikiran Raisa, tapi justru karena Raisa berpikir seperti itu, dia jadi sangat marah!Kevin sebenarnya sangat membenci anak-anak, tapi tetap penuh harap agar kedua anaknya dan Raisa bisa segera lahir. Saat dirinya sangat berharap, tapi
Raisa akan sering berinteraksi dengan Kevin dan mengurus anak-anak, sehingga pasti akan mengabaikan kekasihnya.Sekarang sudah putus, Raisa tidak perlu lagi khawatir membuat pasangannya kecewa, atau khawatir bahwa pasangannya telah memberikan banyak hal, sementara dia tidak bisa memberikan perhatian yang setara .… Jadi, saat putus dengan Bravi, Raisa punya alasan yang jelas, dan sekarang pun begitu.Raisa melihat jam, lalu bertanya pada Kevin, "Kira-kira masih berapa lama?"Kevin menjawab, "Sebentar lagi."Raisa kembali bertanya, "Apa kedua ibu pengganti akan melahirkan bersamaan?"Kevin menjawab, "Tanggal perkiraan kelahiran mereka sangat dekat. Setelah dievaluasi dokter, mereka bisa melahirkan bersama hari ini."Suri membenci Kevin tanpa alasan, tapi orang dewasa harus berpura-pura tidak tahu, menahan berbagai hal menjijikkan, dan mempertahankan kedamaian di permukaan. Saat ini, mendengar mereka membicarakan anak-anak, dia pun penasaran, lalu bertanya, "Yang lahir kakak laki-laki, at
Siska terlihat menegakkan punggungnya.Bersamaan dengan itu, dia juga menyadari keheningan orang-orang di sekitarnya. Siska melirik ke arah Kevin. Wajah pria itu tampak sedingin es. Meskipun biasanya juga tampak dingin, tetapi kali ini ada lapisan tambahan. Hawa dingin yang jelas mengandung permusu
Dari kejauhan, Siska melihat Raisa yang mengenakan gaun putih. Dia tak bisa menyangkal, meskipun gaun yang dikenakan Raisa bukan selera Siska, namun potongannya yang sederhana dan ramping tanpa hiasan apapun justru sangat cocok dengan aura dingin dan tenangnya. Rambut hitamnya yang sebahu digelung
Detik berikutnya, Kevin berhenti bicara dan menyeretnya pergi.Gerakannya sangat kasar!Richard menghalanginya dengan ekspresi suram."Richard, minggir kau!" Kevin mendorongnya menjauh.Richard tetap tak bergerak dan berkata, "Kevin, apa kau nggak tahu artinya menghormati orang ya? Apa kau nggak lih
Saat melihat Bravi tidak mengganti sepatunya, Raisa pun membatalkan niatnya untuk pulang mengambil pelindung sepatu.Dia sudah pernah datang ke rumah ini dua kali sebelumnya, dan setiap kali datang, rumah itu selalu bersih dan rapi, seolah-olah ada yang membersihkannya setiap hari.Namun sebelumnya,







