LOGINBak bunga dandelion, Renjana Arunika berani meninggalkan tempat yang mengekangnya, tetapi justru terjebak dalam kuasa Ardhana Raksa, pria dingin dan posesif yang perlahan mengubah kebebasannya menjadi cinta. Akankah Renjana Arunika tetap mampu menerbangkan dirinya menuju kebebasan, atau justru memilih berlabuh di sisi Ardhana Raksa?
View MoreSore ini, langit tiba-tiba mendung. Angin berhembus kencang, membuat pepohonan di sekitar rumah bergoyang dan beberapa helai pakaian di jemuran beterbangan.
Arunika yang sedang memasak di dapur segera mematikan kompor. Dia bergegas menuju halaman belakang untuk mengangkat jemuran sebelum hujan turun. Namun, baru saja dia meraih salah satu pakaian, terdengar suara dari arah belakang. “Arun...” Arunika menoleh. Bude Lastri berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya terlihat panik, sementara nafasnya tersengal, entah dari mana dia berlari. “Eh, Bude? Aku harus cepat angkat jemuran sebelum Ibu marah.” Alih-alih menjawab, Bude Lastri justru segera menghampiri dan menarik tangan Arunika. “Ikut Bude sebentar, Run.” “Ada apa, Bude?” Bude Lastri membawa Arunika bersembunyi di balik pagar kayu yang memisahkan kediaman mereka. Setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar, dia menatap Arunika dengan wajah cemas. “Bude ada kabar buruk, tapi kamu harus tetap tenang dan jangan teriak, ya.” Arunika semakin bingung. “Kabar soal apa, Bude?” jantungnya bahkan sudah berdetak cepat sebelum mendengar kabar buruk itu. “Bude Sumi tadi bilang… kalau Ibumu punya rencana jahat setelah acara pertunangan besok malam.” Seperti dugaannya, kabar buruk pasti berkaitan dengan ibu tirinya. “Rencana apa lagi yang dibuat sama Ibu?” “Setelah kamu bertunangan dengan Nara, Ibumu mau menyerahkanmu pada Juragan Satrio, calon mertuamu.” Arunika langsung membelalak. Kaget. Bahkan rasanya kedua kakinya tak memiliki tulang, lemas. “Kenapa Ibu malah mau menyerahkanku pada Juragan Satrio, Bude?” Bude Lastri menghela nafas berat. “Karena Ibumu sedang butuh uang.” “Untuk apa? Bukankah bulan kemarin beliau baru saja menjual sawah.” Harusnya tak ada alasan kekurangan uang. “Damar ditangkap polisi lagi.” Arunika terdiam sejenak. “Bikin ulah lagi.” Kakak tirinya memang biang masalah. Bude Lastri mengangguk. “Kali ini karena ketahuan mengadakan lomba sambung ayam.” “Ya Tuhan...” Arunika mengusap wajahnya. “Terus hubungannya denganku apa?” Pasalnya, ibu tirinya akan menjual sawah atau kebun jika sedang butuh uang. Itu yan dilakukan selama bertahun-tahun... tepatnya setelah Ayah Arunika meninggal. “Ibumu butuh uang untuk membebaskan Damar. Dan menurut kabar yang Bude dengar, Juragan Satrio bersedia membantu.” “Jadi sebagai gantinya, Ibu mau menjualku pada Juragan Satrio?” Aneh, warisan yang ditinggalkan oleh ayah dan bundanya masih banyak, tapi ibu tirinya memilih menjualnya. “Bude, aku gak mau jadi istri kesepuluh.” Arunika dijodohkan dengan Nara dan akan segera melangsungkan pertunangan. Namun, Juragan Satrio, ayah Nara yang terkenal memiliki banyak istri, justru menunjukkan ketertarikan pada calon menantunya sendiri. Juragan Satrio bahkan berniat merebut Arunika untuk dijadikan istri. Masalahnya, Nara tidak memiliki keberanian untuk melawan ayahnya. Jika Juragan Satrio menginginkan Arunika, Nara kemungkinan besar hanya akan memilih diam dan menerima keputusan ayahnya, meskipun perempuan yang seharusnya menjadi calon istrinya direbut begitu saja. “Bude juga gak rela kamu dijadikan selir sama si tua bangka itu,” jawab Bude Lastri. “Makanya Bude datang ke sini. Bude akan bantu kamu kabur dari rumah.” Arunika membeku sesaat. Terlalu beresiko jika kabur, pasti ibunya akan mengadu pada Juragan Satrio. “Bude, aku gak mau kalau Bude ikutan kena masalah kalau bantu aku.” “Arun, dengarkan, Bude. Kalau kamu menolak di jual oleh Ibu tirimu, kamu harus pergi sebelum acara pertunangan besok malam.” “Tapi aku harus pergi ke mana?” keluar dari desa saja sebulan paling banyak dua kali, itupun ke pasar ikut Bude Lastri membeli kain. “Aku takut nyasar.” “Yang penting keluar dulu dari desa ini, Arun.” Arunika menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak antara takut dan lega. Meski bukan saudara kandung… Bude Lastri dan Bude Sumi tulus menyayanginya. “Bude yakin mau membantuku?” “Bude nggak tega lihat kamu dijadikan alat untuk menyelesaikan masalah Damar.” “Kalau Ibu tahu Bude membantuku… beliau bakal gangguin usaha jahit Bude.” “Bude sudah siap menghadapi mak lampir itu jika marah.” Bude Lastri menggenggam tangan Arunika, erat. “Besok malam, akan ada banyak orang yang datang ke rumahmu, kamu sudah tidak punya kesempatan untuk pergi. Jadi kalau kamu ingin menyelamatkan hidupmu, malam ini adalah kesempatan terakhir.”Menu makan malam telah tersaji di atas meja. Semuanya terlihat cantik sekaligus lezat. Raksa bahkan sudah duduk di meja makan sebelum Arunika selesai memasak.Pria itu tidak memberikan alasan, dan Arunika juga tidak berani bertanya. Selain takut pada wajah sang majikan yang menyeramkan sekaligus tampan, dia juga harus fokus membuat hidangan dengan nama-nama yang membuat lidahnya belibet jika harus mengucapkannya.Begitu juga dengan Raka. Pria itu sudah datang karena akan ikut business trip bersama bosnya. Dia menatap takjub hasil karya Arunika.“Aku nggak nyangka kamu bisa membuat semua masakan yang diminta Pak Raksa, Run,” ujar Raka. “Padahal tadi kamu bilang belum pernah melihat makanan itu. Kok bisa membuatnya?”Mendengar ucapan sang asisten, sebelah alis Raksa langsung terangkat. Kalau Arunika belum pernah melihat hidangan itu, berarti dia juga tidak tahu seperti apa rasanya. Lalu… “Kamu bikinnya ngawur?” tanyanya tanpa basa-basi.Arunika mengerucutkan bibir. “Bapak belum mencoban
“Em, Pak … eh, Bapak Raksa mau minum kopi?” tanya Arunika dengan perasaan takut.Namun, dia memaksakan langkahnya mendekati kitchen island yang berantakan. Dengan cepat, dia membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Raksa yang masih memunggunginya. “Bapak …” panggilnya lagi.Raksa menoleh. Mata elangnya menatap tajam ke arah ART barunya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, hanya tatapan datar seperti tembok.“Buatkan saya kopi,” ujarnya.“Iya, Bapak.”Sebenarnya, Raksa terganggu dengan panggilan Bapak. Dia memang seorang duda, tapi rasanya dirinya belum setua itu sampai harus dipanggil Bapak.Lantas, tangannya menunjuk mesin kopi. “Kamu bisa memakai alat ini?”Melihat asal-usul gadis di depannya, Raksa sangat meragukan kemampuan Arunika dalam menggunakan mesin tersebut. Pasalnya, dia sendiri juga tidak tahu cara menggunakan alat itu. “Kalau tidak bisa, buang saja!” perintahnya.“Eh ….”Arunika tersentak kaget. Kepalanya refleks menunduk saat Raksa berjalan mendekatinya, lalu melewati
Seminggu tinggal di Jakarta membuat Arunika perlahan mulai terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar. Suara kendaraan, klakson, dan keramaian yang awalnya membuat kepalanya pusing kini sudah tidak terlalu mengganggunya.Hari ini, Arunika siap memulai kehidupan barunya.Dia sudah berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tepat di depan Ardhana Private Residence, sebuah apartemen eksklusif yang hanya dihuni kalangan tertentu. Gedungnya menjulang tinggi dengan lobby mewah, sistem keamanan ketat, dan akses khusus menuju penthouse.Lila mengantar Arunika sampai ke lobby. Gadis itu mendongak, menatap bangunan megah di hadapannya dengan perasaan gugup.Sulit dipercaya bahwa mulai hari ini, dia akan bekerja di tempat seperti ini. “Sebentar lagi asisten pribadi Tuan Raksa akan menjemputmu.” Lila menepuk pelan tangan sahabatnya. “Setiap akhir pekan kamu dapat jatah libur. Kalau bosan, hubungi saja aku. Nanti aku jemput dan kita keliling Jakarta.”“Iya. Nanti kalau aku sudah terbiasa dengan pekerj
Bus yang ditumpangi Arunika akhirnya berhenti di salah satu terminal bayangan di Jakarta. Satu jam yang lalu, begitu terbangun, Arunika segera meraih ponselnya untuk memeriksa jam. Ternyata, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Lila. Arunika pun segera menghubunginya kembali dan memberitahukan bahwa dirinya tidak jadi naik kereta seperti rencana awal. Meskipun jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, Lila tetap datang menjemput. Bagaimanapun, Arunika baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dan belum mengetahui apapun tentang kota itu. Setelah mengambil tas dari bagasi bus, Arunika baru saja hendak beranjak ketika terdengar suara seseorang memanggilnya. “Arun...” Arunika menoleh. “Lila?” gumamnya ragu. Dia hampir tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu. “Ya ampun, kangen banget aku sama kamu!” Lila langsung menghampiri dan memeluk sahabatnya. “Jauh-jauh datang ke Jakarta malah bikin aku kaget. Makin cantik sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews