LOGINSebagai mantan kuli, Wira hanya ingin melunasi utang peninggalan ayah angkatnya yang bajingan dengan membuat tato ajaib. Ia mewarisi jarum tato emas ajaib yang bisa mengabulkan keinginan terdalam manusia. Syaratnya, ia harus patuh pada dua pantangan: Jangan jatuh cinta pada pelanggan dan Jangan membuat Tato Bintang Merah. Naasnya, karena tangannya yang kasar dan kapalan ia kehilangan kepekaan dan memilih membuat tato tanpa sarung tangan. Sebuah keputusan yang berakibat membuat banyak wanita justru mendamba ingin terus disentuhnya dan merasakan tubuhnya. Godaan terus datang, sampai Senjana datang. Wanita itu membawa luka yang anehnya mirip dengan luka yang Wira lupakan di masa lalu. Dan tiba-tiba, hidup Wira berubah total setelahnya. Ia menjadi sandera sang gubernur demi senjana, menjadi buruan mafia yang menginginkan tato bintang merah, hingga Sekte kuno pencipta jarum magis menuntut nyawa. Saat cinta menjadi racun dan sihir menjadi kutukan, Wira harus memilih. Menjadi dewa dengan kekuatan terlarang... atau menjadi manusia biasa demi satu-satunya wanita yang membuatnya ingin melanggar segalanya.
View More"Buka kakimu lebih lebar."
Suara berat Wira menggema rendah di dalam ruang tato berukuran tiga kali empat meter itu. Nada bicaranya datar, sedingin es, kontras dengan posisinya yang kini berada di antara kedua lutut seorang wanita. "Se-segini?" tanya wanita itu malu-malu. Wajahnya merona merah. Bukannya menjawab, Wira justru memajukan tubuhnya. Sepasang tangan telanjangnya mencengkeram paha si wanita, lalu merenggangkannya ke samping. "Ahh!" pekik wanita itu terkesiap. Napasnya tertahan seketika. "Kalau tidak begini, nanti jarumnya tidak bisa presisi," ujar Wira dengan tenang. Wira tahu apa yang sering dibisikkan orang-orang tentang dirinya. Di antara para pelanggan wanita yang rela mengantre berbulan-bulan, ia dijuluki Si Patung Tampan karena wajahnya yang sekaku batu. Mereka mengira Wira tidak punya hasrat, karena seberapa liar pun wanita di depannya meliuk atau mendesah, Wira tak pernah membiarkan ekspresinya berubah seujung kuku pun. Dan malam ini, wanita bernama Jeni ini adalah pelanggan ke dua ratus lima puluh tiga yang telentang di atas kursi kulit hitam miliknya. Wira mengingat ini adalah kali ketiga Jeni datang dalam bulan ini. Dari caranya menatap, Wira sadar wanita ini sudah tidak peduli lagi pada estetika gambar atau khasiat magis dari jarum emasnya. Wanita muda itu menginginkan hal lain, sentuhan tangan telanjangnya. Sebagai mantan kuli bangunan, Wira sangat paham kondisi fisiknya sendiri. Telapak tangannya luar biasa lebar, penuh kapalan, keras, dan selalu memancarkan panas alami yang pekat akibat kerja fisik bertahun-tahun. Setiap kali jemari kasarnya mencengkeram kulit pelanggan untuk menahan regangan jarum, ia bisa merasakan bagaimana tubuh mereka berkedut menerima sensasi dari kulitnya. "Begini sudah cukup lebar, Mas Wira...?" Bisikan serak dan sengaja dibuat mengundang itu masuk ke telinga Wira. Wira memperhatikan penampilan Jeni malam ini. Wanita itu mengenakan rok mini ketat berwarna hitam dan cardigan merah marun. Posisi setengah duduk dengan kedua kaki mengangkang lebar di atas penopang kursi memaksa pandangan Wira langsung tertuju pada target tatonya, sebuah gambar naga melingkar yang super rumit, tepat tiga jari di bawah pusar, nyaris menyentuh area paling privat. Pilihan motif naga timur dengan detail sisik mikroskopis, sulur kumis tipis, dan ekor meliuk rumit itu membuat Wira tahu konsekuensinya. Motif sesulit ini memaksanya menghabiskan waktu berjam-jam di posisi intim ini, menuntut fokus luar biasa, dan artinya... tangan kasarnya harus menempel di kulit Jeni jauh lebih lama. Wira melihat rok mini Jeni tersingkap habis hingga ke pangkal paha, memamerkan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang mulai basah oleh keringat dingin gairah. Tatapan menantang dari Jeni langsung ditangkap oleh sepasang mata Wira. Wanita itu seolah sedang menguji batas ketahanannya. Wira hanya mengembuskan napas panjang. Ia menggeser kursi berodanya tepat ke tengah-tengah kedua kaki Jeni. Di posisi seintim ini, Wira tahu kehangatan napasnya yang memburu pasti bisa dirasakan Jeni di sekitar perut bawah dan paha dalamnya. Wira menggulung lengan kaosnya hingga ke bahu, mengekspos otot-otot lengannya yang kekar, legam, dan urat-urat yang menonjol tebal, sisa-sisa kerja keras di proyek bangunan. Sesuai aturan magis studio yang harus dipatuhinya, ia tidak mengenakan sarung tangan latex. Kulitnya harus bertemu langsung dengan kulit pelanggan agar sihir jarum emasnya menyatu sempurna. "Tahan napasmu. Jangan bergerak satu milimeter pun. Ini sangat rumit," perintah Wira dingin, memaku tatapannya tajam ke area target. "Sebentar, Mas. Panas. Aku lepas cardigan dulu," sela Jeni. Di depan mata Wira, Jeni meloloskan cardigan merah marunnya dengan gerakan yang sengaja diperlambat, lalu membuangnya ke lantai. Kini, mata Wira disuguhi pemandangan tank top model crop super ketat dengan aksen tali simpul di kedua sisinya. Pakaian itu mengekspos bentuk tubuh Jeni dengan sempurna di mata Wira, pinggang ramping berlekuk dalam, kulit perut mulus, serta sepasang dada yang membusung padat, nyaris tumpah dari balik potongan rendah tank top setiap kali wanita itu menarik napas. Kontras gila itu terpampang nyata di hadapan Wira. Tubuh wanita yang begitu molek dan matang, terkunci tepat di depan tubuh kekarnya. Rahang Wira mengencang, namun ia memaksa jemarinya tetap stabil. Perlahan, telapak tangan kanan Wira yang besar, hangat, dan kasar bergerak turun. Jemari besarnya mendarat telak di atas kulit perut bawah Jeni, tepat di samping garis renda celana dalam hitam itu, lalu mencengkeramnya kuat untuk mengencangkan permukaan kulit sekitar pusar agar ia bisa mengukir sisik naga dengan presisi. "Ahhh-hnggh..." Wira merasakan punggung Jeni melengkung tinggi secara spontan. Wanita itu memejamkan mata erat-erat dengan jemari kaki yang mencengkeram udara. Wira bisa merasakan langsung di telapak tangannya bagaimana otot perut Jeni berkedut halus akibat sensasi panas dari sentuhannya. Wira mengabaikan desahan itu, meski rahangnya kian mengencang. Ia meraih mesin tato kunonya. Begitu jemari telanjangnya menyentuh badan mesin, Jarum Emas di dalamnya langsung bergetar hebat di genggamannya, mengeluarkan pendaran cahaya keemasan yang mistis dan hawa hangat yang memabukkan. Wira mulai menurunkan ujung jarum yang bergetar cepat itu ke kulit perut Jeni. Detail sisik pertama dimulai. Jarak wajah Wira hanya belasan sentimeter dari pangkal paha Jeni. Aroma parfum mahal bercampur aroma tubuh wanita yang terangsang menyerang penciumannya. Wira harus fokus mendalam, memeras seluruh konsentrasinya, memaksa otaknya mengingat beratnya memanggul tiga sak semen di bawah terik matahari demi meredam gejolak gila yang mulai menegang di bawah celananya sendiri. Ia harus patuh pada larangan mutlak pemilik studio terdahulu: "jangan pernah jatuh cinta atau bernafsu pada pelanggan." Namun, sensasi sihir yang terlalu pekat membuat Jeni kehilangan kendali. Saat jarum Wira mengukir lekukan ekor naga yang rumit di dekat pangkal paha, Jeni tiba-tiba mencengkeram rambut dan bahu berotot Wira dengan kedua tangannya, menarik kepala dan tubuh kekar mantan kuli itu agar semakin merapat, tenggelam ke dalam pelukan kedua kakinya yang terbuka lebar.Ruangan studio mendadak sunyi, hanya menyisakan deru pendingin udara yang berhembus pelan. Pernyataan lugas Wira menggantung di udara seperti bom waktu yang siap meledak.Wira menopang dagunya dengan sebelah tangan, memperhatikan raut wajah Guntur yang berubah drastis. Pria bertubuh kekar dengan codet mengerikan di pipi kiri serta tato tribal yang memenuhi lehernya itu mendadak salah tingkah. Cengkraman jemari tebal Guntur pada puntung rokoknya mengencang hingga gulungan tembakau itu tertekuk pasrah.Ganta yang berdiri tak jauh dari sana menutupi mulutnya dengan kedua tangan, berusaha setengah mati menahan tawa agar suara letupannya tidak terlontar ke udara. Siapa yang akal sehatnya bisa membayangkan, seseorang seperti Guntur bisa tertangkap basah menyimpan rasa pada seorang wanita penghibur?"Bicara sembarangan kau, Wira!" gertak Guntur, suaranya yang serak dan berat mendadak naik satu nada, terdengar sumbang. Ia membuang puntung rokoknya ke dalam asbak kayu dengan sentakan kasar, la
"Bang...! Bang Wira...!" Suara panggilan Ganta memecah ketegangan yang mendadak membeku di lorong paviliun. Langkah kaki asisten muda itu terdengar tergopoh-gopoh mendekat, namun perlahan melambat saat berpapasan langsung dengan Senjana. Ganta buru-buru menundukkan kepala penuh hormat, memberi jalan sebelum akhirnya menghentikan langkahnya tepat saat Wira melangkah keluar dari ambang pintu kamar. "Ada apa, Ganta?" tanya Wira cepat. Dahinya berkerut cemas, benaknya langsung dipenuhi dugaan buruk kalau-kalau rombongan Black Serpent yang dipimpin Marco mendadak berbalik arah dan kembali. Ganta melirik canggung ke arah Senjana. Gadis itu berdiri tak jauh dari mereka di depan meja bar dapur mini, tengah menenggak sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas dengan gerakan tenang. "Di depan ada orang, Bang," bisik Ganta ragu. "Studio sudah tutup. Aku tidak menerima pelayanan tato atau pelanggan lagi hari ini," pangkas Wira tegas, rasa lelah dan frustrasi masih menumpuk di dadanya.
Desir angin siang berembus dingin melewati lorong panjang yang menghubungkan studio utama dengan bangunan paviliun belakang. Langkah kaki Wira terasa berat, diiringi denyut tegang yang belum sepenuhnya mereda dari kepalanya. Setelah memastikan rombongan SUV hitam milik Black Serpent benar-benar melaju jauh dan kondisi studio aman di bawah penjagaan Ganta, pria itu langsung mengayunkan langkahnya menyusul Senjana. Hati Wira digeluti rasa bersalah yang menusuk. Terbayang jelas di benaknya bagaimana bahu kecil gadis itu gemetar ketakutan saat ia membentaknya kasar di depan Marco tadi. Tiba di depan pintu kamar paling ujung Paviliun, Wira berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu kamar Senjana.Tok! Tok! Tok! Tidak ada suara atau sahutan dari dalam. Keheningan yang janggal melingkupi lorong itu. Tok! Tok! Tok! Wira kembali memukul daun pintu, kali ini sedikit lebih keras. "Senjana? Ini aku, Wira..." Masih tetap tidak ada jawaban. Khawatir terjadi sesuatu
Dahi Wira berkerut singkat. Perubahan raut wajahnya yang mendadak tegang tidak luput dari perhatian Marco. Sebagai seorang pimpinan mafia yang terbiasa membaca kelemahan lawan, Marco seketika menyadari kekhawatiran mendalam yang melintas cepat di manik mata sang tukang tato. Seulas senyum culas yang teramat tipis terukir di wajah tegas Marco. "Wira...!!!" Mata Senjana terbelalak lebar. Langkah kakinya yang semula santai terhenti mendadak tepat di samping Ganta yang berdiri kaku. Gadis itu terperanjat mendapati sebuah moncong pistol perak sedang ditodongkan tepat di bawah dagu Wira, ia baru menyadari bahwa studio itu telah dipenuhi oleh rombongan pria asing bertubuh tegap. "Ah... Jangan takut, Gadis Manis. Aku hanya sedang bercanda dengan kekasihmu," ujar Marco santai. Dengan gerakan lambat, ia menarik kembali pistol perak tersebut dan melemparnya asal ke arah anak buahnya. Marco kemudian menyunggingkan senyuman yang diusahakannya semanis mungkin ke arah Senjana—meski wajah garan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.