ANMELDENDemi mengangkat derajat keluarganya dan melunasi janji di atas boncengan sepeda listrik bersama Zhui Fhen—gadis kaya nan jenius—Sean Chen, anak desa bermental baja, nekat mempertaruhkan segalanya demi menembus Universitas Eijing Nasional yang super ketat. Bermodalkan buku catatan bertinta biru milik Zhui dan malam-malam tanpa tidur menaklukkan rumitnya kalkulus, Sean berjuang meruntuhkan jurang status sosial serta membungkam siapa saja yang meremehkannya. Namun, saat mimpi dan cinta hampir terjangkau di pelupuk mata, mampukah ketulusan anak desa ini bertahan ketika ujian terberat yang sebenarnya justru datang dari masa lalu yang tak pernah ia duga?
Mehr anzeigen"Sean!."
Sebuah pekikan melengking memecah keriuhan parkiran Shang High School. Seorang gadis berseragam SMA yang masih rapi melambaikan tangan dari sudut area parkir, lalu melangkah setengah berlari. "Eh... Zhui," sahut Sean. Senyumnya langsung merekah begitu menangkap sosok gadis itu. "Hmm, tega banget, ya, mau ninggalin aku!" gerutu Zhui dengan napas sedikit terengah. Sepasang matanya menyipit jengkel, membuat Sean justru gemas. "Iya, iya, maaf, Zhui." Sean terkekeh pelan. Tangan kanannya terulur, mencubit gemas ujung hidung Zhui yang masih cemberut. "Ayo naik." "Oke, dimaafkan. Tapi awas ya, lain kali kalau beneran ditinggal, aku bakal ngambek seminggu!." ancam Zhui dengan nada tengil yang khas, sebelum akhirnya melompat naik ke boncengan sepeda listrik milik Sean. Namanya Sean Chen. Dia hanyalah seorang siswa biasa di Shang High School, lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana di sudut pedesaan Shang. Namun, kemiskinan tidak bisa memenjarakan isi kepalanya. Mimpinya melambung tinggi dia ingin mencetak sejarah dan menjadi salah satu peneliti hebat yang diakui di seantero negeri Liongkok. Gadis di boncengan Sean ini bernama Zhui Fhen. Hubungan kami telah jauh melampaui batas teman biasa. Sean tidak bisa membayangkan hari harinya tanpa dirinya. Mereka telah mengikat janji suatu hari nanti, kami harus menembus gerbang Universitas Penelitian Unggulan di Kota Eijing bersama-sama. Sepeda listrik pun melaju membelah jalanan sore yang mulai lengang. "Sean, tidak terasa sebentar lagi kita sudah mau naik ke kelas akhir ya." celetuk Zhui, memecah keheningan. "Makanya, kamu harus belajar lebih rajin lagi kalau benar-benar mau masuk UEN. Ingat ya, nilai matematikamu itu masih kalah jauh dari nilai-nilaiku." Bersamaan dengan tawa ejekannya yang manis, Sean merasakan sepasang lengan Zhui melingkar dan mempererat pelukannya di pinggang Sean. Detak jantung Sean mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ia sengaja menarik gas sepedanya sedikit lebih dalam, membuat Zhui refleks memekik dan bersandar penuh pada punggungnya. "Sean! Sengaja, ya!" protes Zhui, mencubit pelan pinggang Sean. Sean tertawa lepas. Namun, di dalam hatinya ucapan Zhui barusan seperti alarm yang membangunkan realitas. Menembus UEN (Universitas Eijing Nasional) bukan perkara mudah bagi anak desa yang tidak punya biaya untuk ikut bimbingan belajar mahal di pusat kota. Persaingan di Liongkok sangatlah kejam. "Zhui..." panggil Sean pelan. "Kenapa?" "Kalau... kalau nanti di ujian akhir nilaiku tetap tidak bisa mengejarmu, dan aku gagal masuk UEN... apa kamu akan tetap pergi ke Eijing sendirian?" Pertanyaan itu lolos begitu saja, membawa sedikit nada getir yang selama ini ia pendam. Zhui tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan dagunya di bahu Sean, membuat jarak di antara mereka terkikis habis. "Jangan bicara sembarangan," bisik Zhui, nadanya kini melunak. "Aku tidak mau tahu. Kamu harus lulus. Lagipula, siapa yang mau mengajari anak bodoh sepertimu kalau bukan aku? Aku akan membagikan semua catatan teoriku. Jadi, tidak ada alasan untuk gagal Sean." Sean tersenyum tipis, menatap lurus ke arah matahari terbenam. Di dalam hatinya, sebuah tekad baru terpahat kuat. "Baiklah, kalau itu memang maunya Tuan Putri Zhui. Mulai malam ini, Sean akan giat belajar matematika sampai kepalanya berasap." Zhui tersenyum lebar di balik punggung Sean. Sambil mengeratkan kaitan jemarinya, ia memejamkan mata dan merapalkan doa tulus dalam hati agar mereka bisa menembus UEN bersama-sama. Dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit membelah jalanan menuju kawasan perumahan tempat tinggal Zhui. Semakin mendekati tujuan, pemandangan rumah semi-permanen berganti menjadi deretan dinding beton yang tinggi dan megah. Realitas itu selalu menampar Sean tentang jurang status sosial di antara mereka. "Kita sampai," ucap Sean begitu menghentikan sepeda listriknya tepat di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. "Iya, makasih ya," sahut Zhui melompat turun dari boncengan dengan gerakan lincah. "Eh, sudah pulang, Zhu? Makasih, ya, Sean, sudah mengantar anak Tante." Seorang wanita paruh baya berpakaian kasual namun elegan berjalan mendekat. Itu adalah Ibu Fhen, ibunya Zhui. Senyum ramahnya selalu berhasil mencairkan suasana canggung di kepala Sean. "Sama-sama, Tante. Kebetulan searah," jawab Sean sopan sambil membungkuk hormat, menyembunyikan fakta bahwa rumahnya di pedesaan sebenarnya berputar arah cukup jauh dari sini. "Mau mampir dulu, Sean? Tante kebetulan baru buat kue," tawar Ibu Fhen tulus. "Ah, tidak usah Tante, terima kasih banyak. Hari sudah mulai sore Sean harus segera pulang sebelum gelap, karena jalanan arah desa minim penerangan." tolak Sean halus. Setelah berpamitan dan bersalaman dengan takzim, Sean memutar sepeda listriknya membelah senja. Perjalanan pulang menuju desanya terasa jauh lebih sunyi tanpa celotehan Zhui. Begitu roda sepedanya melewati batas aspal halus dan mulai menggilas jalanan tanah berbatu khas pedesaan, Sean mengembuskan napas panjang. Satu jam kemudian, Sean tiba di depan rumah kayu sederhana dengan atap seng yang mulai berkarat. "Sean, kamu sudah pulang, Nak?" panggil ayahnya dari arah dapur. Pria tua itu berjalan keluar sambil menyeka keringat dengan handuk kecil, penat setelah seharian bekerja di ladang orang. "Iya, Ayah. Sean baru sampai," jawab Sean. Ayahnya menepuk bahu Sean lembut. "Mandi dan makanlah dulu. Tadi ibumu memasak sayur sisa kemarin, tapi masih bagus setelah dihangatkan." Sean mengangguk. Menyaksikan gurat lelah di wajah ayahnya, dadanya terasa sesak oleh dorongan ambisi yang kian menggebu. Ia harus membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan, dan UEN adalah jembatan utama untuk mewujudkannya. Malam harinya, Sean mengunci diri di kamarnya yang sempit. Diterangi lampu neon kecil berkedip-kedip di atas meja kayu lapuk, ia membuka buku paket matematika tebal beserta lembaran catatan rumus bertulisan tangan rapi milik Zhui yang diselipkan ke tasnya tadi. Sean menarik napas dalam-dalam. "UEN... Kota Eijing... tunggu aku," bisiknya pada kesunyian malam. Jemari Sean mulai menari di atas kertas coretan, memecahkan kode-kode angka demi mengejar ketertinggalannya. Di luar, suara jangkrik pedesaan saling bersahut-sahutan, namun di dalam kepalanya, hanya ada bayangan masa depan yang cerah, laboratorium penelitian yang megah, dan senyum manis Zhui di gerbang Universitas Eijing Nasional. Sejarah barunya di Liongkok, baru saja dimulai dari kamar kecil ini.Ketukan tumit sepatu hak tinggi di atas ubin koridor mendadak memotong udara tipis yang membelenggu mereka berdua. Pintu kelas terdorong terbuka, memecah ketegangan yang nyaris meledak dalam keheningan. "Selamat pagi, anak-anak." "Pagi, Miss..." koor serempak dari para siswa menyambut sosok wali kelas mereka yang melangkah masuk membawa tumpukan buku tebal. Zhui mengembuskan napas perlahan, membiarkan dadanya yang sedari tadi sesak kembali terisi udara. Ia selamat. Interogasi Sean terhenti tepat pada garis batas sebelum pertahanannya hancur total. Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. Pengakuan yang meluncur dari bibir Sean beberapa saat lalu kalimat singkat namun menghancurkan yang diucapkannya tepat sebelum guru mereka melangkah masuk masih bergema kencang di kepala Zhui. “Aku tahu malam itu kamu tidak sendirian, Zhui.” Zhui memberanikan diri melirik ke samping. Tatapan Sean telah berubah. Tidak ada lagi keraguan atau kepura-puraan di sana. Mata cowok itu m
Layar ponsel Zhui yang tergeletak di atas meja rias menyala redup saat fajar menyingsing. Sebuah pesan baru tertera di panel notifikasi, dikirim beberapa jam lalu dari nomor tanpa nama: Ryan: Salam kenal. Boleh aku simpan contact kamu, Zhui? Sayangnya, balasan Ryan belum kunjung dibalas Zhui hingga keesokan harinya. Pesan itu dibiarkan membeku tanpa sentuhan, terkubur oleh rasa bersalah Zhui yang enggan berurusan dengan cowok asing tersebut. Sementara itu, di sudut pedesaan Shang yang masih diselimuti kabut tipis. Sinar fajar menerobos masuk melalui celah dinding kayu kamar Sean. Tok... Tok... Tok... "Sean, makan dulu Nak!" teriak Ibu Yufen dari luar kamar. Wanita paruh baya bertubuh kurus itu adalah ibu kandung Sean. Ia memutar gagang pintu kayu yang tak terkunci, berniat menyuruh putra tunggalnya sarapan sebelum berangkat sekolah. "Se—" Panggilan itu terputus seketika. Langkah Ibu Yufen terhenti tepat di ambang pintu. Di atas meja kayu yang lapuk, Sean tampak tertidur lelap
Perjalanan sisa sore itu dinaungi hening yang agak ganjil. Sean bisa merasakannya sebuah jarak tak kasat mata yang mendadak membentang rapuh di antara mereka. Zhui yang biasanya tak berhenti mengoceh tentang hal-hal konyol sepanjang jalan, kini lebih banyak diam. Jemarinya hanya tertaut erat pada pinggang seragam Sean. Ada sesuatu yang mengganjal di benak Sean. Sebuah firasat samar bahwa ada riak kecil yang sedang bersiap memicu gelombang. Namun, Sean menepis gundah itu pelan-panik. Ia memilih berprasangka baik. Zhui mungkin hanya lelah setelah kejar-kejaran dengan waktu dan amukan Pak Nelson di perpustakaan tadi. "Kita sampai, Zhu," ucap Sean pelan sembari menarik tuas rem tepat di depan pagar rumah beratap genteng merah milik keluarga Zhui. "A-akh, iya..." Zhui tersentak kecil dari lamunannya, lalu buru-buru melangkah turun dari boncengan. Ia berusaha menyunggingkan senyum semanis mungkin untuk mencairkan suasana. "Perasaan perjalanan hari ini cepat banget, deh. Enggak kayak kema
"Zhui!." "Zhui Fhen!." Sean menghela napas panjang sembari menepuk dahinya pelan. Suaranya sampai terdengar sedikit serak karena terus-menerus memanggil gadis itu. Kalau sudah berkumpul dengan teman-temannya, telinga Zhui seolah mendadak dipasangi penyumbat kedap suara. "Eh, aku duluan ya!. Kayaknya Sean udah panggil dari tadi tuh," kata Zhui bergegas memotong pembicaraan seru di kelompoknya. "Oke, Zhu!" seru Selena setengah berteriak dari ambang gerbang. "Nanti malam jangan lupa online chat ya!." "Siap!," sahut Zhui panjang sembari setengah berlari menghampiri Sean yang sudah menunggu di samping sepeda listriknya. Napas Zhui terengah-engah begitu sampai di hadapan Sean. "Hah... hah... Capek banget, Se—" "Kamu ngomongin apa sih sama mereka?" potong Sean cepat, menatap Zhui dengan picik penuh rasa ingin tahu. "Serius amat sampai dipanggil berulang kali tidak dengar?." "Aduh, nanti saja. Napasku masih Senin-Kamis gini," celetuk Zhui sembari memegangi dadanya yang naik-turun. "Yu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.