LOGIN"Besok kamu akan datang ke pernikahanku 'kan, Je?" Jena terdiam. Tubuhnya gemetar. Bagaimana pun Jena tahu jika hari itu kan tiba, tapi mendengarnya langsung keluar dari mulut Jo-- pria yang bahkan sedang memeluk tubuh tanpa busananya dari belakang itu, ternyata tetap saja tersa menyakitkan. -- Jena merupakan seorang gasis yatim piatu. Dia tumbuh dari satu panti asuhan ke panti asuhan lainnya. Namun itu membuatnya tumbuh menjadi gadis ambisius yang perkerja keras, dia berusaha menggapai mimpinya untuk biisa berkuliah di universitas favorit dari menyisihkan sedikit gajinya sebagai seorang karyawan toko buku. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat mewah untuk Jena. Dia tida pernah berpikir bahwa kelak akan terlibat dengan cinta yang rahasia dengan Bos muda yang tampan dan ketus--yang ternyata menyimpan banyak beban yang tek pernah dia tunjukkan pada siap pun. Di hadapan Jena, Jo bukanlah seorang Bos yang memimpin sebuah toko buku cabang pusat terbesar di Velmore. Dia hanya seorang pria yang lepas dari semua beban dan bahagia; sampai akhirnya Jena ditampar keras realita jika dia dan Jo bukan hanya berbeda kasta, tapi Jo juga merupakan suami orang.
View MoreTentu saja. Dan tidak ada wanita baik yang mau jadi selingkuhan. Namun Jena bersuara bukan karena dia ingin terlihat baik, dia hanya mencoba memberi tahu pada Jonathan; jika kamu tidak bisa berbuat baik pada orang lain, cukup untuk tidak menjadi jahat. Namun ternyata kalimat pendek yang terucap dari mulut Jo cukup membuat Jena berpikir panjang. Memperjelas statusnya yang sekarang adalah seorang pacar rahasia. Seorang selingkuhan. Dan itu cukup membuat Jena merasa terganggu. Setelah percakapan itu, Jena keluar dari ruangan Jo. Di depan keadaan kembali seperti biasanya. Yang berubah hanya suana hati Jena sebab kini dia menyadari bahwa berbuat baik ternyata tidak lantas membuatnya jadi baik. *** Hari sudah gelap, namun jalan di jantung kota tetap ramai seolah tidak punya waktu untuk istirahat. Jena sedang menjejakkan langkahnya di trotoar sambil menikmati nyeri kecil yang terasa menusuk-nusuk pinggang dan betisnya. Jena mungkin mulai menikmati jadwal baru yang ia atu
Berakhirnya audit tidak serta-merta membuat perkerjaan orang-orang di Lentera jadi lebih santai. Terlebih setelah suplay stok buku impor dari Aurora masuk. Banyak kolektor buku yang berbondong-bondong datang mencari buku baru yang kini Lentera sediakan. Meski Jonathan sudah berupaya merekrut karyawan baru untuk bisa membuat toko tetap berjalan stabil, nyatanya mengajari karyawan baru tidak semudah Jo memerintah. Maya dan Rani yang kini ditugaskan di meja pre-scan menggantikan Jena lumayan kewalahan sebab hari ini pelanggan datang silih berganti, dan terasa lebih bawel dari pada biasanya. Maya baru bisa mengatur napasnya dengan baik dan benar setelah beberapa saat. Ia sedang berdiri di dekat meja kasir sembari meneguk air mineral dari botol yang ia bawa dari rumah--ketika Maya merasa ada sesuatu yang dia lewatkan, tetapi dia sama sekali tidak bisa mengingat tentang apa itu. Sampai pintu kantor Jonathan terbuka, dan Jo berdiri di depan pintu sambil beracak pinggang ke arah May
"Jo, aku sudah bilang, kamu nggak perlu nganterin aku...""Aku mau, Je. Sudah, ya, jangan bawel. Aku cuma antar sampai gerbang belakang, kok."Akhirnya Jena mengalah, dan membiarkan Jonathan memgantarnya ke kampus pagi itu. Hari ini Jena mengenakan sweater berwarna merah muda, yang dipadukan dengan rok ketat yang membalut hingga ke bawah lututnya. Rambut hitamnya Jena biarkan terurai membuat Jena terlihat sangat cantik hari ini, hingga Jo tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Ia terus saja memandangi Jena, sampai-sampai Jena salah tingkah. "Jo, kenapa ngeliatin aku kaya gitu, sih? penampilanku aneh, ya?" tanya Jena, ia memeriksa lagi menampakannya dari kaca sepion mobil. "Nggak aneh, kok. Kamu jauh lebih cantik kalau lagi nggak pakai seragam toko," balas Jo, membuat Jena makin tersipu. Tampaknya ia tidak butuh perona pipi tambahan, sebab Jonathan sudah berhasil membuat pipinya semerah tomat sekarang. "Tcih, sejak kapan, sih, kamu jadi gombal gini...""Aku nggak sedang
"Jo, kamu tahu kenapa aku marah sekali? Karena ini pemberianmu ... ini baju favoritku." Jonathan bahkan lupa kalau ia pernah memberikan baju itu untuk Clarissa. Ia melirik gadis yang sedang menyandarkan kepala di dadanya, dengan ekor mata. Untuk sesaat, rasa bersalah memenuhi hati Jonathan. Jo tidak tahu rasa bersalahnya muncul karena dia sungguh-sungguh merasa begitu, atau justru Jo merasa bersalah karena kini ia diam-diam menjalin hubungan dengan Jena padahal mereka akan menikah. Jena yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangnnya di apartemen. Sedang Jo yang sudah berjanji akan datang, justru sedang ada di kamar Clarissa setelah makan malam mereka yang romantis jadi dipindahkan ke rumah Clarissa, dengan menu masakan rumahan yang dimasak dadakan oleh pembantu di rumah ini. "Aku akan belikan lagi kalau kamu suka..." Clarissa mengangkat kepala, menatap ke arah Jo dengan senyum yang merekah di wajahnya. "Beneran?" Jonathan mengangguk. "Tapi aku mau kamu yang beli dan
"Jangan perlakukan aku kaya gini, Jo..." cicit gadis itu dengan kepala menunduk menghindari bertatapan langsung dengan pria di depannya. Ia takut jika menatap mata Jo, mungkin dia juga akan goyah. "Aku udah bilang, kamu bisa pergi kalau kamu mau. Tapi kamu nggak melakukannya, bukankah itu arti
Tadi sore Clarissa datang dengan sebuah undangan biru yang sudah tercetak tebal tulisan dengan tinta emas; Clarissa Alexandria Adipati dan Jonathan Max Andrew. Berwarna biru muda, tebal dan terlihat mengkilap. Dia menenteng undangan itu dengan bangga, seakan sedang membawa dunia di tangannya. Kal
Malam ini, Jo pulang lebih cepat dari biasanya. Bukan karena tiba-tiba dia rindu rumah, hanya saja pesan dari sang Mama yang memaksa Jo untuk melakukannya. Pesan itu berbunyi, Makan malamlah di rumah malam ini, Jo. Mama sampai lupa jika Mama masih punya satu lagi anak laki-laki. Saat Jo tib
"Nggak ada yang akan melihat, kita cuma berdua di sini," bisik suara berat Jonathan di telinga Jena. Tangan kiri Jonathan sudah berada di payudra Jena. Membelai dan sesekali meremasnya pelan, sedang tangannya yang lain menyusup lebih dalam ke rok yang Jena kenakan. Jena mendesah pelan, menahan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.