LOGINDari wanita polos berubah menjadi liar setelah mendapatkan sentuhan-sentuhan Tuan Muda. Meski terpaksa tapi tubuhnya berkata lain, bahkan berkhianat ketika mendapatkan sentuhan itu. Tuan Lucas, Adrian, Leon, menginginkannya secara bergantian, dan mereka seolah tak menginginkan wanita lain. Hingga suatu ketika para Tuan Muda, ingin memiliki Rosella seutuhnya untuk diri mereka sendiri. Tuan Muda manakah yang akan Rosella pilih? Ataukah dia ingin memiliki ketiganya?
View More“Turun, Rosella!” titah pria paruh baya sambil menarik tangan putri tirinya, memaksanya keluar dari mobil dengan kasar.
Rosella mempertahankan tubuhnya agar tidak keluar. “Aku tidak mau!” berontaknya, berusaha melepas cengkraman ayah tirinya. “Kita sudah sampai, kamu harus turun!” Teriaknya. “Katanya mau beli obat kenapa malah mengajak aku disini!” Rosella tetap kekeh dengan tubuhnya, dia tidak mau turun. Namun, tenaga Marcus jauh lebih kuat sehingga mampu menyeretnya keluar. Rosella memekik tertahan. Dia tidak tahu, setelah menginjakkan kaki di mansion mewah itu, dia harus melupakan segalanya, termasuk ibu dan masa depannya. Marcus berbicara pada seorang yang seumuran dengannya, lalu dia melenggang pergi meninggalkan Rosella tanpa berkata apa-apa. “Ayah, tunggu! Jangan tinggalkan aku!” Rosella segera mengejar pria itu, namun para pria berpakaian serba hitam segera menghalanginya. Dia meronta bahkan melakukan perlawanan. Tapi apalah daya, dia hanya gadis kecil yang tidak cukup kuat untuk menyaingi tenaga para bodyguard itu. “Menurutlah. Jangan melakukan hal yang sia-sia, semua pelayan yang telah masuk mansion itu tidak ada yang bisa keluar lagi.” Deg! Apa maksudnya? Kepala pelayan meminta Rosella untuk menurut, mengingatkan bahwa dia telah dijual. Saat ini, Rosella sudah menjadi milik keluarga Toretto. Dengan hati perih, Rosella merosot ke bawah, tangannya mengepal kuat. Dia tak menduga kalau Marcus benar-benar tega menjual dirinya. “Tapi ibuku sakit, aku juga masih kuliah. Tolong lepaskan aku.” Dia menangis memohon belas kasihan pria paruh baya itu. “Bukan urusan kami.” Sekeras apapun dia menangis, nyatanya tidak merubah keadaan. Ia diminta untuk ikut masuk ke dalam mansion. “Kamu sekarang jadi pelayan di sini, jadi jaga baik-baik sikapmu atau terima konsekuensinya,” ancam pria itu, membuat tubuh Rosella semakin menciut. Kepala pelayan itu menunjukkan kamar Rosella, kamar kecil di ujung koridor yang hanya ada single bed dan meja saja. Semalaman Rosella menangis memikirkan nasibnya yang buruk, hingga dia jatuh terlelap. Esok harinya, Rosella dibangunkan pagi sekali. Semua pelayan juga sudah bangun dan memakai seragam mereka. Rosella mendapatkan pekerjaan membersihkan halaman. Tentu dia sangat senang, siapa tahu ada celah untuk kabur. Tapi harapannya pupus sudah, meskipun masih pagi buta, nyatanya sudah banyak orang berpakaian serba hitam yang berjaga di seluruh sudut mansion. “Bahkan istana raja tidak seperti ini.” Rosella menghela nafas, niat kabur yang menggebu menguap entah ke mana. Dia merasa begitu putus asa. Tak terasa air matanya merembes keluar. Dia rindu ibunya. Dia ingin pulang dan kuliah. Siang itu semua pelayanan istirahat, sementara kepala pelayan mengecek satu persatu pekerjaan semua pelayan. Sama seperti sebelumnya, rumah sudah bersih, lantai berkilau tanaman di taman dipangkas rapi tapi masih banyak daun yang masih berserakan. “Siapa yang membersihkan halaman depan?” Semua pelayan menunjuk Rosella, dan kepala pelayan menasehati Rosella agar sungguh-sungguh dalam bekerja. Dia juga menjelaskan kalau pemilik mansion tidak suka ada yang kotor. Dari penjelasan kepala pelayan, Rosella justru memiliki ide agar dia didepak dari mansion ini. “Sepertinya bekerja seenaknya akan membuat aku didepak dari sini.” Wanita itu tersenyum lepas, senyum pertama dari semalam. …. Baru seminggu Rosella menjadi pelayan di rumah itu, tapi dia sudah berkali-kali membuat kesalahan. Pelayan lain mengingatkan Rosella agar bekerja dengan baik, tapi Rosella hanya tersenyum sebab semua itu sengaja. Pagi itu, Rosella diminta membantu koki di dapur. Ketika melihat ada bahan makanan yang habis, Rosella berpikir kalau dia bisa belanja keluar. “Biar aku saja yang membeli bahan makanan yang habis, aku bisa menyetir.” Dengan antusias dia menawarkan diri, tapi kepala pelayan bilang kalau akan ada orang supermarket yang datang untuk stok bahan-bahan mereka. Jawaban itu membuat Rosella bungkam, harapannya kembali terkikis. Sepertinya mansion ini adalah penjara yang berkedok rumah mewah. Kemudian kepala pelayan memerintahkan dia membersihkan tangga. Saat asik bersih-bersih, tiba-tiba semua pelayan berlari dan semuanya berbaris rapi. Rosella menjadi heran, apa ada upacara di mansion itu? Ketika menoleh lagi, alangkah terkejutnya dia melihat tiga pria dewasa masuk. Mereka tampak begitu gagah, dengan wajah aristokrat yang membuat siapapun sulit berpaling, termasuk Rosella. Gadis itu terpana sambil memegangi sapu, sepasang matanya masih mengikuti setiap gerakan ketiga pria tampan itu. Teguran dari salah satu pelayan membuyarkan lamunan Rosella, dia segera menunduk seperti yang dilakukan semua pelayan. Ketiga pria itu melewati Rosella yang berdiri di ujung tangga, tatapan mereka tajam, membuat Rosella yang menunduk dapat merasakan aura dinginnya. Perlahan dia menaikkan kepalanya tepat saat salah satu dari mereka menatap langsung ke arahnya. Deg! Hati Rosella mencelos, buru-buru dia menunduk, tak tahu kenapa tubuhnya bergetar hebat. Takut atau kagum? Entahlah, yang jelas setelah ketiga pria itu berlalu, dia masih saja deg-degan. “Rosella,” panggil kepala pelayan. “Ada apa, Pak?” tanyanya. “Saatnya bekerja, jangan melamun terus.” Sebelum kembali bekerja, Rosella mendapatkan wejangan tentang peraturan mansion. Jika para Tuan Muda datang, mereka semua harus berbaris untuk menyambut. Tidak ada yang boleh menaikkan kepala, semua harus menunduk. Mendengar itu, Rosella hanya bisa menghela nafas. Apa memang begini aturan keluarga kaya? Meskipun hatinya protes hebat, tapi dia tetap mengangguk. “Baik. Lain kali saya akan menunduk setiap ada para Tuan Muda,” cicitnya pelan. Karena para Tuan Muda sudah kembali dari liburan, kini saatnya para pelayan bekerja keras. Memastikan kamar para Tuan Muda harus bersih, sprei harus diganti setiap hari. Kamar mandi juga harus disikat dua kali sehari. Hingga malam Rosella masih bekerja, kepala pelayan benar-benar mengawasinya, menegur ketika dia berbuat kesalahan. Dia yang baru selesai menyikat kamar mandi para Tuan Muda, tanpa sadar duduk di sofa yang ada di balkon atas sambil memukul-mukul bahunya karena lelah. “Siapa yang mengizinkan kamu duduk di sofa kami?” Suara bariton salah satu Tuan Muda—Adrian—menggema, membuat Rosella segera bangkit. “Ma-maaf Tuan. Saya lelah, ja-jadi numpang duduk sebentar.” Buru-buru Rosella membersihkan sofa itu dengan tangannya, meski sebenarnya sofa itu juga tidak kotor. “Bekasmu masih ada!” ujar Adrian lagi. “Maafkan saya, Tuan,” pinta Rosella dengan tubuh gemetar. Dia tidak menduga hal ini akan membuat majikannya itu naik pitam. Mendengar ada keributan di lantai atas, kepala pelayan segera naik. Alangkah terkejutnya dia melihat Rosella di sana. Kepala pelayan sangat was-was mengingat Rosella selama ini terlalu banyak membuat kesalahan. “Maaf Tuan Muda, ada apa?” tanya kepala pelayan was-was. Selama ini jarang ada pelayan yang terlibat perbincangan dengan para Tuan Muda, karena memang para Tuan Muda enggan berbicara dengan pelayan. “Tidak ada apa-apa, suruh pelayan itu istirahat.” Suara lain terdengar. Dia adalah Lucas, Tuan Muda ketiga. Rosella terperangah, menatap Lucas dengan tatapan tak percaya. Wajah pria itu tampak tenang, tatapannya juga biasa. Sangat berbeda dengan tatapan kedua saudaranya yang tajam. Belum sempat Rosella mengucapkan terima kasih, suara bariton yang dalam lebih dulu menyela, “Malam ini juga ganti sofanya dengan yang baru!” Hah? Tatapan Rosella berganti ke Leon, Tuan Muda pertama. Pria itu tampak berdiri tegap, bahunya yang lebar serta tatapannya yang tajam membuat aura dominasinya begitu kuat. ‘Apa? Hanya karena tidak sengaja aku duduki, sofanya langsung diganti?!’Rosella tidur lebih nyenyak di ranjang Leon yang besar itu.Kasur ukuran super king, berbahan latex seharga mobil. Tidak ada mimpi, tidak ada suara, hanya gelap yang tenang sampai cahaya pagi masuk dari celah tirai tebal kamar Leon.Dia membuka mata, menatap langit-langit yang lebih tinggi dari kamarnya sendiri, dan butuh dua detik untuk mengingat di mana dia berada.Rosella duduk, melihat ke sisi ranjang yang kosong, Leon belum kembali.Di meja makan pagi itu Leon tidak ada di kursinya, Rosella duduk dengan teh di tangan, menatap kursi kosong Leon dengan perasaan yang terus berputar di dadanya. "Kak Leon harus keluar kota." Lucas muncul dari arah tangga, sudah rapi dengan kemejanya. "Tadi malam pertemuan dengan klien Edinburgh memutuskan ada kunjungan langsung ke site proyek, dia tidak sempat kasih kabar.” Rosella mengangguk, melepaskan nafas yang ternyata sudah ditahan."Kapan pulang?""Dua hari lagi." Lucas menarik kursinya lalu mengambil cangkir kopi. "Mungkin tiga hari."Rosel
Makan malam di mansion berjalan seperti biasa, Tapi tidak dengan Leon, dia duduk di kepala meja dengan ekspresi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, ada sesuatu di sudut bibirnya yang naik turun tanpa alasan yang jelas, matanya sesekali melirik ke arah Rosella yang duduk di kursinya dengan sangat tenang.Adrian mengangkat matanya dari piringnya, menatap Leon sebentar, lalu kembali makan.Lucas yang duduk di sisi lain melihat ke Leon, lalu ke Adrian, lalu ke Rosella, lalu kembali ke sup di hadapannya dengan ekspresi yang tidak berkata apapun.Sendok Leon berhenti di udara saat dia mengingat sesuatu dan senyum itu muncul lagi tanpa bisa dikontrol."Kak Leon kenapa?" Lucas bersuara akhirnya.Leon mengedipkan matanya, kembali ke makanannya. "Tidak apa-apa."Adrian menyesap kopinya, menatap kakaknya dari atas cangkir dengan cara seseorang yang sudah membaca situasi tapi memilih menyimpan bacaannya sendiri.Rosella makan dengan tenang, tidak menoleh ke arah Leon satu kali pun, tapi teli
Mobil mewah milik Leon Toretto itu meluncur membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Di dalam kabin, Rosella duduk terpaku sambil menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Dia tidak berani melirik pria yang duduk di sampingnya dengan aura yang sangat mengintimidasi."Kenapa diam saja?" Leon bersuara dengan nada dingin yang menggetarkan udara di dalam mobil."Saya lelah, Tuan." Jawab Rosella. Suasana menjadi hening, hingga pertanyaan Rosella mencuat. “Tuan katanya minggu depan Anda datang ke kampus lagi, apa iya?” Leon mengangguk, “Kamu tahu?” “Kabar burung lagi, anda ngapain ke kampus Tuan?” Tanya Rosella. Sebenarnya tujuan Leon ke kampus tentu ingin bertemu dengan Rosella, ingin memantau kebun anak pertanian adalah hanya alasan saja. Leon membawa Rosella ke dalam dekapannya, dia mengecup pucuk kepala budaknya itu dengan lembut. “Aku adalah salah pemilik kampus itu, jadi wajar kalau datang memantau yang bisa dipantau.” Jawabnya. Rosella tersenyum, dia hampir s
Ane terus memuji Rosella, wanita itu sungguh iri dengan nasib mujur sahabatnya. “Oh Rosella.” Ujarnya sambil tersenyum senang. “Kamu bahagia sekali sih Ane.” Protes Rosella. “Jelas dong, aku bahagia buat kamu Rose, kamu benar-benar wanita paling beruntung di seluruh Inggris." Ane berbisik dengan nada yang sangat antusias.“Toretto, siapa yang tidak mau.” Lanjutnya. Rosella hanya bisa menarik sudut bibirnya dengan canggung. Dia menyesap teh melati hangatnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering seketika. Andaikan Ane tahu apa yang dia alami. Huft. "Tidak seperti yang kamu bayangkan, Ane." Rosella akhirnya bersuara pelan."Jangan merendah begitu, Rose." Ane memotong dengan cepat. "Toretto adalah keluarga terkaya, Pak Adrian adalah pewaris salah satu pewaris. Dia tampan, pintar, paket komplit.” Rosella menatap Ane, membayangkan bagaimana reaksi Ane jika tahu bahwa Adrian hanyalah sepertiga dari beban yang harus ditanggung setiap malam.Toretto bersaudara bukan sekadar
Rosella menggeleng pelan, tangannya mencengkeram bahu Lucas dengan erat. "Saya takut."Lucas tertawa lembut mendengar jawaban jujur itu. Tangannya berhenti bergerak, menatap wajah Rosella yang memerah dengan tatapan penuh kelembutan."Takut kenapa, sayang?" tanyanya sambil mengusap pipi Rosella den
Di kamar utama yang sangat luas dengan jendela besar menghadap lembah, Adrian menutup pintu dengan kaki sambil terus menatap Rosella yang berdiri dengan gugup."Relaks, tidak perlu tegang seperti itu,” bisik Adrian sambil melangkah mendekat.Rosella menelan ludah, jantungnya berdebar sangat kencang
Di kantornya yang mewah, Leon duduk di kursi besarnya sambil menatap layar ponsel dengan senyum tipis yang tidak biasa terlihat di wajahnya.Foto Rosella yang dia ambil diam-diam pagi tadi terpampang di layar. Gadis itu sedang tersenyum sambil menuangkan kopi, wajahnya berseri dengan kebahagiaan ya
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore