เข้าสู่ระบบDi sisi lain…Tawa Ratu pecah bersama tiga orang temannya.“Bagas! Kamu curang!”“Lho, aku yang curang?” Bagas tertawa sambil melepaskan papan skinya. “Yang jatuh tiga kali siapa?”“Aku sengaja,” bela Ratu sambil menjulurkan lidah.“Alasan saja ah kamu.”Mereka baru saja menyelesaikan lintasan terakhir sore itu.Langit mulai berubah jingga.Sinar matahari yang condong ke barat memantul di hamparan salju, membuat seluruh lereng tampak berkilau seperti ditaburi ribuan kristal.Ratu mengembuskan napas panjang.“Capek….”“Tapi puas, kan?” tanya salah satu teman perempuan mereka bernama Lilian.Ratu mengangguk. “Puas banget, makasih ya kalian sudah maksa aku ke sini.”Teman-temannya tersenyum bahagia.Sudah hampir tiga tahun ia tinggal di New York.Beberapa kali mencoba bermain ski.Namun baru kali ini ia benar-benar menikmatinya.“Mungkin karena enggak mikirin tesis lagi,” ujar Bagas.Ratu terkekeh
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai besar kamar chalet.Pantulan sinarnya jatuh tepat di wajah Zyandru.Pria itu perlahan membuka mata.Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.Kepalanya terasa berat.Semalaman ia hampir tidak benar-benar tidur.Bayangan Ratu dan Vimala bergantian memenuhi pikirannya, membuat setiap kali ia memejamkan mata, dadanya justru semakin sesak.Zyandru mengusap wajahnya kasar.“Lelah banget….”Suara itu hanya terdengar di dalam hati.Ia menoleh ke samping.Vimala masih tertidur pulas dengan pipi sedikit memerah karena hangatnya ruangan.Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah.Perempuan itu tampak begitu damai.Zyandru tersenyum tipis.Entah bagaimana caranya, setiap kali melihat Vimala tertidur, pikirannya selalu sedikit lebih tenang.Ia mengingat ocehan istrinya semalam.“Aku mau main ski….”“Aku juga mau cokelat panas….”Sudut bibirnya kembali terangkat. “Bisa-bisanya dia ngelindur.”Pelan-pelan
Pelayan segera datang membawa makanan. Zyandru memesan salmon panggang, sayuran kukus, sup hangat, dan kentang rebus untuk Vimala. Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia memilih menu yang sama. “Kamu enggak bosan makan sehat?” Vimala mengerutkan wajahnya, “Enggak apa-apa, nemenin kamu.” Vimala tersenyum. “Nanti pulang Indonesia aku balas.” “Balas apa?” “Aku masakin.” Zyandru tertawa. “Memang kamu bisa?” “Enggak. Masak mi instan.” “Malaaa….” Zyandru tertawa lebih lepas. Sementara Vimala sudah sibuk membuka galeri foto. “Ini bagus….” “Yang ini juga.” “Yang ini lucu.” Ia terus memperlihatkan satu per satu hasil jepretan Zyandru. “Eh.” “Apa?” “Yang ini bagus banget.” Itu foto mereka berdua. Diambil menggunakan tripod otomatis. Saat itu Zyandru baru ingat membawa tripod setelah mereka berulang kali selfie. Foto itu sangat bagus, berlatar Pegunungan Jungfrau yang berdiri megah. Vimala memandang foto itu cukup lama. “Zyan.” “Hm?” “Boleh enggak
Ketika siang tiba, mereka turun kembali.Sebuah restoran bergaya chalet yang menghadap danau menjadi tujuan berikutnya.Begitu duduk, pelayan menyerahkan buku menu.“Aku ke toilet dulu ya.”Zyandru mengangguk. “Ayo aku temenin.”“Enggak usah, aku tahu letak toiletnya.” Vimala menolak.“Di mana memang?” “Tuuuh … di sana tulisannya segede gaban.” Vimala menunjuk ke sudut ruangan.“Aku anter saja deh, aku takut kamu tiba-tiba pingsan ….” Zyandru memaksa.Vimala menggeleng sambil tersenyum.“Pak Suami….”“Iya istriku?”“Istrimu yang cantik ini cuma ke toilet.”“Sungguh … aku tahu, tapi aku ingin selalu memastikan istriku yang cantik ini aman ….”Vimala terkekeh.“Aku enggak kenapa-kenapa, di sini aman.”Zyandru akhirnya mengangguk. “Ya udah… kalau ada apa-apa kabarin ya?”“Memangnya apa yang akan terjadi? Aku Cuma ke toilet.” Vimala mengesah.“Misalnya kamu pup trus air di tangki toiletnya abis sementara yang mau ke toilet antri, bagaimana?” “Iya juga sih ….” Vimala t
Pagi itu, Interlaken menyambut mereka dengan langit biru tanpa awan hitam.Udara pegunungan masih menyisakan kesejukan khas musim gugur. Embun tipis menyelimuti padang rumput yang luas, sementara sinar matahari perlahan merambat menuruni lereng Alpen, menciptakan warna keemasan yang memantul di permukaan Danau Brienz.Begitu membuka tirai kamar, Vimala langsung terpaku.“Ya Tuhan… indahnya ciptaanMu.”Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru melihat dunia untuk pertama kali.Kabut tipis masih menari di atas danau. Burung-burung camar melintas rendah, sementara beberapa perahu kecil bergerak perlahan membelah air yang sebening kaca.Zyandru yang baru keluar dari kamar mandi mengikuti arah pandang istrinya.“Aku enggak salah ‘kan bawa kamu ke sini?”Vimala mengangguk berkali-kali.“Enggak….”Zyandru mengangkat sebelah alis.“Kamu tepat sekali bawa aku ke sini, pemandanganny cantik … kaya aku.” Vimala memang kadang narsis.Senyum kecil terbit di bibir pria itu. Zyandru t
Restoran resort mulai lengang ketika mereka menyelesaikan makan malam.Sesuai janjinya, Zyandru tidak membiarkan Vimala makan sembarangan.Semangkuk Bircher Muesli menjadi menu pembuka. Campuran oat yang telah direndam semalaman, yoghurt segar, apel parut, irisan stroberi, blueberry, kacang almond, dan sedikit madu tersaji cantik dalam mangkuk keramik putih.Awalnya Vimala memandangnya dengan wajah skeptis.“Ini makanan orang sakit?”“Bukan.”“Terus?”“Makanan orang yang pengin panjang umur.”Vimala mendengkus.“Ternyata rasanya enak juga.”“Makanya.”“Hm… masih enakan nasi padang.”Zyandru terkekeh. “Ya enggak usah dibandingin.”Setelah itu, mereka menikmati ikan trout panggang khas danau Alpen dengan kentang rebus dan sayuran kukus.Tidak terlalu berbumbu.Tidak pedas.Namun justru terasa hangat di perut.Dan sebagai penutup, Zyandru benar-benar memenuhi janjinya.Empat buah Luxemburgerli mun







