MasukSepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang dikatakan. Rosella duduk di kursi penumpang dengan pipi yang masih hangat, menatap jendela sambil menyembunyikan senyumnya dari tadi. Lucas mengemudi dengan satu tangan, tangan yang satu menggenggam tangan Rosella di atas konsol tengah, jemarinya tidak melepas sekalipun.Sesekali Rosella melirik Lucas, sesekali Lucas menoleh duluan sebelum Rosella sempat berpaling.Keduanya tertawa kecil tanpa tahu siapa yang mulai."Ini sangat gila Lucas." Rosella menggeleng pelan."Sangat." Lucas setuju. Keduanya senyum-senyum sendiri, bunga-bunga cinta telah bertahta di hati mereka masing-masing. Lampu mansion menyala ketika mereka tiba.Begitu mereka keluar dari tangga menuju balkon dalam lantai atas, dua siluet sudah berdiri di sana.Leon dengan tangan disilang.Adrian dengan satu bahu bersandar di tiang. "Dari mana saja kalian." Suara Leon keluar lebih dulu, bariton yang langsung memenuhi ruangan. "Kenapa baru pulang."Bukan pertanyaan, lebih ke pe
Lucas menatap wajah Rosella yang menatapnya antusias. "Benar, makanya aku membawa kamu ke sini." Jawab Lucas. Pria itu menatapnya dengan cara yang berbeda dari cara dia biasa menatap berkas pasien atau layar komputer di ruangannya tadi. Lebih terbuka, lebih tanpa penjagaan."Benar, kamu mau menjadi pasanganku?" Tanya Lucas pelan. "Lupakan Leon dan Adrian, Rosella."Suasana menjadi hening, hanya suara angin dan desiran air danau tenang yang terdengar. Rosella menatap Lucas beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya ke air di bawah jembatan.Sebenarnya dia mau, stu pasangan, hidup yang lebih sederhana, tidak perlu membagi diri ke tiga arah sekaligus tapi untuk saat ini itu tidak mungkin."Kita bicarakan nanti saja ya, Tuan." Katanya akhirnya. "Tuan Adrian dan Tuan Leon pasti tidak akan melepaskan saya."Lucas tertawa, bukan tawa kecil, lebih dari itu, tawa yang keluar karena dia tahu betul Rosella tidak salah.Leon saja dari tadi malam tidak bisa menyembunyikan ketidakrelaan yang dike
Setelah mereka masuk, Lucas melepas pakaiannya membuat Rosella menelan saliva kasar melihat perut otot Lucas yang seperti roti sobek. Lucas tersenyum melihat ekspresi Rosella. “Sayang bukankah kamu sudah sering melihatnya?” Tangan pria itu mengambil tangan Rosella lalu meletakkan di otot perutnya. “Tuan.” Bisik Rosella. “Iya Sayang.” Sahut Lucas. Lucas membawa Rosella ke tempat tidur, sebelum lanjut ke adegan panas, Lucas memberikan penawaran. “Kamu atau aku yang diatas?”Wajah Rosella memerah, bagaimana Lucas bisa berucap seperti itu. “Terserah Tuan.” Sahut Rosella. Akhirnya Lucas berbaring dan meminta Rosella yang diatas. Mereka menikmati malam tanpa terburu-buru, sentuhan, ciuman, gesekan, lumatan, desahan maupun erangan menjadi bagian kamar itu. Jauh kemudian, ketika semuanya sudah selesai dan Rosella berbaring dengan nafas yang terengah.“Terimakasih Sayang, kamu luar biasa.” Puja puji keluar di sela nafasnya yang memburu. "Oh ya Rosella bagaimana kalau besok ikut aku.
Hari itu Adrian keluar kampus lebih awal dari biasanya.Mobil hitamnya sudah tidak terlihat di area parkir sejak jam pertama selesai.Robin memperhatikan itu dari jendela kantornya, dan dia tersenyum. Dia menunggu sampai jam istirahat, lalu keluar dan mencari satu orang yang sedang berjalan sendirian menuju kantin."Rosella."Gadis itu berhenti, menoleh, dan begitu melihat Robin ekspresinya langsung berubah menjadi sesuatu yang susah didefinisikan antara sungkan dan tidak nyaman."Pak Robin.""Sebentar saja." Robin berjalan mendekat. "Ikut ke kantor." Pintanya. "Pak." Rosella memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Pak mengertilah, saya tidak bisa bicara berdua dengan Bapak. Ada yang tidak suka.""Aku tahu." Robin tidak menghindar dari kenyataan itu. "Tapi Adrian tidak ada hari ini."Rosella terdiam, apa benar Adrian tidak ada? Kalau tiba-tiba muncul bagaimana? "Rosella." Suara Robin membuyarkan lamunannya. Pria itu menatapnya lekat, di matanya ada sesuatu, "Aku mohon."Rosella me
Adrian menutup resleting celananya dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.Dia mendongak ke langit-langit, memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. "Rosella." Namanya keluar pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Beraninya kamu."Dia bangkit dari sofa dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya, berjalan ke mejanya, dan duduk dengan ekspresi seseorang yang sedang menyusun rencana.Rosella berlari ke kantin dengan napas yang belum sepenuhnya normal.Dia menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Ane, meletakkan tas dengan keras, lalu mengelus dadanya sendiri."Selamat."Ane menoleh. "Kamu kenapa, Rose?""Selamat." Rosella mengulang, masih mengelus dada."Selamat dari apa?" Tom ikut menoleh."Tuan Adrian."Suasana meja mereka menjadi hening. Hardan, Tom dan Lizzy saling lempar pandang dengan ekspresi yang tidak bisa disebut netral. Sejak malam karaoke, cara ketiga Toretto masuk ke ruang nomor tujuh itu seperti mereka punya hak, pertanyaan-pertanyaan kecil sudah menumpuk di kepala masin
Di dalam kantornya, Robin duduk menatap dinding.‘Wanitaku’Kata itu masih terngiang di otaknya. Di London, nama Toretto adalah hukum. Semua orang tahu itu, bahkan orang yang baru seminggu di kota ini pun sudah bisa merasakannya dari cara dosen senior tadi membubarkan kerumunan begitu melihat Adrian.Robin mengepalkan tangannya di atas meja.Di Liverpool lain ceritanya. Di Liverpool, Anderson yang berkuasa, dan tidak ada satupun orang yang berani bicara seperti itu ke wajahnya.Tapi dia tidak di Liverpool sekarang. Dia di sini dengan nama Robin Parker, ayah penjaga taman bermain, ibu seorang ibu rumah tangga, tidak punya kuasa apa-apa."Sial."Dia berdiri, berjalan ke jendela.Tapi dia tidak akan mundur. Rosella adalah wanita pertama yang membuat dadanya bergetar, wanita yang membuat rasa hangatnya mencuat.Setiap melihat gadis itu, kutub es di dalam dirinya seolah mencair.Apakah yang sebenarnya terjadi? Ini cinta atau perasaan kakak yang rindu akan adiknya? Dia harus bisa bicara d
Malam itu Rosella tidur lebih nyenyak dari yang dibayangkan.Tidak ada mimpi, tidak ada air mata, hanya gelap yang tenang dan nafas Lucas yang teratur di sisi kepalanya, menjadi irama yang tanpa dia sadari menenangkan sesuatu yang tadi masih kacau di dalam dadanya.Tok…Tok…Tok…Suara ketukan itu da
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Di kantornya yang mewah, Leon duduk di kursi besarnya sambil menatap layar ponsel dengan senyum tipis yang tidak biasa terlihat di wajahnya.Foto Rosella yang dia ambil diam-diam pagi tadi terpampang di layar. Gadis itu sedang tersenyum sambil menuangkan kopi, wajahnya berseri dengan kebahagiaan ya
Rosella menggeleng pelan, tangannya mencengkeram bahu Lucas dengan erat. "Saya takut."Lucas tertawa lembut mendengar jawaban jujur itu. Tangannya berhenti bergerak, menatap wajah Rosella yang memerah dengan tatapan penuh kelembutan."Takut kenapa, sayang?" tanyanya sambil mengusap pipi Rosella den







