Pacar Rahasia Bos Muda

Pacar Rahasia Bos Muda

last updateLast Updated : 2026-02-24
By:  Thresia AlfinaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Besok kamu akan datang ke pernikahanku 'kan, Je?" Jena terdiam. Tubuhnya gemetar. Bagaimana pun Jena tahu jika hari itu kan tiba, tapi mendengarnya langsung keluar dari mulut Jo-- pria yang bahkan sedang memeluk tubuh tanpa busananya dari belakang itu, ternyata tetap saja tersa menyakitkan. -- Jena merupakan gadis yang hanya memiliki seorang adik berusia 7 tahun sebagai satu-satunya anggota keluarganya. Ibu mereka meninggal dunia saat Jena berusia 12 tahun, kemudian Ayah Jena pergi meningalkan mereka tanpa kabar sehingga Jena harus putus sekolah dan berkerja demi menghidupi adik sematawayangnya. Di pekerjaannya barunya, Jena memiliki seorang bos muda yang tampan, tak seperti tampangnya yang mirip malaikat, mulut Jo sangat ketus, kejam, dan dingin. Dia tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata kasar hanya karena satu kesalahan kecil. Namun siapa sangka dibalik sikapnya yang kasar, Jonathan menyimpan luka yang tak tak pernah dia tunjukkan pada siapa pun. Luka yang sama, yang membuat Jo dan Jena terjebak dalam satu hubungan terlarang yang bergairah di sudut gudang toko buku itu.

View More

Chapter 1

Berkas dan bebannya

"Kamu nggak lihat? mata kamu buta?"

Kata itu terucap tanpa amarah, datar, seolah, tidak akan menyakiti siapapun ketika dikeluarkan.

Jena berdiri dengan bahu yang tegak, "nggak ada, Pak!" ralatnya cepat. Takut bila dia salah bicara lagi, Jonathan--bosnya yang masih muda, kontras sekali dengan sikapnya yang suka marah-marah--kembali mengeluarkan kata ajaib lainnya yang tidak siap Jena dengar.

"Nah, gitu dong! kalau nggak ada, ya, bilang nggak ada," ucapnya ringan, lalu kembali merapikan berkas di atas mejanya yang berantakan karena ulahnya sendiri.

"Silahkan keluar."

"Baik, Pak..." Jena keluar dari ruang itu.

Seketika hawa panas kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Entah karena ruang kantor Jonathan yang dingin, atau amarah pria itu di jam sepagi ini yang membuat Jena merasa membeku.

"Gimana, Je? ketemu berkas yang dicari Pak Jo? " Rani--gadis manis berambut bob sebahu, menghampiri Jena dengan raut khawatir, seakan Jena baru saja keluar dari ruang penghakiman.

"Nggak ketemu, Ran."

"Aduh, gawat! bisa habis kita ngadepin mood-nya yang jelek itu sepanjang hari," keluh Rani terdengar putus asa.

Jena tertawa kecil.

Sudah jadi aturan tidak tertulis di toko buku ini, bahwa menjaga mood Jonathan Max Endrew merupakan tanggung jawab bagi semua karyawan. Kalau salah-salah sedikit saja, mereka harus menyusun ulang rak berkali-kali, sepanjang hari.

Padahl ini baru pukul delapan lewat lima belas pagi. Toko buku Lentera-- tempat mereka berkerja saja baru dibuka lima belas menit yang lalu. Tapi Jena yang hari ini dapat giliran merapikan ruang Jonathan, harus kena semprot hanya karena dua kata 'tidak lihat' yang dia ucapkan saat Jo menanyakan sebuah berkas di atas mejanya.

Dua gadis itu tengah merapikan rak di dekat meja kasir kala suara sepatu ber-hak tinggi beradu dengan lantai terdengar.

Berjalan anggun memasuki toko buku Lentera, seorang wanita cantik berkulit pucat. Matanya bulat besar, bening seperti berlian. Gaun biru mengatung manis hingga ke tulut, rambut kecoklatan yang terurai cantik mengayun mengiringi lenggokan tubuhnya.

Setiap mata yang melewatinya, menoleh. Wanita itu tersengum tipis menyapa karyawan-karyawan yang ada di sana.

"Jo, sudah datang?" tanyanya pada seorang bersetelan serba hitam, di pintu.

"Sudah, Bu. Ada di kantornya..."

Carissa tersenyum, kemudian mengucapkan terimakasih. Ia kembali melanajutkan langkah ke arah kantor Jonathan, yang berada di antara kasir dan ruang berisikan rak buku-buku novel.

Baru saja beberapa langkah mendekat, pintu kantor Jonathan terbuka. Lelaki bersetelan jas berwarna coffe, yang tersetrika rapi, dengan kaca mata membingkai matanya yang tegas itu tampak terkejut mendapati keberadaan tunangannya di toko sepagi ini.

"Kamu ngapai di sini?"

"Jo, kok kamu kelihatan nggak seneng aku di sini?" wajah Clarissa yang semula tersenyum, berubah.

"Aku bukan nggak senang. Tapi sepagi ini?"

Clarissa berdecak kesal, dia mengangkat sebuah map cokelat kemudian mendorongnya ke dada Jonathan.

"Aku cuma mau menyerahkan ini. Aku takut ini penting. Tapi begini cara kamu bilang makasih?"

Map itu. Map cokelat yang tidak sengaja Jonathan tinggalkan di mobil Clarissa semalam, berisikan berkas yang membuatnya mengomeli Jena pagi ini.

Tawa Rani hampir meledak, mendapati raut muka Jonathan sekarang.

Tapi dia menahannya kuat-kuat, bahkan Jena harus menyikut gadis itu agar menyadari jika kini Jo siap mengeluarkan laser dari kedua matanya, hanya karena Jena dan Rani kedapatan tanpa sengaja memdengar percakapan Jo dengan Clarissa barusan.

Kedua bola mata, dengan bulu mata yang lentik dan tebal Clarissa menatap Jo dengan berkaca-kaca.

Jonathan memghela napasnya, memijat pangkal hidungnya pelan, kemudian mempersilahkan Clarissa. masuk, sebelum dia mulai menangis di depan pintu kantor Jo.

"Maaf, aku nggak bermaksud begitu..." ucap Jo berusaha menenangkan tunangannya.

Clarissa yang sudah duduk di sofa, menyeka ujung matanya dengan sapu tangan.

"Kamu berubah, Jo! kamu sudah nggak mencintai aku lagi..."

Jonathan menempaskan bokongnya di sebelah Clarissa.

"Aku mencintaimu. Tentu saja."

"Tapi kamu akhir-akhir ini berubah, Jo. Kamu kelihatan nggak senang ketemu aku."

"Aku cuma lelah, Clar. Aku akhir-akhir ini sibuk."

"Kamu selalu aja sibuk!"

"Sebentar lagi akan ada Audit dari kantor pusat..."

Clarisa terdengar menghela napas, sebelum menenteng kembali tasnya dan berdiri. "Baiklah... tapi setidaknya luangkan sedikit waktu untuk makan denganku malam ini, oke!"

"Baiklah, akan aku usahakan."

Kalimat itu terdengar seperti janji, tapi bagi Jo, itu lebih mirip seperti kewajiban.

Pintu kantornya tertutup pelan. Dia melihat berkas-berkas di atas meja, dan bayangan punggung Clarissa yang baru saja menghilang.

"Kamu harus pastikan cabang ini menjadi yang terbaik tahun ini."

Kata-kata dari meja makan pagi ini menggema di telinga Jo.

Tentu saja dia tahu itu.

Sejak lulus kuliah, ia tidak pernah benar-benar bisa memilih. Jo tidak pernah mengejar hal yang ia sukai, baginya hidup sudah ditentukan dari awal dan Jonathan hanya perlu menjalaninya.

Ia terbiasa memikul ekspektasi.

***

Langkah sepatu formal terdengar dari belakang, ketika Jena baru saja selesai meapikan rak Literatur. Langkah itu terdengar tegas, stabil, dan idak terburu-buru.

"Rak Bisnis berantakan," ucap suara berat itu datar.

Jena menoleh cepat. "Sudah saya rapikan tadi malam, Pak."

"Berarti pelanggan merapikannya lebih baik dari kamu."

Seperti biasa, nadanya tidak tinggi, tidak keras. Tapi cukup untuk membuat beku suasana.

"Baik, Pak. Akan saya cek lagi."

Satu-satunya hal paling bijak yang bisa dilakukan jika masih ingin terus berkerja ialah; tidak membantah.

Jonathan tidak pernah mengulang perintah dua kali.

Tatapannya tajam, dan kelam. Tidak pernah terlihat santai. Tidak pernah terlihat lepas.

Semua pegawai tahu persis jika cabang ini berdiri kokoh karena kedisiplinannya. Karismanya membuat semua orang segan. Cara kerjanya yang sistematis, membuat pelanggan seslalu kembali.

Jena langsung pindah ke arah rak Bisnis. Dia menyusun kembali rak itu dengan cekatan. Sesekali keluar senandung kecil dari bibirnya.

Ia bukan yang paling ceria di antara pegawai lain. Tapi ia ramah pada siapapun, sopan, dan teratur.

Rani yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah Jena, berbisik. "Kena lagi kamu, Je?"

"Seperti biasa," jawab Jena pelan.

"Aneh, ya, Bosmu itu..."

Jena tersenyum tipis. "Kita nggak tahu apa yang dipikulnya, Ran."

Rani bedecak sembari menggelengkan kepala. "Ternyata kamu juga sama anehnya, Je. Padahal sering dengar ucapan jahatnya yang nyakitin orang itu."

"Cuma karena dia begitu, bukan berarti dia jahat..."

"Tapi orang baik juga nggak akan bersikap kaya gitu."

Mungkin saja.

Tapi Jena tahu dari apa yang dia lihat. Jena melihat bagaimana Jonathan hampir tidak pernah duduk santai.

Bagaimana ia selalu menjadi orang terakhir yang pulang latur malam, dan bagaimana semua keputusan berat berakhir di mejanya.

Jonathan memang terlihat keras.

Tentu saja dia harus begitu. Bangunan kokoh, tidak berasal dari pondasi yang lemah.

***

Sore hari itu, Jonathan mengumpulkan seluruh pegawai. Dia berdiri tegap di depan mereka semua.

"Penjualan bulan ini naik," ia memulai langsung ke intinya. "tapi belum cukup memenuhi target."

Nada suaranya stabil.

"Pokoknya, diskon tidak boleh diberikan sembarangan. Semua data pelanggan harus lebih rapi, dan saya tidak ingin ada kesalahan laporan lagi kali ini."

Matanya yang tajam dan dalam berhenti sebentar pada Jena.

"Terutama dalam pencatatan stok impor," lanjutnya.

Jena yakin, sebelumnua dia tidak pernah membuat kesalahan. Tapi dia hanya mengangguk hormat, dan memjawab. "Baik, Pak."

Tidak ada pembelaan.

Jonathan mengangguk sekali lalu membubarkan mereka semua, untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing. Begitu semua bubar, Jonathan kembali ke kantor.

Ia berdiri lama di depan jendela.

Dari luar, mungkin ia terlihat kuat. Tapi jauh di dalam hatinya, ada sebuah suara kecil yang terus bertanya;

"Kalau bukan karena tanggung jawab, apakah aku akan tetap memilih jalan ini?"

Pertanyaan itu, tidak pernah menemukan jawaban. Yang Jonathan tahu hanya satu. Pria yang diandalkan, tidak boleh ragu.

Menjelang waktu tutup toko, hujan turun perlahan, menetuk kaca-kaca transparan yang mengelilingi toko.

Jena masih menghitung laporan harian ketika Jonathan keluar dari kantornya. Langkah kaki Jo berhenti mendapati jadis itu masih berkutat dengan kertas-kertas di meja kecil samping kasir.

"Kamu belum pulang?"

Jena mendongak, malingkan wajahnya sebentar. "Sedikit lagi selesai, Pak," jawabnya.

"Baik. Jangan pulang terlalu malam. Lanjutkan besok saja."

"Baik, Pak."

Jonathan mengakhiri percakapan itu, tapi matanya menahan Jena sedikit lebih lama.

Gadis itu masih sangat muda. Tapi dia bekerja tanpa keluhan. Sangat disiplin, dan tidak pernah berusaha menonjol agar diperhatikan.

Jonathan tidak sengaja mendengar percakapan Jena dengan Rani tadi siang, dari balik rak Bisnis.

"Kita sama sekali nggak tahu apa yang dipikulnya."

Untuk pertma kalinya, Jonathan merasa ada yang bisa memahami, bahkan ketika dia tidak mengatakan apa-apa sekalipun.

Ia berbalik.

"Pastikan lampu belakang dimatikan sebelum pulang."

"Baik, Pak."

Suara hujan semakin deras.

Malam itu tidak ada percakapan panjang, tak ada kedekatan.

Hanya dua orang yang sama-sama tidak memilih jalan hidup sepenuhnya.

Dan tanpa mereka sadari-

Takdir mulai menyusun sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status