MasukEmily, a kind-hearted and determined young woman, takes on the challenge of working as the secretary to the infamous CEO, Richard Cooper. Known for his ruthless and demanding nature, Richard is a force to be reckoned with. But as Emily navigates her new role, she discovers a complex and intriguing man behind the devilish facade. Will she be able to tame the devil, or will he change her forever?
Lihat lebih banyakAku Gita. Nama panjangku Sagita Maira. Aku duduk di bangku SMA kelas XII. Keseharianku hanya ke sekolah, tempat les, bermain dengan ketiga temanku dan menemani kekasihku main basket atau sekedar duduk di taman sekolah, menunggu jam lesnya tiba.
Kisah asmaraku cukup tenang dan damai-damai saja. Karena kebetulan, kekasihku Yoga, yang berasal dari keluarga kaya raya, harus menjalani segala tuntutan orang tuanya yang sangat menjunjung tinggi pendidikan. Bagi mereka, orang sukses itu adalah orang yang berpendidikan tinggi! Jadi, Yoga yang hanya anak tunggal, terpaksa harus membuang waktu masa remajanya di bangku sekolah dan kursus di berbagai tempat bergengsi. Tapi entah kenapa, aku merasa nyaman berhubungan dengan Yoga yang justru jarang memiliki waktu selain bertemu di sekolah. Apa kalian juga pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang yang tidak pernah ada waktu untuk bersama? bahkan mampu bertahan berada dalam hubungan itu sampai lima tahun lamanya tanpa restu orang tua? Itulah yang aku jalani saat ini. Sampai suatu hari, seseorang datang dan menawarkan hatinya padaku. Dia adalah, Andreas Arkadewa, laki-laki sangat tampan yang menjatuhkan pilihannya pada gadis biasa sepertiku. *** "Tapi gue udah punya pacar, Ndre," jawabku pelan. Andreas duduk di sampingku, cowok tampan yang jadi idola cewek-cewek itu, baru saja menyatakan perasaannya. Malam Minggu ini dia nekat datang ke rumah setelah berkali-kali mendapatkan penolakanku. Aku hanya menerimanya di teras, karena tidak ingin memberinya harapan lebih. "Gue tahu kok lo punya pacar. Enggak apa-apa kan kalau gue jujur bilang suka? Kita masih bisa berteman," ujar Andreas. Dia tersenyum manis, menatapku dengan tatapan lembut yang sulit kutepis. Jujur saja, aku tertarik. Aku normal. Semua gadis pasti akan terpesona melihat ketampanannya. Tapi bukan itu masalahnya sekarang, karena jauh dari tempatku berada, Yoga tengah berkutat dengan tugas-tugas les nya dan hati nuraniku mengatakan, aku harus membuat batasan pada laki-laki lain termasuk Andreas. Aku termenung. Tidak habis pikir, apa yang dia lihat dari gadis biasa sepertiku? Keluargaku tidak kaya, tubuhku kurus, dan kulitku sawo matang. Bukan Underestimated pada diri sendiri. Tapi ini fakta! Aku hanyalah seorang gadis dengan berat badan empat puluh lima kilogram dan tinggi seratus 160cm, sangat tidak menarik. Kadang aku merasa cowok-cowok yang mendekatiku hanya sekadar ingin membuktikan tantangan, tanpa benar-benar ingin memiliki. Ibaratnya, 'iseng-iseng berhadiah'. Ya, mungkin saja begitu. "Iya, kita masih bisa berteman," jawabku pendek sambil meliriknya sekilas, lalu kembali menatap pohon rambutan di depan rumah yang daunnya sedikit tertiup hembusan angin malam. "Kenapa? Kayaknya gelisah banget. Enggak usah gugup gitu, takut ketahuan cowok lo ya?" canda Andreas, mencoba mencairkan suasana kaku setelah penolakan halusku. "Yee, siapa yang gugup? Biasa aja, tuh." "Masa? Tapi mukanya merah." "Enggak, ya! Ngaco." Andreas tertawa renyah. Sedetik kemudian, suasana kembali hening. Aku bingung harus bicara apa lagi. Sebenarnya ada rasa tidak enak hati karena baru saja menolak perasaannya. Mungkin kalian bingung kenapa di malam Minggu ini pacarku justru tidak ada di sini. Sebelumnya sudah aku ceritakan kenapa Yoga tidak pernah punya waktu untuk mengajakku jalan atau sekedar makan di Luar. Yoga, berasal dari keluarga ningrat yang disiplin. Kesehariannya hanya sekolah dan les dari pagi sampai malam. Ayahnya yang pengusaha sudah mendaftarkan Yoga di semua tempat les bergengsi karena dia sudah kelas XII dan wajib masuk PTN ternama. Dan satu lagi, jangan pernah berpikir aku mendapat restu dari orang tuanya. Tentu saja tidak. Yoga bahkan dilarang bermain di luar rumah atau berteman dengan perempuan. Namun ajaibnya, hubungan kami sudah berjalan hampir lima tahun sejak kelas VIII, meski hanya bisa bertemu di sekolah. "Hei, kok diam? Enggak nyaman ya ada gue?" Suara Andreas dan sentuhan ringannya di tanganku membuyarkan lamunanku tentang Yoga. "Eh, enggak kok, Ndre. Santai aja," jawabku sambil memaksakan senyum. "Enggak usah senyum, jantung gue berdebar lihatnya." "Dih, gombal!" Lagi-lagi Andreas tertawa. Laki-laki yang tidak satu sekolah denganku ini memang humoris. Walaupun mengambil jurusan IPA, dia selalu punya cerita seru tentang teman-teman gengnya dan punya banyak waktu untuk ngumpul daripada belajar. Bahkan menjadikan rumah 'mantan' sebagai tempat tongkrongan. Ajaibnya, peringkat kelas sebagai juara satu selalu diraihnya. Kurang apa coba? udah ganteng, cerdas pula. Sudah bisa ketebak kan, ada berapa gadis yang sudah berstatus sebagai mantan Andreas Arkadewa. "Besok mau olah raga jalan pagi enggak?" tanyanya tiba-tiba. Membuatku terperanjat. "Aduh, gue enggak bisa. Besok sudah janji sama teman-teman mau lari pagi di GBK." "Kebetulan kalau begitu. Gue antar ya?" "Eng—enggak usah, gue enggak enak sama yang lain." Jawabku spontan seperti orang ketakutan. Andreas menatapku hingga kedua bola matanya membelalak. Sepertinya dia kaget karena aku bisa menolaknya selama ini. "Wah, baru kali ini gue bener-bener ditolak sama cewek." Ucap Andreas tersenyum, "hebat juga cowok lo ya, bisa punya pacar setia kayak lo. Tahan godaan." Tawanya renyah menatapku antara rasa kagum dan sedikit kecewa. "Kalau enggak boleh antar, jemput aja gimana?" Sepertinya laki-laki ini benar-benar menyukaiku, bukan Ge er, tapi sungguh, Andreas pantang menyerah. "Enggak usah, Ndre. Teman-teman gue galak semua, nanti lo takut hehehe... Beneran, enggak apa-apa," aku kembali menolak dengan nada bercanda. "Hmm, oke. Kalau sore gue ajak jalan lagi, capek enggak?" Aku menghela napas menatapnya, "Ya ampun, maksa banget sih, Ndre. Mau ngajak ke mana emang?" tanyaku menyerah. Karena sudah kehabisan alasan untuk menolak, mungkin tidak ada salahnya menerima tawarannya sekali ini. Hitung-hitung menebus rasa bersalah karena menolaknya tadi. Lagipula, Andreas setuju kami hanya berteman, tidak lebih. "Lihat besok aja. Gue ajak naik motor enggak apa-apa, kan?" Aku mengangguk kecil dan tersenyum. Andreas spontan mengacak puncak kepalaku dengan lembut. Membuatku canggung. "Ade, ada telepon! Handphone-nya bunyi terus tuh!" Teriakan Mama dari dalam rumah memecah suasana romantis yang sempat terbentuk sesaat. Tambahan informasi, aku ini adalah anak bungsu, "Ade" itu panggilan sayang orang rumah untukku. "Siapa, Ma?" teriakku dari depan teras, tanpa beranjak dari kursi. 'Apa mungkin Yoga?' tebakku dalam hati, penuh harap. Jantungku yang tidak bisa lagi berdetak tenang ditempatnya, membuatku bergegas masuk kedalam rumah, mengambil ponsel yang kutinggalkan di atas lemari TV. Yoga itu jarang sekali menelepon atau berkirim pesan. Orang tuanya yang otoriter melarangnya menyentuh ponsel di hari sekolah dan les. Dan Sabtu malam ini harusnya dia ada jadwal les bahasa Inggris. Tebakanku benar, aku pun tersenyum melihat nama yang berpendar di layar. Bergegas aku menekan tombol hijau sebelum panggilan berakhir. "Halo, Yoga." "Lagi apa?" Suara Yoga terdengar dingin, tidak ramah seperti biasanya. "Aku lagi—" "Selingkuh?" Mataku melebar sempurna. Tuduhan itu begitu tiba-tiba. Suara dingin Yoga membuatku merinding, seolah-olah dia ada di sini dan melihat Andreas di teras. "Kamu... di mana?" tanyaku hati-hati. "Kenapa? Kaget karena ketahuan selingkuh?" "Bukan gitu—" "Dasar cewek enggak bener. Mulai hari ini kita putus!" Aku terdiam mematung hingga layar ponsel perlahan meredup. Yoga mengakhiri panggilan tanpa memberiku kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan. Bukan hanya kata putus yang membuat air mataku menggenang, tapi tuduhannya yang menyebutku 'cewek enggak bener', cukup melukai hatiku. Yoga tidak pernah bicara sekasar ini padaku. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menghubunginya kembali, tapi sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan tujuanku. Itu dari Yoga. Sebuah foto. Aku membukanya, dan mengerti kenapa Yoga bisa salah paham. Foto itu memperlihatkan Andreas sedang mengusap kepalaku beberapa menit yang lalu. Yoga ada di sini? batinku, mencoba mengedarkan pandangan kearah luar. Aku meneleponnya lagi untuk menjelaskan, tapi ternyata Yoga sudah memblokir nomorku saat itu juga. It was time for dinner, but Emily couldn’t even glance in Richard’s direction without turning bright red. She could still vividly recall how he had nearly seduced her earlier. That devil in a black suit, matching pants, leather shoes, and slicked-back hair was already captivating enough—exhilarating, even. But seeing him with just a towel covering his lower body? That was beyond tempting. Whatever he had been planning, however, was abruptly cut short when Nate called. Emily had to take a deep breath and compose herself before answering. Her brother was just checking in on her, asking how she was doing and what she thought of the Philippines so far. He mentioned wanting to visit the country himself since they both had the same purpose for traveling—to help others. Kindness, it seemed, ran deep in their blood. But when Nate brought up Richard, his tone shifted. He warned her, over and over, not to let him take advantage of her. His words caught Emily so off guard that she fe
The plane landed, and the moment Emily set foot on Philippine soil, she felt refreshed all over her body. It was one of her dream destinations, and even though the weather was hot and humid, she brushed it off because she was enjoying roaming her eyes around and taking in the view. She was even smiling at everyone she met eyes with. The residents were clearly perplexed and stunned, but they warmly returned her smiles, which Emily appreciated so much. "Someone's excited." Alias suddenly showed up beside her, smirking like an idiot. "And someone's fuming mad." Emily glanced over at Richard, who was behind them. His forehead was creased, his lips were thinned, and his jaw was clenched—he seemed like he was about to explode at any moment. Emily bit her lip. Her boss was acting that way because one of the staff on the plane earlier had accidentally spilled juice on Richard's coat. It was an accident, but he had kept cursing to no end, and Emily had to be an anger absorber for
Emily woke up fazed, she thought she's still in her bed at her home. But she realized the situation when she looked around, she's sitting and beside her is Richard driving with a completely straight face. She bit her lower lip, thinking of the best thing to do. 'Why didn't he wake me up? Am I fired now? Just because of sleeping?' Her forehead creased 'nah, that's too absurd,' her attention drew back to the person driving beside her. His side profile is alluring enough so she couldn't take her eyes off him. Those sharp jaws were surely deadly! Emily caught her breath when Richard suddenly gazed in her direction. Seeing Emily awake and taken aback, he raised his brow, "sleep some more, the airport is still far from here. I'll just wake you up once we reach it" She clicked her tounge, wondering what had gotten into her boss–Richard, for him to be this kind and allow her to sleep. It's been two minutes but Richard still feels the stare coming from his passenger, Emily's not even bl
Emily was shaking inwardly, her thoughts were consuming her as she ate cup noodles with her younger brother. "Earth to Emily," Nate, her brother, who was lying on the ground, partially leaning on the wall, caught her attention."Y-yes?" He blinked at her. "I was talking for ten minutes straight, and you haven't heard a thing?" Nate was looking at her knowingly. "What's bothering you, sis, hmm?" He leaned forward, his eyes filled with concern.If she were to describe her brother, she'd say adorable. Nate was already eighteen years old and he's one of those popular boys at school, not only because of his looks but also because of his charm and intelligence. But in front of her – his sister – he was a baby. He was pouting at her for not answering his question."Tell me, are you having a hard time at work? Did anyone bully you?" He suddenly turned serious, so Emily poked his cheek. "As if anyone can bully me." Nate nodded in agreement, "True," then he whispered, "because I'll punch th
"In the opitive world of billionaires, where wealth and power reign supreme, one man stood at the pinnacle of success—Richard Beaufort Cooper, the enigmatic and ruthless CEO of Cooper Corporation." Edward read the introduction of the article written about his grandson, who was sitting in front of
It's been three days since Emily started working under the CEO, Richard Beaufort Cooper.That fact alone was astonishing for Richard. Not just because it has been three days, but because Emily really stood her ground when she said she's a hardworking, passionate, creative, and flexible individual.
Emily is just a simple girl–to be exact, she's rather plain. Plain annoying, plain energetic, plain confident, plain pretty, and plain kind. The truth? She's a person walking on eggshells every single day. If you see her personally, you'll definitely fall for her beauty, but once you get to know h












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan