LOGINBLURB Pertemuan yang tidak terduga antara Atalaric Pradipta Dewawarman dan Harvitha Urfi Amani, menciptakan desiran di hati mereka. Atalaric menyatakan perasaannya, tetapi Harvitha ragu-ragu untuk menerimanya, karena perempuan itu menyadari ketimpangan strata sosial mereka yang sangat jauh. Atalaric berusaha meyakinkan Harvitha akan ketulusan cintanya. Namun, di sisi lain, hubungan mereka ditentang oleh Sulistiana, Ibu Atalaric, yang terhasut fitnah tentang kehidupan bebas Harvitha, yang dilontarkan Jenna Mafaza, perempuan yang dijodohkan dengan Atalaric. Situasi kian rumit, ketika mantan Kakak ipar Harvitha, datang seusai bertugas dari luar negeri. Afzal Ayman menagih janji Harvitha untuk menikah dengannya, sesuai amanat almarhumah Kakak Harvitha, yang wafat beberapa tahun silam. Siapakah yang akan dipilih Harvitha untuk menjadi pendamping hidupnya? Mamoukah Harvitha menyelesaikan semua ujian kehidupan yang melingkupinya?
View More01
"Papa!" teriak seorang anak laki-laki sembari berjalan cepat menuju sekumpulan orang. "Papa!" jeritnya, sambil memeluk kaki kiri pria bersetelan jas biru tua.
Atalaric Pradipta Dewawarman, menunduk. Dia kaget, karena dipanggil Papa oleh bocah yang tidak dikenalinya. Atalaric menatap lelaki kecil yang balas memandanginya penuh kerinduan, dan hal itu menyebabkan hatinya mencelos.
Alih-alih menjauh, Atalaric justru berjongkok agar bisa melihat jelas anak tersebut. Sudut bibir Atalaric mengukir senyuman, kala sang bocah memegangi pipi kirinya.
"Halo. Namamu, siapa?" tanya Atalaric dengan ramah.
"Arfan," jawab anak laki-laki tersebut. "Papa, kumisnya, mana?" tanyanya saat menyadari bila pria itu tidak memiliki kumis.
"Dicukur." Atalaric berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau es krim?" desaknya.
Arfan Mubarak menganguk semangat. Dia menggenggam jemari pria tersebut dan mengikuti langkah Atalaric, menuju stand di ujung kanan. Seorang pria berbadan tinggi, bergegas mendahului guna mengambilkan es krim.
Pria berkemeja batik biru itu memberikan satu cup es krim pada Arfan yang menerimanya dengan sukacita. Alzam Jovan, ajudan Atalaric, memberikan cup lain pada bosnya, yang kemudian mengajak Arfan berpindah duduk ke kursi terdekat.
"Zam, kita mesti nyari orang tuanya," bisik Atalaric.
Alzam mengamati Arfan yang terlihat serius melahap desert itu. "Kupikir dia bukan anak tamu," jawabnya.
"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?"
"Bajunya, Pak. Standar. Bukan yang mahal."
Atalaric memerhatikan Arfan. "Aku nggak ngeh."
Alzam mengulum senyuman. "Bapak nggak pernah belanja baju yang murah. Jadinya nggak tahu."
"Memang kamu beli yang murah?"
"Hu um."
"Malu-maluin."
Senyuman Alzam melebar. "Dulu, Pak. Waktu belum jadi ajudan Bapak. Sekarang, bajuku bermerk semua."
"Belagu."
Alzam terkekeh. Namun, tawanya lenyap saat seorang perempuan menghampiri mereka, sambil memasang raut wajah tegang. Perempuan berambut panjang itu langsung memeluk Arfan, lalu dia mengomeli lelaki kecil tersebut, yang telah pergi dari tempat semula.
"Kamu, mamanya Arfan?" tanya Atalaric.
"Ya, Pak," sahut Harvitha Urfi Amani. "Maaf, anak saya sudah merepotkan Bapak," ucapnya sembari mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
"Enggak apa-apa. Arfan nggak ngerepotin." Atalaric mengusap rambut lebat bocah itu.
"Ehm, kami harus kembali. Saya masih belum selesai bekerja."
"Kerja?"
"Ya." Harvitha menunjuk tim band. "Saya, penyanyi," jelasnya.
"Oh, oke. Silakan lanjutkan."
"Ayo, Fan," ajak Harvitha.
"Aku mau sama Papa," tolak Arfan yang mengejutkan mamanya.
"Bapak ini bukan Papa," cetus Harvitha.
"Papa!" kukuh Arfan.
"Papa itu berkumis, dan lebih pendek dari Bapak. Rambut, hidung, dan matanya juga beda."
Arfan mengawasi pria di sebelah kiri. Dia baru menyadari jika wajah Atalaric memang berbeda dengan papanya. Namun, Arfan benar-benar tidak mau mengikuti mamanya, dan dia malah menggelendot ke tangan kanan Atalaric.
"Aku mau Papa," lontar Arfan.
Harvitha mendengkus pelan. "Mama harus kerja, Fan. Yuk, kita ke sana."
"Biar dia tetap di sini. Aku yang jagain," sela Atalaric yang mengagetkan Harvitha.
"Ehm, apa tidak mengganggu, Pak?" tanya Harvitha.
"Enggak. Aku cuma tamu. Santai," cakap Atalaric.
Harvitha terlihat ragu-ragu. Namun, akhirnya dia mengalah dan membiarkan anaknya tetap di sana. Harvitha merunduk dan mengusap bibir Arfan dengan tisu.
"Jangan jauh-jauh dari Bapak, oke?" desak Harvitha yang dibalas anggukan Arfan. "Jangan nakal. Nanti Mama ke sini lagi," sambungnya sembari menegakkan badan.
"Maaf, saya merepotkan Bapak lagi," tukas Harvitha.
"Enggak apa-apa," balas Atalaric.
Harvita mengulaskan senyuman yang membuat tampilan wajahnya kian ayu. Atalaric terpana dan terus memandangi saat Harvitha jalan ke tempat kelompok band.
Selama puluhan menit berikutnya, Atalaric menonton Harvitha yang bergantian bernyanyi dengan rekannya. Suara Harvitha yang lembut dan merdu, menjadikan Atalaric memuji kepiawaian perempuan tersebut dalam mendendangkan lagu.
Harvitha melantunkan banyak lagu berbahasa Inggris dengan fasih. Nada-nada tinggi yang sanggup dicapai perempuan itu membuat penonton menyukainya. Bahkan, banyak yang mengajukan rekues lagu, yang dilaksanakan perempuan bergaun hijau itu dengan apik.
Seusai pertunjukan, Harvitha segera menyambangi anaknya, yang ternyata telah terlelap di pangkuan Atalaric. Harvitha tidak bisa menolak, kala pria itu memaksanya untuk diantarkan pulang.
Atalaric menggendong Arfan dengan tangkas. Dia jalan beriringan dengan Harvitha. Sementara Alzam telah melesat lebih dulu untuk mengambil mobil di tempat parkir.
"Kita belum kenalan," ucap Atalaric sambil mengulurkan tangan kanannya. "Atalaric," tukasnya.
"Harvitha," jawab perempuan berdagu lancip, sembari bersalaman, lalu dia menarik tangannya.
"Aku boleh nanya?"
"Silakan."
"Papanya Arfan, di mana?"
"Beliau kerja di kapal pesiar."
"Bagian apa?"
"Koki, di salah satu restoran western."
Atalaric mengangguk paham. "Apa wajah kami benar-benar mirip?"
"Sekilas, iya. Tapi Bapak lebih tinggi dan tampan."
"Terima kasih pujiannya."
Harvitha menyunggingkan senyuman. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ditunda, karena seunit mobil sedan mewah telah berhenti di depan.
Harvitha membukakan pintu belakang dan Atalaric segera masuk. Harvitha menutup pintu dan hendak berpindah ke depan, ketika Alzam memanggilnya sembari membukakan pintu kanan belakang.
Tidak berselang lama, mobil sedan hitam mengilat itu melaju keluar area gedung pertemuan di kawasan Kelapa Gading. Alzam menanyakan alamat pada Harvitha yang menerangkannya dengan lugas.
"Tadi aku dengar kamu nyanyi. Suaramu bagus, dan bahasa inggrisnya juga keren," puji Atalaric.
Harvitha tercenung sesaat, sebelum dia tersenyum malu-malu. "Makasih atas pujiannya."
"Kamu nyebut makasihnya sudah 3 kali. Aku nggak punya receh."
"Saya terima QRIS, Pak."
Keduanya serentak tersenyum. Begitu pula dengan Alzam. Percakapan itu terus berlanjut hingga mereka tiba di perumahan padat penduduk, di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat.
Harvitha mengarahkan Alzam melintasi jalan sempit berkelok-kelok, hingga mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Harvitha hendak menggendong Arfan, tetapi dicegah Atalaric.
Harvitha akhirnya keluar dan menutup pintu mobil dengan pelan. Dia memutari kendaraan, lalu mendahului memasuki pekarangan yang pagarnya dalam kondisi terbuka.
Harvitha membuka pintu depan sambil mengucapkan salam. Atalaric menyusul sambil menggendong Arfan, sedangkan Alzam meneruskan mengemudi untuk mencari tempat buat memutar mobil.
"Arfan lagi tidur?" tanya seorang perempuan tua, yang keluar dari kamar terdepan.
"Ya, Bu. Dari tadi dia bobok, dan nggak ada bangun sama sekali," jelas Harvitha. Dia berbalik untuk mengambil Arfan. "Sini, Pak. Mau kupindahkan ke kamar," ungkapnya.
"Hati-hati," ujar Atalaric sembari memindahkan Arfan.
"Papa," bisik Arfan sambil mengeratkan pelukannya di leher Atalaric.
Ketiga orang itu terlihat kaget. Mereka saling menatap, sebelum Atalaric duduk di sofa panjang dan membaringkan Arfan dengan hati-hati. Dia mengusap rambut lelaki kecil itu sembari meraih ponselnya yang tengah berdering, dari saku celana.
"Ya, Zam," sapa Atalaric.
"Enggak ada putaran, Pak. Jalannya makin kecil di belakang," jelas Alzam.
"Mundur aja. Nanti mutar di depan masjid depan."
"Oke."
Atalaric memutus sambungan telepon. Dia memberikan ponselnya pada Harvitha yang tampak kebingungan.
"Simpan nomormu, lalu misscall dari ponselku. Supaya nopeku tersimpan di hapemu," ungkap Atalaric.
"Oh, oke," balas Harvitha.
"Kalau Arfan nyariin, kamu bisa chat, biar aku yang nelepon kamu," pungkas Atalaric.
05Selama beberapa hari berikutnya, Harvitha gelisah, karena Atalaric sama sekali tidak mengirimkan pesan, atau pun menelepon. Padahal sebelumnya, setiap pagi pria itu akan menyapanya dalam pesan, dan menelepon di malam hari. Harvitha khawatir jika Atalaric tersinggung dengan penolakanjya Minggu sore kemarin. Padahal sebelumnya Harvitha ingin menerima ajakan pria tersebut untuk menjalin hubungan serius, tetapi dia malu dan tidak percaya diri menjadi pendamping Atalaric. Jumat malam itu, Harvitha bekerja dengan separuh hati. Dia beralasan tengah sakit perut akibat datang bulan, Harvitha menolak ajakan bosnya guna berbincang berdua.Harvitha khawatir jika Felix Arion akan kembali berusaha menciuminya secara paksa, seperti yang pernah dilakukan sang bos pada bulan lalu. Mira yang telah mengetahui peristiwa itu, berusaha untuk melindungi Harvitha. Namun, sebelum acara usai, kakaknya Mira menelepon dan meminta perempuan itu untuk segera pulang, karena Ibu mereka masuk rumah sakit akibat
04Beberapa lagu romantis berbahasa Inggris, mengalun merdu dari bibir Harvitha. Dia menutup pertunjukan singkat itu dengan lagu dangdut, sembari memancing penonton untuk bergoyang. Sekelompok pria maju dan berjoget dengan gaya heboh, yang membuat hadirin tertawa. Suasana kian meriah, ketika Atalaric mengajak Arfan bergoyang, dan bocah itu joget dengan semangat. "Lagi! Lagi! Lagi!" seru penonton, kala lagu itu usai. "Mau lagu apa?" tanya Harvitha. "Dangdut lagi aja. Aku masih pengen joget," seloroh Benigno Griffin Janitra, presiden komisaris Janitra Grup, sekaligus dokter pemilik salah satu rumah sakit terkenal, di Jakarta Selatan dan Bandung. Harvitha berdiskusi dengan Trevor Aryeswara, sang pemain keyboard. Pria bertubuh tinggi besar itu merupakan presiden direktur Aryeswara Grup, sekaligus Adik sepupu Benigno. "Turunin 1 nadanya, Pak. Nggak nyampe suara saya kalau ikut penyanyi asli," ungkap Harvitha dengan jujur. "Begini?" Trevor menekan tuts keyboard."Ya, segitu." "Sip."
03Dua pekan berlalu. Atalaric kembali muncul di kediaman orang tua Harvitha. Pria berhidung mancung itu memberikan mainan yang diterima Arfan dengan gembira. Selain itu pria tersebut juga membawa aneka kue, yang diambil Harvitha dengan senang hati. Kedua orang tua Harvitha, mengajak Atalaric berbincang. Hasni Saifuddin dan Azizah Sadiya, saling melirik, seusai menyaksikan interaksi antara Atalaric dan Arfan yang sangat akrab. Tidak berselang lama, kedua laki-laki berbeda generasi itu dan juga Harvitha, telah berada di mobil SUV putih yang ukurannya lebih ramping dari mobil sedan, yang digunakan Atalaric dua minggu lalu. Pria berkemeja cokelat muda tersebut berbincang dengan Arfan, sembari mengajarkan bocah itu menggambar di ipadnya. Harvitha memerhatikan kedua pria berbeda generasi itu. Dia takjub, karena Arfan bisa cepat akrab dengan Atalaric. Padahal dengan orang dewasa lainnya, Arfan lebih sering menjaga jarak. "Vit, nanti nyumbang nyanyi, ya," pinta Atalaric, lalu dia menunju
02Atalaric membaca biodata Harvitha, yang telah diselidiki tim rahasia PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, yang menjadi rekanannya sejak puluhan tahun silam.Atalaric dan keluarganya, menjadi salah satu klien pertama PBK dan PB. Kedua perusahaan itu berada dalam 1 grup yang sama, dengan pemilik yang sama pula. Perbedaannya hanya di jenis layanan. PBK menyediakan tenaga bodyguard terlatih dan bersertifikat nasional serta internasional. Sementara PB menangani penyediaan tenaga sekuriti, yang juga terlatih dan bersertifikat nasional. Selain di tanah air, kedua perusahaan itu juga memiliki cabang di banyak negara, tempat di mana kesepuluh komisaris utamanya berbisnis. "Masih ada lagi orang yang perlu diselidiki, Mas?" tanya Daegal Jihadi, ketua tim rahasia 11."Ehm, nggak ada. Ini sudah cukup," jawab Atalaric. "Makasih, Da," lanjutnya. "Sama-sama, Mas. Kalau gitu, aku mau balik kerja." "Lagi nyelidikin siapa?" "Pacarnya Sandrina." "Kastara?" "Betul." Atalaric te






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.