Terbuai! Jarum Magis Mas Wira

Terbuai! Jarum Magis Mas Wira

last updateLast Updated : 2026-08-19
By:  W.M.GOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
75Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sebagai mantan kuli, Wira hanya ingin melunasi utang peninggalan ayah angkatnya yang bajingan dengan membuat tato ajaib. Ia mewarisi jarum tato emas ajaib yang bisa mengabulkan keinginan terdalam manusia. Syaratnya, ia harus patuh pada dua pantangan: Jangan jatuh cinta pada pelanggan dan Jangan membuat Tato Bintang Merah. Naasnya, karena tangannya yang kasar dan kapalan ia kehilangan kepekaan dan memilih membuat tato tanpa sarung tangan. Sebuah keputusan yang berakibat membuat banyak wanita justru mendamba ingin terus disentuhnya dan merasakan tubuhnya. Godaan terus datang, sampai Senjana datang. Wanita itu membawa luka yang anehnya mirip dengan luka yang Wira lupakan di masa lalu. Dan tiba-tiba, hidup Wira berubah total setelahnya. Ia menjadi sandera sang gubernur demi senjana, menjadi buruan mafia yang menginginkan tato bintang merah, hingga Sekte kuno pencipta jarum magis menuntut nyawa. Saat cinta menjadi racun dan sihir menjadi kutukan, Wira harus memilih. Menjadi dewa dengan kekuatan terlarang... atau menjadi manusia biasa demi satu-satunya wanita yang membuatnya ingin melanggar segalanya.

View More

Chapter 1

Bab 1. Pelanggan

"Buka kakimu lebih lebar."

Suara berat Wira menggema rendah di dalam ruang tato berukuran tiga kali empat meter itu. Nada bicaranya datar, sedingin es, kontras dengan posisinya yang kini berada di antara kedua lutut seorang wanita.

"Se-segini?" tanya wanita itu malu-malu. Wajahnya merona merah.

Bukannya menjawab, Wira justru memajukan tubuhnya. Sepasang tangan telanjangnya mencengkeram paha si wanita, lalu merenggangkannya ke samping.

"Ahh!" pekik wanita itu terkesiap. Napasnya tertahan seketika.

"Kalau tidak begini, nanti jarumnya tidak bisa presisi," ujar Wira dengan tenang.

Wira tahu apa yang sering dibisikkan orang-orang tentang dirinya.

Di antara para pelanggan wanita yang rela mengantre berbulan-bulan, ia dijuluki Si Patung Tampan karena wajahnya yang sekaku batu. Mereka mengira Wira tidak punya hasrat, karena seberapa liar pun wanita di depannya meliuk atau mendesah, Wira tak pernah membiarkan ekspresinya berubah seujung kuku pun.

Dan malam ini, wanita bernama Jeni ini adalah pelanggan ke dua ratus lima puluh tiga yang telentang di atas kursi kulit hitam miliknya.

Wira mengingat ini adalah kali ketiga Jeni datang dalam bulan ini.

Dari caranya menatap, Wira sadar wanita ini sudah tidak peduli lagi pada estetika gambar atau khasiat magis dari jarum emasnya.

Wanita muda itu menginginkan hal lain, sentuhan tangan telanjangnya.

Sebagai mantan kuli bangunan, Wira sangat paham kondisi fisiknya sendiri. Telapak tangannya luar biasa lebar, penuh kapalan, keras, dan selalu memancarkan panas alami yang pekat akibat kerja fisik bertahun-tahun.

Setiap kali jemari kasarnya mencengkeram kulit pelanggan untuk menahan regangan jarum, ia bisa merasakan bagaimana tubuh mereka berkedut menerima sensasi dari kulitnya.

"Begini sudah cukup lebar, Mas Wira...?"

Bisikan serak dan sengaja dibuat mengundang itu masuk ke telinga Wira.

Wira memperhatikan penampilan Jeni malam ini.

Wanita itu mengenakan rok mini ketat berwarna hitam dan cardigan merah marun.

Posisi setengah duduk dengan kedua kaki mengangkang lebar di atas penopang kursi memaksa pandangan Wira langsung tertuju pada target tatonya, sebuah gambar naga melingkar yang super rumit, tepat tiga jari di bawah pusar, nyaris menyentuh area paling privat.

Pilihan motif naga timur dengan detail sisik mikroskopis, sulur kumis tipis, dan ekor meliuk rumit itu membuat Wira tahu konsekuensinya.

Motif sesulit ini memaksanya menghabiskan waktu berjam-jam di posisi intim ini, menuntut fokus luar biasa, dan artinya... tangan kasarnya harus menempel di kulit Jeni jauh lebih lama.

Wira melihat rok mini Jeni tersingkap habis hingga ke pangkal paha, memamerkan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang mulai basah oleh keringat dingin gairah. Tatapan menantang dari Jeni langsung ditangkap oleh sepasang mata Wira. Wanita itu seolah sedang menguji batas ketahanannya.

Wira hanya mengembuskan napas panjang.

Ia menggeser kursi berodanya tepat ke tengah-tengah kedua kaki Jeni. Di posisi seintim ini, Wira tahu kehangatan napasnya yang memburu pasti bisa dirasakan Jeni di sekitar perut bawah dan paha dalamnya.

Wira menggulung lengan kaosnya hingga ke bahu, mengekspos otot-otot lengannya yang kekar, legam, dan urat-urat yang menonjol tebal, sisa-sisa kerja keras di proyek bangunan.

Sesuai aturan magis studio yang harus dipatuhinya, ia tidak mengenakan sarung tangan latex. Kulitnya harus bertemu langsung dengan kulit pelanggan agar sihir jarum emasnya menyatu sempurna.

"Tahan napasmu. Jangan bergerak satu milimeter pun. Ini sangat rumit," perintah Wira dingin, memaku tatapannya tajam ke area target.

"Sebentar, Mas. Panas. Aku lepas cardigan dulu," sela Jeni.

Di depan mata Wira, Jeni meloloskan cardigan merah marunnya dengan gerakan yang sengaja diperlambat, lalu membuangnya ke lantai.

Kini, mata Wira disuguhi pemandangan tank top model crop super ketat dengan aksen tali simpul di kedua sisinya.

Pakaian itu mengekspos bentuk tubuh Jeni dengan sempurna di mata Wira, pinggang ramping berlekuk dalam, kulit perut mulus, serta sepasang dada yang membusung padat, nyaris tumpah dari balik potongan rendah tank top setiap kali wanita itu menarik napas.

Kontras gila itu terpampang nyata di hadapan Wira. Tubuh wanita yang begitu molek dan matang, terkunci tepat di depan tubuh kekarnya.

Rahang Wira mengencang, namun ia memaksa jemarinya tetap stabil.

Perlahan, telapak tangan kanan Wira yang besar, hangat, dan kasar bergerak turun. Jemari besarnya mendarat telak di atas kulit perut bawah Jeni, tepat di samping garis renda celana dalam hitam itu, lalu mencengkeramnya kuat untuk mengencangkan permukaan kulit sekitar pusar agar ia bisa mengukir sisik naga dengan presisi.

"Ahhh-hnggh..."

Wira merasakan punggung Jeni melengkung tinggi secara spontan. Wanita itu memejamkan mata erat-erat dengan jemari kaki yang mencengkeram udara. Wira bisa merasakan langsung di telapak tangannya bagaimana otot perut Jeni berkedut halus akibat sensasi panas dari sentuhannya.

Wira mengabaikan desahan itu, meski rahangnya kian mengencang.

Ia meraih mesin tato kunonya. Begitu jemari telanjangnya menyentuh badan mesin, Jarum Emas di dalamnya langsung bergetar hebat di genggamannya, mengeluarkan pendaran cahaya keemasan yang mistis dan hawa hangat yang memabukkan.

Wira mulai menurunkan ujung jarum yang bergetar cepat itu ke kulit perut Jeni.

Detail sisik pertama dimulai. Jarak wajah Wira hanya belasan sentimeter dari pangkal paha Jeni. Aroma parfum mahal bercampur aroma tubuh wanita yang terangsang menyerang penciumannya.

Wira harus fokus mendalam, memeras seluruh konsentrasinya, memaksa otaknya mengingat beratnya memanggul tiga sak semen di bawah terik matahari demi meredam gejolak gila yang mulai menegang di bawah celananya sendiri.

Ia harus patuh pada larangan mutlak pemilik studio terdahulu: "jangan pernah jatuh cinta atau bernafsu pada pelanggan."

Namun, sensasi sihir yang terlalu pekat membuat Jeni kehilangan kendali.

Saat jarum Wira mengukir lekukan ekor naga yang rumit di dekat pangkal paha, Jeni tiba-tiba mencengkeram rambut dan bahu berotot Wira dengan kedua tangannya, menarik kepala dan tubuh kekar mantan kuli itu agar semakin merapat, tenggelam ke dalam pelukan kedua kakinya yang terbuka lebar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
75 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status