登入Perjalanan pulang berlangsung sunyi.
Tak ada suara musik.Tak ada obrolan.Hanya suara mesin mobil.Vimala beberapa kali melirik ke arah Zyandru.“Zyan….”Tak dijawab.“Maaf.”Sunyi.“Aku enggak bermaksud….”Zyandru akhirnya berbicara. “Tahu enggak yang paling lucu?”Vimala menoleh. “Apa?”“Aku terlalu gampang percaya.”Vimala mengernyit. “Maksudnya?”“Aku pikir….” Zyandru tersenyum tipis tanpa menoleh. “Kita bisa mengusahaVimala merasakan berat di bagian perutnya, dia pun membuka mata dan mendapati wajah tampan itu begitu dekat.Wajah tampan yang tampak tenang.Vimala tersenyum, ada rasa syukur menyelinap di hatinya karena memilih Zyandru.Tidak mendatangi para pria Gunadhya yang lain yang belum tentu sebaik Zyandru.Karena tadi malam … mungkin keperawanannya tidak akan selamat jika bukan Zyandru.Dan bisa jadi mereka akan bertengkar hebat berujung pembatalan pernikahan dan Vimala tidak akan mendapatkan apapun.Lantas, dari mana Zyandru tahu kalau dirinya sebenarnya belum siap?Vimala hendak menyentuh rahang Zyandru namun seketika berhenti ketika mendengar suara berat tercetus. “Mau ngapain?” Pria itupun membuka matanya.Menatap Vimala datar.“Mau … bangunin kamu.” Vimala menjawab jujur.Zyandru masih menatapnya Vimala. “Kirain mau aku cium kaya tadi malam.” Pipi Vimala seketika memerah mengingat apa yang Zyandru lakukan padanya tadi malam.Bibir sialan itu telah menikmati tubuhnya. Ah,
“Zyaaann!!!!” Vimala yang sedang mengancingkan piyama dressnya memekik diselingi gelak tawa. Zyandru menggendongnya lalu berlari keluar walk in closet.Dia lantas menjatuhkan Vimala pelan ke atas ranjang hingga tubuh gadis itu memantul didorong pegas dari dalam kasur.Di luar sana, ketika sedang mematikan lampu lantai dua—Tina tersenyum mendengar suara tawa itu dari dalam kamar Vimala.Dia lantas turun ke lantai satu untuk menyelesaikan tugasnya malam ini.Sementara itu di dalam kamar, tawa sepasang pengantin baru itu perlahan mereda, Vimala dan Zyandru berbaring menatap langit-langit kamar.Vimala mulai keringat dingin mengingat ini adalah malam pertamanya.Yang mana itu berarti dia dan Zyandru akan melakukan hubungan suami istri.Tapi Vimala belum siap, bagaimana kalau dia pura-pura sakit perut?Vimala menggeleng pelan, selama ini Zyandru selalu kooperatif dan memberikan yang terbaik untuknya.Tiba-tiba Zyandru bergerak mengubah posisi berbaring miring menghadap Vimala, kep
Lima belas menit kemudian…Mobil sport milik Zyandru berhenti di depan sebuah rumah es krim premium yang masih cukup ramai meski malam mulai larut.Zyandru turun lebih dulu.Ia berjalan memutar membuka pintu untuk Vimala.“Ayo.”Vimala masih tampak lesu tapi ketika melihat papan bertuliskan berbagai rasa es krim favoritnya, matanya sedikit berbinar.“Masih kuat jalan, kan?”“Masih donk.” Dia berusaha terlihat sehat.Zyandru tetap mengulurkan tangan.“Buat apa?” Vimala bertanya.“Pegangan.”“Aku enggak akan jatuh.”“Aku tahu.”“Terus?”“Enggak boleh ya seorang suami menggenggam tangan istrinya?” Vimala mendelik. “Dasar.”Meski begitu, tangannya tetap diletakkan di atas telapak tangan Zyandru.Jari-jari mereka saling menyelip membentuk sebuah genggaman.Diam-diam hati Vimala mulai lega karena Zyandru sudah kembali seperti biasa.Mereka memilih duduk di sudut dekat jendela.Tak lama kem
Perjalanan pulang berlangsung sunyi.Tak ada suara musik.Tak ada obrolan.Hanya suara mesin mobil.Vimala beberapa kali melirik ke arah Zyandru.“Zyan….”Tak dijawab.“Maaf.”Sunyi.“Aku enggak bermaksud….”Zyandru akhirnya berbicara. “Tahu enggak yang paling lucu?”Vimala menoleh. “Apa?”“Aku terlalu gampang percaya.”Vimala mengernyit. “Maksudnya?”“Aku pikir….” Zyandru tersenyum tipis tanpa menoleh. “Kita bisa mengusahakannya bersama tapi ternyata aku salah.”“Zyan….” “Ternyata aku memang cuma alat. Alat buat memenuhi syarat wasiat.”“Enggak begitu ….”“Harusnya aku enggak usah terlibat sejauh ini,” potong Zyandru.Kalimat berikutnya keluar begitu pelan.Namun menghantam dada Vimala. “Harusnya pernikahan ini memang enggak pernah terjadi.”Air mata Vimala langsung jatuh.“Bukan… itu bukan maksud aku… Aku enggak pintar merangkai kata, aku keluarin apa yang ada dalam pikir
Mobil sport berwarna hitam itu melaju mulus membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi cahaya lampu.Vimala beberapa kali mencuri pandang ke arah Zyandru yang sedang fokus menyetir.“Kamu sering makan di restoran yang akan kita datangi ini?” tanya Zyandru.Vimala mengangguk. “Sering.”“Sama siapa?” Zyandru mengerutkan kening.“Sama papa… kami sering ngedate berdua, bisa seminggu sekali atau sebulan sekali atau enam bulan sekali kalau papa sibuk banget… kalau enggak sempet ngedate, papa selalu beliin aku bunga sama ice cream… meski sebenarnya sekretaris junior yang beliin.” Tatapan Vimala menerawang merindukan sang papa.“Kalau dulu waktu masih ada Mama….” Kalimat Vimala menggantung.Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar. “Aku lupa….” Vimala menatap kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan.Vimala lupa, entah karena waktu itu dia masih terlalu kecil ketika sang mama berpulang atau karena memang ingin melupakan sakit hati atas kepergian sang mama.Zyandru meliri
Jam dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.Zyandru yang sejak berjam-jam lalu sudah terbangun menutup laptopnya.Selama Vimala tertidur, ia memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Sesekali pandangannya beralih ke sosok gadis yang masih terlelap di sampingnya.Napasnya teratur, wajahnya jauh lebih tenang sekarang.Pelan-pelan Zyandru menggeser anak rambut yang menutupi pipi Vimala.“Mala….”Tak ada jawaban.“Mala….”“Hmmm….” Vimala hanya menggeliat kecil lalu membalikan badan membelakangi Zyandru.Zyandru tersenyum geli. “Bangun.”“Hm … masih ngantuk ….”“Udah sore tahu.”“Mau tidur lagi….”“Enggak boleh.”“Kenapa iiiih, kamu ikut campur aja ….” Vimala menggerutu.“Oh tentu, aku suami kamu … aku akan selalu ikut campur hidup kamu.”“Eeeemmm ….” Vimala mengerang.“Ayo bangun, kita makan malam.”Kelopak mata Vimala terbuka sedikit. “Aku enggak laper.”“Aku sudah booking restoran.”Butuh beberapa detik sampai otak Vimala benar-ben







