Dikhianati Suami dan Sahabatku

Dikhianati Suami dan Sahabatku

last updateLast Updated : 2026-02-06
By:  Al ZenaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aisyah Maharani, pengusaha butik sukses, menjalani pernikahan yang terlihat sempurna dengan Aris Munandar, seorang manajer pemasaran yang tampan. Namun, kebahagiaan itu hancur ketika ia memergoki Aris berselingkuh dengan Riana Anjarwati, sahabat dekatnya sekaligus sekretaris pribadi Aris. Keterpurukan Aisyah membawanya pada pertemuan tak terduga dengan Aldo Michell, adik iparnya yang berwibawa dan berkuasa, yang menawarkan perlindungan dan kenyamanan, menimbulkan dilema cinta dan loyalitas baru di tengah proses perceraian yang penuh drama dan pengkhianatan.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Mas Aris? Riana? Sedang apa mereka di resepsionis?” Aisyah bergumam pelan, perasaannya diliputi kejanggalan atas apa yang baru saja ia lihat.

“Benarkah itu Mas Aris?” Ia berusaha memanggil suami dan sahabatnya itu. Namun, sebelum satu pun suara keluar dari tenggorokannya, sebuah panggilan menghentikannya.

“Aisyah, tunggu sebentar!” Suara Tante Amira memecah keheningan.

Langkah Aisyah terhenti. Meski raut wajahnya tetap terkendali, gejolak di dalam dadanya sulit disembunyikan. Siluet yang tadi terlihat di resepsionis hotel masih melekat kuat dalam ingatannya—Aris dan Riana.

“Ada apa, Tante?” tanyanya kemudian, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

"Kamu masih ingat kan desain yang aku bilang kemarin? Aku ingin melihat beberapa contoh." Tante Amira mempercepat langkah, mencoba mengejar Aisyah yang tampak kaku.

“Ya, desain yang floral, bukan?” Aisyah berusaha berkata santai, meski pikirannya melayang jauh. Riana dan Aris. Apa yang mereka lakukan di sini?

“Betul sekali! Oh, dan aku ingin membahas sedikit tentang koleksi baru kamu. Banyak yang bertanya-tanya,” jawab Tante Amira sambil tersenyum.

"Baik, Tante. Nanti setelah makan siang, kita bisa diskusikan lebih lanjut," Aisyah menjawab sambil berusaha fokus pada obrolan yang seharusnya menyenangkan. Namun, bayangan suaminya dan Riana terus menghantuinya.

"Eh, Aisyah. Kenapa kamu tampak gelisah? Kamu tidak biasanya begini." Tante Amira bertanya, curiga.

Aisyah menatap Tante Amira. “Tidak, Tante. Hanya sedikit kelelahan,” bohongnya, meski hatinya berdenyut cepat.

Mereka melanjutkan jalan menuju restoran, tetapi pikirannya terbayang pada apa yang baru terjadi. Aku benar-benar melihat dengan jelas?

“Aisyah, kamu sudah siap untuk koleksi baru bulan depan? Aku berharap kamu bisa memperlihatkan desain yang lebih unik,” Tante Amira berusaha mengalihkan perhatian.

“Iya, Tante. Aku sudah menyiapkan beberapa desain yang unik dan mungkin belum pernah ada,” jawab Aisyah, tapi suaranya terdengar jauh. Dalam batinnya, dia merasa seperti terjebak dalam sebuah labirin ketidakpastian.

“Ada apa sih? Serius deh, kamu kelihatan gelisah, Ais.” Tante Amira mendekat, menilai wajah Aisyah yang kini tampak bimbang.

“Aku, aku hanya... merasa tidak enak badan, Tante. Maaf ya, kalau aku kurang fokus pada Tante.” Suara Aisyah bergetar sepertinya.

“Atau? Kamu ada masalah dengan Aris?” Tante Amira bertanya lebih lanjut, akrabnya membuat Aisyah merasa tidak bisa menyimpan rasa itu sendiri.

“Tidak, tidak ada...” Aisyah menghentikan kalimatnya, teringat kembali pada siluet di resepsionis dan keraguan yang mulai memenuhi pikirannya.

Tante Amira menggenggam tangan Aisyah. “Kamu tahu, komunikasi itu penting dalam sebuah hubungan. Jangan sampai ada yang mengganjal di hatimu.”

“Aku tahu, Tante,” Aisyah menjawab, tapi pikirannya kembali liar. Riana dan Aris? Mengapa mereka ... ?

“Apa kamu yakin tidak ingin membahasnya lebih lanjut?” Tanya Tante Amira.

“Tidak, Tante. Semua baik-baik saja.” Aisyah menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan suasana.

Tiba-tiba, mereka melewati eskalator dan Aisyah tanpa sadar menoleh ke samping. “Riana? Mas Aris,” gumamnya. Dia melihat seorang wanita berambut panjang, berbalik dan berbincang mesra, kebetulan membuat Aisyah mendongak.

“Di mana?” Tante Amira penasaran.

“Eh, nggak, Tan. Mari kita keluar saja,” jawab Aisyah cepat, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

“Mau pesan apa?” Tante Amira memerhatikan menu sambil berusaha menormalkan suasana.

“Kita pesan salad saja ya, Tante?” Aisyah berusaha mengalihkan perhatian.

“Tapi kita sudah membahas tentang steak baru yang mereka tawarkan,” Tante Amira protes sambil tertawa. “Kamu tidak akan kenyang hanya dengan salad.”

“Ya, kita pesan saja salad dan satu steak untuk dibagi,” Aisyah kalah, meski hatinya bergetar. “Tante, kita jangan lama-lama ya?”

“Kenapa Ais? Apakah ada yang mendesak?” Tante Amira menatap Aisyah dengan tajam.

“Ehm. Iya, Tan. Aku jadi gak enak ma Tante. Baru ingat sore nanti ada pelanggan yang akan datang ke butik mengambil pesanan.” Aisyah mencoba mengarang cerita agar terkesan tidak mengada-ada.

Di dalam perutnya, rasa tidak enak membuatnya merasa mual. Aisyah terlihat makin gelisah. Ia bingung harus berbuat apa? Melabraknya? Atau mencari bukti lainnya?

“Mereka berdua ngapain?” tanya Aisyah dalam hati.

***

Aisyah berdiri di depan meja resepsionis dengan perasaan campur aduk. Kulit wajahnya terasa hangat karena ketegangan yang meliputi hatinya. 

“Maaf, Nona, saya tidak bisa memberikan informasi tentang tamu kami,” tegas petugas resepsionis yang masih terlihat ragu.

“Ya, saya mengerti privasi itu penting,” jawab Aisyah, berusaha tenang. “Tapi saya bisa membuktikan bahwa saya istrinya. Saya memiliki buku nikah.”

Petugas itu tetap ragu. “Maaf, Nona, tetapi tanpa izin yang jelas dari tamu, saya tidak bisa—”

“Saya paham, tapi saya istrinya, Mba,” Aisyah hampir berteriak, tetapi segera menahan suaranya.

“Hm…” Petugas itu terlihat berpikir sejenak, menatap layar komputer yang seolah meminta jawabannya. “Tunggu sebentar, saya akan berkonsultasi dengan atasan.”

Aisyah mengangguk dan menunggu dengan gelisah. Jantungnya berdegup kencang. Dia bisa merasakan ketegangan di udara. Tak berapa lama, seorang wanita berambut pendek muncul dari belakang meja resepsionis. Wajahnya serius dan bersegan.

“Ada apa?” tanyanya kepada petugas yang tampak kikuk.

“Nona ini mencari suaminya yang menginap di hotel ini, Bu Rara, tetapi saya tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut,” jawab petugas dengan nada rendah.

“Nama suaminya siapa?” tanya wanita yang dipanggil Bu Rara, setengah terpaksa.

“Ada di sini, Aris Munandar,” ujar Aisyah, sambil berusaha menyembunyikan rasa amarahnya yang tiba-tiba memuncak.

Wanita itu menatap Aisyah lekat-lekat, mencoba mencari tahu apakah ada kebenaran dalam matanya. “Tunggu sebentar, saya perlu meminta izin dari tamu.”

“Maaf, Bu. Tidak perlu meminta izin. Saya istrinya, saya bebas masuk ke kamarnya.” Aisyah akhirnya tersulut emosi karena hatinya benar-benar telah membara. Aris ternyata benar-benar memesan kamar hotel bersama Riana.

“Saya paham situasinya, Mba. Saya hanya tidak ingin terjadi keributan.” Bu Rara yang menyadari ada skandal, segera mengatasi keadaan.

“Saya tidak akan buat keributan, Bu. Saya janji.” Aisyah mencoba meyakinkan Bu Rara agar ia benar-benar yakin dan menangkap basah suami dan sahabatnya.

Bu Rara menimbang beberapa detik, lalu mengangguk pelan. 

“Baiklah, saya akan menemani Anda ke kamar Pak Aris. Mohon pengertiannya ya Bu. Karena ini akan menjadi masalah serius dengan hotel kami, kalau sampai terjadi keributan karena permasalahan pribadi,” lanjut Bu Rara.

Aisyah mengangguk tanpa ragu.

Beberapa saat kemudian, Bu Rara berjalan di depan, sementara Aisyah mengikutinya dengan langkah cepat. Tujuan mereka jelas—lantai dua belas, nomor 1205.

Benarkah Aris dan Riana memesan kamar 1205?

Apa yang akan dilakukan Aisyah?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status