Mag-log in71Euforia pengumuman petinggi TROBO kemarin, masih dirasakan banyak orang di gedung PBK. Semua manajer dan direktur TROBO, siang itu mengemasi barang pribadi mereka guna dipindahkan ke tempat kerja baru. Zalman memindai sekeliling ruangan khusus asisten direksi PBK. Dia merasa berat harus pindah dari sana. Namun, di sisi lain dia juga gembira, hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, telah sukses mengantarkannya menduduki jabatan manajer operasional TROBO. Zalman duduk di kursi putar. Dia menekan laptop guna menampilkan galeri khusus tempat penyimpanan semua foto dan video, dari saat dirinya tengah mengikuti diklat sekuriti PB. Dalam diklat itu Zalman menempati urutan 15. Sebab itu masa tugasnya sebagai sekuriti hanya dilaksanakan selama enam bulan, sesuai dengan aturan yang berlaku. Kala itu, Zalman dinas di gedung kantor RnB. Setelah tuntas masa bakti, Zalman mengikuti diklat ajudan level 1, bersama ketiga manajer TROBO lainnya. Kemudian Zalman bertugas sebagai pengawal Pang
70Ruang rapat terbesar di gedung TROBO, siang itu terlihat ramai. Harvitha yang datang bersama ketiga manajer VYJA, bergegas menyambangi meja tim mereka yang digabung dengan seluruh petinggi BSM dan TNT. Harvitha yang hendak duduk berdampingan dengan Ferlita, dipanggil Lazuardi dan diminta duduk di kursi antara pria itu serta Deswin. Ketiganya berbincang dengan suara pelan, sebelum Harvitha mencubiti kedua atasannya secara bersamaan. "Tha, sakit," keluh Deswin, sembari mengusap lengan kanannya. "Kukumu dilapisi pisau, ya? Luka ini," rengek Lazuardi, seusai melihat punggung tangan kirinya. "Aku kemaren meni pedi, dan ternyata sangat berguna," balas Harvitha, lalu dia memandangi hasil karyanya di tangan Lazuardi. "Bentuknya unik. Kufoto dulu," sambungnya, kemudian mengarahkan ponsel ke tangan korbannya. "Kamu tambah sadis," tukas Lazuardi. "Itu bentuk balas dendamku, karena Abang mengkhianatiku." "Kamu juga ninggalin aku. Malah mau nikah sama Mas Aric. Padahal aku lebih cakep da
69Hari bertukar dengan cepat. Walimahan yang kian dekat menyebabkan Harvitha mengalami serangan panik. Beruntung, semua sahabat dan tim VYJA selalu mendampingi serta membesarkan hatinya, hingga Harvitha bisa sedikit tenang. Malam itu. Harvitha dan keluarganya baru usai bersantap, ketika Dewi, pengasuh Arfan, menerangkan ada tamu di teras depan yang hendak menemui Harvitha. Perempuan berkaus putih dan celana kain batik biru itu segera keluar. Dia tertegun menyaksikan seorang perempuan tua berpenampilan anggun, yang langsung berdiri dari kursi sembari menatapnya dengan saksama. "Maaf, ibunya Kak Jenna, kan?" tanya Harvitha. "Ya, Nak. Nama saya, Yasmina," terang perempuan berkulit putih. "Masuk, Bu," ajak Harvitha. "Tidak usah. Di sini saja, dan saya cuma sebentar." "Kalau begitu, duduk dulu." Yasmina menduduki kursi sisi kanan. Dia membuka baugette bag marun dan mengeluarkan amplop putih panjang. "Ini, titipan dari Jenna. Tadi siang saya jenguk dia," ungkapnya sambil menyerahka
68Arfan berteriak sesaat setelah pesawat berlogo Baltissen 1 mendarat di landasan. Arfan maju dan menempelkan kedua tangannya ke kaca, sembari memandangi moncong pesawat yang kian mendekat. Sekian menit berlalu. Arfan telah digendong Kairav yang jalan cepat menuju pesawat. Pintu burung besi terbuka dan Jariz keluar lebih dulu sambil menjinjing tas kerjanya. Satu per satu ajudan muda turun. Mereka bergegas mengambil koper para bos dan menyeretnya ke ruang tunggu. Kairav menaiki tangga, lalu menurunkan Arfan guna bisa menjelajahi isi kabin. Arfan menyambangi Atalaric dan beberapa bos yang masih berada di dalam. Alvaro menggenggam tangan kiri Arfan dan mengajaknya memasuki kokpit. Lelaki kecil berkemeja merah itu sempat termangu, memandangi pilot dan kopilor yang merupakan warga negara asing. Namun, kala kopilot menyapanya dengan bahasa Indonesia fasih, Arfan spontan tersenyum. "Om, namanya siapa?" tanya Arfan, sembari memandangi sang kopilot. "Gutierre Benedicto. Aku, Adik sepupu
67 Sidang perdana atas Felix berlangsung secara tertutup. Selain petugas keamanan, banyak polisi yang turut mengamankan sekitar gedung pengadilan. Sebab Felix cukup terkenal di dunia bisnis hiburan tanah air, banyak awak media resmi maupun independen, yang memenuhi area parkir depan gedung. Atalaric tidak hadir dalam sidang itu, karena sedang dinas ke Filipina. Dia diwakili kuasa hukum, dan Caksa, serta Hisyam. Harvitha hadir dengan didampingi Farras, Hasni, dan ketiga sahabatnya. Sebagai pihak penggugat, Harvitha tetap bersikap tenang. Dia duduk di bangku belakang tim kuasa hukum dan nyaris tidak bergerak, hingga persidangan itu usai. Harvitha bangkit dan merapikan gaunnya. Panggilan dari depan membuatnya menengadah, dan memandangi pria berkemeja putih yang tengah berdiri di dekat pagar pembatas. "Terima kasih sudah mau datang," cakap Felix, sesaat setelah Harvitha mendekat."Ya." Harvitha terdiam sejenak, lalu dia bertanya, "Bapak, sehat?" "Lumayan. Ehm, makasih juga atas kir
66Harvitha mengusap set perhiasan di tujuh kotak yang dibukakan Zhou Yiran, di meja toko perhiasannya dan Malya (istri Jariz), yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Harvitha bingung hendak memilih yang mana, karena semuanya bagus. Dia meminta pendapat Atalaric yang juga sama bingungnya. Kemudian Atalaric mengusulkan guna mengirimkan semua foto set perhiasan itu pada Sekar, yang dianggap lebih memahami detail perhiasan. Selama beberapa menit Sekar mengamati setiap detail foto. Lalu dia memberi tanda pada tiga set yang menurutnya paling cocok dengan kepribadian Harvitha. Kemudian Sekar mengirimkan ulang foto itu pada calon Adik iparnya. Harvitha berdiskusi dengan Zhou Yiran, yang kemudian menerangkan setiap detail perhiasan buatannya itu, sebagai bahan pertimbangan sang calon pengantin. "Saranku, ini paling pas buat mahar," ujar Zhou Yiran sambil menunjuk kotak perhiasan kedua. "Yang ini, bisa dipakai untuk akad," lanjutnya sembari memajukan kotak pertama







