author-banner
W.M.G
W.M.G
Author

Novels by W.M.G

Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya

Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya

Menikahi cinta pertama adalah impian setiap wanita… tapi tidak untukku. Aku menikahi Muhammad Gavin Rusdhan karena sebuah kondisi yang memojokkan ku demi memenuhi wasiat terakhir ayah. Masalahnya, dia sebentar lagi akan menikahi wanita lain—sementara aku terjebak sebagai istri pertama yang tak dianggap. Setiap hari harus bertemu dengannya di kantor, menahan rindu sekaligus sakit hati, membuatku semakin hancur. Apalagi ketika Arwan Kin Dhananjaya, sahabat yang sudah kuanggap kakak sendiri, tiba-tiba mengungkapkan cinta. Belum selesai dengan luka itu, aku kembali terjebak dalam permainan baru: menjadi calon istri pura-pura seorang duda karismatik, direktur utama perusahaan besar sekaligus ayah dari muridku sendiri. Cinta, pengkhianatan, dan rahasia… mampukah aku bertahan dalam pernikahan yang bahkan sejak awal bukan milikku?
Read
Chapter: 166. Detak Jantung Kecil yang Menyatukan
Pagi itu, Rumah Sakit tidak lagi terasa mencekam bagi Sira. Meski aroma antiseptik masih memenuhi rongga hidungnya, kehadiran Gavin yang menggenggam erat tangannya membuat segalanya terasa berbeda. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi janin setelah ketegangan hebat yang mereka alami. Gavin mendorong kursi roda Sira dengan sangat hati-hati, seolah-olah guncangan sekecil apa pun bisa membahayakan harta karun mereka. "Gavin, aku bisa jalan sendiri," gerak bibir Sira terlihat di pantulan cermin lift, wajahnya sedikit mengerucut protes. Sebenarnya fisiknya sudah jauh lebih kuat, hanya suaranya saja yang masih enggan keluar. Gavin terkekeh, membungkuk sedikit untuk membisikkan sesuatu di telinga istrinya. "Anggap saja ini layanan sopir pribadi kelas VIP, Ny. Gavin. Lagipula, aku ingin menghemat tenagamu untuk nanti. Siapa tahu bayi kita ingin melihat ibunya pamer senyum paling cantik di depan layar monitor." Sira hanya bisa mencubit lengan Gavin pelan, membua
Last Updated: 2026-05-07
Chapter: 165. Kemarahan yang Indah
Sore itu, semburat jingga dari ufuk barat mulai mengintip masuk ke dalam ruang perawatan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Di atas ranjangnya, Sira masih terbaring miring, memunggungi sisi tempat tidur, tempat suaminya biasa duduk. Pikirannya dipenuhi awan kelabu. Seharian ini ia hanya ditemani Tante Rita. Gavin menghilang tanpa kabar sejak pagi buta, tepat setelah Prabu membawanya pergi ke kantin. Ada rasa sesak yang kekanak-kanakan di dada Sira. Di tengah kerapuhannya, ia merasa takut akan ditinggalkan lagi setelah janji manisnya semalam. Ia tidak tahu bahwa sepanjang hari itu, Gavin sedang bertarung dengan tumpukan dokumen di kantor pengacara dan menghadapi kemarahan keluarganya demi satu tujuan, menyelesaikan perceraiannya dengan Raina secepat mungkin. Suara pintu yang terbuka pelan tidak membuat Sira bergeming. Ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali, namun ia tetap memilih untuk menatap tembok putih di depannya. "Assalamualaikum, suamimu d
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: 164. Gavin dan Prabu
Suasana kantin rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai, namun dengung suara mesin kopi dan denting sendok menciptakan latar belakang yang pas untuk percakapan berat antara Gavin dan Prabu. Setelah Tante Rita datang untuk menjaga Sira, Prabu memberikan isyarat kepada Gavin untuk mengikutinya. Ada beban yang harus segera dilepaskan agar tidak menjadi duri di masa depan. Gavin duduk di hadapan Prabu, menatap cangkir kopi hitamnya yang mengepulkan uap. Prabu memulai dengan kabar mengenai hukum untuk Andre. "Andre Wijaya tidak akan lepas begitu saja," buka Prabu dengan nada dingin yang biasa ia gunakan dalam negosiasi bisnis. "Aku sudah menugaskan tim hukum terbaik. Dengan bukti penculikan, penganiayaan, dan paksaan medis, dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Aku juga akan memastikan dia kehilangan segalanya." Gavin mengangguk pelan. "Terima kasih, Prabu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sana semalam." Hening sejenak. Gavin menatap buih yang
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: 163. Lili Putih dan Harapan yang Mekar
Sira duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit yang ditinggikan. Setelah gejolak mual di kamar mandi mereda, fokusnya kembali tertuju pada perban putih yang melilit lengan kiri Gavin. Dengan gerakan yang sangat perlahan, ia mengulurkan jarinya, menyentuh tepian luka itu seolah-olah rasa sakitnya bisa berpindah jika ia menyentuhnya cukup lembut. Ia mendongak, menatap mata Gavin dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Meski bibirnya terkatung dalam kebisuan, sorot matanya bicara lebih keras dari kata-kata apa pun. "Apa kamu baik-baik saja? Lukamu pasti sakit sekali?" Gavin terdiam sejenak, tenggelam dalam samudera kekhawatiran yang terpancar dari mata istrinya. Ia meraih tangan Sira yang baru saja menyentuh lukanya, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan Sira. "Aku baik-baik saja, Ra. Ini tidak sakit. Jangan khawatirkan aku," ucap Gavin dengan suara rendah yang menenangkan. Ia memberikan seulas senyum tulus, jenis senyum yang sudah bertahun-tahun tidak ia tunjukkan
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: 162. Rahasia dalam Kebisuan
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya pendingin ruangan rumah sakit. Sira terbangun lebih dulu. Kesadarannya kembali perlahan, namun kali ini tanpa sentakan ketakutan seperti semalam. Perasaanya sudah lebih tenang, dan hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menindih jari-jarinya.Gavin.Lelaki itu tertidur dengan posisi yang pasti sangat tidak nyaman, duduk di kursi dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Sira memandangi wajah suaminya dalam diam. Gurat kelelahan tercetak jelas di sana, lingkaran hitam di bawah mata dan dahi yang bahkan dalam tidur pun tampak berkerut gelisah.Sira menarik tangannya perlahan, berusaha tidak membangunkan Gavin. Matanya kemudian tertuju pada lengan kiri Gavin yang tergeletak di atas sprei. Kemeja hitam yang dikenakan suaminya tampak robek di bagian bahu hingga siku. Ada noda darah kering yang tersamar oleh warna gelap kainnya, namun yang paling mencolok adalah perban p
Last Updated: 2026-04-29
Chapter: 161. Runtuhnya Sang Pilar
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian di dalam ruang perawatan itu. Sira akhirnya kembali tertidur, kelelahan setelah badai trauma yang menguras seluruh tenaganya. Namun, meski dalam lelap, jemari kecilnya masih menggenggam erat telapak tangan Gavin. Cengkeramannya begitu kuat, seolah-olah jika ia melonggarkan genggaman itu sedetik saja, Gavin akan meninggalkannya dan Andre akan muncul dari kegelapan untuk menyeretnya kembali ke neraka.Gavin tertegun menatap tangan mereka yang bertaut. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran di tangan Sira. Hatinya perih, seperti disiram cuka di atas luka yang menganga."Penderitaan apa saja yang sudah kamu alami, Sira... hingga kamu bahkan takut untuk bicara?" bisik Gavin pelan, suaranya pecah di udara yang dingin.Air mata yang tadinya sempat mengering kini kembali mengalir, jatuh satu per satu membasahi sprei rumah sakit. Gavin menunduk, menempelkan keningnya pada punggung tangan Sira. Di bawah temaram lampu nakas, Gavin mulai merapal rentetan pen
Last Updated: 2026-04-29
Terbuai! Jarum Magis Mas Wira

Terbuai! Jarum Magis Mas Wira

Sebagai mantan kuli, Wira hanya ingin melunasi utang peninggalan ayah angkatnya yang bajingan dengan membuat tato ajaib. Ia mewarisi jarum tato emas ajaib yang bisa mengabulkan keinginan terdalam manusia. Syaratnya, ia harus patuh pada dua pantangan: Jangan jatuh cinta pada pelanggan dan Jangan membuat Tato Bintang Merah. Naasnya, karena tangannya yang kasar dan kapalan ia kehilangan kepekaan dan memilih membuat tato tanpa sarung tangan. Sebuah keputusan yang berakibat membuat banyak wanita justru mendamba ingin terus disentuhnya dan merasakan tubuhnya. Godaan terus datang, sampai Senjana datang. Wanita itu membawa luka yang anehnya mirip dengan luka yang Wira lupakan di masa lalu. Dan tiba-tiba, hidup Wira berubah total setelahnya. Ia menjadi sandera sang gubernur demi senjana, menjadi buruan mafia yang menginginkan tato bintang merah, hingga Sekte kuno pencipta jarum magis menuntut nyawa. Saat cinta menjadi racun dan sihir menjadi kutukan, Wira harus memilih. Menjadi dewa dengan kekuatan terlarang... atau menjadi manusia biasa demi satu-satunya wanita yang membuatnya ingin melanggar segalanya.
Read
Chapter: Bab 89. Kebangkitan Iblis Berdarah Emas
Tubuh Wira melayang tipis beberapa sentimeter di atas sofa kulit. Seratan urat-urat di leher dan lengannya menegang kaku bagaikan kawat baja yang ditarik paksa. Cahaya emas yang memancar dari tato Bintang Merah di dada kanannya makin menyilaukan, bertabrakan secara brutal dengan pendar merah lahar dari tato akar hitam di pundaknya.Gelombang hawa panas yang menguar dari pertemuan dua energi mistis itu menghentak udara ruangan. "Wira!" teriak Guntur hendak menerobos maju untuk menolong."Jangan mendekat!" bentak Bagas refleks menahan dada Guntur dengan tangan gemetar. "Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya, sebaiknya kita tidak ikut campur!"Di tengah hembusan udara yang makin pekat oleh aroma belerang dan minyak khusus, Wira meraung tanpa suara. Mulutnya menganga lebar, napasnya melayang di batas antara hidup dan mati. Di dalam alam bawah sadarnya yang gelap gulita, Wira merasa tubuhnya sedang dibelah dua secara perlahan. Cahaya emas Bintang Merah berusaha merobek dan men
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Bab 88. Benturan Dua Kekuatan
Jarum emas magis itu akhirnya menembus lapisan kulit dada kanan Wira. Rahangnya mengetat kaku, menahan sengatan rasa sakit pertama yang menusuk hingga ke tatanan daging. Namun, seiring dengan torehan demi torehan yang merobek kulitnya, kening Wira justru berkerut perlahan. Aneh. Sama sekali tidak ada gejolak ghaib atau efek mistis yang membakar dada. Rasanya tak ubahnya seperti tusukan jarum tato biasa yang sama seperti ia membuat tato di lengannya pada tukang tato jalanan dulu. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada hawa panas menyengat, ataupun bisikan aura gelap yang ia bayangkan sebelumnya. Di ambang pintu, Guntur dan Bagas menatap dengan raut ngeri berbaur tegang. Keduanya menahan napas, menanti fenomena mengerikan atau ledakan energi yang mungkin akan menghantam tubuh pria bertato itu. Namun, detik demi detik berlalu, hanya ada suara derit halus jarum yang terus menari kaku di atas dada Wira, memoles tinta merah menjadi pola geometris Bintang Merah. Hingga torehan garis
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Bab 87. Keputusan Sang Pembawa Kutukan
Asap tipis dari rokok Guntur membumbung lambat di udara temaram studio, bergulung-gulung sebelum perlahan memudar disapu hawa dingin malam. Keheningan yang menyergap ruangan itu terasa makin rapat dan mengimpit, hanya diselingi detak jarum jam dinding yang ketukannya terdengar tajam bagai dentang kematian. Bagas berdiri mematung dengan melipat tangan di dada, matanya tak lepas mengawasi Wira yang masih menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya. Guntur pun bungkam, sesekali menyedot dalam-dalam batang rokoknya hingga pendar merah di ujungnya menyala terang, menerangi garis wajah garangnya yang dipenuhi keraguan. Dua. Tiga. Empat kali ketukan jam dinding bergema. Tepat saat jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek mengunci angka tiga, Wira mendadak menurunkan kedua tangannya. Pria itu menyapu wajah kusamnya secara kasar, lalu bangkit berdiri. Tidak ada lagi keraguan yang terpancar dari gestur tubuhnya yang sempat meluruh. Langkah kakinya mendadak mantap, ber
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Bab 86. Pergulatan dalam Kegelapan
Langkah kaki Wira terasa sangat berat saat meninggalkan area pelabuhan lama. Malam kian larut, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, tetapi panas di dalam dada Wira sama sekali tidak mereda. Sepanjang jalan menuju studio, raungan mesin motor Guntur menjadi satu-satunya suara yang membelah kesunyian kota. Tidak ada percakapan di antara mereka. Guntur fokus mengendalikan stang motor, memilih untuk bungkam, sementara Wira yang duduk di boncengan hanya menatap kosong pada kerlip lampu jalanan yang membayang kabur. Kepala Wira serasa hendak pecah. Kilasan demi kilasan kejadian di pelabuhan terus berputar tanpa henti di pelupuk matanya. Tatapan mata Senjana yang redup dan hampa, tubuh rapuh gadis itu yang bergetar di bawah cengkeraman Marco, serta lecehan yang mendarat di bibir pucatnya bagaikan sembilu yang diiriskan bertubi-tubi ke jantung Wira. Rasa bersalah, amarah, dan ketidakberdayaan berbaur menjadi racun yang menyiksa jiwanya. Waktu menunjukkan tepat pukul
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Bab 85: Pilihan di Ujung Keputusasaan
"Jangan takut, Wira! Aku tidak akan membunuhmu atau membunuh kekasihmu! Keluarlah!" Suara Marco menggelegar membelah keheningan pelabuhan tua. Tawa terkekeh yang menyertainya terdengar begitu santai, namun sanggup merambat bagai erangan iblis yang mencengkeram tenggorokan. "Kau tahu betul apa yang kuinginkan hanyalah tato Bintang Merah itu, bukan nyawa kalian!" sambung Marco lagi. Di balik bayangan dinding beton, napas Wira tertahan. Setiap kata yang meluncur dari mulut Marco terasa menekan dadanya hingga bergemuruh hebat. Pria bertato itu menatap lurus ke arah halaman gudang. Di sana, di bawah remang lampu yang berkedip, Marco berdiri congkak. Tangan kanannya mencengkeram erat pergelangan tangan Senjana yang terkulai lemas tanpa tenaga. Di sekeliling mereka, puluhan—bahkan mungkin ratusan—anggota Black Serpent berdiri mengepung dengan tatapan liar. Di antara barisan penjaga itu, Wira sempat menangkap sosok Doni yang berdiri kaku, menunduk dengan raut pucat pasi. Guntur mena
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Bab 84. Jejak Luka
Menit demi menit berlalu bagai tetesan racun yang lambat. Wira dan Guntur masih meringkuk di balik kegelapan dinding beton berlumut. Angin malam yang berembus dari arah dermaga makin menusuk tulang, membawa aroma amis laut dan karat yang kian pekat. Wira terus memandangi lantai semen kotor di bawah kakinya, jemarinya mengepal rapat hingga kulit di sekitar kukunya memutih. Setiap detik adalah siksaan, membayangkan penderitaan Senjana di dalam sana. Sekitar satu jam kemudian, deru mesin beberapa mobil mewah memecah keheningan pelabuhan. Cahaya lampu sorot yang menyilaukan membelah kegelapan halaman gudang. Wira dan Guntur makin merapatkan tubuh ke dinding. Tiga unit mobil hitam membelah area parkir dan berhenti tepat di depan pintu utama gudang. Pintu mobil tengah terbuka. Dari dalam, melangkah keluar seorang pria berjas mahal dengan mantel hitam tersangkut di bahunya. Marco. Aura dominasinya yang pekat dan kelam langsung menyergap atmosfer tempat itu. Seketika itu juga
Last Updated: 2026-09-08
You May Also Like
SEDIKIT LAGI, SAYANG!
SEDIKIT LAGI, SAYANG!
Romansa · Dara Tresna Anjasmara
14.4K views
Maduku Sahabatku
Maduku Sahabatku
Romansa · Dita Sintiya
14.4K views
Jodohku Dokter Tampan
Jodohku Dokter Tampan
Romansa · Nelliya Azzahra
14.4K views
Brondong Sewaan
Brondong Sewaan
Romansa · gen genafany
14.4K views
Budak Hasrat
Budak Hasrat
Romansa · Piki Chan
14.4K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status