INICIAR SESIÓNSeperti malam-malam sebelumnya, Bagas mampir ke apartemen Ratu.Kali ini tidak membawa ayam geprek.Ia membawa sup hangat, dua kotak makanan, dan ekspresi curiga begitu melihat Ratu membuka pintu tanpa banyak bicara.“Kamu kenapa?”“Masuk dulu, ada yang mau aku omongin.”Bagas masuk setelah membuka sepatu dan meletakannya di rak dekat pintu.Ratu menuntunnya ke sofa.Televisi sengaja tidak dinyalakan.Makanan bahkan belum dibuka.Ratu menyandarkan kepala pada sofa.Bagas memperhatikan di sebelahnya. Diang menunggu.“Sekarang cerita,” pintanya penasaran.Ratu menatap langit-langit.“Vimala makin drop.”Bagas mendengarkan. “Zyan juga.“Drop?” tanya pria itu kemudian.“Berantakan.”Ratu mengusap wajah.“Setiap meeting dia makin kelihatan enggak tidur. Kadang lagi rapat tiba-tiba istrinya muntah, dia matiin kamera. Habis itu balik lagi.”Bagas mendengarkan.“Tadi aku tanya sekretarisnya.”“Apa katanya?”“Vimala minta cerai.”Bagas mengerutkan kening.“Cerai?” Sua
Author Note : 14 Okt 2026Temen-temen, Author memohon maaf atas kesalahan publish di chapter sebelumnya. Mohon dibaca kembali ya karena sudah author revisi agar alur ceritanya berurutan.*** Hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda.Hanya penampilan Zyandru yang perlahan berubah.Hari pertama—ia masih menggunakan kemeja rapi.Hari kedua—dasi menghilang.Hari ketiga—lengan kemejanya selalu digulung.Hari keempat—ia mengikuti rapat menggunakan sweater tipis karena bahkan tidak sempat mengganti pakaian setelah tertidur di sofa kamar rawat.Hari kelima—Ratu melihat lingkaran hitam semakin jelas di bawah matanya.Dan entah sejak kapan rambut Zyandru yang biasanya selalu tertata mulai terlihat seperti baru berkali-kali disugar menggunakan tangan.Namun suaranya tetap sama.“Enggak. Saya enggak approve.”Commercial Manager terdiam.“Pak, kalau variation order ini ditunda—”“Bukan ditunda. Lengkapi basis perhitungannya.”Zyandru menggeser layar.“Quantity yang dipakai kontraktor
Kepergian Burhan dan Robi dari MG Group seharusnya membuat beban di pundak Zyandru berkurang. Seharusnya. Setidaknya ia tidak lagi harus memikirkan seseorang yang mencoba merebut perusahaan Vimala dari dalam. Tidak ada lagi permainan politik yang setiap saat dapat membuat kewenangannya dibekukan. Tidak ada lagi rapat komisaris darurat yang memaksanya membagi perhatian antara Jakarta dan kamar rumah sakit di Swiss. Namun kehidupan sepertinya belum berniat memberi Zyandru kesempatan untuk bernapas panjang. Karena setelah satu masalah selesai—pekerjaan lain tetap menunggu. Dan yang paling banyak menyita perhatian adalah proyek Integrated Transit & Commercial Development yang sedang dikerjakan MG Group bersama perusahaan tempat Ratu bekerja. Proyek itu terlalu besar untuk dibiarkan berjalan tanpa pengawasan direksi. Apalagi beberapa minggu terakhir terlalu banyak gangguan terjadi. Masalah utility relocation. Perubahan sequencing. Perselisihan commercial. Keterlambatan
“Vimala memang pemilik MG Group.” Ia berhenti. “Dan dia menunjuk saya memimpin perusahaan ini.”Burhan hendak berbicara.Zyandru tidak memberinya kesempatan.“Saya President Director MG Group. Selama mandat saya masih berlaku, saya bertanggung jawab atas operasional, manajemen, perlindungan aset, dan orang-orang yang bekerja di dalamnya sesuai kewenangan perusahaan.”Ia menatap komisaris.“Untuk tindakan yang memerlukan persetujuan organ perusahaan, saya minta persetujuan diberikan sekarang berdasarkan bukti yang sudah diverifikasi Legal dan Internal Audit.”Ketua komisaris mengangguk perlahan.Itulah perbedaannya.Zyandru tidak mengklaim mempunyai kekuasaan tanpa batas hanya karena menjadi Direktur Utama.Ia menggunakan kewenangannya—dan meminta organ perusahaan menjalankan kewenangan mereka.Dengan cara itu, Burhan tidak punya celah prosedural untuk membatalkannya nanti.Zyandru kembali menatap layar.“Saya merekomendasik
Pukul tiga lewat dua belas menit waktu Swiss.Ponsel Zyandru bergetar.Nama Davin muncul di layar.Ia menggeser icon berwarna hijau agar tidak membuat Vimala terjaga.Zyandru keluar kamar sebelum menjawab. “Ya, Vin?”Suara Davin terdengar berbeda. “Dapet, Zyan.”Zyandru langsung sadar sepenuhnya.“Dapet apa?”“Bukan satu.” Davin menarik napas. “Banyak.”Mereka menemukannya bukan dari satu tempat.Justru itulah yang membuat bukti tersebut sulit dibantah.Davin mendapatkan rekaman approval dan perubahan dokumen internal.Davanka menemukan hubungan antara dua perusahaan vendor dengan beneficial owner yang terhubung kepada orang kepercayaan Burhan.Sementara tim yang diminta Arkana melakukan forensic review terhadap transaksi lama menemukan pola pembayaran yang selama bertahun-tahun tersembunyi di antara kontrak konsultasi, reimbursement proyek, dan vendor fee.Salah satunya membawa mereka kembali kepada satu nama.
Malam itu Davin tidak pulang cepat.Pukul sebelas malam Jakarta, lampu ruang kerjanya di MG Group masih menyala.Ia mempunyai satu keuntungan yang tidak dimiliki Burhan.Akses.Bukan akses ilegal.Melainkan akses yang diberikan Direktur Utama untuk melakukan internal review bersama Internal Audit, Legal, dan Corporate Security.Masalahnya, Davin tahu dirinya tidak bisa mempercayai terlalu banyak orang.Karena mereka belum tahu seberapa jauh jaringan Burhan masuk.Ia baru saja membuka satu rangkaian approval lama ketika ponselnya berbunyi.Davanka.Davin segera menjawab.“Malam Pak.”“Vin, tadi siang Zyan telepon gue.”Davin bersandar punggung lega. “Akhirnyaaa.”“Dia bilang lo lagi sendirian ngurus kekacauan MG Group.”“Enggak sendirian banget.” Davin melirik tim yang bersamanya.“Anggap aja sendirian.”Davin tertawa kecil.Davanka Gunadhya tidak banyak berbicara.Sebagai anak pertama ayah Kama dan bunda Arshavina, karakter pria itu berbeda dari Zyandru.Jika Zyand







