MasukSetelah sepuluh tahun terpisah, Hanson bertemu dengan Kiara, adiknya. Sosok manja itu sama sekali tak berubah, kecuali wajahnya yang semakin cantik dan tubuhnya yang sexy. “Kakak, temani aku tidur seperti dulu. Aku takut petir,” rengekan manja itu terngiang di telinganya. Apalagi saat melihat tubuh indah itu dalam balutan piyamanya, membuat hasratnya sebagai lelaki tergugah. “Kakak, jangan tunangan. Aku nggak suka kakak perhatian sama gadis lain. Aku mau perhatian kakak cuma buat aku.” Apakah Hanson bisa bertahan, atau justru keduanya akan jatuh ke dalam dosa.
Lihat lebih banyak“Kakak! Apa yang kamu sembunyikan di dalam celanamu?”
Sepuluh tahun berlalu, akhirnya Kiara kembali ke Nusantara. Kerinduan akan kehangatan pelukan kakaknya, membuatnya begitu bersemangat akan pertemuan mereka. Sengaja ia tidak memberitahu rencana kedatangannya, hanya untuk memberikan sebuah kejutan. Kiara menghela napas dengan kasar. Ia menatap tubuh lelaki yang terbaring tenang di atas sofa. Perlahan ia melangkah berusaha tak menimbulkan suara. Ia menatap wajah Hanson Luminto yang terpejam kelelahan. Dada bidangnya naik turun dengan teratur, memperlihatkan betapa lelap tidurnya. Perlahan ia mendekat dan menyentuhkan jemarinya di garis rahangnya yang terpahat indah tanpa cela bak dewa yunani. Cahaya lampu seolah menempa kulitnya hingga berwarna keemasan. Kiara menggigit bibirnya sendiri, tak dapat menahan gemuruh yang berisik di dalam hatinya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya dan mengecup kening lelaki muda itu. “Kakak, lama tak bertemu. Apa … kakak juga merindukanku?” gumamnya nyaris seperti sebuah doa. Hanson mengerjapkan matanya. Dan sesaat kemudian dengan separuh kesadarannya, ia mendorong tubuh ramping itu menjauh dari hadapannya, sebuah reaksi yang dilakukannya pada setiap wanita yang berusaha mendekatinya. “Siapa kamu?” Kiara mengerucutkan bibirnya, sementara kedua tangannya bersedekap di dada. Gaya khas yang tak pernah berubah saat ia merasa kesal. “Kakak! Jadi kakak beneran sudah lupa sama aku?” Suara manja itu spontan membuat Hanson teringat pada gadis manis yang terus menempel padanya saat kecil dulu. Matanya membulat, seperti terkejut melihat sosok yang kini ada di hadapannya. Wajah ayu itu terlihat begitu mungil, rambutnya yang hitam tergerai bebas. Dan … tubuh mungil yang dulu kerap digendongnya, kini telah menjelma menjadi tubuh indah seorang wanita dengan lekuk khasnya. “Kakak. Jangan bilang kalau kakak sudah nggak sayang lagi sama aku. Kakak hampir nggak pernah kirim kabar,” cicit Kiara dengan suara manjanya, “apa susahnya sih, balas chat Kiara.” Hanson menelan kasar ludahnya. Matanya mengerjap, seolah tak bisa membedakan antara kenyataan dan sebuah mimpi. Kiara menatap lelaki di hadapannya dari ujung kepala menurun hingga … suara teriakan itu terdengar. “Kakak! Apa yang kamu sembunyikan di dalam celanamu?” Hanson segera memegang pundak Kiara dan memutar badannya dengan cepat. “Kiara, keluar dari kamarku!” perintahnya, “dan jangan pernah masuk tanpa seijinku lagi!” “Tapi Kak–” Hanson mendorong si pemilik tubuh ramping itu keluar dari kamarnya tanpa ingin mendengarkan protes apapun. Pintu berdebum keras dan Hanson bernapas dengan lega. Dan saat menunduk, ia dapat melihat dengan jelas sesuatu sedang menampakkan keperkasaannya di bawah sana. “Sial! Kenapa kamu justru bereaksi ke adik sendiri,” kesalnya pada bagian tubuhnya yang menonjol di bawah sana. Selama ini tak ada satupun gadis yang bisa mencuri perhatiannya. Bahkan ia dikenal sedingin kulkas di Luminto Group. Beberapa sekretarisnya bahkan diberhentikan hanya karena berusaha mendekatinya. Air dingin yang mengguyur tubuh Hanson, seolah mengurangi pening di kepalanya. Napasnya mulai teratur seperti aliran darah yang mengalir di tubuhnya. Sementara itu, Kiara mendekap kimono dan pakaian dalamnya. Ia kembali masuk ke dalam kamar Hanson. Matanya tertuju pada kaca es yang membatasi ruangan itu dengan kamar mandi. Bayangan maskulin itu seolah memancingnya melangkah mendekat atau sekedar mengintip sosok di baliknya. Tapi Hanson menyadari seseorang masuk ke dalam ruangan yang sedang ia gunakan. Dan saat ia menoleh, matanya justru menangkap sosok Kiara berdiri dengan mata membulat menatapnya. “Ka – kakak! Maaf!” teriaknya dengan gugup sebelum menutup kembali pintu kamar mandi. Namun belum sempat Kiara menutup kembali pintu itu, Hanson sudah menangkap tangannya. Ia tidak akan membiarkan siapapun yang melihat tubuh telanjangnya pergi begitu saja. “Kamu dengar kataku, jangan sembarangan masuk ke dalam kamarku!” hardik Hanson. Ia tak dapat memahami perilaku adiknya. “Apa kamu memang sudah terbiasa masuk ke kamar pria tanpa ijin?” Hanson melepaskan tangan Kiara. Ia meraih handuk di rak kamar mandi untuk membalut sebagian tubuhnya yang terbuka. Namun saat ia berbalik, matanya justru melihat pundak si pemilik tubuh ramping itu terguncang. Kiara terisak. “Kakak, maaf. Tadi Kiara pikir … mau numpang mandi di kamar kakak. Kamar mandi di kamar Kiara nggak bisa nyala. Mungkin karena terlalu lama nggak dipakai.” “Kakak boleh marah sama Kiara. Kiara emang salah. Kiara emang pantas dihukum,” lanjut Kiara masih dengan isakan manjanya, “Kiara mau lakuin apa saja asal kakak nggak marah lagi sama Kiara.” Hanson memutar tubuh Kiara hingga berhadapan langsung dengannya. Ia menatap mata bulat yang berair itu dengan perasaan kacau. Mata itu begitu cantik, berpadu dengan hidungnya yang tinggi dan bibir merahnya yang terlihat mungil. Lelaki itu menelan kasar ludahnya, saat matanya tak dapat berpaling dari bibir mungil yang justru terlihat seperti mengundang sebuah kecupan. “Kamu … mau melakukan apapun?” ulang Hanson seperti tak percaya pada apa yang didengarnya. Kiara menganggukkan kepalanya. Ia menelan ludahnya dengan sekuat tenaga, seolah melakukannya butuh segenap keberaniannya. “Kalau gitu, aku mau kamu tidak masuk lagi ke dalam kamarku, tanpa seijinku,” ucap Hanson dengan menekan suaranya, “mengerti!” Kiara menganggukkan kepalanya. Tapi sesaat kemudian tangisnya meledak. Kimono dan pakaian dalam yang dipeluknya, dibiarkannya jatuh begitu saja. “Diam! Diam Kiara!” kesal Hanson. Lelaki itu meraupkan tangannya ke wajahnya sendiri dengan perasaan frustasi. “Kakak nggak suka dengar tangisan!” Kiara menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi bahunya masih berguncang dan cairan bening itu terus melintas di pipinya. Hanson tak dapat mengendalikan diri. Tangannya terangkat, meraih dagu Kiara dan ibu jarinya menyapu sisa cairan bening itu. “Sudah, Kakak nggak marah. Asal kamu nggak ulang lagi,” ucap Hanson dengan suara lebih lembut, yang bahkan tak pernah dilakukan pada siapapun. Kiara menyeka sisa air matanya dengan punggung tangannya. Ia menarik sudut bibirnya, menyuguhkan seulas senyumannya. “Kakak … Kiara paling takut kalau Kakak nggak sayang lagi sama Kiara. Kiara takut Kakak nggak peduli dan nggak mau lagi sama Kiara,” ucap Kiara. Ucapan itu seperti mengaduk-aduk jiwa Hanson. Ia tahu, setelah kedua orang tuanya meninggal, hanya dirinyalah sandaran Kiara. Hanson mengusap puncak kepala adiknya. Ia balas memberikan senyuman – yang terlihat canggung – pada Kiara. “Kakak paling sayang sama Kiara. Tapi … kita sudah dewasa. Kiara nggak boleh sembarangan masuk kamar Kakak. Dan … Kakak juga nggak bisa sembarangan masuk kamar Kiara.” “Tapi Kak –” Lidah Kiara terasa kelu seketika. “Sekarang Kiara mandi. Kakak mau buat sup ayam kesukaan kamu untuk makan malam,” lanjut Hanson tanpa memberikan kesempatan Kiara untuk membantah. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba kedua tangannya melingkar begitu saja di pinggang Hanson. Kepalanya bersandar di dada bidangnya. ‘Kakak memang satu-satunya yang paling baik sama Kiara,” ucapnya sementara pelukan itu semakin mengetat di pinggang Hanson. Tiba-tiba saja handuk yang membalut separuh bagian tubuhnya melorot. Jantung Hanson seperti berhenti seketika. Ia tidak ingin Kiara tahu bahwa bagian tubuhnya di bawah sana telah mengeras sempurna. Tapi ….“Kiara nggak butuh rasa kasihan siapapun.” Hanson seperti tercekik. Kalimat itu seperti pisau yang dihujamkan ke ulu hatinya.“Ara, Kakak—” Kiara beringsut dari ranjangnya. Ia menegakkan tubuhnya dengan susah payah, lalu menyandarkan tubuhnya. “Aku sudah dewasa, Kak. Sudah waktunya aku menentukan masa depanku,” ucap Kiara, jelas tak ingin mendengar kalimat apapun dari kakaknya.Hanson menelan salivanya. Ia masih tak mengerti dengan jalan pikiran Kiara. Semua yang dilakukannya semalam adalah karena ia menghargainya. Ia bahkan berkali-kali harus tersiksa karena harus menahan hasratnya sebagai laki-laki. Ia tidak ingin Kiara menyesal karena kehilangan kesuciannya apalagi saat ia tidak sadar.“Ara … bisakah kamu melihatku sebagai … masa depan?” Kiara tersenyum sinis dan menggeleng pelan. “Sekarang … aku nggak bisa melihatnya. Aku nggak mau mengharapkan sesuatu yang mustahil.”“Ara, kenapa mustahil?”
Hanson mendecak kesal saat tak lagi melihat mobil sedan itu di depan rumahnya, ia segera masuk dan melangkah cepat menuju lantai atas, tempat kamarnya dan kamar Kiara berada.Suasana terasa begitu hening seperti biasa, karena dua asisten rumah tangga sudah kembali ke kamarnya masing-masing yang bangunannya pun terpisah dari rumah induk. Hanson memutar handle pintu kamar Kiara. Aroma jasmine langsung tercium bahkan sebelum Hanson masuk ke dalamnya, Ia melangkah mendekati ranjang, seolah hendak memastikan pemilik siluet tubuh indah yang sedang berbaring di atas ranjang itu. Hanson duduk di sisi ranjang. Matanya menatap wajah ayu dengan mata terpejam itu. Tangannya terangkat, perlahan jemarinya menyentuh anak rambut yang menjuntai menutupi pipinya. Bibir mungil itu kembali mencecap, seolah tak rela sisa manisnya anggur itu menguap begitu saja. Dadanya bergerak dengan lembut, naik turun dengan teratur, jelas memperlihatkan betapa lelap ti
Kiara langsung mendelik saat menyadari Hanson dengan sengaja mengarahkan telapak tangannya ke bagian paling privacynya.Ia langsung memejamkan mata saking canggungnya. Namun telapak tangannya justru merasakan kedut-kedut di batangnya yang mengeras. Kedut yang terasa begitu hidup. “Sekarang … kamu percaya, kan? Aku cuma begini kalau ada di dekat kamu,” lirih Hanson. Kiara menelan salivanya. Kali ini entah kenapa ia tidak bisa menolak untuk percaya. “Kak Hanson …” Kiara menggigit bibir bawahnya. Wajahnya memanas saking malunya. Ia ingin melepaskan tangannya, tapi Hanson justru menahannya. “Jangan gigit bibir kamu seperti itu, nanti luka,” lirih Hanson.Kiara menarik tangannya. Ia langsung mendorong tubuh Kakaknya menjauh. “Dih! Kakak mesum!” Hanson tertawa pelan, sebelum berbalik dan pergi. Ia seakan menutupi rasa yang sedang ditanggungnya saat ini. Bukan hanya tentang debaran di dadanya yang semakin kuat, tapi denyut
“Kakak ….” Suara ketukan pintu itu terdengar sangat keras, saking kerasnya membuat Asih yang sedang menyiapkan sarapan pagi, melongokkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya saat Nina menggerakkan kepalanya seolah sebuah pertanyaan tanpa kalimat. Dua hari sudah berlalu sejak malam menghilangnya Kiara. Rumah yang sepi itu kembali ceria.“Apa?” Suara maskulin itu langsung terdengar sesaat setelah pintu terbuka lebar. Kiara langsung masuk tanpa permisi. Matanya menatap seisi kamar Hanson dan tersenyum saat melihat koleksi kaset film di atas mejanya. Hanson langsung berlari. Bukan karena tidak suka barang-barangnya disentuh oleh Kiara, tapi ia tak mau Kiara tahu hal hal yang tak seharusnya. “Kamu mau apa, Ara?” tanya Hanson. Ia sengaja menjadikan badannya sebagai penghalang tangan Kiara untuk menggapai tumpukan kaset koleksinya.“Kakak kenapa, sih? Ara cuma mau pinjem kaset film koleksi Kakak, kok,” sahut Kiara, “kemar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan