LOGIN"Kakak Ipar! Aku belum siap..." Demi uang kuliah, Elena nekat menjual diri, namun malah terjebak menjadi simpanan rahasia yang harus memuaskan hasrat liar Julian, iparnya sendiri.
View More"Aku tidak menyangka, adik iparku yang tampak polos, ternyata berani menjajakan tubuhnya di atas ranjang pria asing."
Elena tidak pernah membayangkan bahwa langkah kakinya di koridor lantai delapan Hotel Grand Hyatt malam itu akan menuntunnya langsung ke dalam neraka jahanam.
‘Aku pasti bisa!’ gumamnya, dalam hati.
Dengan jemari yang gemetar, ia menempelkan kartu akses pada gagang pintu kamar suite nomor 808.
Klik!
Pintu terbuka perlahan. Memperlihatkan kemewahan kamar yang dibalut cahaya temaram nan sensual.
Elena melangkah masuk dengan ragu, aroma parfum maskulin yang sangat mahali langsung menyergap pernapasannya. Aroma yang sangat familier.
Di dekat jendela kaca besar yang menampilkan city light Jakarta, seorang pria berdiri memunggunginya. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, sedang menggoyangkan gelas berisi wiski.
Saat pria itu berbalik perlahan, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Elena menguap seketika. Tubuhnya membeku.
Julian Wardana. Miliarder berdarah dingin sekaligus kakak iparnya sendiri. Suami dari kakak tirinya, Veronica.
"K-Kak Julian ...?" Suara Elena mencicit, nyaris tenggelam dalam keheningan kamar.
Rasa panik yang luar biasa langsung menyerang kesadarannya. "M-maaf! Aku pasti salah masuk kamar!"
Ia membalikkan badan dengan liar, bersiap mengambil langkah seribu untuk lari dari tempat terkutuk itu.
"Tidak ada yang salah, Elena."
Suara bariton yang berat, dingin, dan tanpa ekspresi itu menghentikan langkah Elena seketika. Sentakan perintah itu laksana rantai kasat mata yang mengikat kakinya di atas lantai.
"Masuk!" perintah Julian sekali lagi. Nada suaranya datar. Namun tak terbantahkan.
"Julian, kumohon, ini salah paham—"
"Aku bilang masuk, Elly Shopia," potong Julian. Matanya yang setajam elang menatap langsung ke arah mata Elena yang dipenuhi ketakutan.
Mendengar nama samaran daringnya disebut dengan begitu lancar oleh bibir Julian, ia merasa jantungnya hampir lepas. Ia merutuki foto-foto seksinya tanpa wajah yang ia pajang di situs terlarang tersebut.
Julian berjalan mendekat dengan langkah santai dan intimidatif. Setiap derap langkah pantofelnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang siap menjatuhkan vonis mati.
"Kenapa? Kamu mendadak ingin lari?" Julian menyeringai sinis, menatap adik iparnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Padahal gaun hitam ketat ini ... sengaja kamu beli untuk memikat klienmu malam ini, bukan?" Dia menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Julian, tolong jangan begini." Air mata Elena mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kenapa?" Julian mencondongkan tubuhnya, mengembuskan napas hangat beraroma alkohol yang memabukkan ke wajah Elena.
"Apa kamu ingin aku menelepon Rico sekarang juga? Menjelaskan padanya secara detail tentang bagaimana putri bungsunya yang malang sedang menjajakan tubuh di hotel bintang lima?"
"Jangan! Aku mohon jangan hubungi Daddy!" tangis Elena pecah.
Ia tahu persis bagaimana watak ayahnya, Rico. Jika sampai hal memalukan ini terdengar oleh sang ayah, ibu tirinya, Betty, pasti akan memanfaatkan momen ini untuk mendepaknya dari silsilah keluarga, selamanya.
"Oke! Katakan padaku!" bentak Julian tiba-tiba, suaranya menggelegar dingin di dalam kamar yang sunyi.
"Kenapa kamu menjual dirimu di situs menjijikkan itu? Apa uang bulanan dari Thorne Group kurang untuk membiayai gaya hidupmu yang tidak tahu diri?!"
"Aku cari uang bukan untuk gaya hidup! Tapi mereka tidak memberiku uang sepeser pun!" pekik Elena frustrasi, meluapkan seluruh rasa sakit yang dipendamnya sendiri.
"Ibu tiriku memotong semua jatah uang kuliahku! Laptopku rusak, dan aku harus membayar biaya pengobatan Nenek di kampung! Jika aku tidak mendapatkan uang, aku akan dikeluarkan dari kampus!"
Pria itu terdiam sesaat. Namun tatapan matanya sama sekali tidak melembut. Ia justru melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga Elena terdesak ke dinding kamar yang dingin.
Satu tangan kekar Julian terangkat. Mencengkeram dagu Elena dengan kuat hingga gadis itu terpaksa mendongak menatap mata abu-abunya yang kejam.
"Sedih sekali," desisnya penuh cemoohan.
"Teman sekampusmu merengek minta dibelikan tas bermerek pada orang tuanya, sedangkan kamu, harus mengangkang di depan pria asing hanya untuk membayar biaya kuliah dan obat nenekmu?"
"Kamu jahat, Kak!" Air mata Elena mengalir deras. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak hingga menjadi debu.
"Aku bisa menjadi sangat baik, Elena," bisik Julian, suaranya mendadak berubah menjadi sensual dan berbahaya.
"Aku punya penawaran untukmu. Aku bersedia menanggung semua masalah keuanganmu, melunasi pengobatan nenekmu, bahkan membelikanmu apa pun yang kamu inginkan di dunia ini. Asalkan .…"
Julian sengaja menjeda kalimatnya. Merapatkan tubuh tegapnya hingga Elena bisa merasakan detak jantung pria itu.
"Asalkan kamu bersedia menjadi simpananku."
Elena membelalakkan matanya, napasnya tercekat. "S-simpanan? Kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu itu suami Kak Vero!"
"Malam ini adalah percobaan," potong Julian. Mengabaikan nama istrinya seolah wanita itu tidak penting.
"Jika tubuhmu ini berhasil memuaskanku malam ini, aku akan menjadi provider tunggal untuk hidupmu."
Ibu jari Julian bergerak mengusap bibir bawah Elena yang bergetar. "Jadi, Elena, apa kamu siap membuktikannya padaku sekarang?"
Baru saja gadis itu hendak membuka mulut untuk menolak, suara dering yang sangat familier tiba-tiba memecah ketegangan di antara mereka.
Layar ponsel Julian yang tergeletak di atas meja menyala terang. Itu adalah panggilan video call dari Veronica.
Pria itu melirik ponselnya sekilas, lalu kembali menatap Elena dengan senyuman iblis yang paling mengerikan yang pernah Elena lihat seumur hidupnya.
Tangan Julian bergerak meraih ponsel tersebut. Jemarinya melayang di atas tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Pilihan ada di tanganmu, adik ipar kesayanganku," bisik Julian dengan nada mengancam yang sangat dingin.
"Tolak tawaranku sekarang, dan aku akan menjawab panggilan video dari kakakmu ini sekarang juga. Biar dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa adiknya yang polos ... sedang berada di kamar hotelku dengan gaun kurang bahan ini."
Satu menit kemudian, mobil pengawal yang akhirnya berhasil lepas dari kemacetan tiba di area drop-off.Salah satu pengawal meloncat keluar. Seketika ia membeku melihat kantong-kantong belanjaan Elena dan tas tangannya tergeletak tak beruan di atas lantai."Sialan! Nona Elena diculik!" keluh pengawal itu panik.Di kantor pusat Wardana Group, Leon meremas ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat. Dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat, ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja Julian tanpa mengetuk pintu."T-Tuan Julian," suara Leon bergetar parau, nyaris tak terdengar.Julian yang sedang memeriksa dokumen di atas mejanya mendongak. Matanya memicing tajam melihat raut wajah asistennya yang berantakan."Ada apa, Leon? Kenapa wajahmu seperti itu?""N-Nona Elena." Leon menelan ludah dengan susah payah."Nona Elena diculik di area lobi mall beberapa menit lalu, Tuan. Anak buah kita, mereka kehilangan jejak mobil pelaku."PRANG!Gelas kristal di tangan Julian hancur berkeping-keping. Pria pe
"Julian, dengarkan aku dulu," bujuk Elena dengan suara seiemut mungkin. "Aku bukan tidak mau dilindungi. Tapi kalau Nenek melihat aku pulang membawa empat orang pria berjas tegap dan diantar mobil mewah, Nenek pasti akan sangat curiga dan ketakutan."Julian terdiam sejenak di ujung telepon, mendengarkan alasan wanitanya."Aku belum siap untuk memberitahu Nenek tentang hubungan kita sekarang," lanjut Elena jujur, nada suaranya berubah lirih dan cemas. "Nenek itu orang tua yang sangat menjunjung tinggi norma. Nenek tahu kalau kamu itu adalah suami dari Veronica, kakak tiriku.”“Kalau dia tahu aku berhubungan denganmu, Nenek bisa serangan jantung."Mendengar kata-kata Elena, Julian menghembuskan napas berat. Raut wajahnya mengeras perlahan, lalu dengan nada suara yang tegas dan dingin, ia meralat ucapan kekasihnya."Mantan suami, Elly," ralat Julian cepat dan tanpa ragu."Aku adalah mantan suami Veronica Thorne. Pernikahan itu sudah resmi diputus, sah oleh pengadilan, kemarin. Jangan p
Seketika itu juga, bisik-bisik di dalam ruangan terhenti. Keheningan yang menusuk menyelimuti atmosfer.Julian tidak menguncapkan salam pembuka yang ramah.Pria itu langsung berjalan menuju kursi kebesarannya di ujung meja. Menarik kursi tersebut, dan duduk dengan posisi menyilangkan kaki yang santai tetapi sangat dominan."Selamat pagi, Para Tuan dan Nyonya yang terhormat," sapa pria itu. Suaranya yang berat memantul dingin di seluruh sudut ruangan."Beberapa hari lalu, ruangan ini sempat sangat bising oleh suara-suara panik yang mempertanyakan kemampuanku dalam memimpin Wardana Group."Beberapa dewan komisaris tampak salah tingkah, membetulkan letak dasi mereka atau menundukkan pandangan, enggan beradu mata dengan bosnya.Julian melempar sebuah remote kontrol ke atas meja. Leon mengambilnya dan menyalakan layar proyektor raksasa di belakangnya.Di sana, terpampang grafik pergerakan saham Wardana Group yang mendadak melonjak tajam dalam kurun waktu 12 jam terakhir. Mencapai angka ter
"Tidakkk! Lepaskan aku! Kalian orang miskin hina, lepaaass!" jerit Veronica.Dia histeris kala cengkeraman tangan-tangan kasar itu mulai merenggut rambutnya. Menyeretnya turun ke atas lantai semen yang dingin.Malam pertama Veronica di dalam sel menjadi awal dari neraka duniawi yang harus ia bayar atas seluruh kesombongan dan kejahatannya.“Jangan! Jangan sakiti dia,” ucap Beatrice. Dia panik melihat anaknya disiksa oleh mereka.Namun mereka tidak mengindahkan ucapannya. Mereka terlalu kesal karena Veronica sangat sombong dan berani menghina mereka.“Kalau kalian tidak berhenti, saya akan teriak!” ancam Beatrice.“Silakan saja! Teriaklah sampai pita suara kamu putus. Tidak akan ada penjaga yang mendengar teriakanmu! Hahaha.” Mereka tertawa puas sambil memberi ‘pelajaran’ pada Veronica.Keesokan harinya, suasana pagi yang tenang itu mendadak terusik saat ponsel milik sang Presdir Wardana Group bergetar di atas meja.Julian yang baru saja selesai mengenakan jam tangan mewahnya menjangka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews