LOGINAisyah Maharani, pengusaha butik sukses, menjalani pernikahan yang terlihat sempurna dengan Aris Munandar, seorang manajer pemasaran yang tampan. Namun, kebahagiaan itu hancur ketika ia memergoki Aris berselingkuh dengan Riana Anjarwati, sahabat dekatnya sekaligus sekretaris pribadi Aris. Keterpurukan Aisyah membawanya pada pertemuan tak terduga dengan Aldo Michell, adik iparnya yang berwibawa dan berkuasa, yang menawarkan perlindungan dan kenyamanan, menimbulkan dilema cinta dan loyalitas baru di tengah proses perceraian yang penuh drama dan pengkhianatan.
View More“Mas Aris? Riana? Sedang apa mereka di resepsionis?” Aisyah bergumam pelan, perasaannya diliputi kejanggalan atas apa yang baru saja ia lihat.
“Benarkah itu Mas Aris?” Ia berusaha memanggil suami dan sahabatnya itu. Namun, sebelum satu pun suara keluar dari tenggorokannya, sebuah panggilan menghentikannya. “Aisyah, tunggu sebentar!” Suara Tante Amira memecah keheningan. Langkah Aisyah terhenti. Meski raut wajahnya tetap terkendali, gejolak di dalam dadanya sulit disembunyikan. Siluet yang tadi terlihat di resepsionis hotel masih melekat kuat dalam ingatannya—Aris dan Riana. “Ada apa, Tante?” tanyanya kemudian, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Kamu masih ingat kan desain yang aku bilang kemarin? Aku ingin melihat beberapa contoh." Tante Amira mempercepat langkah, mencoba mengejar Aisyah yang tampak kaku.“Ya, desain yang floral, bukan?” Aisyah berusaha berkata santai, meski pikirannya melayang jauh. Riana dan Aris. Apa yang mereka lakukan di sini?
“Betul sekali! Oh, dan aku ingin membahas sedikit tentang koleksi baru kamu. Banyak yang bertanya-tanya,” jawab Tante Amira sambil tersenyum.
"Baik, Tante. Nanti setelah makan siang, kita bisa diskusikan lebih lanjut," Aisyah menjawab sambil berusaha fokus pada obrolan yang seharusnya menyenangkan. Namun, bayangan suaminya dan Riana terus menghantuinya.
"Eh, Aisyah. Kenapa kamu tampak gelisah? Kamu tidak biasanya begini." Tante Amira bertanya, curiga.
Aisyah menatap Tante Amira. “Tidak, Tante. Hanya sedikit kelelahan,” bohongnya, meski hatinya berdenyut cepat.
Mereka melanjutkan jalan menuju restoran, tetapi pikirannya terbayang pada apa yang baru terjadi. Aku benar-benar melihat dengan jelas?
“Aisyah, kamu sudah siap untuk koleksi baru bulan depan? Aku berharap kamu bisa memperlihatkan desain yang lebih unik,” Tante Amira berusaha mengalihkan perhatian.
“Iya, Tante. Aku sudah menyiapkan beberapa desain yang unik dan mungkin belum pernah ada,” jawab Aisyah, tapi suaranya terdengar jauh. Dalam batinnya, dia merasa seperti terjebak dalam sebuah labirin ketidakpastian.
“Ada apa sih? Serius deh, kamu kelihatan gelisah, Ais.” Tante Amira mendekat, menilai wajah Aisyah yang kini tampak bimbang.
“Aku, aku hanya... merasa tidak enak badan, Tante. Maaf ya, kalau aku kurang fokus pada Tante.” Suara Aisyah bergetar sepertinya.
“Atau? Kamu ada masalah dengan Aris?” Tante Amira bertanya lebih lanjut, akrabnya membuat Aisyah merasa tidak bisa menyimpan rasa itu sendiri.
“Tidak, tidak ada...” Aisyah menghentikan kalimatnya, teringat kembali pada siluet di resepsionis dan keraguan yang mulai memenuhi pikirannya.
Tante Amira menggenggam tangan Aisyah. “Kamu tahu, komunikasi itu penting dalam sebuah hubungan. Jangan sampai ada yang mengganjal di hatimu.”
“Aku tahu, Tante,” Aisyah menjawab, tapi pikirannya kembali liar. Riana dan Aris? Mengapa mereka ... ?
“Apa kamu yakin tidak ingin membahasnya lebih lanjut?” Tanya Tante Amira.
“Tidak, Tante. Semua baik-baik saja.” Aisyah menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan suasana.
Tiba-tiba, mereka melewati eskalator dan Aisyah tanpa sadar menoleh ke samping. “Riana? Mas Aris,” gumamnya. Dia melihat seorang wanita berambut panjang, berbalik dan berbincang mesra, kebetulan membuat Aisyah mendongak.
“Di mana?” Tante Amira penasaran.
“Eh, nggak, Tan. Mari kita keluar saja,” jawab Aisyah cepat, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
“Mau pesan apa?” Tante Amira memerhatikan menu sambil berusaha menormalkan suasana.
“Kita pesan salad saja ya, Tante?” Aisyah berusaha mengalihkan perhatian.
“Tapi kita sudah membahas tentang steak baru yang mereka tawarkan,” Tante Amira protes sambil tertawa. “Kamu tidak akan kenyang hanya dengan salad.”
“Ya, kita pesan saja salad dan satu steak untuk dibagi,” Aisyah kalah, meski hatinya bergetar. “Tante, kita jangan lama-lama ya?”
“Kenapa Ais? Apakah ada yang mendesak?” Tante Amira menatap Aisyah dengan tajam.
“Ehm. Iya, Tan. Aku jadi gak enak ma Tante. Baru ingat sore nanti ada pelanggan yang akan datang ke butik mengambil pesanan.” Aisyah mencoba mengarang cerita agar terkesan tidak mengada-ada.
Di dalam perutnya, rasa tidak enak membuatnya merasa mual. Aisyah terlihat makin gelisah. Ia bingung harus berbuat apa? Melabraknya? Atau mencari bukti lainnya?
“Mereka berdua ngapain?” tanya Aisyah dalam hati.***
Aisyah berdiri di depan meja resepsionis dengan perasaan campur aduk. Kulit wajahnya terasa hangat karena ketegangan yang meliputi hatinya.
“Maaf, Nona, saya tidak bisa memberikan informasi tentang tamu kami,” tegas petugas resepsionis yang masih terlihat ragu.“Ya, saya mengerti privasi itu penting,” jawab Aisyah, berusaha tenang. “Tapi saya bisa membuktikan bahwa saya istrinya. Saya memiliki buku nikah.”
Petugas itu tetap ragu. “Maaf, Nona, tetapi tanpa izin yang jelas dari tamu, saya tidak bisa—”
“Saya paham, tapi saya istrinya, Mba,” Aisyah hampir berteriak, tetapi segera menahan suaranya.
“Hm…” Petugas itu terlihat berpikir sejenak, menatap layar komputer yang seolah meminta jawabannya. “Tunggu sebentar, saya akan berkonsultasi dengan atasan.”
Aisyah mengangguk dan menunggu dengan gelisah. Jantungnya berdegup kencang. Dia bisa merasakan ketegangan di udara. Tak berapa lama, seorang wanita berambut pendek muncul dari belakang meja resepsionis. Wajahnya serius dan bersegan.
“Ada apa?” tanyanya kepada petugas yang tampak kikuk.
“Nona ini mencari suaminya yang menginap di hotel ini, Bu Rara, tetapi saya tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut,” jawab petugas dengan nada rendah.
“Nama suaminya siapa?” tanya wanita yang dipanggil Bu Rara, setengah terpaksa.
“Ada di sini, Aris Munandar,” ujar Aisyah, sambil berusaha menyembunyikan rasa amarahnya yang tiba-tiba memuncak.
Wanita itu menatap Aisyah lekat-lekat, mencoba mencari tahu apakah ada kebenaran dalam matanya. “Tunggu sebentar, saya perlu meminta izin dari tamu.”
“Maaf, Bu. Tidak perlu meminta izin. Saya istrinya, saya bebas masuk ke kamarnya.” Aisyah akhirnya tersulut emosi karena hatinya benar-benar telah membara. Aris ternyata benar-benar memesan kamar hotel bersama Riana.
“Saya paham situasinya, Mba. Saya hanya tidak ingin terjadi keributan.” Bu Rara yang menyadari ada skandal, segera mengatasi keadaan. “Saya tidak akan buat keributan, Bu. Saya janji.” Aisyah mencoba meyakinkan Bu Rara agar ia benar-benar yakin dan menangkap basah suami dan sahabatnya. Bu Rara menimbang beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Baiklah, saya akan menemani Anda ke kamar Pak Aris. Mohon pengertiannya ya Bu. Karena ini akan menjadi masalah serius dengan hotel kami, kalau sampai terjadi keributan karena permasalahan pribadi,” lanjut Bu Rara. Aisyah mengangguk tanpa ragu. Beberapa saat kemudian, Bu Rara berjalan di depan, sementara Aisyah mengikutinya dengan langkah cepat. Tujuan mereka jelas—lantai dua belas, nomor 1205. Benarkah Aris dan Riana memesan kamar 1205? Apa yang akan dilakukan Aisyah?Gugatan cerai telah resmi didaftarkan. Suasana di apartemen Aldo menjadi sedikit lebih tenang, meskipun ketegangan masih menggantung. Aisyah menghabiskan sore harinya dengan menghubungi manajer butiknya, memastikan operasional tetap berjalan normal tanpa menyinggung masalah pribadinya.Aldo sibuk dengan panggilan dan meeting jarak jauh. Ia memisahkan dirinya di ruang kerja, memberikan Aisyah ruang privasi. Namun, setiap beberapa jam, ia akan keluar untuk memastikan Aisyah baik-baik saja.Menjelang senja, Aisyah duduk di balkon, menikmati pemandangan kota. Aldo bergabung, membawa dua cangkir teh herbal.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aldo, menyerahkan cangkir pada Aisyah.Aisyah menyesap teh hangat itu. “Lega. Tapi juga ... bingung. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seperti ini.”“Tidak ada yang bisa menolak ujian Tuhan,” kata Aldo. “Yang penting, kau sudah mengambil langkah yang benar.”Aisyah menatap Aldo. “Aku masih memikirkan Riana. Aku mengerti jika Aris berkhianat, dia me
Pagi tiba, membawa cahaya terasa yang kejam menembus tirai apartemen Aldo. Aisyah terbangun setelah tidur yang singkat dan gelisah. Peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk, namun rasa perih di hatinya membuktikan semuanya nyata.Ia turun ke ruang tamu. Aldo sudah ada di sana, mengenakan setelan kasual namun tetap rapi, sambil menyesap kopi. Di atas meja, sudah tersedia sarapan yang disiapkan koki pribadinya.“Selamat pagi,” sapa Aldo, nadanya profesional seperti biasa, seolah semalam ia tidak menyelamatkan seorang wanita yang nyaris histeris dari perselingkuhan suaminya.“Pagi, Tuan Aldo,” jawab Aisyah, merasa canggung.“Panggil saja Aldo. Aku akan memanggilmu Aisyah,” koreksi Aldo. “Duduklah. Kita harus bicara serius sebelum Aris berhasil memutarbalikkan fakta.”Aisyah duduk, merasakan perutnya mual. “Aku tidak lapar.”“Setidaknya minum kopimu,” desak Aldo. “Kau butuh energi.”Aisyah menghela napas. “Aku sudah memutuskan. Aku ingin cerai secepatnya. Aku tidak mau sepeser pun dar
Aisyah duduk membeku di sofa apartemen pribadi Aldo Michell. Apartemen itu mewah, dengan pemandangan kota yang memukau di malam hari, namun Aisyah tidak melihat apa-apa. Dunianya terasa kelabu. Ia masih bisa merasakan sentuhan dingin kartu kunci di tangannya, suara tawa Aris dan Riana, serta tatapan dingin Aldo yang mengawasinya.Aldo telah membawanya ke sini, ke apartemen kosong ini. “Untuk malam ini, kau bisa tinggal di sini. Aman dan nyaman. Aku akan membereskan semuanya besok,” katanya dengan suara yang menenangkan namun tegas, seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.Aisyah hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya tempat lain untuk pergi. Rumah itu, yang dulu terasa seperti surga, kini terasa seperti neraka yang dipenuhi kenangan palsu.Aldo membawakan segelas air dan sedikit camilan. Ia duduk beberapa meter dari Aisyah, memberinya ruang. Ia tahu Aisyah sedang terguncang hebat.“Kau tidak perlu bicara jika belum siap,” ujar Aldo, memecah keheningan yang mencekam. “
Aisyah berjalan cepat menyusuri koridor lantai 12, air mata membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak ingin melihat ke belakang, tidak ingin mendengar tangisan Riana atau teriakan panik Aris. Ia hanya ingin keluar dari tempat beracun ini.Saat ia berbelok di tikungan, menuju lift, ia menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh. Seharusnya ia merasakan sakit karena terjatuh, namun badannya serasa ringan seakan melayang tanpa beban seperti beratnya beban yang ia pikirkan. Lalu di mana Aisyah terjatuh? Mengapa justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya?Sosok pria itu tinggi dan gagah, mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang membuatnya tampak sangat berwibawa.Ia adalah Aldo Michell.Aldo, yang baru selesai rapat penting di lantai itu, langsung menangkap tubuh Aisyah yang nyaris terjatuh. Ia spontan mengangkat tubuh ringan Aisyah agar tidak jatuh.“Aisyah?” Suara Aldo dalam dan tegas, namun kali ini terdengar khawatir.Aisyah mendongak di atas kedua tangan Aldo. Matanya y






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.