Share

Terapi?

Author: CitraAurora
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-22 09:29:33

Esok harinya, pagi-pagi sekali Alya berkutat di dapur. Merasa tidak enak pada orang tua Dewa karena kejadian kemarin, ia memutuskan untuk membuatkan sarapan dari rumah sebelum berangkat ke kantor.

​Rehan yang baru bangun mencium aroma masakan gurih yang sudah lama tak ia temui. Langkah kakinya membawa Rehan ke dapur, mendapati Alya yang sibuk di depan kompor.

​Aku tahu kamu sangat mencintai aku, Alya. Aku sakit dan kamu masak pagi-pagi untukku. Sikap tak pedulimu belakangan ini paling cuma kare
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terapi Gila Atasanku   Gak Boleh!

    Sore itu, suasana kediaman keluarga Erlangga yang biasanya tenang mendadak berubah riuh. Begitu Dewa dan Alya melangkah masuk usai pulang dari kantor, mereka dibuat terkejut bukan kepalang saat mendapati kedua orang tua Fira—Om dan Tante mereka—sudah duduk di ruang tamu. ​"Om, Tante... Kok sudah sampai di sini?" tanya Dewa kaget, melirik jam tangannya. ​Pasangan paruh baya itu tersenyum ramah. "Iya, jadwalnya dipercepat, Dewa, " jawab sang om. ​Dari arah dapur, Mama Dewa menyusul keluar sambil membawa nampan berisi teh. "Kemarin itu rencananya memang masih tiga hari lagi, Dewa. Tapi karena urusan ommu di luar kota selesai lebih cepat dari perkiraan, akhirnya jadwal kepulangan kesini dimajukan," jelas Mama Dewa. ​Dewa mengangguk-angguk paham. Namun sedetik kemudian, kernyitan di dahinya muncul. "Mana Fira?" tanya sang mama, mengedar pandangan ke segala penjuru rumah. ​Dewa terdiam, spontan melirik ke arah Alya di sampingnya. Setelah sang istri memberikan anggukan kecil seolah mem

  • Terapi Gila Atasanku   Tahap Isap Menghisap

    "Kalau tidak keras, bagaimana caranya kamu terpuaskan, Sayang?" bisik Devan dengan suara berat yang menggelitik telinga Fira.​Fira menelan salivanya susah payah. Matanya masih takjub menatap ke arah kejantanan Devan yang berdiri perkasa. Di dalam kepalanya, ia membayangkan bagaimana mungkin "benda" sebesar dan sekeras itu nantinya bisa masuk ke dalam rongga intim miliknya.​"Ih, Mas... Pasti milikku bakal sakit banget kalau benda sebesar itu masuk ke dalam sana," cicit Fira ngeri-ngeri sedap.​Devan tersenyum miring, menatap calon istrinya penuh arti. "Nggak bakal sakit, Sayang. Malah enak... bikin ketagihan."​"Hih, dasar!" Fira memukul pelan dada bidang Devan dengan wajah bersemu merah padam karena malu. "Sudah, sana cepat pakai pakaianmu lagi, sebelum benda itu bangun dan nggak bisa diajak kompromi!"​Setelah sama-sama mengenakan pakaian mereka kembali dengan rapi, suasana canggung yang sempat membara perlahan mereda. Keduanya kini duduk berdampingan di kursi balkon apartemen, men

  • Terapi Gila Atasanku   Kenapa Keras Sekali

    Suasana di dalam kamar itu kian memanas, membawa keduanya hanyut dalam pusaran kenikmatan murni yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup. Fira mendambakan sentuhan yang lebih dalam, sementara Devan, dengan segala gairah barunya, juga terbakar keinginan untuk menjelajahi sang calon istri seutuhnya.​"Uhh... Mas..." rintih Fira tertahan, giginya perlahan menggigit bibir bawahnya, menahan gelombang sensasi asing yang kian menghantam rongga dadanya.​Melihat ekspresi Fira yang begitu rapuh sekaligus memabukkan di bawah kungkungannya, pertahanan terakhir Devan nyaris runtuh. Hasratnya membuncah hebat, melesat cepat tanpa bisa dikendalikan. Di balik celananya, bagian bawah tubuhnya kini telah menegang sempurna, menuntut pelepasan.​Tanpa pikir panjang, tangan Devan yang tadinya berada di atas mulai merayap turun, menyusuri perut rata Fira, lalu mendarat tepat di bagian inti kewanitaan wanita itu.​Seketika, mata Fira terbelalak lebar. Napasnya terengah, dan kakinya secara spontan terbu

  • Terapi Gila Atasanku   Nikmatnya Mas

    "Jangan bertanya aku belajar dari mana. Sekarang, nikmati saja," bisik Devan dengan suara serak yang sukses membuat bulu kuduk Fira meremang. ​Perubahan drastis Devan yang kini jauh lebih berani, tegas, dan mendominasi membuat Fira merasa terpana. Di matanya, pria itu terlihat berkali-kali lipat jauh lebih keren dibandingkan sosok kaku dan dingin yang dikenalnya dulu. ​"Boleh... aku buka?" tanya Devan tiba-tiba dengan tatapan menuntut yang penuh gairah. ​Fira terbelalak kaget. Nyalinya yang tadinya membuncah kini mendadak ciut seketika. "Buka...?" ulangnya terbata. ​Lalu Fira tertawa kecil salah tingkah, mencoba mencairkan suasana. "Nggak perlu, Mas..." ​Devan menyunggingkan senyum miring, lalu mendekatkan wajahnya dengan tatapan menggoda. "Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang suka pria yang agresif dan sat-set? Kenapa sekarang malah tidak boleh?" ​Melihat Devan yang semakin mendominasi dan berniat maju, Fira buru-buru mendorong dada calon suaminya dengan kedua tangan. "Eh—jan

  • Terapi Gila Atasanku   Kamu Belajar Dari Mana Mas?

    Keesokan harinya, Fira sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tentu setelah drama antara Dokter, dirinya dan Dewa. "Gara-gara sandiwara ini aku harus bayar puluhan juta." Gumam Dewa. "Lah kan ini rencana Mas Dewa sendiri, ngapain protes sekarang." Sahut Fira tertawa. "Demi siapa coba, ingatlah kebaikan kakakmu ini." Ujar Dewa. Sore itu juga Fira bersiap, Devan yang baru saja ambil obat mengajak Fira untuk pulang. Namun, alih-alih kembali ke kediaman keluarga Erlangga, ia justru meminta langsung ke apartemen Devan. "Sayang kamu serius mau langsung ke apartemen aku?" "Serius Mas." Akhirnya Dewa, Alya dan Fira ke apartemen Devan. Sesampainya disana, Devan meninggalkan tamunya karena dia ingin ke kamar mandi. ​Kebetulan, saat Devan tengah membersihkan diri di kamar mandi, Dewa dan Alya mengajak ngobrol Fira. ​"Kamu ini ya, ada-ada saja... Nekat betul langsung minta tinggal di apartemen Devan," tegur Dewa dengan sebelah alis te

  • Terapi Gila Atasanku   Tinggal Di Apartemen Kamu

    "Kamu sudah bangun?" tanya Devan, napasnya sedikit tercekat karena kelegaan yang luar biasa. "Ini di rumah sakit, Sayang. Kamu tadi mendadak sakit dan pingsan."​Fira mengangguk pelan, lalu menatap manik mata Devan. Dari sorot mata pria itu, terlihat jelas betapa besar rasa lega dan ketakutan yang baru saja ia lalui.​"Minum dulu ya, sedikit," kata Devan lembut sambil meraih gelas di nakas, membantu Fira meneguk air putih hangat.​Setelah minum, Fira kembali berbaring di atas bangsal. Ia sengaja memasang wajah pucat dan berakting selemas mungkin, padahal di dalam hatinya ia merasa sangat bugar setelah tidur cukup.​Dosa aku pasti banyak sekali karena sudah membohongi pria sebaik ini, batin Fira geli sekaligus merasa bersalah. Tapi aktingku memang luar biasa. Kalau ada ajang penghargaan, aku pasti sudah pantas mendapatkan piala Oscar untuk kategori akting terbaik!​Sambil menahan senyum kemenangan yang ingin meledak, Fira kembali menatap Devan dengan tatapan sayu yang dibuat-buat. "Kam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status