Permainan Berbahaya Kakak Ipar

Permainan Berbahaya Kakak Ipar

last updateDernière mise à jour : 2026-09-23
Par:  Just MommyMis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
13 Notes. 13 commentaires
157Chapitres
50.7KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

"Kakak Ipar! Akh... Jangan sentuh di situ!" Demi uang kuliah, Elena nekat menjual diri, tetapi malah terjebak menjadi simpanan rahasia yang harus memuaskan hasrat liar Julian, iparnya sendiri.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1. Penawaran Dosa Kakak Ipar

"Aku tidak menyangka, adik iparku yang tampak polos, ternyata memiliki harga yang sangat murah di atas ranjang pria asing."

Kalimat itu membuat Elena merasa seperti tengah berada di jurang kematian.

Beberapa menit sebelumnya, gadis itu melangkah di lantai delapan Hotel Grand Hyatt yang terasa bagaikan lorong eksekusi mati.

‘Aku pasti bisa!’ gumamnya, dalam hati.

Dengan jemari yang gemetar, ia menempelkan kartu akses pada gagang pintu kamar suite nomor 808.

Klik!

Pintu terbuka perlahan. Memperlihatkan kemewahan kamar yang dibalut cahaya temaram nan sensual. Elena melangkah masuk dan menutup pintunya dari dalam.

Namun, ia menghentikan langkahnya di area foyer. Aroma oud yang berpadu dengan rempah manis ini, ia kenal betul.

Aroma yang selalu menguar dari pria paling ditakuti di keluarga besar mereka.

Sesosok pria berdiri memunggunginya di dekat kaca besar yang memajang pemandangan city light Jakarta.

Pria itu menggoyangkan gelas wiski di tangannya dengan gerakan tenang dan elegan, sebelum akhirnya berbalik perlahan.

Seluruh pasokan udara Elena menguap seketika. Tubuhnya membeku kaku.

‘K-Kak Julian?’ batin gadis itu. Ia langsung memakai maskernya lagi, berharap Julian belum melihat wajahnya. Kakinya spontan mundur satu langkah.

"M-maaf! Saya salah masuk kamar!"

Ia memutar badan dengan liar, siap mengambil langkah seribu.

"Melangkah satu senti lagi, aku akan menghubungi Rico sekarang juga, Elena Thorne."

Deg!

Suara bariton yang berat, tajam, dan dingin bagaikan belati itu menusuk punggung Elena. Langkahnya terhenti seketika, terkunci oleh intimidasi yang tak memberi celah untuk bernapas.

Ternyata cahaya remang-remang itu tidak mengaburkan pandangan Julian. Pria itu tetap mengenalinya.

"Come in!" perintah pria itu. Tanpa intonasi tinggi. Namun sarat akan ancaman mematikan.

Elena memutar tubuhnya kembali dengan gemetar. Ia berusaha menipu Julian dengan berpura-pura menjadi orang asing.

"M-maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah paham—"

"I said get in, Elly Shopia." Pria itu tidak mudah dibodohi.

Elena terperanjat, matanya terbelalak lebar. Nama samaran daringnya di situs terlarang itu meluncur begitu mulus dan tajam dari bibir kakak iparnya sendiri.

Julian Wardana melangkah mendekat. Seringai sinis terukir di wajah tampannya yang selalu terlihat dingin dan tak tersentuh.

"Why you wanna run away? Bukankah gaun kurang bahan ini sengaja kamu beli untuk memikat klienmu malam ini?" cemooh Julian.

Matanya yang tajam menatap Elena dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sarat akan cemoohan. Ia seperti sedang menilai barang dagangan.

"How much? Berapa tarif untuk tubuh yang selama ini kamu tutupi dengan pakaian lugu itu?"

"Kak, aku mohon, jangan begini." Air mata Elena merembes, membahasi pipinya yang pucat pasi.

Selama ini, Julian adalah sosok yang sangat disegani. Pria itu selalu bersikap dingin, formal, dan berjarak.

Di setiap bertemu di acara keluarga, Julian hampir tak pernah meliriknya atau mengajak bicara. Elena selalu mengira dia adalah pria terhormat yang tidak terjangkau.

Namun malam ini, topeng itu terlepas seluruhnya. Menyisakan sesosok iblis tak berperasaan.

Julian mencondongkan tubuhnya ke depan. Mengembuskan napas hangat beraroma alkohol yang memabukkan ke wajah Elena.

Perlahan, dia melepaskan masker yang menutupi sebagian wajah gadis itu.

"Kenapa wajahmu sepucat itu? Apa kamu kaget karena klien-mu malam ini adalah kakak iparmu sendiri?” tanyanya.

“Atau kamu kecewa karena tidak mendapatkan pria yang tidak kamu harapkan, hem?” sindir pria itu.

"Cukup!" tegas Elena sambil menutupi telinganya.

"Apanya yang cukup?" Julian menaikkan sebelah alisnya, terkekeh sinis dengan nada yang sangat meremehkan.

“Entah bagaimana reaksi Rico jika tahu putri bungsunya sedang menjual diri pada kakaka iparnya sendiri,” ancam pria itu, sambil menyeringai.

Elena panik ketakutan. “Tolong jangan bawa-bawa nama Daddy! Aku mohon,” pintanya, lirih.

"Kamu tahu apa yang paling menggelikan dari semua ini?” tanya pria itu.

“Selama bertahun-tahun kamu berakting menjadi gadis manis, lugu, dan tidak berdaya di rumah keluarga Thorne.

Kamu seolah menjadi korban yang teraniaya oleh Veronica dan Ibu tirimu. Tapi di balik semua kepolosan palsu itu ...."

Julian mendekatkan bibirnya ke telinga Elena, berbisik penuh kecurigaan. "... kamu ternyata tidak lebih dari seorang pelacur yang menjual diri di internet."

Kata-kata menjijikkan itu merobek dada Elena hingga tak berbekas. Rasanya lebih sakit daripada pukulan mana pun yang pernah ia terima dari keluarga tirinya.

Hatinya hancur berkeping-keping.

"Aku bukan pelacur!" pekik Elena, suaranya pecah oleh rasa bersalah yang membakar dada.

“Sudah berapa banyak pria yang kamu layani, hem?” Julian tidak menghiraukan kalimat gadis itu.

"Jangan keterlaluan, Kak! Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku! Jangan menghinaku seolah kamu paling suci di dunia ini!"

"Lalu apa sebutan untuk wanita yang memakai gaun kurang bahan dan menemui pria asing di kamar hotel bintang lima jika bukan pelacur?" tembak Julian tanpa belas kasihan.

"Kamu ingin aku mengasihanimu? Kamu pikir rasa iba akan menutupi fakta bahwa kamu menjual tubuhmu demi uang?"

"Aku cari uang bukan untuk gaya hidup! Tapi mereka tidak memberiku uang sepeser pun!" tangis Elena pecah, seluruh pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Ia memukul dada tegap Julian dengan tangannya yang gemetar. Meluapkan seluruh kekecewaan dan rasa frustrasi yang memuncak.

"Ibu mertuamu memotong semua jatah kuliahku! Beasiswaku sudah dihentikan. Aku harus membayar biaya semester, skripsi dan wisuda yang tidak murah. Laptopku rusak untuk mengerjakan tugas akhir.

Aku juga harus mengirim uang ke kampung untuk biaya pengobatan Nenek dari mendiang ibuku! Aku tidak punya pilihan lain!”

“Jika tidak mendapatkan uang malam ini, aku akan dikeluarkan dari kampus dan nyawa Nenek taruhannya!"

Julian bergeming, tidak bergerak sedikit pun saat tangan kecil Elena memukuli dadanya.

Ia membiarkan gadis itu menangis di depannya, meluapkan penderitaan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.

Namun, alih-alih melunak, tatapan mata pria itu justru semakin kelam dan kejam.

Tangan pria itu bergerak cepat, mencengkeram kedua pergelangan tangan adik iparnya dan menguncinya di atas kepala gadis itu.

Mendorongnya kasar hingga punggung Elena membentur dinding kamar yang dingin.

"Aaargh!" Gadis itu meringis kesakitan.

Julian merapatkan tubuhnya, memotong setiap jarak yang tersisa di antara mereka.

Tangan satunya mencengkeram dagu Elena hingga gadis itu terpaksa mendongak. Menatap langsung ke dalam manik matanya yang dipenuhi ancaman mematikan.

"Menyedihkan," desis pria itu, menatap Elena yang napasnya memburu dan air mata yang terus mengalir deras di pipi mulus itu.

"Cerita tragis yang sangat menyentuh. Kamu pikir aku akan terharu mendengarnya?"

Julian makin menekan cengkeramannya di dagu Elena, menatapnya dengan pandangan paling merendahkan.

"Teman-teman sekampusmu merengek meminta dibelikan tas bermerek atau mobil baru pada orang tua mereka.

Sedangkan kamu, harus mengangkang di bawah tubuh pria asing hanya demi membayar biaya kuliah dan obat nenekmu yang sudah hampir mati itu? Berapa murahnya harga dirimu, Elena?"

"Kamu jahat!" Gadis itu terisak. "Kamu manusia berhati iblis yang pernah aku temui! Kenapa kamu tega sekali padaku?"

"Aku bisa menjadi sangat baik," bisik Julian tiba-tiba.

Nada suaranya mendadak berubah. Kebencian yang tadi menguar kini berganti menjadi intonasi yang sensual, dalam, dan sangat berbahaya.

Ibu jari Julian bergerak perlahan, mengusap bekas air mata di pipi Elena, lalu turun untuk mengusap bibir bawah gadis itu yang bergetar.

"Aku punya penawaran menarik untukmu," sambung pria itu.

Ia menatap bibir merah adik iparnya yang merekah dengan pandangan lapar yang tersembunyi di balik dinginnya tatapan mata itu.

"Aku bersedia menanggung semua masalah keuanganmu.”

“Aku akan melunasi seluruh biaya pengobatan nenekmu di rumah sakit terbaik, membelikanmu laptop tercanggih, melunasi biaya kuliahmu sampai lulus, bahkan membelikan apa pun yang kamu inginkan di dunia ini."

Julian sengaja menjeda kalimatnya. Ia merapatkan tubuh tegapnya lebih dalam.

Mengikis habis sisa udara di antara mereka hingga Elena dapat merasakan detak jantung pria itu yang cepat dan keras, bertolak belakang dengan wajahnya yang tampak tenang.

"Asalkan ...." Julian berbisik di depan bibir Elena, "... kamu bersedia menjadi simpananku."

Gadis itu membelalakkan matanya lebar-lebar. Paru-parunya mendadak berhenti bekerja.

"S-simpanan? Kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu itu suami Kak Vero! Kamu kakak iparku!"

"Malam ini adalah ujianmu," potong Julian dingin, mengabaikan nama istrinya seolah Veronica hanya seonggok sampah yang tak berarti baginya.

"Jika tubuh murahmu ini berhasil memuaskanku malam ini, aku akan menjadi satu-satunya pria yang memberimu makan. Aku akan menjadi pemilik tunggal atas tubuh dan hidupmu."

"Tidak! Aku tidak mau! Biarkan aku pergi!" jerit Elena frustrasi, berusaha memutar tubuhnya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Julian yang bagaikan rantai besi.

Namun, sebelum penolakan Elena terucap lebih keras, sebuah suara dering yang sangat familier tiba-tiba memecah keheningan yang mencekam di dalam kamar tersebut.

Layar ponsel pintar milik Julian yang tergeletak di atas meja di samping mereka menyala terang, memancarkan cahaya biru yang menyilaukan.

Di layarnya, terpampang foto seorang wanita. Panggilan Video dari Veronica Wardana.

Suara getaran itu bagaikan dentang lonceng kematian di telinga Elena. Seluruh tubuhnya mendadak lemas dan kaku seketika.

Tangisnya terhenti, berganti dengan rasa ketakutan yang mengerikan.

Julian melirik ke arah ponselnya sekilas. Ia tidak menunjukkan rasa terkejut, panik, atau bersalah sedikit pun. Wajahnya tetap tenang, dingin, dan mengintimidasi.

Pria itu perlahan melepaskan cengkeramannya di dagu Elena, lalu meraih ponsel tersebut.

Sambil mempertahankan tatapan matanya pada Elena yang terkunci dalam ketakutan, jemari Julian melayang santai tepat di atas tombol hijau untuk menerima panggilan video dari istrinya sendiri.

Senyuman iblis yang paling mengerikan yang pernah Elena lihat seumur hidupnya perlahan terukir di bibir Julian.

"Pilihan ada di tanganmu sekarang, adik iparku sayang," bisik Julian dengan suara bariton yang dingin dan penuh ancaman.

"Tolak tawaranku detik ini juga, dan aku akan menjawab panggilan video dari kakakmu ini sekarang.”

“Biar dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana adiknya yang lugu sedang menjajakan tubuh pada kakak iparnya sendiri."

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

commentairesPlus

Widya Lestari Gea
Widya Lestari Gea
izin promosi ya kak yuk mampir di novel ku Don't Touch Me, Prince! udh tamat kok, jadi bisa baca sampai end
2026-09-20 15:52:27
0
0
Duwy Ayu
Duwy Ayu
cerita nya bagus
2026-09-18 13:32:58
1
0
Misnawati
Misnawati
bagus sekali
2026-09-18 09:23:21
1
0
Ya Ya
Ya Ya
sangat seruuuu
2026-09-17 01:39:40
1
0
Ya Ya
Ya Ya
sangattttt seru ...
2026-09-17 01:39:18
1
0
157
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status