MasukSatu sentuhan tanpa sekat mendatangkan nikmat, satu getaran cinta mendatangkan laknat. Di atas kanvas kulit yang dingin penuh luka, sepasang netra beradu menjemput kutukan yang tak termaafkan.
Lihat lebih banyak"Buka kakimu lebih lebar."
Suara berat Wira menggema rendah di dalam ruang tato berukuran tiga kali empat meter itu. Nada bicaranya datar, sedingin es, kontras dengan posisinya yang kini berada di antara kedua lutut seorang wanita. "Se-segini?" tanya wanita itu malu-malu. Wajahnya merona merah. Bukannya menjawab, Wira justru memajukan tubuhnya. Sepasang tangan telanjangnya mencengkeram paha si wanita, lalu merenggangkannya ke samping. "Ahh!" pekik wanita itu terkesiap. Napasnya tertahan seketika. "Kalau tidak begini, nanti jarumnya tidak bisa presisi," ujar Wira dengan tenang. Wira tahu apa yang sering dibisikkan orang-orang tentang dirinya. Di antara para pelanggan wanita yang rela mengantre berbulan-bulan, ia dijuluki Si Patung Tampan karena wajahnya yang sekaku batu. Mereka mengira Wira tidak punya hasrat, karena seberapa liar pun wanita di depannya meliuk atau mendesah, Wira tak pernah membiarkan ekspresinya berubah seujung kuku pun. Dan malam ini, wanita bernama Jeni ini adalah pelanggan ke dua ratus lima puluh tiga yang telentang di atas kursi kulit hitam miliknya. Wira mengingat ini adalah kali ketiga Jeni datang dalam bulan ini. Dari caranya menatap, Wira sadar wanita ini sudah tidak peduli lagi pada estetika gambar atau khasiat magis dari jarum emasnya. Wanita muda itu menginginkan hal lain, sentuhan tangan telanjangnya. Sebagai mantan kuli bangunan, Wira sangat paham kondisi fisiknya sendiri. Telapak tangannya luar biasa lebar, penuh kapalan, keras, dan selalu memancarkan panas alami yang pekat akibat kerja fisik bertahun-tahun. Setiap kali jemari kasarnya mencengkeram kulit pelanggan untuk menahan regangan jarum, ia bisa merasakan bagaimana tubuh mereka berkedut menerima sensasi dari kulitnya. "Begini sudah cukup lebar, Mas Wira...?" Bisikan serak dan sengaja dibuat mengundang itu masuk ke telinga Wira. Wira memperhatikan penampilan Jeni malam ini. Wanita itu mengenakan rok mini ketat berwarna hitam dan cardigan merah marun. Posisi setengah duduk dengan kedua kaki mengangkang lebar di atas penopang kursi memaksa pandangan Wira langsung tertuju pada target tatonya, sebuah gambar naga melingkar yang super rumit, tepat tiga jari di bawah pusar, nyaris menyentuh area paling privat. Pilihan motif naga timur dengan detail sisik mikroskopis, sulur kumis tipis, dan ekor meliuk rumit itu membuat Wira tahu konsekuensinya. Motif sesulit ini memaksanya menghabiskan waktu berjam-jam di posisi intim ini, menuntut fokus luar biasa, dan artinya... tangan kasarnya harus menempel di kulit Jeni jauh lebih lama. Wira melihat rok mini Jeni tersingkap habis hingga ke pangkal paha, memamerkan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang mulai basah oleh keringat dingin gairah. Tatapan menantang dari Jeni langsung ditangkap oleh sepasang mata Wira. Wanita itu seolah sedang menguji batas ketahanannya. Wira hanya mengembuskan napas panjang. Ia menggeser kursi berodanya tepat ke tengah-tengah kedua kaki Jeni. Di posisi seintim ini, Wira tahu kehangatan napasnya yang memburu pasti bisa dirasakan Jeni di sekitar perut bawah dan paha dalamnya. Wira menggulung lengan kaosnya hingga ke bahu, mengekspos otot-otot lengannya yang kekar, legam, dan urat-urat yang menonjol tebal, sisa-sisa kerja keras di proyek bangunan. Sesuai aturan magis studio yang harus dipatuhinya, ia tidak mengenakan sarung tangan latex. Kulitnya harus bertemu langsung dengan kulit pelanggan agar sihir jarum emasnya menyatu sempurna. "Tahan napasmu. Jangan bergerak satu milimeter pun. Ini sangat rumit," perintah Wira dingin, memaku tatapannya tajam ke area target. "Sebentar, Mas. Panas. Aku lepas cardigan dulu," sela Jeni. Di depan mata Wira, Jeni meloloskan cardigan merah marunnya dengan gerakan yang sengaja diperlambat, lalu membuangnya ke lantai. Kini, mata Wira disuguhi pemandangan tank top model crop super ketat dengan aksen tali simpul di kedua sisinya. Pakaian itu mengekspos bentuk tubuh Jeni dengan sempurna di mata Wira, pinggang ramping berlekuk dalam, kulit perut mulus, serta sepasang dada yang membusung padat, nyaris tumpah dari balik potongan rendah tank top setiap kali wanita itu menarik napas. Kontras gila itu terpampang nyata di hadapan Wira. Tubuh wanita yang begitu molek dan matang, terkunci tepat di depan tubuh kekarnya. Rahang Wira mengencang, namun ia memaksa jemarinya tetap stabil. Perlahan, telapak tangan kanan Wira yang besar, hangat, dan kasar bergerak turun. Jemari besarnya mendarat telak di atas kulit perut bawah Jeni, tepat di samping garis renda celana dalam hitam itu, lalu mencengkeramnya kuat untuk mengencangkan permukaan kulit sekitar pusar agar ia bisa mengukir sisik naga dengan presisi. "Ahhh-hnggh..." Wira merasakan punggung Jeni melengkung tinggi secara spontan. Wanita itu memejamkan mata erat-erat dengan jemari kaki yang mencengkeram udara. Wira bisa merasakan langsung di telapak tangannya bagaimana otot perut Jeni berkedut halus akibat sensasi panas dari sentuhannya. Wira mengabaikan desahan itu, meski rahangnya kian mengencang. Ia meraih mesin tato kunonya. Begitu jemari telanjangnya menyentuh badan mesin, Jarum Emas di dalamnya langsung bergetar hebat di genggamannya, mengeluarkan pendaran cahaya keemasan yang mistis dan hawa hangat yang memabukkan. Wira mulai menurunkan ujung jarum yang bergetar cepat itu ke kulit perut Jeni. Detail sisik pertama dimulai. Jarak wajah Wira hanya belasan sentimeter dari pangkal paha Jeni. Aroma parfum mahal bercampur aroma tubuh wanita yang terangsang menyerang penciumannya. Wira harus fokus mendalam, memeras seluruh konsentrasinya, memaksa otaknya mengingat beratnya memanggul tiga sak semen di bawah terik matahari demi meredam gejolak gila yang mulai menegang di bawah celananya sendiri. Ia harus patuh pada larangan mutlak pemilik studio terdahulu: "jangan pernah jatuh cinta atau bernafsu pada pelanggan." Namun, sensasi sihir yang terlalu pekat membuat Jeni kehilangan kendali. Saat jarum Wira mengukir lekukan ekor naga yang rumit di dekat pangkal paha, Jeni tiba-tiba mencengkeram rambut dan bahu berotot Wira dengan kedua tangannya, menarik kepala dan tubuh kekar mantan kuli itu agar semakin merapat, tenggelam ke dalam pelukan kedua kakinya yang terbuka lebar.Napas Rosa kian memburu, menciptakan harmoni yang ganjil di antara dinding-dinding studio yang sunyi. Wanita itu sengaja memundurkan pinggulnya, menyandar manja pada tepi meja kayu tempat Wira biasa menaruh peralatan tatonya. Dengan gaun kaos ketat yang masih tersingkap hingga batas pinggang, ia membiarkan sepasang mata tajam Wira merekam lekuk tubuh bagian bawahnya yang hanya berbalut seutas tali G-string merah menyala. "Mas Wira... lihat aku," bisik Rosa, suaranya mendayu, sengaja memecah keheningan pagi. "Kamu mau mendiamkan aku sampai kapan? Kita sudah sering ketemu, tapi kamu selalu pura-pura jadi patung di depanku." Wira bergeming di tempatnya berdiri. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi paha, mencoba menahan dorongan primitif yang mulai bergejolak di dalam dadanya. Namun, wangi parfum melati yang menguar dari tubuh Rosa seolah mengunci pergerakannya. Melihat Wira yang hanya diam dengan rahang mengeras, Rosa justru semakin percaya diri. wanita itu menunjukkan seula
Pemandangan erotis di depan matanya sempat membuat Wira terpaku selama beberapa detik. Sebagai pria dewasa dengan naluri normal, desiran darah panas itu sempat mengetuk pintu akal sehatnya. Lembaran kain merah tipis yang tenggelam di balik kulit putih bersih milik Rosa adalah jenis racun dunia yang biasa melumpuhkan iman para lelaki. Namun, kilasan memori tentang wanita yang tengah pingsan di kamar belakang, serta beban utang yang esok hari bisa merenggut nyawanya, mendadak menjadi air es yang menyiram habis letupan gairah tersebut. Wira mengalihkan pandangan. Dengan rahang yang mengeras, ia berbalik membelakangi Rosa, berpura-pura sibuk merapikan kembali jajaran jarum tato steril di atas meja stainless steel. "Turunkan rokmu, Rosa," ujar Wira, suaranya terdengar datar dan dingin, mengabaikan debar abnormal di dadanya. Rosa tidak menyerah begitu saja. Penolakan halus dari Wira justru menjadi bensin yang membakar ego dan nafsunya. Alih-alih merapikan pakaiannya, Rosa justr
Malam terus berlalu merayap turun menjemput fajar. Tapi kantuk sama sekali tidak sudi mampir ke pelupuk mata Wira. Pria tegap itu hanya bisa terduduk diam di sudut lantai kamar yang temaram, melipat kedua lututnya sembari menyandarkan punggung pada dinding semen yang lembap. Sepasang matanya tidak pernah lepas menatap tubuh Senjana yang kini telah ia selimuti hingga sebatas dada menggunakan kain jarik lusuh.Pikirannya berkecamuk hebat, saling hantam tanpa ujung. Wira mempertanyakan semua keganjilan yang terjadi padanya malam ini. Mengapa jarum sihir purba itu mengamuk? Apa arti pendar merah di lehernya? Dan yang paling meresahkan, mengapa sentuhan pada luka wanita asing itu mampu menarik paksa pecahan memar masa lalunya yang telah terkunci belasan tahun? Semua pertanyaan itu berputar laksana lingkaran setan, menolak memberikan jawaban.Waktu terasa berputar dengan kejam. Jarum jam dinding berkarat di dinding kamar itu telah menunjukkan pukul sembilan pagi, waktu di mana studio tat
Kepanikan seketika merayap naik, mencengkeram dada Wira jauh lebih menyakitkan dari pada guratan tato urat nadi hitam di lehernya. Pria bertubuh tegap itu berlutut di atas lantai semen yang dingin, memandangi tubuh Senjana yang kini terbujur kaku tak berdaya. Napasnya sendiri memburu tak beraturan, menyisakan rasa bersalah yang teramat pekat di rongga dada.Dengan tangan yang gemetar hebat, Wira perlumengulurkan dua jari tangan kanannya yang kasar ke leher Senjana. Kulit wanita itu terasa sedingin es, membuat Wira sempat menahan napas karena ketakutan setengah mati. Namun, sedetik kemudian, sebuah denyutan halus namun beraturan menyapa ujung jarinya.Dug. Dug. Dug.Wira mengembuskan napas panjang yang gemetar. Detak jantungnya masih ada. Wanita ini hanya pingsan, mungkin ambruk karena syok setelah dinding kesadarannya dihantam badai trauma masa lalu yang tak sengaja dipicu oleh bentakannya.Tanpa membuang waktu, Wira menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tekukan lutut dan pungg






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.