INICIAR SESIÓNSelama tiga tahun, Kaia Ayudia Wicaksana bertahan menjadi tunangan Jarvis Leon Tandiono, pria dingin pewaris konglomerat yang tak pernah mencintainya dan justru memilih wanita lain. Jarvis tak ingin menikahi Kaia karena cinta, tetapi juga tak sudi melepaskannya. Baginya, Kaia adalah miliknya—dan ia tak pernah berpikir perempuan itu bisa benar-benar pergi. Sampai Kaia menyerah. Ketika Kaia berhenti mengejar dan mulai membangun hidup tanpa dirinya, Jarvis justru kehilangan kendali. Namun, bisakah Jarvis mendapatkan kembali perempuan yang telah ia hancurkan hatinya, atau ia harus menelan penyesalan karena baru belajar mencintai saat Kaia tak lagi menginginkannya?
Ver másKaia punya segalanya untuk menjadi perempuan paling beruntung. Sayangnya, takdir lupa memastikan satu, apakah laki-laki yang dijanjikan untuknya juga menginginkannya?
Sebab, di antara segala keberuntungan yang dimiliki Kaia, mencintai Jarvis Leon Tandiono adalah satu-satunya hal yang tak pernah berpihak kepadanya.
Tiga tahun sudah bertunangan, Kaia harus berulang kali menelan kekecewaan membuatnya lebih sering merasa sendirian daripada dicintai. Padahal mereka sudah saling mengenal sejak berusia sepuluh tahun.
Dulu, Jarvis tidak seperti ini. Ia selalu bertanggung jawab atas perkataannya dan menepati janji yang sudah dibuat.
Tapi, sekarang, ia sering membatalkan janji begitu saja. Membiarkan Kaia menunggu semalaman di restoran, bahkan meninggalkannya sendirian di parkiran.
Tidak ada lagi Jarvis yang bersedia menunggunya.
Kaia tidak tahu kapan tepatnya semua itu berubah.
Mungkin saat keluarga mereka mengumumkan pertunangan. Mungkin saat Jarvis mulai menganggap hubungan itu sebagai kewajiban yang tidak pernah dia pilih. Atau sejak Mika kembali ke kehidupannya.
”Kamu tahu saya sering pulang larut, Kaia. Berhenti menganggap tempat saya bagian dari kamu.”
Kaia menunduk menatap jemarinya yang bertaut erat di atas pangkuan, mencoba meredam getir yang selalu datang tiap kali berhadapan dengan tunangannya.
Ia sudah berada di apartemen Jarvis sejak hampir satu jam lalu.
Bukan karena ingin datang, melainkan karena calon mertuanya meneleponnya sejak pagi dan memintanya memastikan Jarvis tidak melewatkan acara keluarga besok, sekaligus merayakan ulang tahunnya yang jatuh hari ini.
Setidaknya.
”Kamu memang tunangan saya. Namun jujur aja, saya muak harus melihat kamu terus ada di sini. Dari awal saya nggak pernah setuju sama pertunangan konyol ini.”
Kaia meremas pelan sofa. Jantungnya berdebar kencang bukan karena jatuh cinta. Tapi rasa sakit yang meremas dada.
“Ah, begitu.”
Sederhana, tetapi cukup membuat Jarvis mengangkat wajahnya. “Memangnya saya pernah bilang mau?”
Kaia terdiam.
Jarvis mengembuskan napas, seolah pertanyaan itu hanya membuang waktunya.
“Kamu paling mengerti, Kaia. Keluarga saya selalu punya rencana untuk semuanya.”
Tatapan Jarvis beralih kepadanya. “Kita berteman sejak kecil. Saya nggak pernah melihat kamu lebih dari itu. Kenapa dekat harus menikah?”
Kaia kehilangan kata-kata.
Dulu, Jarvis pernah berdiri paling depan ketika ada laki-laki yang mengejeknya. Kaia mengira semua itu berarti dia punya tempat khusus di hidup Jarvis.
Ternyata, tempat khusus itu tidak pernah berarti seperti yang ia bayangkan.
Kaia menunduk. Ada bagian dari dirinya yang ingin membalas bahwa dia pun tidak pernah meminta dijadikan perempuan yang harus terus mengemis perhatian dari tunangannya sendiri. Namun, seperti biasa, kata-kata itu hanya berhenti di tenggorokan.
“Mika ulang tahun hari ini,” kata Jarvis tanpa menoleh. “Saya mau merayakannya. Kamu masih belum mengerti juga?”
Kaia hanya menghela napas pendek mendengarnya. Wajahnya tetap hangat, tanpa riak emosi yang meledak-ledak. Tenang, lembut, elegan. Harus begitu.
”Baik, Mas.” Tetap saja ada getir dalam suaranya.
Kini tatapnya tertuju pada punggung tegap tunangannya yang tengah merapikan lipatan tangan kemejanya. ”Jangan bikin mami curiga, saya gak mau mami merusak acara saya sama Mika malam ini.”
Mika, Mika, Mika.
Selalu Mika.
Hanya karena Mika yang menemaninya saat mereka kuliah di Australia.
Melihat Kaia yang bergeming, Jarvis melanjutkan.
”Kamu tumbuh besar di keluarga yang sayang sama kamu. Gak akan paham seperti apa kehidupan Mika. Kamu nggak pernah tahu rasanya hidup serba kekurangan cinta dari papa dan mama. Jadi kamu harus mengerti.”
”Iya, Mas.”
Hanya itu yang mampu Kaia ucap.
Sudah bertahun-tahun dia memaksakan diri bersikap menjadi wanita, yang bisa ditata.
Hatinya sudah terlanjur mati rasa menerima fakta pahit bahwa pria itu ternyata tidak menginginkannya.
Kaia membatin miris.
Jangan bilang pria ini lupa bahwa ini hari.. ulang tahunnya juga?
Tidak ada satu pun ucapan selamat ulang tahun dari Jarvis sejak mereka bertemu.
Sejak Mika, cinta pertamanya kembali. Ia semakin terang-terangan menyingkirkannya.
Jarvis bahkan nyaris tak pernah lagi membahas pernikahan mereka.
Saat hanya berdua, cinta itu menguap, menyisakan bara yang menghanguskan Kaia seorang diri. Tapi, ironisnya setiap kali mereka bertatap muka dalam acara kumpul keluarga, Jarvis seolah pria paling jatuh cinta dengan dirinya sedunia.
”Saya sudah mau pergi,” kata Jarvis tiba-tiba. Pria itu menyambar cepat kunci mobil dan dompet kulitnya dari atas nakas. ”Kamu pulang sendiri bisa kan? Saya akan pulang telat.”
Lantas ia berbalik, hendak berlalu.
Kaia menghela nafas. Tolong, Tuhan, sekali saja ia ingin melepaskan yang memang bukan untuknya.
Ia kemudian bergumam, memejamkan mata. Ingin mengakhiri semuanya sebelum membakar perasaannya juga.
”Mas,”
Gerak kaki Jarvis terhenti seketika. Pria itu menoleh menatap Kaia lewat bahunya dengan dahi berkerut jengkel karena merasa diinterupsi.
Pria itu berbalik, menukik alis tanpa menjawab.
Kaia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh.
Kaia, si anak baik. Panggilannya.
Sejak kecil, ia diajarkan bahwa baik adalah jawaban. Maka, selama tiga tahun pertunangannya dengan Jarvis, Kaia terus berusaha memahami, mengalah, dan memberinya kebaikan.
Tapi… tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Rasanya terlalu lama jika dihabiskan untuk sesuatu yang mungkin sedari awal bukan untuknya.
“Mas, ingat kan?” ujarnya berdeham. “Kalau kita.. bisa akhiri pertunangan?"
Kaia bangun dengan kepala berat dan mata yang masih terasa panas. Malam tadi, setelah sampai di apartemen, ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian. Tasnya hanya dilempar begitu saja ke sofa sebelum dirinya jatuh di atas tempat tidur.Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Seingatnya, ia memesan taxi online agar segera pulang. Yang Kaia ingat hanya wajah Jarvis ketika mengatakan dirinya mencari perhatian. Tiga tahun menjadi tunangannya, dan rupanya pria itu tidak tahu apa penyebabnya.Kaia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, ada dua puluh tiga notifikasi yang sebagian besar dari keluarganya.Tapi yang ia buka adalah email kantor. Ia harus absen. Tidak mungkin datang ke kantor dalam keadaan bengkak.Meski tidak memakannya, menghirup aroma makanan laut yang kuat, bisa memicu reaksi tubuh Kaia. Apalagi semalam mereka makan di privat room.Setelah pesan itu terkirim, Kaia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan Jarvis padanya
Tidak lama setelah mereka meninggalkan acara keluarga, Jarvis mengarahkan mobil menuju restoran Chinese di salah satu kawasan paling ramai di pusat kota.Sepanjang perjalanan, Kaia hanya diam. Ia tidak lagi bertanya ke mana mereka akan pergi. Jawabannya sudah jelas sejak tadi.Begitu mobil berhenti, Jarvis turun lebih dulu dan membukakan pintu wanita itu yang kini duduk di sebelahnya.Kaia menyusul dengan langkah berat, menggenggam tasnya erat-erat. Selain ia duduk di bagian belakang, ia harus mengemban bebannya sendiri.Di dalam restoran, Mika sudah duduk di salah satu meja dekat jendela yang ia pilih. Perempuan.. yang Jarvis cintai.Kaia sempat bertanya, jika memang salahnya ingin dicinta. Ia harus jadi perempuan seperti apa? Dan kini di hadapannya, Kaia terpana. Mika, perempuan yang ia suka. Tidak lebih, dan bukan Kaia.Pelayan datang membawa menu, tetapi Jarvis bahkan tidak membuka miliknya.“Kamu mau pesan apa?” tanyanya kepada Mika.Mika memperhatikan daftar menu beberapa saat
Di antara segala lelah dan sesak selama menjadi tunangan Jarvis, acara-acara publik seperti inilah yang dulu menghibur Kaia ketika ia masih bodoh akan cinta.Di hadapan orang lain, Jarvis akan bersikap manis dan penuh cinta.Kaia tak bisa memungkiri kehangatan yang menjalar di dadanya, juga geliat kecil di perutnya setiap kali Jarvis merangkulnya mesra atau melontarkan pujian dengan lihai, seolah-olah Kaia adalah perempuan yang paling ia gilai.Dulu, ia selalu berharap sikap itu bukan sekadar sandiwara. Bahwa suatu hari nanti, Jarvis akan memperlakukannya dengan cara yang sama bahkan ketika tidak ada siapa pun yang menyaksikan.Namun, setelah percakapan sebelum-sebelumnya, Kaia semakin sulit mempercayai harapan itu.Pria itu terang-terangan tidak ingin mengakhiri pertunangan mereka, meski tahu dirinya sendiri tidak menginginkan Kaia.Dan malam ini, pria itu terang-terangan membawa Mika ke acara keluarga mereka.“Selama acara, tetap sama saya. Jangan ke mana-mana.”Kaia menoleh, menung
Jika hubungan kedua keluarganya hancur binasa. Biarlah begitu adanya.Tubuh Jarvis membeku di tempatnya berdiri mendengar hal itu. Seketika ia berbalik arah, matanya menatap Kaia dengan tajam dan dingin menghunus tepat ke bola mata Kaia.Pria itu terdiam seribu bahasa, sama sekali tidak menyangka kalimat berani itu akan keluar dari wanita yang selama ini selalu patuh padanya.Semenit kemudian pria itu berbicara, “Kamu sadar apa yang kamu bicarakan, Kaia?” Jarvis berdecih, sementara jemarinya kini membuka pintu. “Kalau kamu cari gara-gara untuk menahan saya. Ini gak mempan.”Kaia menatapnya balik. “Selama ini, kamu selalu bilang pertunangan kita bukan sesuatu yang kamu inginkan. Kamu juga bilang aku tidak pernah memberimu pilihan. Sekarang aku memberimu pilihan.”Rahang Jarvis mengeras saat Kaia hendak bangkit. “Itu semua karena kamu tidak pernah menolak. Kaia.”Kalimat itu membuat Kaia terdiam sesaat.Benar. Selama tiga tahun, dia tidak pernah menolak pertunangan mereka. Dia menerima






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.