Mag-log inSebagai mantan kuli, Wira hanya ingin melunasi utang peninggalan ayah angkatnya yang bajingan dengan membuat tato ajaib. Ia mewarisi jarum tato emas ajaib yang bisa mengabulkan keinginan terdalam manusia. Syaratnya, ia harus patuh pada dua pantangan: Jangan jatuh cinta pada pelanggan dan Jangan membuat Tato Bintang Merah. Naasnya, karena tangannya yang kasar dan kapalan ia kehilangan kepekaan dan memilih membuat tato tanpa sarung tangan. Sebuah keputusan yang berakibat membuat banyak wanita justru mendamba ingin terus disentuhnya dan merasakan tubuhnya. Godaan terus datang, sampai Senjana datang. Wanita itu membawa luka yang anehnya mirip dengan luka yang Wira lupakan di masa lalu. Dan tiba-tiba, hidup Wira berubah total setelahnya. Ia menjadi sandera sang gubernur demi senjana, menjadi buruan mafia yang menginginkan tato bintang merah, hingga Sekte kuno pencipta jarum magis menuntut nyawa. Saat cinta menjadi racun dan sihir menjadi kutukan, Wira harus memilih. Menjadi dewa dengan kekuatan terlarang... atau menjadi manusia biasa demi satu-satunya wanita yang membuatnya ingin melanggar segalanya.
view moreRadit menggenggam spatulanya dengan erat. Spatula itu meliuk-liuk, mengaduk masakan di wajan cekung. Api dari kompor menyala-nyala, mengeluarkan hawa panas di sekitar.
Klang! Deng! Klang! Suara bising spatula baja yang menghantam dasar wajan cekung itu terdengar lelah, nyaris tanpa gema. Hanya bunyi logam mati yang beradu dalam kepulan asap tipis beraroma sangit. Bagi Radit, itu adalah musik pengiring kegagalan. Ritme monoton dari seorang pecundang yang bahkan sudah terlalu letih untuk merasa putus asa. Pemuda itu mengaduk nasi dengan gerakan mekanis, matanya kosong menatap butiran-butiran putih yang melompat enggan di atas minyak jelantah yang mulai menghitam. Ini adalah piring kelima belas hari ini. Dan seperti empat belas piring sebelumnya, ia tahu persis rasanya bahkan sebelum mencicipi. Rasa hambar. Sebuah kekosongan yang bisa dikunyah. Nasi goreng tanpa jiwa. “Satu lagi sampah,” gumamnya dengan nada kecewa pada diri sendiri. Suaranya serak dan tertutup oleh desis wajan. Api dari kompor gas di bawahnya menjilat-jilat malas, seolah ikut merasakan keengganan si pengguna. Panasnya tidak cukup untuk menciptakan aroma hangus khas yang menjadi napas dari setiap nasi goreng legendaris. Api itu hanya cukup untuk memasak, lebih. Dengan satu gerakan terakhir yang lunglai, Radit menuang isi wajan ke atas piring kaleng. Sebutir telur mata sapi yang pucat dan sedikit gosong di tepinya ia letakkan di puncak gunungan nasi. Tanpa hiasan, tanpa acar, tanpa kerupuk. Persis seperti gambaran hidupnya saat ini: telanjang, menyedihkan, dan tidak menarik. Warung kaki lima itu sendiri adalah monumen dari kejatuhannya. Tiga meja reyot dengan kursi-kursi plastik yang warnanya telah memudar menjadi saksi bisu dari ketiadaan. Tak ada pelanggan sejak jam makan siang tadi. Alih-alih pelanggan yang datang, hanya lalat-alat yang berdengung malas, seolah mengejek kesunyian yang mencekam. Spanduk kain di depan warung, yang dulu bertuliskan “Nasi Goreng Warisan Kakek Jaya” dengan warna merah menyala, kini lusuh dan berdebu, warnanya luntur menjadi jingga pucat yang muram. Warisan. Kata itu terasa seperti duri di tenggorokannya. Radit meletakkan piring nasi goreng ke-15 itu di atas meja saji, bergabung dengan barisan piring lain yang mendingin. Ia tidak akan menjualnya. Ia tahu tak ada yang mau membelinya. Baginya ini hanyalah ritual penyiksaan diri. Upaya sia-sia untuk menemukan kembali percikan sihir yang pernah dimiliki kakeknya di wajan yang sama ini. Tangannya merogoh saku celana kargo yang berbau asap. Jemarinya yang kapalan menyentuh secarik kertas yang sudah lecek. Surat itu. Ia menariknya keluar, membukanya untuk yang kesekian kali. Tulisan yang dicetak dengan tinta hitam tebal itu seolah melompat dan menampar wajahnya. PEMBERITAHUAN PENGOSONGAN PAKSA TERAKHIR. Jatuh Tempo: Hari Ini. Mata Radit menatap sendu surat itu. “Hari ini,” bisiknya, napasnya tercekat. “Ternyata sudah sampai juga di ujung jalan.” Radit menatap sekeliling warungnya. Setiap sudut menyimpan kenangan dari masa lalu yang lebih bahagia. Di sana, di pojok dekat dispenser air, kakeknya biasa duduk sambil mengupas bawang. Senyumnya yang ompong selalu merekah setiap kali Radit kecil berhasil memecahkan telur tanpa membuat cangkangnya jatuh ke dalam mangkuk. Radit mengalihkan pandnagan ke arah lain. Di dinding yang kini terkelupas catnya, dulu tergantung sebuah foto hitam-putih. Kakek Jaya, berdiri gagah di depan gerobak pertamanya, wajannya berkilat di bawah matahari. Foto itu sudah ia simpan, tak sanggup lagi melihat sorot mata penuh harapan di dalamnya. “Maaf, Kek,” ucapnya lirih, matanya mulai panas. Ia berbicara pada udara kosong, pada arwah kenangan. “Maaf, Radit tidak bisa. Warisan Kakek… resep Kakek… semuanya hancur di tangan cucumu yang tidak berguna ini.” Ada rasa sakit yang tertancap di hati pemuda itu. Ia mengepalkan tangannya, surat tagihan itu remuk di dalam genggamannya. Kemarahan yang tumpul dan kesedihan yang tajam berperang di dalam dadanya. Mengapa ia tidak bisa? Ia mengikuti resepnya kata demi kata. Takaran garam, kecap, bawang, semua persis sama. Tapi hasilnya selalu berbeda. Masakan kakeknya adalah sebuah simfoni rasa yang meledak di mulut, meninggalkan kehangatan yang menjalar hingga ke hati. Sedangkan Masakan buatannya? Hanya kebisingan hambar. “Kau terlalu takut, Radit,” seolah suara kakeknya berbisik di telinganya, sebuah gema dari nasihat bertahun-tahun lalu. “Rasa itu bukan cuma di resep, tapi di keberanianmu. Berani mencoba, berani gagal, berani menemukan rasamu sendiri!” “Aku sudah mencoba, Kek! Aku sudah gagal!” Radit balas berteriak dalam hati, frustrasi membakarnya. “Aku takut! Aku takut kalau aku mengubah resep Kakek, aku akan menghancurkan satu-satunya peninggalanmu. Tapi dengan tidak mengubahnya pun… aku tetap menghancurkannya.” Paradoks itu mencekiknya. Ketakutannya untuk berinovasi telah membunuhnya perlahan-lahan. Ia hanya menjadi mesin fotokopi yang buruk, menghasilkan salinan resep yang pucat dan tak bernyawa. Di dunia kuliner yang kejam, di mana setiap hari muncul pesaing baru dengan ide-ide gila, nasi gorengnya yang ‘aman’ adalah tiket satu arah menuju kebangkrutan. Dan inilah stasiun terakhirnya. Dengan langkah gontai, Radit berjalan ke belakang warung. Kompor ia matikan. Desis wajan berhenti. Keheningan yang menyergap terasa lebih memekakkan telinga. Ia mencuci wajan kesayangannya, pusaka terakhir dari sang kakek, dengan gerakan penuh hormat. Besi tuanya ia gosok hingga bersih, meski kilaunya tak akan pernah kembali. Ini adalah upacara penutupan. Ritual terakhir sebelum menyerah. Matanya terpaku pada sebatang arang sisa bakaran sate semalam, tergeletak di dekat tumpukan kayu. Benda hitam itu terasa pas di genggamannya. Berat. Definitif. Seperti sebuah batu nisan. Radit berjalan kembali ke depan warung. Kakinya terasa diseret oleh beban tak kasatmata. Ia berdiri di depan spanduk lusuh itu. “Nasi Goreng Warisan Kakek Jaya”. Sebuah kebohongan besar. Tidak ada lagi ‘Jaya’ di sini. Hanya ada kegagalan. Radit mengangkat tangannya yang gemetar. Arang itu siap mencoretkan kata yang akan mengakhiri segalanya. Empat huruf yang akan membebaskannya dari penderitaan ini, sekaligus menguburnya dalam rasa malu abadi. T. U. T. U. P. Ujung arang yang tajam hanya berjarak satu sentimeter dari kain spanduk. Napasnya tertahan. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga. Inilah akhirnya. Selamat tinggal, mimpi. Selamat tinggal, warisan. Selamat ting… [Memulai inisialisasi… Mencari wadah yang cocok…] Suara itu datang dari ketiadaan dan dari segala arah. Bukan di telinganya, tapi langsung di dalam tempurung kepalanya. Dingin, tanpa emosi, dan jernih seperti kristal. [Wadah terdeteksi. Tingkat keputusasaan: 98.7%. Sinkronisasi spiritual: Memadai. Kompatibilitas dengan warisan rasa: Sempurna.] Radit membeku. Arang di tangannya jatuh berdebum ke tanah. Matanya membelalak ngeri, menatap kosong ke jalanan yang gelap. Halusinasi? Apakah ia sudah mulai gila karena stres? [Selamat, Radit Jaya. Anda telah terpilih sebagai pengguna Sistem Citarasa Ilahi.] Radit mematung. Suara barusan, suara apa itu? Dan… Sistem Citarasa Ilahi? Apakah ini kegilaan lainnya?Malam merambat turun, membawa serta kepekatan yang menenggelamkan rumah tua terpencil itu ke dalam sunyi yang pekat. Badai emosi yang sempat meledak hebat di sore hari kini mereda perlahan, menyisakan kelelahan yang teramat sangat.Di dalam kamar belakang, Senjana sepertinya telah terlelap setelah berjam-jam menangis dan mengurung diri, raga rapuhnya menyerah pada kantuk.Namun, di luar kamar, Wira masih terjaga.Pria itu duduk bersandar di lantai lorong, dengan kepala tertunduk dan tatapan kosong menerawang ke depan. Pikiran dan hatinya terus tertuju pada perempuan di dalam sana. Setiap isakan tangis dan kalimat menyayat yang keluar dari bibir Senjana tadi terus berdenging berulang-ulang di kepalanya, menghantam nuraninya tanpa ampun.Di tengah keheningan malam, ingatan Wira tiba-tiba melompat pada kekacauan yang terjadi seharian ini. Pecahan cermin rias tua yang berserakan sejak pagi, ditambah pecahan mangkuk bubur dan gelas air yang ditepis Senjana dalam kemarahannya.Wira teringat
Udaranya di dalam rumah lapuk itu terasa begitu padat, menyesakkan, dan dipenuhi oleh aroma debu serta kayu tua yang mengering. Di atas nampan kayu kecil yang ia bawa, semangkuk bubur hangat dan segelas air putih mengepulkan uap tipis. Wira berdiri di depan pintu kamar belakang—tempat Senjana mengurung diri sejak pagi tadi tanpa sekali pun membuka mulut atau menyentuh apa pun.Dengan gerakan amat hati-hati, Wira mengetuk daun pintu papan itu pelan.Tok... tok..."Senjana..." panggil Wira lirih, suaranya parau dan penuh kehati-hatian. "Kau belum makan apa pun sejak sadar dari koma. Kau harus mengisi perutmu agar tenagamu pulih. Buka pintunya, ya?"Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya ada suara gesekan pelan, tanda bahwa gadis itu masih terjaga di dalam sana.Wira menarik napas panjang, lalu memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci sejak sepeninggalnya Rosa. Daun pintu berderit pelan saat terdorong terbuka. Senjana duduk meringkuk di sudut ranjang, memeluk lututnya erat-erat deng
Matahari siang yang terik di luar kota seolah gagal menembus pekatnya debu dan bayang-bayang kelam yang merayap di jalanan pinggiran. Setelah meninggalkan rumah persembunyian Guntur dan mengantar Rosa, perjalanan yang seharusnya sudah sampai di rumah bordil tempat tinggal Rosa itu tiba-tiba terhalang dan berubah menjadi mimpi buruk yang datang tanpa aba-aba.Di tikungan prostitusi siang hari yang sepi itu, sebuah van hitam berderit berhenti mendadak, memotong jalur mereka. Pintu samping terbuka lebar, dan beberapa pria berbadan tegap berjas gelap langsung melompat turun tanpa memberi kesempatan bagi Guntur maupun Rosa untuk menghindar atau sekadar menarik napas.Guntur bergerak refleks, melemparkan tubuhnya untuk melindungi Rosa sambil melayangkan hantaman siku yang mematahkan rahang penyerang terdekatnya.Rosa sendiri tidak tinggal diam, heels tingginya ia gunakan sebagai senjata tusuk yang menghujam telapak kaki musuh. Namun, perlawanan sengit itu tidak sebanding dengan gelombang la
Masa kini.Kriek...Suara derit pintu kayu bergeser pelan, memecah kesunyian lorong rumah Guntur yang lembap dan berbau debu tua.Rosa melangkah keluar dari dalam kamar Senjana. Begitu daun pintu itu merapat di belakangnya, Rosa langsung menarik napas panjang, menghembuskan sisa udara pengap bercampur bau trauma yang sempat memenuhi paru-parunya.Ia lantas merapikan tali gaun merahnya yang agak melorot akibat ketegangan di dalam ruangan, memoles kembali ekspresi wajahnya, dan memasang topeng khasnya—seorang wanita malam yang terbiasa bersikap acuh tak acuh, penuh godaan, dan hidup di atas sisa-sisa kepalsuan dunia gemerlap yang kejam.Rosa berjalan pelan menyusuri lorong remang-remang menuju ruang tamu rumah lapuk tersebut. Di sana, di antara garis-garis cahaya matahari yang menembus kaca jendela, Wira terduduk bersandar kaku di sofa tua yang sudah robek di beberapa bagian, sementara Guntur berdiri di dekat pintu masuk sambil menyesap sebatang rokok murahan yang mengepulkan asap kelab












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.