MasukDemi pengobatan ibunya, Ayana nekat menjual kehormatannya pada seorang pria kaya raya. Namun sayang, saat dia kembali, ibunya telah tiada. Ayana kini hidup dalam penyesalan setelah kepergian sang ibu. Akan tetapi tidak hanya itu saja, ternyata dia hamil anak dari pria satu malam yang membayarnya mahal. Dan karena tak ingin menyesali hidupnya lagi, Aya merawat dan membesarkan anak semata wayangnya seorang diri. Hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan sang pria, mulai mengacaukan kehidupannya lagi. "Dia anakku, bukan?" "Maaf, Tuan. Anda salah orang." "Tidak. Kamu satu-satunya yang membawa pergi benihku!"
Lihat lebih banyak“Tolong pelan, Tuan….”
Pekikan itu terdengar lirih di dalam kamar hotel mewah yang pengap oleh hawa tubuh dan aroma parfum mahal. Suara Aya nyaris tenggelam oleh deru napas berat pria di atasnya. Ayana Cantika, gadis dua puluh dua tahun, dengan tubuh yang belum pernah benar-benar mengenal sentuhan seperti ini, terkungkung di bawah seorang pria tampan bertubuh kekar. Pinggul pria itu terus bergerak tanpa jeda, membuat Aya terpaksa mengikuti irama yang tak pernah ia inginkan. “Ahh…,” racau sang pria, suaranya berat dan serak. Dua tangan kekar menggenggam pinggul ramping Aya, menahannya agar tak menghindar. Desahan mereka bersahutan, namun hanya satu yang dipenuhi gairah. Pria itu memejamkan mata, tenggelam dalam sensasi yang ia nikmati sendiri. Di bawah cahaya lampu kamar yang terang, tak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Rasa malu sudah lama luruh digantikan oleh erangan, desahan, dan napas yang saling bertabrakan tanpa makna. “Ahh… Tuan, tolong pelan sedikit…,” pinta Aya lagi, kali ini sambil menggenggam tangan pria itu. Jarinya bergetar, berusaha menahan agar tempo itu melambat. Namun rasa perih tetap menjalar. Napasnya tersengal. Genggaman Aya akhirnya terlepas, tubuhnya menegang, sementara jari-jarinya mencengkram seprai putih seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak benar-benar tenggelam. Matanya mulai berkaca-kaca. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi bantal empuk di bawah kepalanya. Ingatan Aya melayang pada beberapa jam yang lalu, di lorong rumah sakit yang dingin. “Mbak Aya,” suara dokter paruh baya itu terdengar serius namun tetap lembut. “Kami sudah melihat hasil pemeriksaan Ibu Ningsih.” Aya meremas kedua tangannya. “Bagaimana, Dok?” Dokter itu menghela napas panjang. “Ibu Ningsih harus segera dioperasi. Kanker payudaranya sudah sampai tahap yang tidak bisa ditunda.” Dunia Aya seolah berhenti berputar. Suara langkah kaki dan percakapan orang-orang menjauh dari pendengarannya. Yang tersisa hanya satu kalimat itu. “Apakah… bisa menggunakan kartu yang biasanya?” tanyanya lirih. “Maaf, Mbak. Kartu itu hanya menanggung perawatan. Untuk biaya operasi, Mbak harus membayarnya sendiri.” “Tapi uang saya nggak cukup, Dok…,” gumam Aya. Ia tahu persis angka yang disebutkan. Tabungannya bahkan tak mencapai setengahnya. Dokter itu mengangguk, seolah sudah menduga. “Kami masih bisa memberi waktu sampai besok lusa untuk menyelesaikan administrasi.” “Besok lusa…,” Aya menunduk, dadanya nyeri. “Kalau saya belum dapat uangnya, Ibu saya bagaimana?” “Jika terlambat, kondisinya bisa memburuk.” Aya menggigit bibir. Tubuhnya gemetar. Dunia seakan menekannya dari segala arah. Namun ia tetap mengangguk kecil. “Baik, Dok. Saya akan berusaha.” Dan dokter itu pergi, meninggalkan Aya sendirian di lorong yang mulai gelap. Kini, Aya kembali ke kenyataan. Berbaring pasrah di bawah pria kaya yang menjanjikan uang, bukan karena menginginkannya, melainkan karena tak ada pilihan lain. “Tuan…,” ucapnya pelan, mengikuti dorongan tubuh pria itu. “Berjanjilah… uang itu akan Tuan berikan.” Gerakan pria itu terhenti sejenak. Ia menatap wajah Aya yang tampak wajah cantik dan basah oleh air mata, lalu menyeringai. “Selama aku puas,” ujarnya santai, “uang itu akan menjadi milikmu.” Jemari panasnya mengusap pipi Aya, menghapus air mata yang tak ia pedulikan maknanya. Aya memalingkan wajah. Pandangannya jatuh pada meja kecil di sisi ranjang. Di sana, kartu ATM pria itu tergeletak, janji yang menjadi satu-satunya harapannya. Aya menelan ludahnya. Lalu menatap pria itu lagi, menelan penghinaan dalam diam. “Tuan…,” suaranya bergetar. “Ta–tapi, tolong jangan keluar di dalam, saya tidak mau hamil….” Pria itu mendengus dingin. “Kamu tidak akan hamil. Aku juga tidak sudi anakku dilahirkan oleh wanita malam sepertimu.” Kata-kata itu menghantam Aya lebih keras dari sentuhan mana pun. Suasana hening sejenak. “Kalau begitu… lakukan saja apa yang Tuan mau,” ucap Aya akhirnya. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, ia melingkarkan tangan ke bahu lebar itu, menariknya mendekat. Pria itu menyeringai. “Kuakui keberanianmu.” Ia menatap wajah Aya sedikit lebih lama dari sebelumnya, memperhatikan mata bening itu, bulu mata lentik yang bergetar, bibir tipis yang terkatup gugup. Ada sesuatu yang terusik. Bukan keyakinan penuh, tapi cukup untuk membuat sikapnya bergeser. “Tu—Tuan… bukankah tidak ada ciuman?” Aya berusaha menghentikan saat wajah itu mendekat. “Bukankah kamu bilang aku bisa melakukan apa pun?” balas pria itu, masih terdengar dingin, tapi kini ada tekanan lain di baliknya. Aya terdiam. Ia sendiri yang membuka pintu itu. Tanpa menunggu lagi, pria itu menutup jarak dan menempelkan bibirnya. Reaksinya lebih keras dari yang ia perkirakan. “Mmh…,” lenguhan kaget lolos begitu saja. Ciuman pertamanya hilang pada pelanggan pertamanya. Saat Aya mencoba mendorong dadanya, tekanan justru semakin kuat. Hingga akhirnya, ciuman dilepas. Tatapan pria itu berubah, tidak lagi sepenuhnya dingin. Seperti ada sesuatu yang mengusik sisi lain dari dirinya. Senyum tipis pria itu kembali, tapi kali ini lebih gelap, lebih yakin. Akhirnya, ia berkata, “Puaskan aku. Jika gagal, kamu tak dapat apa-apa.” Aya menelan ludah. “Baik….” Bibir mereka kembali bertaut. Kali ini, pria itu membimbing dengan pagutan panasnya. Aya masih kaku, namun perlahan mengikuti. Pelukannya menguat tanpa sadar saat tubuhnya diangkat sedikit. “Hm!” pekiknya tertahan. Gerakan pria itu kembali dimulai perlahan, selaras dengan ciuman, lalu semakin cepat. “Ahh… Tuan…,” desah Aya saat ciuman terlepas. Pria itu tiba-tiba berhenti. Wajahnya menggelap. “Sial….” Aya menatapnya takut. “T-Tuan…?” Tak ada jawaban. Pinggul Aya diangkat lebih tinggi, dan gerakan berikutnya membuat tubuhnya tersentak kaget. Setelah itu, tak ada lagi kata-kata. Hanya gerakan cepat, napas berat, dan kendali yang sepenuhnya berpindah tangan. Aya mendesah tanpa sadar. Di bawah langit malam tanpa bintang, ia menyerahkan segalanya, kehormatan, air mata, dan dirinya sendiri, demi satu nyawa yang ia cintai. * Pagi itu Aya terbangun lebih dulu. Gadis itu dengan cepat namun hati-hati, memakai kembali pakaiannya dan membawa kartu ATM yang ada di atas meja. Dengan mengendap perlahan, dia akhirnya berhasil keluar dari kamar mewah tersebut. "Bu, tunggu aku...." gumamnya penuh kelegaan. Uang yang dia butuhkan sudah ada di tangan. Rumah sakit itu tidak jauh dari hotel dan kelab malam, tapi bagi Aya, setiap langkah terasa berat meski dia sudah membawa uang sebagai harapan. Aya segera tiba di lobi dengan napas terengah, rambut berantakan, mata bengkak, dan pakaian lusuh. Beberapa orang menatapnya aneh, tapi dia tidak peduli. Dia berlari menuju ruangan dokter untuk membicarakan operasi sang ibu. "Dokter!" serunya begitu melihat dokter yang merawat ibunya. "Dokter! Saya sudah dapat uangnya! Tolong segera operasi ibu saya!" Dokter itu menatap Aya dengan sorot mata yang tidak pernah Aya lihat sebelumnya. Membuat Aya mengerutkan kening. "Dok? Dokter kenapa diam? Cepat! Tolong selamatkan Ibu saya!" desak Aya. "Mbak Aya...." Dokter itu mencoba menenangkan. "Dokter! Tolong selamatkan Ibu saya! Sekarang sudah bisa operasi kan? Saya sudah dapat uangnya." Dokter itu menyentuh kedua bahu Aya dengan lembut. "Mbak Aya... yang sabar, ya?" Aya terdiam. Dia tak suka kalimat ini. Dokter itu menarik napas panjang. "Semalam kami sudah menelpon Mbak berkali-kali. Tapi Mbak tidak mengangkatnya." Aya membeku. Ketakutan. "Bu Ningsih...." Dokter itu menunduk. "Bu Ningsih tidak berhasil bertahan. Beliau sudah meninggal semalam, Mbak." ***Unggahan Aya dalam sekejap menjadi viral. Kejujuran, ketenangan, dan ketegaran respons dari istri Presdir Bagaskara Group itu mulai membalikkan simpati publik. Tak sedikit dari para netizen yang mulai mempertanyakan kebenaran berita yang beredar dan mengutuk tindakan keji peretasan data pribadi seseorang."Gimana, Bunda?" tanya Putra penasaran.Aya menilik kembali ponselnya di mana sudah ada banyak notifikasi yang masuk. "Banyak yang komentar. Biarkan saja."Dengan sengaja Aya mematikan notifikasi pada akun sosial medianya itu. Ia tak mau tidur anaknya terganggu. Namun wanita itu tetap memantau apa yang terjadi di sana.*Sore harinya, Ibra melangkah keluar dari gedung kantor menuju area konferensi pers yang telah disiapkan secara mendadak di lobi utama kantor Bagaskara Group. Puluhan kilatan lampu kamera langsung menyambut kehadiran sang Presdir.Para petugas keamanan menjaganya dengan ketat. Sementara beberapa wartawan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sopan lagi.Na
Sementara rapat di kantor pusat berlangsung tegang, kondisi di rumah kediaman Ibra masih mendapat pengawasan dari luar. Beberapa mobil wartawan tampak terparkir di pinggir jalan luar kompleks perumahan, berusaha mencari celah untuk mengambil foto atau mendapatkan wawancara dari sang Nyonya Rumah.Di dalam kamar utama, Aya duduk di tepi ranjang. Ia mengelus lembut pipi Putri yang sedang tertidur pulas dalam dekapannya. Hatinya masih terasa sesak bila mengingat betapa kejamnya komentar orang-orang di luar sana. Namun, Aya sadar bahwa meratapi nasib tidak akan menyelesaikan apa pun. Ia adalah istri Ibra Bagaskara, wanita yang telah merasakan beratnya kehidupan sebelumnya.Tok tok tokTiba-tiba pintu kamar diketuk pelan."Bunda?" panggil Putra tepat dari ddepan pintu."Masuklah, Sayang," sahut Aya sedikit berteriak.Pintu terbuka perlahan. Lalu bocah tampan itu berjalan masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya. Ia melangkah mendekati ranjang di mana ibu dan adiknya berada. Lalu langkahnya
"Pak Ibra! Apakah benar berita mengenai kemandulan Anda?""Bagaimana nasib kelanjutan Bagaskara Group jika Anda tidak memiliki pewaris yang sah?""Apakah kedua anak Anda adalah hasil dari program rekayasa atau anak dari pria lain?"Pertanyaan-pertanyaan provokatif dan menyakitkan itu terlontar dari mulut para awak media saat Ibra melangkah keluar dari mobil. Wajah Ibra datar dan dingin seperti es, matanya menatap lurus ke depan tanpa memberikan tanggapan sedikit pun.Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Langkah kakinya tetap tegap dan berwibawa, meski di dalam hatinya gejolak amarah membakar seluruh ketenangannya. Baginya, siapa pun yang mengganggu ketenangan dan membuat Aya bersedih adalah musuhnya."Pak Ibra, tolong jawab pertanyaan kami, Pak!" seru salah seorang wartawan yang terdengar mendesak dan terus mengejar sang Presdir.Ibra tak mengindahkannya. Samuel dan beberapa petugas keamanan dengan ketat menghalangi saat mereka mendekat."Tolong mundur!" tegas Samuel denga
"Amplop itu...." gumam Ibra tiba-tiba. Matanya langsung tertuju pada dokumen medis yang semalam ia letakkan di atas nakas.Ia memang baru saja memeriksa kesehatannya kembali secara menyeluruh, dan hasil analisisnya menyatakan bahwa ia telah sembuh total. Namun, rekam medis yang dibocorkan ke publik adalah data lama yang dimanipulasi sedemikian rupa untuk menciptakan kesan bahwa dirinya mandul secara permanen.Ibra kembali mengambil ponselnya di tangan sang istri. Dengan wajah marahnya, ia kembali menghubungi Samuel."Sam, selidiki siapa saja yang kemarin ada di rumah sakit! Selidiki juga Dokter Rian dan staf yang bekerja di sana tanpa kecuali!" perintahnya dengan tegas."Baik, Pak," sahut Samuel menyanggupi.Panggilan kembali berakhir. Namun ponsel Ibra terus-menerus berdering tanpa henti. Bahkan kini ponsel Aya pun ikut berdering dan kali ini panggilan dari sahabatnya, Gina."Halo, Gin.""Aya! Kamu baik-baik saja? Kamu jangan lihat berita dulu," ucap Gina terdengar panik.Aya menghel












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak