LOGINSatu malam untuk menyelamatkan masa depannya, sebuah perjanjian terlarang dengan pria yang seharusnya tidak pernah disentuhnya. Bagi Elena, menjual diri secara online adalah upaya terakhir untuk membayar biaya kuliahnya setelah ibu tirinya yang kejam memotong uang sakunya. Namun, dunia Elena runtuh ketika pintu kamar hotel mewah terbuka. Pria yang memesannya malam itu adalah Julian Wardana, seorang miliarder dingin sekaligus iparnya sendiri. Alih-alih membiarkannya pergi, Julian memberikan ancaman dan tawaran gelap. Dia akan memenuhi setiap kebutuhan Elena, menjamin bahwa Elena akan menjadi selir eksklusifnya. Di balik pernikahan Julian yang hancur karena pengkhianatan istrinya, Elena terjebak dalam permainan gelora yang penuh adrenalin. Mereka 'berhubungan' di belakang keluarga mereka, menumbuhkan ketergantungan berbahaya. Ketika rasa takut berubah menjadi cinta, dapatkah Julian meruntuhkan tembok dinginnya untuk melindungi iparnya, atau akankah skandal ini menghancurkan mereka berdua?
View MoreMalam itu untuk pertama kalinya Elena akan menemui ‘klien’ di sebuah hotel. Dia terpaksa menjual diri karena tuntutan ekonomi.
Gadis yang masih suci itu sangat gugup ketika memasuki hotel mewah, tempat klien menunggunya. Sebagai seorang gadis, masuk ke hotel merupakan hal tabu baginya. Ia khawatir akan dicap jelek oleh orang yang melihatnya.
Elena sangat gugup ketika melangkah di koridor menuju kamar. Dia melepas masker dan kacamata yang ia kenakan, memasukkannya ke dalam clutch yang ia bawa.
‘Tenang Elene, kamu harus profesional. Jangan sampai klien kecewa,’ batinnya.
Saat berdiri di depan pintu kamar nomor 808 Hotel Grand Hyatt, ia sangat gugup. Takut jika pria yang harus ia layani malam ini adalah pria yang menjijikan.
‘Tidak! Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus bisa!’ Dia berusaha meyakinkan dirinya agar tidak gentar.
Jantung Elena Thorne berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Tangannya yang dingin dan gemetar mere-mas gaun hitam ketat, satu-satunya pakaian paling berani yang pernah ia beli.
Sambil mengembuskan napas, ia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh perantara situs online tempatnya membuka penawaran.
Klik!
Pintu terbuka, memperlihatkan kemewahan kamar suite yang diterangi cahaya temaram. Elena melangkah masuk dengan ragu, aroma parfum maskulin yang mahal dan familier langsung menyergap indra penciumannya.
Di dekat jendela besar yang menampilkan lampu-lampu kota, seorang pria sedang berdiri memunggunginya, sambil menggoyangkan gelas berisi wiski. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memancarkan aura kekuasaan yang dominan.
Saat pria itu berbalik, napas Elena tercekat. Seluruh darahnya rasanya berhenti mengalir untuk beberapa saat.
Julian Wardana. Miliarder dingin sekaligus kakak iparnya sendiri, suami dari kakak tirinya, Veronica.
"K-kak Julian?" Suara Elena mencicit, nyaris tidak terdengar. Rasa panik yang luar biasa langsung menyerangnya.
"M-maaf! A-aku pasti salah masuk kamar,” ucap gadis itu, gugup. Elena membalikkan badan dengan panik, bersiap untuk lari dari tempat yang mendadak terasa seperti neraka itu.
"Tidak ada yang salah, Elena."
Suara bariton yang berat, dingin, dan tanpa ekspresi itu menghentikan langkah Elena seketika. Julian tidak mengejarnya, ia hanya meletakkan gelas wiskinya ke atas meja dengan dentingan pelan yang entah mengapa terdengar begitu mengintimidasi.
"Masuk," perintah Julian, dingin dan tak terbantahkan.
"Julian, kumohon, ini salah paham—"
"Aku bilang masuk, Elly Shopia," potong Julian. Matanya yang setajam elang menatap mata Elena yang ketakutan.
Elena membeku. Nama itu adalah nama samaran yang ia gunakan di situs online. Jika Julian tahu, artinya memang pria itulah yang telah memesannya. 'Mati aku!' gumamnya dalam hati.
Dia meruntukki dirinya sendiri. Mengingat seseksi apa foto yang ia pajang di sana. Sungguh hal itu membuatnya sangat malu.
"Atau besok pagi, Rico akan menerima telepon dariku tentang apa yang dilakukan putri bungsunya di hotel mewah ini untuk menjual diri, dengan pakaian seminim itu,” ancamnya.
Mendengar nama ayahnya disebut, tubuh Elena menegang kaku. Ketakutan mencengkeram dadanya.
Selama ini, hubungannya dengan Rico sudah berada di ambang kehancuran. Ibu tirinya, Betty, selalu mencari cara untuk memfitnah dan menjatuhkannya, membuat ayahnya percaya bahwa ia adalah anak pembawa masalah yang tidak tahu diuntung.
Jika sampai Julian mengadukan hal ini, Rico pasti akan benar-benar membuangnya dan membencinya seumur hidup.
Dengan air mata yang mulai mengenang, Elena perlahan berbalik. Mengabaikan harga dirinya yang hancur, ia menutup pintu di belakangnya dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Julian berjalan mendekat, seolah menikmati setiap jengkal ketakutan yang terpancar dari wajah adik iparnya. Pria bertubuh tinggi yang selama ini terkenal kaku, galak, dan hampir tidak pernah berbicara dengannya itu kini berdiri hanya 50 centi di hadapannya, begitu mendominasi.
"Kenapa kamu menjual dirimu di situs menjijikkan itu, Elena?" tanya Julian langsung. Suaranya terdengar seperti interogasi di ruang sidang.
Gadis itu menunduk, tidak berani menatap mata pria itu. "A-aku … butuh uang."
Julian terkekeh sinis. Suaranya membuat bulu kuduk Elena meremang. "Butuh uang? Apa uang bulanan dari orang tuamu kurang? Setahuku Rico tidak semiskin itu hingga membiarkan putrinya mengemis di ranjang pria asing."
"Mereka tidak memberiku uang sepeser pun!" Kalimat itu lolos begitu saja karena rasa frustrasi yang sudah menumpuk di dadanya. Ia pun meneteskan air mata.
"Ibu tiriku memotong semua jatah uang kuliahku. Laptopku rusak dan aku harus mebayar biaya pengobatan Nenek (dari mendiang ibunya) di kampung. Minggu depan adalah batas akhir pembayaran semesteran serta pengumpulan skripsiku. Obat Nenek juga sudah hampir habis.
Jika aku tidak mendapatkan uang malam ini, aku akan dikeluarkan!"
Julian hanya diam, menatap Elena yang menangis dengan gaun minim yang mengekspos lekuk tubuhnya yang indah. Ada kilat aneh yang melintas di mata dingin sang miliarder.
Julian melangkah maju. Satu tangannya terangkat untuk menyentuh dagu Elena, memaksa gadis muda itu untuk mendongak menatapnya. Ibu jarinya yang besar mengusap air mata di pipinya.
"Kalau begitu, aku punya penawaran untukmu," bisik Julian, suaranya mendalam dan berbahaya.
"Aku bersedia membantu semua masalah keuanganmu. Asalkan … kamu bersedia menjadi simpananku."
Elena membelalakkan matanya, benar-benar syok. "S-simpanan? Tapi, kamu suami Vero!"
Julian tidak menjawab atau membantah hal itu. Ia justru menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Elena hingga napas hangatnya yang beraroma alkohol membakar kulit leher gadis itu.
"Malam ini adalah percobaan," bisik Julian dengan nada sensual yang gelap.
"Jika malam ini kamu berhasil memuaskanku, aku tidak hanya akan membayar tagihanmu. Aku akan menjadi penyedia semua kebutuhan hidupmu. Katakan apa pun yang kamu inginkan di dunia ini, dan aku akan memberikannya secara cuma-cuma."
Tangan Julian perlahan turun dari dagu Elena, meluncur ke leher. Berhenti tepat di atas dadanya yang bergemuruh.
"Jadi, Elena, apa kamu siap membuktikannya padaku malam ini?"
Ancaman Rico bagai petir di siang bolong bagi Elena. Menikah dengan Pak Baskoro, seorang duda tua rekan bisnis ayahnya, sama saja dengan menyerahkan sisa hidupnya ke dalam sangkar besi yang lain."Tapi, Pah! Ini tidak adil!" Elena memprotes dengan suara bergetar, antara panik dan murka. "Aku tidak pernah kelayapan! Aku kuliah, aku—""Cukup, Elena! Papa tidak mau mendengar satu pun kebohongan dari mulutmu lagi!" potong Rico tanpa perasaan.Dia mengibaskan tangannya di udara seolah kata-kata Elena hanyalah angin lalu yang mengganggu pendengarannya. Betty dan Veronica saling melempar senyum penuh kemenangan, menikmati keputusasaan yang tergambar jelas di wajah Elena.Namun, atmosfer hangat yang penuh intimidasi itu mendadak turun drastis hingga ke titik beku. Julian meletakkan garpunya ke piring yang entah mengapa sanggup membungkam seluruh ruangan.Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Menatap Rico dengan sepasang mata yang setajam pisau.Ia tidak suka dengan apa yang baru s
Elena membeku sampai napasnya tercekat. Ia menatap tidak percaya pada pria yang masih mengungkungnya di dalam bilik toilet yang sempit ini.Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang selama ini mengabaikannya dan selalu menatapnya dengan pandangan dingin, mau menawarkan diri untuk membantunya melakukan pembalasan."Kenapa kamu mau membantuku? Bukankah mereka keluargamu juga? Vero adalah istrimu," bisik Elena dengan suara gemetar. Matanya mencari-cari kebohongan di mata iparnya.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menggeretakkan giginya. Di dalam kepalanya, kilasan-kilasan pengkhianatan Veronica bersama pria lain kembali berputar. Membakar amarah yang selama ini ia pendam rapat demi mengumpulkan bukti pengkhianatan itu.Dia tentu tidak akan menceritakan masalah rumah tangganya sekarang. Belum saatnya."Kamu tidak perlu tahu alasannya," jawab Julian dingin, meski tatapannya begitu intens mengunci mata Elena.Pria itu menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka nyar
Julian tersenyum licik. Jemarinya naik, mengusap bibir bawah Elena dengan sensual."Tenang saja, sayang. Nanti malam istriku yang terhormat itu akan pergi ke luar kota untuk urusan bisnis selama tiga hari. Selama dia tidak ada di rumah, kamu yang harus menggantikan posisinya, menemaniku di ranjangku.""Julian, kumohon—""Jangan sampai tidak datang, Elly," potong Julian dengan nada perintah yang tidak dapat ditolak. Ia menatapnya dengan pandangan posesif. "Kamu tahu apa konsekuensinya jika membuatku menunggu."Sebelum Elena sempat memprotes lagi, pria itu menundukkan kepalanya dan mengecup singkat bibirnya. Sebuah kecupan yang dalam dan menuntut, yang langsung membungkam seluruh kata-kata gadis itu.Julian kemudian melepaskan kungkungannya, merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ia pun berjalan kembali menuju ruangan dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.Ia meninggalkan Elena sendirian di kegelapan lorong dengan napas terengah-engah dan bibir yang terasa membara. Setelah mengatur n
Julian melangkah mendekat, berdiri di depan Elena yang masih memalingkan wajah. Ia mengulurkan tangannya, menggunakan jari telunjuknya untuk mengangkat dagu iparnya agar gadis itu menatap matanya."Aku bertanya padamu, Elly Shopia. Paham?" ulang Julian dengan nada mengintimidasi. Dia sengaja menyebutkan nama itu, seolah ingin mengingatkan bahwa gadis itu yang memulai semuanya.Elena menatap mata Julian yang dingin. Di dalam sana, tidak ada lagi kilat gelora liar seperti semalam, yang ada hanya tatapan seorang pebisnis yang sedang memastikan kontraknya berjalan lancar.Gadis itu menelan salivanya, lalu mengangguk pelan. "Paham, Kak."Pria itu melepaskan dagunya. “Satu lagi. Hapus semua datamu di situs menjijikan itu! Aku tidak ingin milikku disentuh pria lain. Selama menjalani perjanjian denganku, tidak boleh ada pria lain yang menyentuhmu.Selain itu, jika sedang berdua, jangan panggil aku ‘Kak’! Aku bukan kakakmu. Panggil namaku saja. Itu terdengar lebih seksi,” bisiknya.Pria itu me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.