MasukDi dalam lift, suara Leon masih menggantung.“Hal lain seperti apa yang kita lakukan biasanya, Rosella.”Rosella menelan saliva kasar, hal yang biasa dilakukan? Tapi tidak di kantor, bagaimana kalau ada yang masuk, dan melihat mereka sedang enak-enak? Pintu lift sudah terbuka, Rosella masih saja memikirkan ucapan Leon. TukLeon menjatuhkan jari telunjuknya ke dahi Rosella. "Sudah, ayo keluar."Leon melangkah duluan, Rosella mengikuti dengan langkah yang sedikit lebar. Setelah masuk ke dalam ruang CEO, Rosella diminta duduk di sofa. “Baik Tuan.” Dia mengeluarkan bukunya, sementara Leon di mejanya, membuka laptop. Tangannya bergerak membuka berkas satu per satu dengan gerakan yang sangat terbiasa.Rosella meniatkan diri membaca tapi matanya tidak kooperatif.Leon dengan setelan jas abu-abunya sungguh mempesona ditambah sikap profesionalnya. Kalau seperti ini Leon sangat tampan dan menawan. Rosella menyadari arah pikirannya dan langsung menggeleng keras."Jangan berpikiran mesu
Malam itu Leon duduk di meja kerjanya dengan layar laptop terbuka dan satu ide yang semakin terasa masuk akal semakin lama dia pikirkan.Dia mengetik pesan, membacanya sekali, lalu mengirimkannya ke pihak kampus.Pemberitahuan resmi, mahasiswa libur dua hari mulai besok. Ditandatangani atas nama Toretto Group selaku pemilik dan donatur utama kampus.Leon menutup laptopnya."Bagus." Gumamnya sendiri. "Kamu memang brilian, Leon." Pemberitahuan itu masuk ke sistem kampus malam itu juga.Bagian administrasi membacanya dua kali, menghubungi satu sama lain lewat pesan singkat sampai tengah malam, dan tidak ada satupun dari mereka yang berani mempertanyakannya ke pihak pengirim.Nama Toretto cukup untuk menutup semua pertanyaan, yang membingungkan hanya satu hal. Mahasiswa libur, tapi staf, dosen, dan seluruh karyawan kampus tetap masuk seperti biasa.Pemberitahuan yang sangat spesifik untuk sesuatu yang disebut libur.Pagi berikutnya di meja makan, Adrian meletakkan ponselnya dengan sediki
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang dikatakan. Rosella duduk di kursi penumpang dengan pipi yang masih hangat, menatap jendela sambil menyembunyikan senyumnya dari tadi. Lucas mengemudi dengan satu tangan, tangan yang satu menggenggam tangan Rosella di atas konsol tengah, jemarinya tidak melepas sekalipun.Sesekali Rosella melirik Lucas, sesekali Lucas menoleh duluan sebelum Rosella sempat berpaling.Keduanya tertawa kecil tanpa tahu siapa yang mulai."Ini sangat gila Lucas." Rosella menggeleng pelan."Sangat." Lucas setuju. Keduanya senyum-senyum sendiri, bunga-bunga cinta telah bertahta di hati mereka masing-masing. Lampu mansion menyala ketika mereka tiba.Begitu mereka keluar dari tangga menuju balkon dalam lantai atas, dua siluet sudah berdiri di sana.Leon dengan tangan disilang.Adrian dengan satu bahu bersandar di tiang. "Dari mana saja kalian." Suara Leon keluar lebih dulu, bariton yang langsung memenuhi ruangan. "Kenapa baru pulang."Bukan pertanyaan, lebih ke pe
Lucas menatap wajah Rosella yang menatapnya antusias. "Benar, makanya aku membawa kamu ke sini." Jawab Lucas. Pria itu menatapnya dengan cara yang berbeda dari cara dia biasa menatap berkas pasien atau layar komputer di ruangannya tadi. Lebih terbuka, lebih tanpa penjagaan."Benar, kamu mau menjadi pasanganku?" Tanya Lucas pelan. "Lupakan Leon dan Adrian, Rosella."Suasana menjadi hening, hanya suara angin dan desiran air danau tenang yang terdengar. Rosella menatap Lucas beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya ke air di bawah jembatan.Sebenarnya dia mau, stu pasangan, hidup yang lebih sederhana, tidak perlu membagi diri ke tiga arah sekaligus tapi untuk saat ini itu tidak mungkin."Kita bicarakan nanti saja ya, Tuan." Katanya akhirnya. "Tuan Adrian dan Tuan Leon pasti tidak akan melepaskan saya."Lucas tertawa, bukan tawa kecil, lebih dari itu, tawa yang keluar karena dia tahu betul Rosella tidak salah.Leon saja dari tadi malam tidak bisa menyembunyikan ketidakrelaan yang dike
Setelah mereka masuk, Lucas melepas pakaiannya membuat Rosella menelan saliva kasar melihat perut otot Lucas yang seperti roti sobek. Lucas tersenyum melihat ekspresi Rosella. “Sayang bukankah kamu sudah sering melihatnya?” Tangan pria itu mengambil tangan Rosella lalu meletakkan di otot perutnya. “Tuan.” Bisik Rosella. “Iya Sayang.” Sahut Lucas. Lucas membawa Rosella ke tempat tidur, sebelum lanjut ke adegan panas, Lucas memberikan penawaran. “Kamu atau aku yang diatas?”Wajah Rosella memerah, bagaimana Lucas bisa berucap seperti itu. “Terserah Tuan.” Sahut Rosella. Akhirnya Lucas berbaring dan meminta Rosella yang diatas. Mereka menikmati malam tanpa terburu-buru, sentuhan, ciuman, gesekan, lumatan, desahan maupun erangan menjadi bagian kamar itu. Jauh kemudian, ketika semuanya sudah selesai dan Rosella berbaring dengan nafas yang terengah.“Terimakasih Sayang, kamu luar biasa.” Puja puji keluar di sela nafasnya yang memburu. "Oh ya Rosella bagaimana kalau besok ikut aku.
Hari itu Adrian keluar kampus lebih awal dari biasanya.Mobil hitamnya sudah tidak terlihat di area parkir sejak jam pertama selesai.Robin memperhatikan itu dari jendela kantornya, dan dia tersenyum. Dia menunggu sampai jam istirahat, lalu keluar dan mencari satu orang yang sedang berjalan sendirian menuju kantin."Rosella."Gadis itu berhenti, menoleh, dan begitu melihat Robin ekspresinya langsung berubah menjadi sesuatu yang susah didefinisikan antara sungkan dan tidak nyaman."Pak Robin.""Sebentar saja." Robin berjalan mendekat. "Ikut ke kantor." Pintanya. "Pak." Rosella memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Pak mengertilah, saya tidak bisa bicara berdua dengan Bapak. Ada yang tidak suka.""Aku tahu." Robin tidak menghindar dari kenyataan itu. "Tapi Adrian tidak ada hari ini."Rosella terdiam, apa benar Adrian tidak ada? Kalau tiba-tiba muncul bagaimana? "Rosella." Suara Robin membuyarkan lamunannya. Pria itu menatapnya lekat, di matanya ada sesuatu, "Aku mohon."Rosella me
Malam itu Rosella tidur lebih nyenyak dari yang dibayangkan.Tidak ada mimpi, tidak ada air mata, hanya gelap yang tenang dan nafas Lucas yang teratur di sisi kepalanya, menjadi irama yang tanpa dia sadari menenangkan sesuatu yang tadi masih kacau di dalam dadanya.Tok…Tok…Tok…Suara ketukan itu da
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n
Di kamar mandi, Adrian berdiri di bawah shower dengan air dingin mengalir membasahi tubuhnya.Pikirannya tidak pada air dingin ini tapi melayang pada Rosella.Di tengah kesulitan menjadi budak tapi Rosella masih ingin belajar, dan matanya sangat berbinar melihat buku dan Adrian tersenyum tipis meli







