Masuk68Arfan berteriak sesaat setelah pesawat berlogo Baltissen 1 mendarat di landasan. Arfan maju dan menempelkan kedua tangannya ke kaca, sembari memandangi moncong pesawat yang kian mendekat. Sekian menit berlalu. Arfan telah digendong Kairav yang jalan cepat menuju pesawat. Pintu burung besi terbuka dan Jariz keluar lebih dulu sambil menjinjing tas kerjanya. Satu per satu ajudan muda turun. Mereka bergegas mengambil koper para bos dan menyeretnya ke ruang tunggu. Kairav menaiki tangga, lalu menurunkan Arfan guna bisa menjelajahi isi kabin. Arfan menyambangi Atalaric dan beberapa bos yang masih berada di dalam. Alvaro menggenggam tangan kiri Arfan dan mengajaknya memasuki kokpit. Lelaki kecil berkemeja merah itu sempat termangu, memandangi pilot dan kopilor yang merupakan warga negara asing. Namun, kala kopilot menyapanya dengan bahasa Indonesia fasih, Arfan spontan tersenyum. "Om, namanya siapa?" tanya Arfan, sembari memandangi sang kopilot. "Gutierre Benedicto. Aku, Adik sepupu
67 Sidang perdana atas Felix berlangsung secara tertutup. Selain petugas keamanan, banyak polisi yang turut mengamankan sekitar gedung pengadilan. Sebab Felix cukup terkenal di dunia bisnis hiburan tanah air, banyak awak media resmi maupun independen, yang memenuhi area parkir depan gedung. Atalaric tidak hadir dalam sidang itu, karena sedang dinas ke Filipina. Dia diwakili kuasa hukum, dan Caksa, serta Hisyam. Harvitha hadir dengan didampingi Farras, Hasni, dan ketiga sahabatnya. Sebagai pihak penggugat, Harvitha tetap bersikap tenang. Dia duduk di bangku belakang tim kuasa hukum dan nyaris tidak bergerak, hingga persidangan itu usai. Harvitha bangkit dan merapikan gaunnya. Panggilan dari depan membuatnya menengadah, dan memandangi pria berkemeja putih yang tengah berdiri di dekat pagar pembatas. "Terima kasih sudah mau datang," cakap Felix, sesaat setelah Harvitha mendekat."Ya." Harvitha terdiam sejenak, lalu dia bertanya, "Bapak, sehat?" "Lumayan. Ehm, makasih juga atas kir
66Harvitha mengusap set perhiasan di tujuh kotak yang dibukakan Zhou Yiran, di meja toko perhiasannya dan Malya (istri Jariz), yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Harvitha bingung hendak memilih yang mana, karena semuanya bagus. Dia meminta pendapat Atalaric yang juga sama bingungnya. Kemudian Atalaric mengusulkan guna mengirimkan semua foto set perhiasan itu pada Sekar, yang dianggap lebih memahami detail perhiasan. Selama beberapa menit Sekar mengamati setiap detail foto. Lalu dia memberi tanda pada tiga set yang menurutnya paling cocok dengan kepribadian Harvitha. Kemudian Sekar mengirimkan ulang foto itu pada calon Adik iparnya. Harvitha berdiskusi dengan Zhou Yiran, yang kemudian menerangkan setiap detail perhiasan buatannya itu, sebagai bahan pertimbangan sang calon pengantin. "Saranku, ini paling pas buat mahar," ujar Zhou Yiran sambil menunjuk kotak perhiasan kedua. "Yang ini, bisa dipakai untuk akad," lanjutnya sembari memajukan kotak pertama
65*Tim Sukses VYJA*Alvaro : Sudah ada laporan dari tim China? Deswin : Laporan apa? @Padre. Alvaro : Loh! Kok, kekirim ke sini? Padahal tujuanku ke grup VCAZ. Panji : Sudah kuduga, Padre salah grup. Zulfi : Kumat lagi dia. Dimas : Dari 4 hari lalu, Padre sudah beberapa kali salah kirim. Paling sering, ke grup petinggi. Padahal tujuannya ke grup lain.Dhruvi : Padahal profil grupnya beda-beda. Panglima : Harap dimaklumi. Abangku lagi stres ditinggalin istrinya holiday sama ibu-ibu pejabat. Zhao Yichen : Alasan doang, itu. Madre cuma pergi seminggu, dan dengan pengawalan ketat. Varo lebih sering kabur dari rumah tanpa kabar. Yanuar ; Dan bikin orang se-Jakarta heboh nyariin dia. Bikin emosi!Hendri : Ujung-ujungnya, aku sama Z ditelepon W, supaya bantu nyariin Varo, pake mata batin. Zein : Jadi berasa kayak nyari jurig. Kenzo : Hantu kompeni. Irish : Padre paling cakep waktu jadi penjahat di film kung fu itu, yang bintang utamanya Mamados. Kimora : Benar. Aku masih simpan
64 Seunit bus berhenti di depan lapas kejaksaan. Beberapa tahanan turun dengan didampingi satu petugas per orang. Mereka diarahkan menuju ruangan luas, lalu dipersiapkan duduk.Satu per satu pengacara maju ke dekat meja petugas pencatatan, guna memastikan kelengkapan dokumen klien masing-masing. Kemudian, para lawyer itu mengekori langkah kliennya yang diantarkan petugas ke sel khusus tahanan baru. Felix dan Miko menjadi dua tahanan terakhir yang diarahkan petugas ke area dalam. Namun, mereka tidak ditempatkan di sel yang sama dengan beberapa tahanan sebelumnya. Felix dan Miko diantarkan ke ruangan kecil di sudut kanan lorong panjang. Sekian menit berlalu. Sang petugas dan pengacara telah keluar dari kamar itu. Felix merebahkan tubuh di kasur bawah. Sedangkan Miko tengah memindahkan pakaian dari koper ke lemari kecil di pojok kiri ruangan. "Kayaknya cuma kita yang ditempatkan di kamar kayak gini," ucap Miko, sembari duduk di bangku depan meja kecil. "Ya. Ini ruangan VIP buat taha
63Harvitha menatap pantulan dirinya di cermin besar. Dia meraba kristal swarovsky yang melapisi seluruh bagian kain luar gaun pengantinnya. Sinar ratusan permata itu tampak berkilau di cermin, dari bagian leher sampai lantai yang menutupi kedua kaki perempuan tersebut. Harvitha kaget kala Dahayu menyisiri rambutnya, sebelum digelung sederhana. Risty memasangkan tiara yang dijepit rapi di semua sisi. Kedua desainer itu merapikan kain tile penutup tiara yang menjuntai sampai lantai. Setelahnya, Harvitha duduk di bangku dekat meja rias. Tangan Elma, istri Zhao Yichen, bergerak cepat memoleskan bedak dan kosmetik tipis ke wajah sang calon pengantin. Tawa Elma menguar kala Kayra juga meminta didandani, tetapi diprotes Maheen dan Mira. "Kamu tunggu Lula datang, Kay. Dia yang nangani riasan pengiring pengantin," goda Risty, istri Ferdianto, sembari mengupas kulit jeruk. "Sekalian pasang inai?" tanya Kayra. "Belumlah. Itu H minus 1 baru dipasang. Setelah acara siraman," terang Risty."A







