Accueil / Fantasi / Terbuai! Jarum Magis Mas Wira / Bab 12. Rantai Kekang Hutang

Partager

Bab 12. Rantai Kekang Hutang

Auteur: W.M.G
last update Date de publication: 2026-07-06 11:24:57

Brak!

Pintu besi geser studio tato itu terbuka paksa setelah Wira menarik kunci slotnya dari dalam.

Udara pagi yang pengap seketika digantikan oleh siluet tegap lima orang pria yang berdiri angkuh di daerah Gang Senggol.

"Halo, anak malang!" sapa laki-laki yang berdiri paling depan.

Suaranya yang berat dan parau terdengar sangat familier di telinga Wira. Pria itu berusia sekitar dua puluh tujuh tahun yang terlihat sepantaran dengan Wira.

Dia adalah Guntur, tangan kanan rentenir nomor satu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Terbuai! Jarum Magis Mas Wira   Bab 75. Black Serpent

    Ruangan studio mendadak sunyi, hanya menyisakan deru pendingin udara yang berhembus pelan. Pernyataan lugas Wira menggantung di udara seperti bom waktu yang siap meledak.Wira menopang dagunya dengan sebelah tangan, memperhatikan raut wajah Guntur yang berubah drastis. Pria bertubuh kekar dengan codet mengerikan di pipi kiri serta tato tribal yang memenuhi lehernya itu mendadak salah tingkah. Cengkraman jemari tebal Guntur pada puntung rokoknya mengencang hingga gulungan tembakau itu tertekuk pasrah.Ganta yang berdiri tak jauh dari sana menutupi mulutnya dengan kedua tangan, berusaha setengah mati menahan tawa agar suara letupannya tidak terlontar ke udara. Siapa yang akal sehatnya bisa membayangkan, seseorang seperti Guntur bisa tertangkap basah menyimpan rasa pada seorang wanita penghibur?"Bicara sembarangan kau, Wira!" gertak Guntur, suaranya yang serak dan berat mendadak naik satu nada, terdengar sumbang. Ia membuang puntung rokoknya ke dalam asbak kayu dengan sentakan kasar, la

  • Terbuai! Jarum Magis Mas Wira   Bab 74. Pelanggan Lama

    "Bang...! Bang Wira...!" Suara panggilan Ganta memecah ketegangan yang mendadak membeku di lorong paviliun. Langkah kaki asisten muda itu terdengar tergopoh-gopoh mendekat, namun perlahan melambat saat berpapasan langsung dengan Senjana. Ganta buru-buru menundukkan kepala penuh hormat, memberi jalan sebelum akhirnya menghentikan langkahnya tepat saat Wira melangkah keluar dari ambang pintu kamar. "Ada apa, Ganta?" tanya Wira cepat. Dahinya berkerut cemas, benaknya langsung dipenuhi dugaan buruk kalau-kalau rombongan Black Serpent yang dipimpin Marco mendadak berbalik arah dan kembali. Ganta melirik canggung ke arah Senjana. Gadis itu berdiri tak jauh dari mereka di depan meja bar dapur mini, tengah menenggak sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas dengan gerakan tenang. "Di depan ada orang, Bang," bisik Ganta ragu. "Studio sudah tutup. Aku tidak menerima pelayanan tato atau pelanggan lagi hari ini," pangkas Wira tegas, rasa lelah dan frustrasi masih menumpuk di dadanya.

  • Terbuai! Jarum Magis Mas Wira   Bab 73. Bayang-Bayang yang Mengutuk

    Desir angin siang berembus dingin melewati lorong panjang yang menghubungkan studio utama dengan bangunan paviliun belakang. Langkah kaki Wira terasa berat, diiringi denyut tegang yang belum sepenuhnya mereda dari kepalanya. Setelah memastikan rombongan SUV hitam milik Black Serpent benar-benar melaju jauh dan kondisi studio aman di bawah penjagaan Ganta, pria itu langsung mengayunkan langkahnya menyusul Senjana. Hati Wira digeluti rasa bersalah yang menusuk. Terbayang jelas di benaknya bagaimana bahu kecil gadis itu gemetar ketakutan saat ia membentaknya kasar di depan Marco tadi. Tiba di depan pintu kamar paling ujung Paviliun, Wira berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu kamar Senjana.Tok! Tok! Tok! Tidak ada suara atau sahutan dari dalam. Keheningan yang janggal melingkupi lorong itu. Tok! Tok! Tok! Wira kembali memukul daun pintu, kali ini sedikit lebih keras. "Senjana? Ini aku, Wira..." Masih tetap tidak ada jawaban. Khawatir terjadi sesuatu

  • Terbuai! Jarum Magis Mas Wira   Bab 72. Jejak Ancam yang Tertinggal

    Dahi Wira berkerut singkat. Perubahan raut wajahnya yang mendadak tegang tidak luput dari perhatian Marco. Sebagai seorang pimpinan mafia yang terbiasa membaca kelemahan lawan, Marco seketika menyadari kekhawatiran mendalam yang melintas cepat di manik mata sang tukang tato. Seulas senyum culas yang teramat tipis terukir di wajah tegas Marco. "Wira...!!!" Mata Senjana terbelalak lebar. Langkah kakinya yang semula santai terhenti mendadak tepat di samping Ganta yang berdiri kaku. Gadis itu terperanjat mendapati sebuah moncong pistol perak sedang ditodongkan tepat di bawah dagu Wira, ia baru menyadari bahwa studio itu telah dipenuhi oleh rombongan pria asing bertubuh tegap. "Ah... Jangan takut, Gadis Manis. Aku hanya sedang bercanda dengan kekasihmu," ujar Marco santai. Dengan gerakan lambat, ia menarik kembali pistol perak tersebut dan melemparnya asal ke arah anak buahnya. Marco kemudian menyunggingkan senyuman yang diusahakannya semanis mungkin ke arah Senjana—meski wajah garan

  • Terbuai! Jarum Magis Mas Wira   Bab 71. Tato yang Terlarang

    Pria berkaos ketat dengan ukiran tato liar di sekujur tangannya itu melangkah masuk tanpa permisi. Usianya sekitar 45 tahun. Di belakangnya, tiga orang berjas mahal mengekor dengan gestur angkuh, sementara puluhan anak buah bertubuh tegap menjaga ketat pelataran luar studio. Ganta yang berdiri di dekat meja kasir mendadak kaku. Wajah asisten muda itu pucat pasi, peluh dingin mengalir deras di pelipisnya. Dengan tubuh gemetar, ia menyenggol lengan Wira lalu berbisik sangat pelan di telinganya. "Bang... bahaya, Bang..." bisik Ganta serak, matanya tak berani menatap langsung rombongan itu. "Mereka... kelompok Black Serpent. Mafia paling ditakuti di dunia bawah. Rumornya Pak Haryo pakai jasa mereka buat habisi lawan politik dan mengamankan bisnis gelapnya..." Wira hanya menyipitkan mata. Ia tak menunjukkan rasa takut sedikit pun, meski aura intimidasi yang dibawa pria di depannya begitu pekat dan menekan. "Jadi ini tempatnya?" tanya pimpinan mafia itu seraya melangkah makin dekat.

  • Terbuai! Jarum Magis Mas Wira   Bab 70. Pelanggan yang Tak Diundang

    "Astaga! Apa yang terjadi semalam, Bang?!" pekik Ganta dengan raut wajah tegang setengah mati. Matanya membelalak menatap pecahan botol tinta yang berhamburan di lantai, meja kerja yang acak-acakan, dan Wira yang terbaring terpejam di atas sofa depan dengan memar kebiruan di pipinya. Panggilan itu membangunkan Wira dari tidurnya yang terasa baru berlangsung beberapa menit. Wira masih enggan membuka mata, apalagi menjawab pertanyaan asistennya. Rasa malu dan sisa kekonyolan kejadian semalam kini bertengger jauh lebih dominan ketimbang rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuh serta bibirnya yang sedikit robek. "Bang Wira? Sadar, Bang!" Ganta mengguncang-guncang bahu tegap Wira dengan cemas. "Hentikan, Ganta. Tenanglah! Aku masih hidup," ucap Wira dengan suara serak. Ia menepis pelan tangan Ganta lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk, menyapu wajahnya yang lengket oleh peluh dingin. "Tapi apa yang sebenarnya terjadi, Bang?!" Ganta masih memburu jawaban, matanya menyapu kemeja hita

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status