LOGINAisyah Maharani, pengusaha butik sukses, menjalani pernikahan yang terlihat sempurna dengan Aris Munandar, seorang manajer pemasaran yang tampan. Namun, kebahagiaan itu hancur ketika ia memergoki Aris berselingkuh dengan Riana Anjarwati, sahabat dekatnya sekaligus sekretaris pribadi Aris. Keterpurukan Aisyah membawanya pada pertemuan tak terduga dengan Aldo Michell, adik iparnya yang berwibawa dan berkuasa, yang menawarkan perlindungan dan kenyamanan, menimbulkan dilema cinta dan loyalitas baru di tengah proses perceraian yang penuh drama dan pengkhianatan.
View More“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”Pagi buta, aku sudah terbangun. Kulihat ponsel, pukul 05.30. Belum ada sinar matahari, tapi jantungku sudah berdegup kencang.Hari ini hari yang menentukan.Kubuka aplikasi CCTV. Kamar masih kosong. Armando tidak tidur di kamar semalam. Mungkin di kamar tamu. Atau di mana pun bersama Riana.Kugulir rekaman semalaman. Dan di sana, pukul 02.00 dini hari, aku melihat mereka masuk ke kamar. Riana tertawa kecil, Armando memeluknya dari belakang."Besok, Sayang. Besok kita bebas," bisik Armando di telinganya.Riana menoleh, menciumnya. "Aku enggak sabar, Mas. Capek sembunyi-sembunyi.""Sebentar lagi. Setelah Venita pergi, kita nikah. Semua harta jadi milik kita."Aku mematikan video. Tidak sanggup melihat lebih lama.Ponsel bergetar. Pesan dari nomor misterius."Periksa emailmu. Ada dokumen yang harus kau lihat."Kubuka laptop dengan tangan sedikit gemetar. Siapa pun pengirim pesan ini, ia tahu banyak. Terlalu banyak.Email masuk dari alamat tidak dikenal. Lampirannya berupa scan dokumen-dok
"Apa rencanamu selanjutnya?""Aku akan pulang besok sore. Tapi bukan aku yang akan mengendarai mobil itu." Aku menjelaskan idemu tentang boneka manekin. "Aku butuh kamu menjemputku di tempat tertentu. Setelah mobil itu masuk sungai, aku akan menghilang. Mereka akan mengira aku mati."Aldo menatapku dengan campuran takjub dan khawatir. "Kamu yakin? Ini berbahaya.""Lebih berbahaya jika aku diam saja dan membiarkan mereka membunuhku." Aku menggenggam tanganku sendiri. "Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil semua yang ayah-ibuku wariskan. Perusahaan, butik, semuanya."Aldo terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku akan membantumu. Tapi setelah semua ini, kamu harus berjanji padaku.""Apa itu?""Kamu harus menjaga dirimu. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatanmu sendiri."Aku tersenyum tipis. "Janji."Kami berbicara lebih lama, menyusun detail rencana. Aldo akan menyiapkan boneka manekin yang mirip denganku. Ia juga akan menjemputku di pertigaan sebelum tikungan sun
Dua hari di kampus berjalan lancar. Aku menjadi narasumber seperti biasa, tersenyum, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal pikiranku berkecamuk. Setiap jeda, kutatap ponsel, berharap ada pesan baru dari nomor misterius itu.Sore hari, setelah acara selesai, aku tidak pulang. Aku check in di hotel berbeda, bukan hotel tempat acara. Aku butuh tempat aman untuk berpikir.Pukul tujuh malam, aku turun ke restoran hotel. Perut keroncongan, tapi nafsu makanku hilang. Aku pesan sup dan teh hangat.Tiba-tiba, seseorang berdiri di depan mejaku."Venita?"Aku menoleh. Kaget. Aldo. Adik iparku."Aldo? Kamu... di sini?"Ia tersenyum, duduk tanpa permisi. "Ada meeting dengan rekan bisnis. Hotel ini milik temanku." Ia memanggil pelayan, memesan kopi. "Kamu sendiri? Bukannya ada acara di kampus?"Aku berusaha tenang. "I-iya, udah selesai. Aku cuma... iseng, mau cari inspirasi model butik."Aldo mengernyit. "Cari inspirasi di restoran hotel?""Sambil lihat orang lalu lalang. Kadang fashion in
Satu setengah tahun lalu. Aku masih ingat persis hari itu."Ven, lo harus bantu gue!"Riana datang ke butikku dengan mata sembab. Wajahnya pucat, rambut kusut. Langsung ambruk di sofa ruang tunggu butik."Ada apa, Ri?" Aku duduk di sampingnya, mengusap punggungnya."Gue putus sama Rey, Ven." Isaknya pecah. "Dia mukul gue lagi. Kali ini lebih keras. Gue enggak tahan!"Aku menariknya dalam pelukan. "Sudah, sudah. Jangan nangis. Lo bisa tinggal di rumah gue sementara.""Tapi Ven... gue enggak punya uang. Kerjaan gue cuma model lepas. Enggak cukup buat hidup."Saat itu Riana memang model langganan butikku. Kadang-kadang aku panggil untuk fashion show kecil-kecilan. Wajahnya cantik, badannya proporsional. Tapi di luar itu, hidupnya kacau."Lo mau kerja di sini?" tawarku spontan. "Butik butuh admin. Gajinya lumayan."Mata Riana berbinar. "Sungguh, Ven? Lo mau nerima gue?""Tentu saja. Lo sahabat gue."Riana memelukku erat. "Makasih, Ven! Gue enggak akan lupa kebaikan lo! Gue janji bakal kerj






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.